Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 6_Calon Menantu


__ADS_3

Sebelum membuka pintu, Steven memperingatkan Zena sekali lagi


"Jangan panggil aku dengan sebutan om!"Ucap Steven mencengkram keras lengan Zena membuat Zena meringis kesakitan


"Ah, maaf om eh Tuan, to-tolong lepaskan, ini sakit" Zena berusaha melepas cengkraman Steven, matanya sudah berkaca-kaca


"Jangan menangis! aku tak suka wanita cengeng! dan satu lagi aku tidak akan tertipu dengan air mata palsu seorang wanita sepertimu"


"Ba-baik Tuan" Zena menghapus air matanya yang sudah mengalir dengan tangannya


Krek, pintu dibuka Steven, dia bisa melihat ibunya sedang terbaring lemas dilengkapi infus yang menancap di punggung tangannya


"Stev," Tesa tersenyum, dia berusaha bangkit tapi ditahan oleh Steven "Jangan banyak bergerak, ibu tidur saja"


Tesa menurut dia tersenyum saat putranya perhatian


"Siapa dia? Apa dia calon istrimu? " Tanya Tesa kembali saat melihat Zena di belakang tubuh Steven


"Ah iya bu, dia calon istriku, jadi jangan jodohkan aku dengan wanita manapun termasuk Seila"


"Perkenalkan dirimu sayang" Steven melingkarkan tangannya kepinggang Zena, sesekali mencubit Zena saat Zena melamun


"Iy-iya om eh Tuan" Tubuh Zena bergetar apalagi saat Steven merangkul mesra pinggangnya, ketakutan akan membuat kesalahan membuat Zena tak fokus dengan ucapan wanita paruh baya dihadapannya


Tesa yang melihat tubuh kekasih Steven bergetar ketakutan pun tersenyum"Hey stev, kau membuat dia ketakutan, sinih mendekat nak"


"Sudah berapa lama kalian berpacaran, padahal baru saja kemarin dia bilang tidak mau menikah dan sekarang dia membawamu, putra ibu suka mengeprank ternyata"


"Ibu minum obat dulu, aku ingin ibu cepat sehat" Ucap Steven yang mengambil obat untuk ibunya


"Biar aku saja Tuan, " Zena mengambil alih obat membuat Tesa tersenyum,


"Gadis baik, pasti kedua orang tuamu sudah mendidikmu dengan benar"


Setelah meminum obat, Tesa berbincang-bincang dengan Zena, sesekali Zena tertawa dan tersenyum ketegangan yang menyelimuti diri Zena seakan memudar, dia bahagia saat ibu dari Steven sangat baik berbanding terbalik dengan putranya, dan Tesa sangat terpukau dengan kesempurnaan wajah gadis di hadapannya,


"Berapa usiamu? "


"21 tahun tante"


"Terpaut jarak yang cukup jauh dengan putra ibu, oh iya apa kau sudah tahu jika putra ibu seorang duda Zen"


"Tapi tenang, putra ibu mempunyai wajah yang tampan, banyak yang mengira putra ibu masih lajang, haha"


Degg

__ADS_1


Jantung Zena terasa lemas, melihat Tesa tersenyum bahagia membuat Zena terpaksa tersenyum,


"Ah kenapa dari awal aku tidak bertanya ini, aku benar-benar sudah gila, aku mendapatkan duda" Gumam Zena dari dalam hati


"Sudah bu, kita sepakat akan menikah besok! " Kabar bahagia Steven membuat Tesa semakin bahagia, dia memeluk calon menantunya


"Apa-apaan ini, kenapa dia tidak memberitahukanku dulu, bahkan aku saja belum menandatangani kertas kosong itu, " Geram Zena menatap Steven penuh amarah, tapi sedetik kemudian dia tertunduk saat mata Steven mengeluarkan aura membunuh


"Apa! ibu sangat bahagia Steve, ibu akan meminta bi sari melepaskan infus ini, ibu sudah sehat"


"Steve antar calon istrimu ke kamar dia butuh beristirahat untuk besok, Steve biar Zena tidur di dekat kamar sebelahmu ,"


"Baik bu, biar aku akan antar kekasihku yang cantik ini, dan ibu tetap disini beristirahat, agar ibu bisa menyaksikanku menikah besok"


Tesa mengangguk, dia kembali merebahkan tubuhnya


***


"Maaf Tuan Muda ada sebuah paket untuk Tuan" Ketua pelayan menyerahkan paket pada Tuan Mudanya yang baru saja keluar dari kamar ibunya


