Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 164_Hubungan?


__ADS_3

"Masuk!" teriak Zena.


Jack mulai memutar gagang pintu, kemudian masuk ke dalam kamar istri Tuan nya. Jujur saja Jack bingung, kenapa istri Tuan nya meminta bertemu berbicara di kamar dalam keadaan seperti ini.


"Ada apa, Nyonya memanggil saya?" ucap Jack.


Zena beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan menuju balkon kamarnya, "Tutup dan kunci pintunya. Kita bicara di balkon kamar saja," titah Zena di angguki Jack.


Setelah menutup dan mengunci pintu, Jack berjalan menghampiri istri Tuan mudanya yang sudah berjalan lebih dahulu.


"Duduklah," titah Zena yang sudah menjatuhkan bokongnya di kursi.


"Tidak bisa Nyonya, saya hanya bodyguard atau pengawal anda. Tidak seharusnya, saya duduk bersanding dengan anda," ucap Jack tetap berdiri di samping Zena.


"Kau tahu, aku dan Jeff sudah seperti saudara. Di antara kami tidak ada kata pengawal atau majikan, jadi duduklah. Bersikaplah seperti Jeff," ujar Zena, pandangannya menatap lurus depan.


"Saya akan menegurnya setelah dia sadar," jawab Jack membuat Zena melotot tajam, pandangan yang tadinya menatap bangunan besar kini sudah berganti memandang seseorang di sampingnya.


"Jika, hal itu terjadi, maka orang yang pertama aku marahi adalah kau!" geram Zena, "Duduk!" titahnya lagi.


"Tidak Nyonya, saya tidak bisa. Untuk apa Nyonya meminta saya kemari? Apa ada hal yang penting?" tanya Jack mengalihkan pembicaraan Zena.


"Huh!"


"Jack, kau tahukan dokter Irma?" tanya Zena beranjak dari tempat duduknya, langkahnya perlahan menuju pembatas besi di balkon rumahnya.


"Saya tahu Nyonya," jawab Jack tertunduk.


"Kau tahu kan, jika dia wanita yang dicintai adikmu, Jeff?" tanya Zena memutar tubuhnya kemudian menatap pria yang sedang tertunduk.


"Tahu Nyonya," jawab Jack.


'Kita bahkan sudah berpacaran,' batin Jack.


"Bagus.Aku hanya ingin mengingatkan mu saja. Jangan pernah menyakiti sedikit saja perasaan dokter Irma, kau tahu, bagaimana Jeff memperjuangkan cintanya untuk dokter Irma?"


"Tidak Nyonya, dan saya tidak akan menyakiti dokter Irma," jawab Jack.


"Bagus, aku hanya ingin mengucapkan kata itu saja!" ucap Zena, "Oh, iya ... kenapa, semalam kau mabuk dan tidak pulang?" tanya Zena sekali lagi.


"Emm ... anu Nyonya, saya--"


"Saya apa?" tanya Zena curiga, apalagi saat mencium bau alkohol dari tubuh Jack.

__ADS_1


"Saya--"


***


"Irma, ada apa denganmu? Dan di mana mobilmu?" tanya Al setelah melihat adiknya keluar kamar dengan wajah lesunya.


"Tidak apa-apa Mas, mobilku tertinggal di rumah sakit. Semalam hujan dan aku tidak bisa memaksakan menyetir," jawab Irma menarik kursi dan menjatuhkan bokongnya.


"Tumben Ir, biasanya kamu tidak suka naik taksi atau sejenisnya, apalagi malam-malam, pasti alasanmu takut dibegal dan lain-lain," timpal Ibu Irma sambil mengambil nasi goreng untuk Putri nya, "Makanlah, Kakakmu yang membuatkan khusus untukmu" lanjutnya lagi.


"Wahh, Mas Al memasak? Memangnya, Mas Al datang pagi buta?" tanya Irma pada Ibu nya.


"Tanyakan saja pada Kakakmu."


"Datang jam berapa Al?" tanya Ibu.


"Aku tidak tahu, aku langsung masuk kamar, mungkin sebelum Ibu pulang ke rumah," jawab Al santai.


Uhuukkk ..


Mendengar jawaban Al, tiba-tiba Irma tersedak makanannya, segera Ibu nya memberi satu gelas air putih untuknya.


"Pelan-pelan sayang, jangan terburu-buru," ucap Ibu Irma.


"Ir, apa ada masalah di pekerjaanmu?" tanya Al pada adiknya.


"Em--" Irma mendongakkan wajahnya, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Tidak Mas, aku tidak mempunyai masalah apapun. Memangnya ada apa?" tanya Irma memasukkan satu sendok makanannya ke dalam mulut.


"Jangan bohong."


"Aku tidak berbohong Mas, aku tidak mempunyai masalah apapun. Mas Al saja yang--"


"Sudah! Sudah! kalian kenapa bertengkar terus, kita sedang makan. Ibu tidak suka, Anak-anak ibu bertengkar di meja makan,"


"Aku tidak bertengkar Bu," timpal Irma cepat.


"Benar apa yang dikatakan Irma, kita tidak bertengkar. Kita hanya berdebat."


"Sama saja. Lebih baik, kalian makan," ucap Ibu.


"Baik Bu," jawab Irma dan Al bersamaan.

__ADS_1


Setelah selesai menyelesaikan sarapan paginya, Al dan Irma berpamitan untuk pergi bekerja bersama. Sudah beberapa kali, Irma menolak di antar Kakaknya, tapi karena Ibu nya yang meminta, akhirnya Irma menyetujuinya.


"Mas Al, turunkan aku di depan. Aku mau mengambil mobilku," ucap Irma.


"Di mana mobilmu? Bukannya kamu bilang, jika mobilmu ditinggal di rumah sakit?" tanya Al membuat Irma menepuk jidatnya.


'Oh iya aku lupa, aku lupa, aku kan berbohong kalau mobilku--'


"Ir! Kamu membohongi Mas!" tanya Al.


"Tidak Mas, siapa yang membohongi Mas. Aku lupa saja, jika aku--"


"Aku?" tanya Al penasaran.


"Aku mau mampir Mas, aku lupa membeli pulpen dan--"


"Aku akan mengantarkan mu."


"Mas! Kenapa Mas Al berubah," gerutu Irma


"Berubah seperti apa! Kamu saja yang berubah. Setelah kamu mengenal pria itu, sikapmu menjadi berubah," timpal Al kesal.


"Jangan bawa-bawa dia, dia orang baik Mas," ketus Irma.


"Mas akan menjodohkan mu dengan dokter Riyan," jawab Al cepat.


"Apa!" mata Irma membulat sempurna, "Aku tidak mau Mas, aku dan dia hanya sahabat dan sebatas rekan kerja. Lagipula, kita tidak memiliki perasaan seperti cinta."


"Aku sudah membicarakan ini pada Ibu, dan Ibu setuju. Ibu tidak mau, kamu jatuh ke tangan pria yang tidak bertanggungjawab seperti pria yang mendekatimu,"


"Pembunuh bayaran yang tidak tahu sopan santun. Hobinya berkelahi dan membunuh orang," ujar Al.


"Tapi Mas Jeff bukan seperti itu Mas, dia bukan pembunuh bayaran atau sejenisnya, dia juga pria yang baik dan bertanggungjawab," bela Irma.


"Sedari tadi, kamu membelanya terus, jangan bilang ... kalian memiliki hubungan di belakang ku?" tebak Al membuat Irma gugup.


"Hu-hubungan? Maksud Mas Al apa?"


"Kami berteman," jawab Irma.


"Jangan bohong, aku melihat kebohongan di mata mu Ir!"


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2