Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 141_Membayar


__ADS_3

"Aku tidak akan menganggu keluargamu lagi, aku hanya sekedar bertanya. Mau bagaimanapun Zena anak dari Leo. Dan kau tahu, sekarang semua hartaku di kuasai oleh Leo," curhat Riski.


"Apa urusanku? Itu hartamu, dan pria tua itu bukan Ayah dari istriku. Tidak ada orang tua yang tega menukar anaknya dengan uang," ketus Steven.


"Maaf, ini pesanan nya dan ini bill pembayarannya," ucap pelayan restoran yang membawa satu plastik berukuran sedang, "Dan ini,--" pelayan memberikan Bill untuk Riski, "Ini bill bapak," sambung pelayan.


Steven menerima kantong plastik itu dan menyerahkan beberapa uang pecahan lima puluh ribu pada pelayan, "Biar bill dia saya yang membayar, karena dia baru saja kabur dari rumah sakit," ejek Steven, "Sisanya adalah tips untukmu," sambung Steven lagi.


"Terimakasih Tuan," jawab pelayan langsung pergi.


Setelah melihat pelayan pergi, Steven beranjak dari duduknya dengan menyambar tas plastik yang berisi makanan.


"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara," cegah Riski melihat Steven beranjak.


"Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk meladeni setiap ucapanmu. Lebih baik, kau pulanglah ketempat mu berada," ucap Steven melanjutkan langkahnya.


"Terimakasih!" teriak Riski membuat kedua sudut bibir Steven tersenyum, tak ingin Riski mengetahui senyumannya, Steven tetap melangkahkan kakinya dengan lebar.


"Ternyata dia cukup baik. Walaupun sikapnya dingin," kekeh Riski berjalan menuju parkiran mobilnya.


Setelah 10 menit berkutat di jalanan yang cukup padat, akhirnya mobil Steven terparkir mulus di depan loby kantor.


"Parkirkan mobilku dengan benar," titah Steven melemparkan kunci mobilnya pada Pak satpam.


"Baik Tuan," jawab Pak satpam menangkap kunci mobil bossnya.


Steven berjalan menuju ruangannya, di tengah jalan, dia bertemu dengan sekertarisnya yang sedang kebingungan.


"Hei, kau sedang apa?" tanya Steven saat melihat sekertaris Nanda berjalan bingung.


Mendengar suara Steven, sekertaris Nanda langsung menatapnya dengan kesal, "Tuan, bukankah saya sudah bilang, jika kita ada meeting. Dan kita hampir telat!" ketus sekertaris Nanda menujukan jam dipergelangan tangannya.

__ADS_1


"Aku keluar membeli makanan untuk istriku, memangnya kita ada meeting di jam istirahat?" tanya Steven berjalan masuk lift.


Sekertaris Nanda mengikuti Steven dari belakang, dia memencet tombol lift menuju lantai ruangan Steven, "Tidak, aku memang sengaja mencari keberadaan mu, Aku tidak mau seperti dulu lagi. Tiba-tiba menghilang tanpa memberi kabar, dan aku yang terkena imbasnya," ucap sekertaris Nanda membuat Steven melototkan matanya.


"Masih jam kerja, dan hormati aku sebagai atasanmu," ketus Steven.


Ting ....


Pintu lift terbuka, Steven melangkahkan kakinya keluar, Dia berjalan menuju ruangannya, "Di mana Jeff?" tanya Steven pada sekertaris Nanda.


"Di dalam ruanganmu," ketus sekertaris Nanda, "Aku sudah siapkan beberapa berkas untuk kau pelajari sebelum meeting berlangsung!" sambungnya lagi.


"Kenapa semua anak buahku tidak ada yang beres, Jeff putus cinta, Kau ... kau selalu menggerutu tak jelas," jawab Steven melirik sekertaris Nanda dengan ekor matanya, "Mulai hari ini, jangan terlalu fokus bekerja, carilah pasangan untukmu. Ingat umur Nda, umurmu sudah tua," ujar Steven membuat darah sekertaris Nanda naik.


"Jika aku memikirkan drama percintaan, lalu apa kabar dengan perusahaan ini? Bisa-bisa perusahaan ini hancur seketika karena pemimpin dan bawahannya hanyut dalam kata 'Cinta'," jawab sekertaris Nanda berjalan melewati Steven.


