
'Kenapa jadi aku yang terpojokkan?' batin dokter Riyan.
"Tidak mungkin, aku tidak mengkhianati Irma," bela Riyan.
"Bohong Mas, Riyan bohong. Dia tipe pria yang mudah bergonta-ganti pasangan, maka dari itu ... aku tidak mau menikah dengannya, Mas. Biarkan aku memilih jodohku sendiri. Aku sudah besar Mas, memangnya Mas tidak percaya dengan pilihanku?" ucap Irma, raut wajahnya sudah memelas mengharapkan Kakaknya mau menerima keputusannya.
"Bicaralah pada Ibu, tapi aku harap ... kalian bisa bersama, karena Ibu sangat menyukai hubungan kalian," titah Al melepaskan tangan adiknya yang melingkar di pinggangnya, "Mas harus kembali bekerja," sambungnya lagi.
Setelah kepergian Al, Irma menjatuhkan bokongnya di kursi dengan tatapan yang menusuk pada teman prianya.
"Apa yang kau ucapkan!" pekik Irma mengambil dan menyeruput minumannya.
"Aku tidak mengucapkan apapun. Aku hanya ingin mengakhiri saja, kau tahu kan? Begitu tersiksanya menjadi kekasih pura-pura mu!" jawab dokter Riyan beranjak dari tempat duduknya, "Sekarang urusan kita selesai. Jadi, aku harap ... lain kali, jangan pernah meminta bantuan kepadaku lagi," sambung Riyan berjalan keluar ruangan.
"Bicaralah dengan Ibuku," teriak Irma tak sengaja tangannya menyenggol es boba pemberian Kakaknya dan terjatuh menyiram ponselnya.
"Astaga! Ponselku!" pekik Irma membersihkan ponselnya dengan tissue.
"Bicara apalagi? Semuanya sudah selesai. Aku tidak mungkin bicara yang sejujurnya, jika kau memiliki hubungan spesial dengan pria itu!" jawab Riyan yang berdiri di dekat pintu, pandangan matanya menatap teman wanitanya yang sedang membersihkan ponselnya.
"Ponselku mati. Bagaimana ini?" tanya Irma cemas.
"Biar aku bersihkan. Ponselmu, masih bisa diselamatkan," ucap dokter Riyan berjalan menghampiri teman wanitanya dan berusaha menggambil ponsel yang berada dalam genggaman teman wanitanya.
"Tidak perlu!" ketus Irma.
"Cepat sini!"
"Tidak perlu!"
"Mau ponselmu selamat atau tidak!"
"Tapi, aku tidak perlu bantuanmu!"
Praangg ....
"Riyan! Sudah aku bilang tidak perlu!" pekik Irma mengambil ponselnya terjatuh dan tergeletak di lantai, "Kau harus tanggung jawab, ponselku benar-benar mati. Padahal, aku belum sempat membaca isi pesan dari seseorang!" sambung Irma, air matanya sudah menetes.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku tidak sengaja," ujar Riyan, "Jangan menangis, Ir ... maafkan aku," sambung Riyan menarik Irma dalam pelukannya, "Maafkan aku,"
"Bagaimana ini, dok? Aku sudah tidak mempunyai nomernya, aku juga tidak bisa melihat pesan terakhir darinya," ujar Irma membalas pelukan teman prianya.
"Aku akan membelikan ponsel terbaru untukmu, dan masalah nomer ... kau bisa ambil dari SIM card mu," ujar dokter Riyan yang diangguki Irma.
***
Setelah beberapa jam di dalam pesawat, akhirnya pesawat yang ditumpangi Jack sudah mendarat di bandara yang cukup terkenal di negara J, tak ada henti-hentinya Jack mengecek ponselnya, berharap Irma akan membalas pesannya.
"Dia tidak membalas pesanku? Apa mungkin dia marah?" gumam Jack menjatuhkan bokongnya di taksi yang baru saja dia pesan.
Tak ingin larut dalam perasaannya, Jack mengambil SIM cardnya yang masih melekat di ponselnya dan membuangnya ke sembarang arah, lalu menggantinya dengan SIM card nomer negara J.
"Sudah saatnya aku kembali sebagai Jack dan melupakan semua yang pernah terjadi di negara itu. Aku harus bisa menghargai perasaan Jeff," gumam Jack menghapus semua isi pesan dari Irma, "Selesai, semuanya selesai. Dan aku harap, kebohongan yang pernah aku perbuat tidak akan merugikan siapapun," sambungnya lagi.