"Dari siapa bi? "


"Tidak tahu, tidak ada nama pengirimannya Tuan, kalau begitu saya pamit dulu"


"Bawa dia ke kamar," Sambung Steven menujuk Zena


"Baik Tuan, mari ikut saya Nona"


Steven membawa paket itu kedalam kamarnya, dia membuka kotak itu terlihat cincin pernikahan dan sebuah undangan yang tertulis jelas nama mantan istrinya, mata Steven memanas, air matanya kembali mengalir setelah 3 tahun dia berhenti menangis, akhirnya hari ini dia menangis untuk orang yang sama, dilemparkan kotak itu ke lantai membuat isinya berserakan di lantai


"Arrrrrrrggggkkkhhhhhhh..


"Kenapa, kenapa disaat aku sudah menutup luka, kenapa kamu malah memberikan ini, kenapa hah!! kenapa!!! " Teriak Steven dengan amarahnya


"Bahkan, sampai saat ini aku bahkan belum bisa melupakanmu Din, tapi kenapa kau tidak pernah merasakan itu!! kenapa kau memilih pria lain hah! Aku mencintaimu tapi juga membencimu Din!!


" Arrrrrgggkkkkkhhhh Aku benci wanita! "


Saat Steven berdiri, dia melihat secarik kertas yang belum dia baca, di ambilnya secarik kertas yang terselip di kotak itu lalu Steven membacanya


"Mas, ini undangan untukmu, aku harap kau bisa datang ke pesta pernikahanku, jangan pernah mengharapkanku kembali, karna aku akan menikah dengan pria terkaya di negara B, aku menyesal tidak menceraikanmu sedari dulu, aku harap hidupmu sudah berubah, tidak terjebak dalam kemiskinan hidup


Untuk : Steven Fernando


Dari : Dinda Angelina

__ADS_1


Diremasnya surat itu, matanya memanas dan memerah, ototnya seakan ingin keluar dan Steven membanting semua barang yang ada di sekitarnya membuat sekertaris Nanda yang sedang berjaga di depan kamar Steven langsung masuk kedalam kamar Tuan mudanya


" Tuan! " Pekik Nanda, dia melihat tangan Tuan Mudanya sudah mengeluarkan cairan merah


Arrggkkkkhh


Pranngggh


Darah semakin menetes saat tangan Steven memecahkan kaca di dindingnya


"Stev! Hentikan, ada apa! " Sekertaris Nanda menyuruh Steven duduk diujung ranjang, lalu sekertaris Nanda melihat pesan surat dari mantan istri Tuan Mudanya yang sudah diremas bersama noda merah yang dia yakini darah Tuan mudanya


"Nanda, dia sudah bahagia, bahkan dia masih menghinaku, disaat aku sudah sukses seperti ini"


"Maafkan saya Tuan, tadi saya sudah lancang memanggil nama anda, dan menurut saya biarkan saja Tuan, biarkan dia bahagia, saya yakin Tuan juga akan menemukan kebahagiaan Tuan sendiri"


"Saya akan menyuruh bibi untuk mengambil p3k, Tuan diam saja disini, jangan sampai Nyonya tahu, dia akan mencemaskanmu"


Steven menganggukan kepalanya, di taruhnya bantal dibalik kepalanya untuk mengganjal kepala Steven


Sekertaris Nanda segera keluar ruangan, tak sengaja dia melihat Zena yang sedang mematung di depan kamar Steven,


"Apa yang terjadi Tuan! " Tanya Zena pada sekretaris Nanda,


Tapi sekertaris Nanda menghiraukan ucapan Zena, dia mencari keberadaan bibi Sari, hanya keselamatan Tuan Mudanya yang terpenting saat ini


Zena yang penasaran pun mengikuti sekertaris Nanda berjalan menuju dapur


"Bi, siapkan air es beserta obat p3k, bawa ke kamar Tuan Muda sekarang"


"Baik sekertaris Nanda"


Bi sari langsung menyiapkan barang yang diperlukan


"Bi, aku bantu" Tiba-tiba Zena datang lalu mengambil air es di kulkas, sekertaris Nanda membiarkan Zena membantu,


Ponsel sekertaris Nanda bergetar, dia melihat nama "Jack"


Seketika sekertaris Nanda menjauh, dia mengangkat telfon dari partner bisnis gelapnya


"Apa! Kita kecolongan"


"Hajar dia! Bunuh dia, korek informasi darinya sebelum kau membunuhnya"


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2