"Astaga, kenapa akhir-akhir ini mereka semua tidak ada yang takut padaku. Tapi dipikir-pikir, aku senang saat melihat mereka seperti ini, pertanda mereka menganggapku seperti keluarga mereka," gumam Steven membuka pintu ruangannya.


"Dad!" pekik Rio, "Daddy sudah pulang dan membawa makanan untuk kita?" tanya Rio mengambil kantong plastik ditangan Steven, "Aku lapar Dad, kita semua di sini lapar," ucapnya lagi mengeluarkan 4 kotak makanan yang didibeli Steven.


"Sayang, beri satu kotak makanan itu pada Om Jeff," titah Zena pada putranya Rio.


"Baik Mom," jawab Rio, "Ini untuk Om Jeff," ucap Rio memberikan satu kotak makanannya.


"Makasih Nyonya, saya bisa beli makanan sendiri di luar, biar ini untuk Nyonya saja," tolak Jeff memasukan ponselnya kedalam sakunya.


"Aku memang sengaja membelikan makanan itu untukmu Jeff, terimalah ... dan kita makan bersama, jangan sungkan," titah Steven berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangannya.


"Terimakasih Tuan, maaf merepotkan anda," ujar Jeff menerima dan membuka kotak makannya.


***

__ADS_1


"Kau! kau dari mana saja hah! enak ya ... pergi tak jelas memakai fasilitas orang," sindir Sheila saat melihat Riski masuk ruangan.


"Terimakasih sudah meminjamkan mobil untukmu, Nona," ujar Riski meletakkan kunci mobil milik Sheila di atas meja, "Oh iya, aku memakai uangmu yang tergeletak di dashboard mobil, dan bensin mobilmu sudah habis, aku malas mengisi," ucap Riski membuat Sheila melototkan matanya.


"Kurang ajar!" teriak Sheila, "Cepat kembalikan uangku! dan cepat isi bensin mobilku juga!" pekik Sheila lagi melempar bantal yang berada di sampingnya.


"Hust!! Diam! Di luar banyak orang!" ucap Riski membungkam mulut Sheila.


Sheila menepis tangan Riski kasar, dia mencium aroma makanan dari tangan pria yang membungkam mulutnya, "Jangan bilang, kau sempat singgah di restoran dan menggunakan uangku?" tebak Sheila.


"Iyap, betul sekali Nona," jawab Riski, "Dan ini, aku kembalikan kacamatamu itu," sambungnya kembali.


"Huh! Huh! Huh!"


"Dasar manusia biadab!" geram Sheila, "Apa kau lupa denganku hah! Di sini, aku menahan lapar karena ulahmu!" pekik Sheila.


Di saat Sheila sedang mengumpat dan mencaci maki Riski, tiba-tiba ponsel Sheila berdering.


"Angkatlah, pasti pria tua itu merindukanmu karena semalaman kau di sini," ejek Riski saat melihat nama Leo di layar ponsel Sheila.


"Diam! Jangan bicara!" pinta Sheila, menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Hallo sayang," ucap Sheila malas, dia menatap Riski yang sedang menatapnya, "Maaf, mungkin beberapa hari ini aku tidak bisa menemuimu sayang, tiba-tiba ada temanku mengajak membuat konten di luar negeri," ujar Sheila lagi.


"Kau tahukan sayang, aku tidak bisa hidup berjauhan denganmu. Apalagi saat anak tiriku dinyatakan meninggal. Aku masih membutuhkanmu sayang, atau aku akan menyusulmu ke luar negeri. Kita liburan bersama di sana, sekalian ... kamu memperkenalkan aku kepada teman-temanmu," jawab Leo dari sebrang sana.


Sheila melototkan matanya, mendengar kata sayang dan menyuruh memperkenalkan dirinya pada teman-temannya membuat Sheila ingin memuntahkan isi perutnya.


"Jangan sayang, jangan. Kita merencanakan konten ini khusus wanita, tidak ada yang boleh membawa pasangannya. Lebih baik, kamu kirimkan uang untukku berbelanja di sana, sayang," ucap Sheila membuat Riski menggelengkan kepalanya dan beranjak meninggalkan Sheila.


"Jangan khawatir, aku akan mengirimkan uang untukmu bersenang-senang di sana," jawab Leo membuat mata Sheila berbinar.

__ADS_1


Bersambung😘


"


__ADS_2