Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 117_Daddy!


__ADS_3

"Terimakasih Tuan kecil Rio yang paling tampan. Om akan menunggu di sini," ujar sekertaris Nanda membuat Jeff mengerutkan keningnya.


"Hei kau, bagaimana jika Tuan dan Nyonya sedang--" ucapannya terhenti saat sekertaris Nanda membungkam mulut Jeff.


"Lepaskan," titah Jeff lagi yang berusaha melepas tangan sekertaris Nanda yang bau itu dari mulutnya.


"Kau, kau sebenarnya habis makan apa?" tanya Jeff saat merasakan bau tidak enak di tangan sekertaris Tuan nya.


"Terasi, ayam bakar sambal terasi. Memangnya ada apa?" jawab sekertaris Nanda mengerutkan keningnya.


"Tanganmu sangat bau, aku tidak menyukai makanan sambal terasi itu, membuatku pusing," ujar Jeff mengelap bibirnya dengan jaket miliknya


"Siapa yang menyuruhmu merasakan bau tanganku. Aku sedang menyuruhmu diam dan melihat pergerakan dari Tuan kecil Rio, karena Tuan Steven sudah terlambat 5 menit di meeting pentingnya," lirih sekertaris Nanda memperlihatkan jam di pergelangan tangannya kepada Jeff.


"Daddy!"


"Daddy bangun! Atau Rio akan menyuruh om Jeff dan Om Nanda untuk mendobrak pintu ini!" pekik Rio membuat senyum sekertaris Nanda mengembang.


"Lihat, lihat Rio. Jika dia yang berteriak, Tuan akan lebih cepat membukakan pintu dan dia juga tidak akan marah jika aktivitasnya terganggu," ujar sekertaris Nanda menunjuk Rio yang sedang menggedor ruang pribadi Steven.


"Terserah kau saja, jika Tuan keluar dengan ekspresi marah atau masam, jangan ikutkan aku ke dalam masalahmu," ancam Jeff menggunakan lirikan matanya yang tajam.


"Daddy!" pekik Rio kencang membuat Jeff mau tak mau menghampiri anak kecil yang sedang mengamuk.


"Tuan Rio, lebih baik kita duduk. Daddy sebentar lagi akan keluar!"titah Jeff, yang mendapat gelengan dari Rio


"No Om. Sekarang buka pintunya Om, aku takut terjadi sesuatu pada Daddy," ujar Rio kepada Jeff. Sekertaris Nanda yang melihat pun hanya diam.


Mata Jeff membulat sempurna, dia melirik sekilas pada sekertaris Nanda yang sedang duduk, "Saya tidak berani membuka paksa pintu pribadi Daddy Rio, bagaimana jika di dalam Daddy Rio sedang--" ucapan Jeff terhenti saat mendengar pintu kamar Steven terbuka.


Krek ....


"Dad, apa yang Daddy lakukan. Kenapa lama sekali membuka pintunya," ujar Rio melihat Steven keluar dengan pakaian yang rapih dan rambut sedikit basah.

__ADS_1


"Di mana mommy?" tanya Rio lagi saat melihat Steven keluar seorang diri.


"Mommy sedang tidur, lebih baik jangan ganggu mommy, biarkan mommy beristirahat," jawab Steven, dia menutup rapat dan menggandeng tangan putranya untuk duduk di sofa bersama sekertarisnya.


Melihat Tuan nya sudah keluar dari ruang peristirahatannya, sekertaris Nanda berdiri, "Tuan kita sudah telah 7 menit," ujar sekertaris Nanda memperingatkan Steven lagi.


"Hemm ... Rio sayang, Daddy ada meeting dan Daddy sudah telat. Rio mau kan menunggu Daddy di sini, meetingnya hanya sebentar. Jika sudah selesai meeting, Daddy akan mengajak Rio dan mommy pulang," ujar Steven membuat Rio menganggukan kepalanya.


"Gapapa Dad, aku mau menemani mommy saja,"


"Di mana mommy tidur Dad?" ujar Rio menatap pada ruang peristirahatan Daddy nya.


"Em ... Mommy, mommy sedang tidak bisa di ganggu,"


"Kan Rio hanya menemani mommy, Rio tidak akan mengganggu tidur mommy," ujar Rio polos, dia beranjak dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya menuju ruang peristirahatan Ayahnya.


