
"Siapa yang mau menceraikanmu hah! " Ulang Steven lagi dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Da-dave, a-aku takut" Ujar Zena melambaikan salah satunya agar temannya itu mendekat.
Dave diam, dia tidak bergeming, bukannya dia tidak mau mendekat pada Zena, hanya saja, masalah ini adalah masalah keluarga kecil Zena.
Melihat Dave mematung tak ingin mendekat, Zena menghembuskan nafasnya lalu kembali menatap suaminya yang tengah emosi
"Lalu apa tujuanmu kesini, jika bukan untuk menceraikanku mas? " Tanya Zena lirih, dia menundukkan kepalanya setelah beberapa detik menatap mata suaminya yang merah
"A-aku, tujuanku kesini" Hawa panas serta emosi yang sempat menggebu-gebu di tubuhnya tiba-tiba hilang saat istrinya menanyakan tujuannya datang ke negara ini.
"Aku, aku ingin meminta maaf" Ujarnya lagi, sesekali dia melirik pada Dave yang masih mematung di tempat, sangat gengsi jika dia mengatakan cinta pada wanita di hadapannya saat masih ada kehadiran Dave.
Lagi dan lagi Dave hanya diam, dia memundurkan langkahnya lalu duduk di sofa lagi, jemarinya sudah menari di layar ponselnya.
Mengingat hari ini ada jadwal memeriksakan kandungan Zena, Dave memasukan ponselnya dan berjalan menghampiri temannya yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
"Zen, aku panggilkan dokter Rima, kita sekalian melakukan USG," Ujar Dave yang di angguki Zena
"Kamu bisa menelfonnya Dave, aku tidak mau berdua dengan mas Steven, bagaimana jika dia marah lagi" Jawab Zena yang membuat mata Steven membulat
"Ehh... aku suamimu Zen, mana mungkin aku marah pada istriku" Elak Steven cepat
"Dan kau" Sekarang pandangan Steven menuju Dave, teman dari istrinya. "Sekarang, kau panggilah dokter itu, dan kita akan mengklarifikasi semuanya saat ini juga, aku tidak mau semua orang tahu, jika kau suami Zena"
"Aku lah suaminya, dan aku lah yang berhak-" Ucapan Steven terhenti saat Dave mengusap kening Zena
"Aku pergi dulu, jaga baik-baik dirimu, jika dia melukaimu atau ingin berbuat mesum, kamu pencet saja, tombol di samping ranjangmu, akan ada dokter yang menolongmu" Ujar Dave tersenyum lalu mulai berjalan pergi meninggalkan ruangan temannya
"Hei!!! bocah!!! "
"Apa kau! tidak bisa menghargai aku sebagai suami temanmu ini hah! kenapa kau suka sekali membuat darahku naik!!! " Pekik Steven saat Dave sudah berjalan menjauh.
Di saat Dave hendak membuka pintu, dia sempatkan lagi untuk menoleh sepasang kekasih yang sedang menatapnya, dia tersenyum manis pada Steven,
Steven yang melihat teman istrinya tersenyum pun semakin geram karna Steven menganggap senyuman itu senyuman mengejek.
"Kau! kau benar-benar membuat darahku naik! " Geram Steven yang hendak berdiri, tapi segera mungkin, Zena meraih tangan suaminya
__ADS_1
"Mas, kenapa kamu jadi berubah seperti ini, Dave orangnya memang seperti itu, dia selalu tersenyum kepada semua orang"
"Jangan baperan mas," Ketus Zena yang tak suka melihat perubahan sikap suaminya
"Kau- kau membela dia? " Ujar Steven tak percaya
"Aku suamimu Zen, seharusnya kamu tidak membela pria lain di hadapan suamimu" Sambung Steven, dia menjatuhkan bokongnya lagi ke kursi yang dia duduki
"Memangnya apa salahku yang membela temanku sendiri mas? selama ini, Dave yang selalu memenuhi segala kebutuhan ku dan anakku, Dave juga yang memberiku pekerjaan" Ujar Zena melepas tangannya dari tangan Steven.
