Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 83_Apartemen atau Rumah


__ADS_3

Belum sempat Steven menjawab, dari arah kejauhan terlihat Rio datang dengan emosi yang menggebu-gebu


"Dad! Daddy apakan mommy sampai-sampai mommy pergi ninggalin kita hah!" Pekik Rio membuat Steven dan sekertaris Nanda mematung


"Mommy gak pergi sayang, mommy sedang liburan bersama teman-temannya, besok juga pulang" Jawab Steven berbohong,


Rio berjalan mendekat dan duduk dikursi dekat dengan Steven


"Mommy telfon Rio, katanya mommy akan pergi dalam waktu yang lama dan Rio suruh menurut semua perintah Daddy,


" Rio kecewa sama Daddy! Lebih baik Rio kembali dengan omah!! " Teriak Rio yang melempar bantal sofa kearah Steven


"Apa maksud Rio hah! Daddy tidak pernah mendidik Rio berperilaku tidak sopan seperti ini! Dan siapa yang menelfon Rio! Ponsel mommymu ada di Daddy! Bagaimana mommy bisa tahu nomor Rio! " Pekik Steven membuat Rio ketakutan, baru kali ini Rio dibentak dan melihat kemarahan Steven dengan nyata


Kepala Rio menunduk, "Tadi mommy telfon Rio Dad! Rio tidak bohong! Kalau tidak percaya daddy bisa menelfon mommy dengan iPad Rio" Ujar Rio lirih sambil memberikan ipadnya pada Steven,


Steven mengambil dan melihat riwayat panggilan di ipad anaknya, terlihat nomor asing yang masuk, Steven berusaha menelfon nomor itu dengan ipad anaknya lagi tapi seketika nomor itu tidak aktif membuat Steven mengeram kesal


Arrgggkkkhhhhh.....


"Rio masuk kedalam kamar, Daddy mau bicara penting dengan om Nanda" Ujar Steven sambil memberikan ipada anaknya pada Rio,


Rio mengangguk patuh, dia masih tak berani menatap ataupun melawan pada Daddynya dalam mode marah seperti ini, perlahan kaki mungil itu turun dari sofa dan berjalan menjauh dari pandangan Steven


Setelah melihat anaknya hilang dibalik pintu lift, sekertaris Nanda mencoba menghampiri Tuan Mudanya kembali


"Stop! Jangan mendekat...aku sudah membuat keputusan, malam ini juga kita akan terbang untuk mencari istriku" Ujar Steven sambil memijit keningnya, tiba-tiba rasa pusing menyerangnya kepalanya


Melihat Steven sempoyongan dan ambruk di sofa, sekertaris Nanda langsung berlari cemas menghampiri Tuan mudanya "Tuan, sepertinya Tuan sakit, biar saya panggilkan dokter, dan Tuan bisa beristirahat dikamar, dan biar saya atau Jeff yang menyusul Nyonya, lihat wajah anda sudah sangat pucat, sedari pagi anda tidak memakan apapun" Ujar sekertaris Nanda panik, dia berusaha menelfon dokter Riyan untuk segera datang ke rumahnya lalu membawa masuk Steven kedalam kamarnya

__ADS_1


"Jangan panggil dokter, aku hanya butuh istirahat sebentar"


"Ta-tapi Tuan.. "


"Kau tuli atau apa hah! jangan panggil dokter!!! " Pekik Steven dengan suara bergetar


"Ba-baik Tuan


"Sekarang saya antar Tuan ke kamar" Ujar sekertaris Nanda sambil memapah Steven menuju kamarnya


"A-aku belum siap kehilangan istriku lagi nda..."


"Aku tahu caraku salah, tapi dia wanita kuat, harusnya dia bisa bertahan lebih lama denganku, kenapa setelah semuanya selesai dia malah pergi meninggalkanku"


"Aku tidak terima...