"Semoga saja, Zena sudah selesai," gumam Steven dalam hati, yang menatap putranya sedang menuju ruang pribadinya.


Keinginannya untuk mencapai puncak lebih cepat membuat Zena kelelahan dan tertidur di saat Steven sedang dalam ritual mandinya.


Setelah membangunkan istrinya, Steven buru-buru menggendong istrinya ke kamar mandi karena suara Rio semakin terdengar jelas di depan pintunya.


"Sayang, selesaikan mandinya. Biar aku yang menemui Rio," titah Steven yang disetujui Zena.


Melihat Steven memandang putranya, membuat sekertaris Nanda dilanda kekesalan yang bertubi-tubi. Dia sudah mendapat kabar dari sekertaris kliennya yang sudah menunggu lama.


"Tuan, kita sudah ditunggu di caffe sebelah," ujar sekertaris Nanda membuyarkan lamunan Steven.


Steven berdiri, dia merapihkan jasnya lalu berjalan pergi menuju pintu ruangannya.


"Ayo kita berangkat, dan Jeff ... kau jaga di sini. Jangan sampai ada orang luar yang masuk ke ruanganku. Jaga anak dan istriku," titah Steven sebelum dia benar-benar pergi dari ruangannya.


Di sebuah rumah yang cukup luas, terlihat Sheila sedang duduk bersantai di balkon kamarnya dengan seorang pria tua yang sedang merangkul mesra.

__ADS_1


"Mas, sampai kapan anakmu itu tersadar dari koma," ujar Sheila melepaskan tangan pria tua itu yang melingkar di pinggangnya.


"Untuk apa sadar? Dia hanya anak tiriku. Dan kekayaannya telah jatuh kepadaku,"


"Aku justru berharap dia akan mati secepatnya," jawab pria tua itu yang bernama Leo.


"Lalu bagaimana dengan adiknya?" tanya Sheila lagi, dia benar-benar penasaran dengan keluarga Leo. Karena menurut informasi yang dia peroleh, sebelum Steven memutuskan hubungan dengannya, Steven sempat berkelahi dengan pria yang sekarang sedang terbaring koma di rumah sakit.


Usahanya mendekati Leo agar mendapat informasi tentang Riski pun selalu gagal karena Leo selalu membungkam mulutnya.


"Maksud kamu Putra?" tanya Leo memastikan.


"Iya, aku tidak tahu siapa nama adiknya,"


"Putra sudah aku kirim ke luar negeri. Agar tidak menganggu kita di sini,"


"Oh begitu Mas," Jawa Sheila memandang lurus ke depan.


"Aku harus menunggu pria yang bernama Riski itu sadar, dan aku akan meminta penjelasan, karenanya hubunganku dan Mas Steven hancur. Sebenarnya apa yang mereka permasalahkan, kenapa setelah mereka berkelahi, Steven memutuskan hubungannya denganku. Begitu juga dengan Tante Tesa, dia susah sekali dihubungi,"


"Aahhh sial, jika bukan karena aku mencintai uang dan Steven, aku tidak akan sudi di sentuh pria tua seperti dia," gumam Sheila dalam hati dia membalas senyuman yang diberikan Leo padanya.


Melihat kekasihnya melamun, Leo langsung menjentikkan jarinya agar kekasihnya segera tersadar.


"Sayang, apa yang kamu fikirkan?" tanya Leo saat Sheila tersadar dari lamunannya.


"Tidak Mas, oh iya aku membutuhkan uang untuk acara kontenku kali ini. Kamu bisa mengirimkan uang sekarang juga kan Mas?" tanya Sheila menatap layar ponselnya lalu meminum jus nya.


"Aku akan kirimkan uang berapapun yang kamu minta," ujar Leo, dia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi tabungan Riski.


"Sudah, aku sudah mengirim uangnya," sambungnya lagi yang memperlihatkan ponselnya pada Sheila. beruntung Putra sangat polos, dia mau memaafkan kesalahan Leo dan mau memberikan password seluruh tabungan Riski kepada Leo.


Sheila tersenyum senang, "Tidak apa-apa aku mempunyai simpanan pria tua seperti dia, yang terpenting saat ini adalah uang," gumam Sheila dalam hati.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2