"Aku fikir kamu sudah lupa sama aku, dan aku fikir kamu sudah bahagia bersama kekasihmu Sheila"
"Zen, aku mau mengungkapkan sesuatu padamu, agar kamu tidak salah paham lagi padaku" Ucap Steven, dia berusaha mencoba memegang perut istrinya yang sudah terlihat buncit
"Apa? " Tanya Zena
"Oh iya, bagaimana keadaan Rio, dia baik-baik saja kan? dan apa Rio sudah mulai sekolah? " Tanya Zena lagi, dia melihat suaminya yang ragu memegang perutnya
"Mau pegang? "
Steven menganggukan kepalanya cepat "Apa boleh? "
"Oh iya, bagaimana dengan Rio? kamu belum menjawab pertanyaanku mas" Ujarnya lagi saat Steven mengusap perutnya itu, ada rasa kenyamanan serta ketenangan saat Steven memberikan sentuhan pada anaknya
"Rio sakit" Jawab Steven, dia memandang Zena lalu memalingkan wajahnya lagi pada perut Zena.
"Sa-sakit? sakit apa mas?"
"Jadi kamu datang kesini hanya untuk memberitahukan kabar Rio yang sakit? " Tanya Zena tak percaya
Mendengar istrinya berfikiran buruk tentangnya lagi, Steven langsung menarik tangannya, dia berganti meraih tangan Zena
"Bisa tidak kamu jangan berfikiran buruk tentangku Zen" Ujar Steven serius,
"Lalu? sekarang lebih baik kamu pulang mas, dan jaga Rio, kasihan dia... pasti dia dirumah sendiri, dan cuma ditemani oleh pelayan"
"Aku sebenarnya ingin menghubungi Rio, tapi, aku takut jika yang mengangkat itu bukan Rio, aku takut Rio akan terkena amarahmu"
"Zen, itu tidak penting, sekarang aku ingin berbicara serius denganmu" Ucap Steven serius,
__ADS_1
"Sebelum pria gila itu kembali, aku harus mengungkapkan isi hatiku." Gumam Steven dalam hati, sekali lagi dia melirik pada pintu ruangan Zena.
Di ambil nafasnya dalam-dalam, lalu dikeluarkan secara perlahan, mengungkapkan cinta ternyata tidak segampang yang Steven bayangkan, lidahnya masih terasa kaku dan kelu, serta keringat dingin tiba-tiba mengalir deras di wajah dan tubuhnya, pertanda dia sangat gugup dan gerogi.
Melihat gerak gerik kaku suaminya, Zena pun menebak apa yang akan dibicarakan oleh suaminya, karna bagi Zena, suaminya tidak akan mengatakan cinta, jujur saja rasa cinta yang dia punya untuk suaminya sudah sedikit memudar karna perlakuan yang dia terima.
"Zen, sebenarnya aku.. "
"Ah siall! kenapa lidahku sangat susah untuk mengatakan cinta" Maki Steven di dalam hati, saat menjeda ucapannya.
"Mas, sudah deh... kalau kamu belum siap bicara atau ragu, lebih baik kamu diam! kamu membuatku semakin penasaran! " Gerutu Zena, saat suaminya menjeda ucapannya
"Sebentar aku mau ke kamar mandi dulu Zen, tiba-tiba aku mengantuk" Ujar Steven berdiri lalu berlari masuk kedalam kamar mandi
Di dalam kamar mandi, Steven berusaha merangkai kata agar terlihat romantis saat mengucapkan kata cinta untuk istrinya.
"Zen, sebenarnya... aku mencintaimu, kamu mau kan pulang bersamaku dan hidup bahagia denganku" Ucap monolog Steven
"Ah tidak, tidak, masa Zen sih" Gerutu Steven
"Sayang, " Ucap Steven terjeda.
"Sayang? kenapa jadi sayang, aku tidak pernah memanggil Zena dengan sebutan sayang, ganti... ganti... " Gumam Steven monolog
"Zen, maafkan aku, selama ini aku tidak menyadari perasaanku padamu, ternyata aku sudah mencintaimu"
"Ahh, Zena pasti menertawakanku" Ucap Steven frustasi, segera dia menyalakan kran dan membasuh wajahnya agar tidak terlihat gugup.
Setelah 10 menit berada di kamar mandi, akhirnya Steven keluar dengan wajah yang segar, dia berjalan dan kembali duduk disamping Zena yang sedang menonton TV
Melihat suaminya sudah kembali, Zena berusaha menampilkan senyum terbaiknya
"Sudah? " Tanya Zena yang di angguki Steven
"Sudah, dan aku sudah siap untuk menyatakannya" Jawab Steven mantap.
"Zen,, aku... aku mencintaimu" Ujar Steven lirih
Bersambungš
__ADS_1