Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 58_Bersedia Mencicil Hutang


__ADS_3

Lalu Steven bangkit dan berjalan keluar, dia ingin menenangkan fikirannya di dalam guyuran shower dingin miliknya


Zena membuka matanya saat mendengar pintu tertutup, sejujurnya dia tidak tidur, dia hanya malas berbicara dengan Steven, lagipula hatinya sedang terluka karna pesta dansa itu


"Kau menyayangiku tapi kenapa kau memperlakukanku seperti ini Steve, apa yang kau rencanakan"


"Dan apa maksud dari kata-kata mu yang menyuruhku untuk bersabar, memangnya masalah apa yang sedang kau hadapi sampai-sampai aku tidak boleh tahu " Gumam zena sambil menghapus air matanya yang lolos dari pelupuk matanya,


Zena bangkit lalu turun dari ranjang dan berjalan keluar, dia berniat untuk menemui Steven dan berbicara empat mata padanya


Krek, pintu dibuka Zena, dia masuk kedalam kamar dan tidak melihat Steven tapi dia mendengar suara gemercik air di dalam kamar mandi


"Aku harus berbicara, aku tidak bisa ditindas seperti ini, jika aku tidak bisa kabur dari sini, setidaknya aku harus menaklukkan hati Steven agar dia tidak memperlakukanku sekasar ini" Gumam Zena di dalam hati, dia berjalan mondar mandir sambil menggigit jarinya menunggu Steven selesai mandi


Deg..


Jantung Zena berdetak dua kali lebih cepat saat dia mendengar kran air dimatikan dari dalam kamar mandi


"Zena, kau bisa" Gumamnya dalam hati lagi yang menyemangati dirinya sendiri


Diambilnya nafas dalam-dalam lalu dihembuskan secara perlahan,

__ADS_1


"Sebentar lagi Steven akan keluar, ayo semangat Zen!! "


Krek, pintu kamar mandi terbuka, Steven keluar dengan tangan memegang handuk kecil yang sedang menggosokkan ke rambut basahnya, wajahnya terkejut saat melihat Zena berdiri dihadapannya


"Ada apa kau kemari? Apa kau ingin mencicil hutangmu diatas ranjang" Ujar Steven yang melangkah menjauh dari Zena, dia memasuki walk in closet dan mengambil pakaian santainya lalu keluar berharap istrinya sudah pergi dari kamar,


Melihat Zena menggunakan daster diatas lutut membuat libido Steven kambuh, apalagi saat Zena berdiri tepat dihadapannya, dia tak sengaja melihat belahan dada istrinya dan paha mulus istrinya


Ya Steven sengaja melangkah menjauh karna menahan hasratnya, melihat tubuh serta wajah istrinya yang tak terurus membuat Steven merasa bersalah


Zena pun masih berdiri di depan pintu kamar mandi,dia benar-benar akan menghadapi Steven, dan Steven yang baru saja keluar dari walk in closetnya mendesaah malas saat melihat sang istri masih mematung di dekat kamar mandi


"Baik, aku akan mencicil hutangku diatas ranjang tapi dengan satu syarat" Ucap Zena membuat Steven menjatuhkan handuk yang digenggamnya karna tak percaya dengan ucapan istri


Steven menggelengkan kepalanya lalu tersenyum tipis "Apa aku butuh syarat darimu?! Ingat kau sudah menandatangani surat perjanjian pagi tadi, apa kau lupa! " Ujar Steven,


"Oh aku tahu syaratmu" Ujar Steven menjeda ucapannya "kau ingin aku membunuhmu kan? Tapi itu tidak mungkin Nyonya Steven karna aku masih membutuhkanmu" Sambungnya lagi sambil berjalan dan duduk ditepi ranjang