Setelah sampai di kediaman Steven yang berada di negara J, Jack langsung menghampiri adiknya di kediaman Steven.
"Nyonya, bagaimana keadaan Jeff?" tanya Jack saat melihat Tesa di ruang tamunya sedang menonton televisinya.
"Eh, Jack ...," panggil Tesa bangkit dari duduknya, "Jeff sudah dipindahkan di kamarnya, dia sedang beristirahat," jawab Tesa berjalan menuju kamar Jeff diikuti oleh Jack di belakangnya.
"Terimakasih Nyonya, saya benar-benar berhutang budi dengan keluarga anda," jawab Jack memutar dan membuka pintu kamar Jeff.
Setelah pintu terbuka, Jack masuk dan melihat adiknya sedang terbaring di atas ranjang, perlahan tapi pasti, Jack menjatuhkan bokongnya di tepi ranjang.
Merasa ada guncangan dari tepi ranjangnya, Jeff membuka matanya perlahan, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat kehadiran Kakaknya.
"Jack," sapa Jeff.
"Beristirahatlah, aku akan menjagamu sampai kau benar-benar pulih," ucap Jack membalas senyuman dari Jeff.
"Jangan, bagaimana dengan Tuan? Aku tidak mau Tuan--"
"Tuan yang menyuruhku untuk kembali dan menjagamu, Jeff."
"Tuan memang baik, tapi ... bisakah aku meminta ponselku? Kata Nyonya Tesa, ponselku dipegang olehmu? Aku perlu menghubungi seseorang," ujar Jeff.
__ADS_1
"Ponselmu?" ulang Jack, "Maafkan aku Jeff, ponselmu mati karena kehabisan daya, biar aku isi daya dulu," sambung Jack.
"Iya, cepat. Aku sudah tidak sabar menghubungi seseorang," ucap Jeff berusaha mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.
"Hei, kau mau apa! Tetaplah berbaring. Kau belum pulih total!" ujar Jack membenarkan posisi adiknya.
"Apa kau ingin mendengar ceritaku? Aku sedang menyukai seseorang. Dia seorang dokter muda yang sangat cantik, setelah aku sembuh, aku akan mencoba meyakinkannya agar mau menikah denganku," curhat Jeff, senyumnya semakin mengembang saat mengingat senyum Irma yang manis.
"Aku sudah tahu."
"Apa? Kau sudah tahu? Apa Tuan yang memberitahukan mu? Bagaimana ... menurutmu cantik tidak?" tanya Jeff antusias.
"Kalian tidak cocok, kalian menganut keyakinan yang berbeda. Lebih baik, lupakan dia!"
"Aku mencintainya dan aku akan mencoba belajar dan pindah keyakinan agar kita bisa hidup bersama," jawab Jeff, "Aku sudah sembuh, aku rindu dengannya. Aku takut dia mencemaskan ku," sambung Jeff.
"Kau sudah ditolak dan mana mungkin dia mencemaskan mu Jeff, lebih baik urusi dirimu sendiri, jangan pikirkan orang lain," titah Jack tidak suka.
"Kau kenapa Jack? Bukankah dari dulu, kau tidak pernah suka ikut campur urusanku? Kenapa tiba-tiba kau datang dan bersikap seolah-olah kamu tidak mendukung hubunganku dengannya?" tanya Jeff curiga, "Jangan-jangan, kau takut tidak laku, karena secara ... aku adikmu, dan aku hampir mendapatkan--"
"Cukup! Sekarang istirahatlah, aku tidak mau berdebat denganmu!" timpal Jack.
"Kau benar-benar, Kakak yang menyebalkan. Cepat cas baterai ponselku, aku sudah tidak sabar menghubunginya," titah Jeff.
"Jeff, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan," titah Jack mengalihkan pembicaraan adiknya.
"Apa?"
"Aku sudah bertemu dengan wanita yang kau cintai," jawab Jack.
"Benarkah? Bagaimana? Cantik kan? Pilihanku sempurna kan?" tanya Jeff antusias.
"Iya sempurna, sangat sempurna," jawab Jack.
"Tunggu! Tunggu dulu! Kau tidak menemuinya kan? Kau tidak menggunakan namaku untuk bertemu dengannya kan?"
"Aku?"
__ADS_1
'Lebih baik aku katakan semuanya pada Jeff,' batin Jack.
Bersambungš