"Aku tidak butuh istirahat, aku butuh istriku nda, aku butuh Zena.. "


"Aku sudah cukup istirahat, aku harus pergi sekarang juga untuk menyusul istriku, aku takut terjadi sesuatu padanya, apalagi dia pergi dengan pria, aku takut pria itu akan mencelakai Zena"


"Untuk masalah Rio, jangan beritahu Rio jika aku akan menyusul Zena"


***


Selama 18 jam 30 menit perjalanan dari Indonesia menuju bandara internasional Los Angeles (LA) akhirnya Dave dan Zena tiba di bandara internasional LA tepat pukul setengah delapan pagi.


Dave membawa Zena menuju ruang tunggu yang berada di dalam bandara sambil tangannya mengetik sesuatu dilayar ponselnya


"Zen, duduk dulu, aku mau hubungi orang rumahku kalau kita sudah sampai" Ujar Dave yang menempelkan ponselnya ke telinganya

__ADS_1


Zena mengangguk, dia mendudukan bokongnya di salah satu kursi yang kosong.


Setelah berfikir matang-matang di dalam pesawat tadi, akhirnya Zena mengungkapkan pendapatnya untuk tidak ikut tinggal dengan temannya "Dave sudah cukup aku merepotkanmu, mulai sekarang aku tidak mau merepotkanmu, biarkan aku tinggal sendiri, dan apa kau bisa bantu aku sekali lagi, tolong carikan kontrakan atau tempat kos untukku tinggal di daerah sini, karna aku baru pertama kali pergi ke negara ini" Pinta Zena sambil memegang punggung tangan Dave yang tak memegang ponsel


Mendengar ucapan dari Zena, Dave langsung menjatuhkan ponselnya "Zen, jangan bicara seperti itu, aku tidak merasa direpotkan olehmu, aku akan tetap membawamu kerumahku"


"Tapi Dave, bagaimana jika orang tuamu melihatku, pasti mereka akan berfikiran buruk tentangmu, kamu pulang ke negaramu membawa wanita yang sedang hamil muda"


"Kamu tahu, orang tuaku tidak akan mempermasalahkan masalah ini, dan kamu harus ingat Zen, negara ini negara bebas..., bukan seperti negara kita dulu, disini banyak orang yang belum menikah tapi sudah tinggal satu rumah, kamu tenang saja" Ujar Dave yang meyakinkan Zena, dia berjongkok lalu mengambil ponselnya dengan tangan satunya menggenggam tangan Zena "Percaya sama aku Zen" Sambungnya lagi sambil menatap lekat wajah cantik Zena


"Gak Dave, aku gak mau repotin kamu lagi, lebih baik aku cari tempat untuk aku tinggal sendiri"


Mendengar kegigihan dan keras kepala dari temannya akhirnya Dave mengalah, dia mengizinkan Zena untuk tinggal diluar dengan catatan Zena harus tinggal di apartemen miliknya, apartemen yang jaraknya cukup dekat dengan caffe yang akan dia kelola.


"Aku antar kamu ke apartemen aku"


"Aku tidak bisa membiarkanmu hidup jauh dariku, aku sudah berani membawamu kemari dan aku harus menanggung semua resiko jika terjadi sesuatu padamu nanti"


"Makasih Dave tapi aku sudah bilang, kalau aku tidak mau merepotkanmu lagi"


"Kamu mau pilih rumahku atau apartmenku" Ucap Dave serius, dia benar-benar kesal dengan temannya


"Ya sudah, aku memilih apartemenmu saja


"Makasih banyak Dave, aku janji, aku akan pergi secepatnya dari apartemenmu setelah aku mempunyai uang"


"Makasih banget" Ujar Zena memeluk Dave yang sedang berjongkok di depannya, entah mengapa saat di dekat Dave, Zena merasakan kenyamanan, perhatian dan semua sikap yang diberikan Dave serasa tulus di mata Zena


"Baiklah, sekarang aku antar kamu, biar supir aku suruh balik kerumah, kita naik taksi saja, karna apartemenku ini dibeli tanpa sepengetahuan kedua orang tuaku" Jawab Dave yang diangguki Zena, mereka berjalan keluar dari bandara dan menyetop taksi.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2