Zena berjalan mendekati suaminya, bahkan dia duduk di depan Steven "Bukan, aku tidak mau mati sia-sia ditanganmu" Jawab Zena, dia memberanikan diri menatap mata Steven "Aku akan menuruti semua mau mu tapi kau harus membebaskanku sesuai perjanjian awal, aku boleh bekerja, aku boleh bersenang-senang dengan temanku dan aku boleh melakukan banyak hal diluar rumah, jika kau menuruti semua permintaanku aku tidak akan menolak untuk mengandung anakmu" Ujar Zena yang menjeda ucapannya "Aku juga tidak akan mempermasalahkan kau selingkuh dibelakangku, bahkan aku tidak akan marah jika aku melihatmu berciuman atau bercinta dengan kekasihmu itu, aku sudah membencimu, rasa cinta yang pernah tumbuh dihatiku sudah sukses menghilang karena sikapmu yang kasar padaku" Sambung Zena membuat hati Steven terasa sakit, dadanya terasa sesak untuk bernafas, ucapan istrinya sangat menusuk kedalam relung hatinya


"Kau setuju kan! Dan mulai sekarang kau tidak perlu menyuruhku memanggilmu dengan sebutan sayang atau lainnya, karna aku akan memanggilmu selayaknya teman biasa, seperti aku memanggil mas Riski, aku akan memanggilmu mas juga"

__ADS_1


"Mari kita berteman, dan aku akan melayanimu di atas ranjang" Ucap Zena mengulurkan tangannya "Bukankah hanya anak yang kau inginkan dariku? Jadi menurutku kita seimbang, kau mendapatkan anak dari aku, aku juga dapat melihat keluarga ibuku bahagia, karna bagaimanapun didunia ini aku cuma mempunyai ibu dan ayah, sudah seharusnya aku berbakti pada ibuku dengan cara mengabdi padamu" Sambung Zena saat Steven ragu membalas uluran tangannya


"Ayo, kita buat kesepakatan, dan aku janji, aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaanmu jika kau menyetujuinya" Ucap Zena yang menggerakkan tangannya agar Steven melihat uluran tangannya


Steven terdiam, sejujurnya dia tak terima dengan ucapan istrinya, tapi saat melihat mata dan tubuh istrinya yang sangat memprihatinkan, Steven kembali berfikir


"Seharusnya aku senang saat dia mau memberikanku anak, tapi kenapa hatiku terasa sakit saat dia membenciku, apa tindakanku benar-benar melukai hatinya" Gumam Steven dalam hati, dia menatap istrinya yang sedang menatapnya


"Bagaimana bisa aku mempercayaimu, bagaimana jika setelah aku membebaskanmu, kau akan kabur dengan selingkuhanmu" Ujar Steven yang mengulur waktu untuk memikirkan ucapan istrinya


"Bagaimana aku bisa kabur mas, kau tahukan hidup keluargaku ditanganmu, dan tentang mas Riski, aku tekankan padamu! " Zena menjeda ucapannya, lalu mengontrol nafasnya karna suaminya menuduhnya selingkuh lagi "Aku dan mas Riski tidak mempunyai hubungan apapun, aku tidak berselingkuh, aku bukan wanita murahan"


Steven menarik salah satu sudut bibirnya keatas, membuat senyum sinisnya terlihat dimata Zena "Kalau begitu, aku menginginkan bukti ucapanmu itu, sekarang bersihkan tubuhmu dan kau akan mencicil hutangmu" Titah Steven sambil membelakangi tubuh Zena, tangannya dia silangkan didepan dada


Zena meremas selimut yang ada di dekatnya lalu dia bangkit dan berjalan menghampiri Steven "Baik, aku akan menyiapkan diriku dulu, kau tunggu disini" Ucap Zena lalu berjalan menuju kamar mandinya


Setelah pintu tertutup, Zena menyalakan kran lalu membasuh wajahnya, air mata yang dia simpan di hadapan Steven akhirnya lolos juga "Kau kuat Zen, kau bisa menaklukkan hati Steven, semangat!!! kau pasti bisa! "


"Cintamu memang datang di waktu yang salah tapi kau bisa menyimpan cinta itu Zen, jangan perlihatkan cintamu pada Steven, karna kau akan terlihat lemah dimatanya, sekarang yang harus kamu fikirkan adalah kebebasan, lihat tubuhmu, sekarang tubuhmu sangat kurus, dan pipimu sangat tirus bahkan wajahmu sudah kusam, jika kau ingin menaklukkan hatinya maka mulailah dari mempercantik diri, kau tidak boleh kalah dari selebgram gadungan itu," Gumam Zena dalam hati yang sedang menyemangati dirinya sendiri


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2