
"Hahahaha ...," tawa Zena pecah saat melihat wajah Jeff yang memerah.
"Nyonya, jika Nyonya menertawakan saya, saya tidak akan mau membelikan es krim lagi untuk Nyonya," ujar Jeff membuat Zena melototkan matanya.
"Jeff, jangan seperti itu, kita teman,"
"Tidak ada kata teman jika menertawakan seperti ini Nyonya," ujar Jeff yang sudah berada di depan mobil lalu membukakan pintu belakang mobil untuk Zena.
"Jeff," rayu Zena, dia enggan masuk ke dalam mobilnya.
"Masuk Nyonya, kita bisa dimarahi Tuan,"
"Tapi ... kita teman kan," tanya Zena yang di angguki Jeff.
"Iya Nyonya, sekarang masuklah ... jika kita telat, Tuan akan memarahi saya," ulangnya lagi.
Zena mengangguk, dia masuk ke mobilnya. Jeff menutup pintu mobil dan berjalan memutari mobil agar bisa masuk ke bangku kemudi.
"Jeff," panggil Zena saat Jeff sudah menancapkan gas nya keluar dari parkiran rumah sakit.
"Iya Nyonya,"
"Emm ... apa di sini kamu mempunyai saudara atau kerabat dekat?"
Jeff mengerutkan keningnya, "Ada apa Nyonya, tumben sekali Nyonya bertanya kerabat atau saudara saya?" tanya Jeff penasaran.
Zena menggelengkan kepalanya, dia mencoba merangkai kata agar tidak terlihat penasaran di depan anak buah suaminya.
"Maksudku, selama ini ... aku tidak pernah melihatmu cuti atau izin menemui keluargamu," tanya Zena tertawa, dia menutupi kepanikannya dengan tertawa.
"Oh, saya memang tidak mempunyai keluarga di sini Nyonya. Saya tinggal bersama kakak saya di negara J, dan kami sudah berpisah selama beberapa bulan ini,"
"Kaka?" ulang Zena berpura-pura terkejut.
"Jadi Jeff adik dari Jack," gumam Zena dalam hati.
Jeff tersenyum saat melihat keterkejutan diwajah istri Tuan nya, "Iya kaka saya, tapi sudah beberapa bulan dia tidak memberi kabar, mungkin masih disibukan dengan pekerjaannya. Tuan bicara pada saya, jika kakak saya sedang sibuk dan tidak bisa diganggu," jawab Jeff menghentikan mobilnya di rambu lalu lintas, karena lampu berwarna merah.
"Oh begitu, iya ... iya malang sekali nasibmu Jeff, berpisah dengan kakak tersayangmu, hahaha," jawab Zena tersenyum garing.
Jeff menanggapi dengan senyuman, dia tidak berniat membalas ucapan istri Tuan nya, dan seketika keadaannya menjadi hening.
Zena mengalihkan pandangannya pada pepohonan di pinggir jalan, dia memikirkan ucapan suaminya sekali lagi 'Jack sedang masa pemulihan',"
__ADS_1
"Bagaimana kabar Jack sekarang, Ibu sudah kembali ke negara J untuk menemani Jack,"
"Apa dia sudah sembuh,"
"Dan bagaimana reaksi Jeff jika tahu kakaknya sakit. Aku takut melihat amarahnya Jeff, biasanya orang yang suka tertawa akan menyeramkan jika sudah marah," gumam Zena dalam hati,
Setelah 20 menit menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang ditumpangi Jeff dan Zena sudah memasuki area parkir kantor Steven. Jeff memarkirkan mobilnya di depan kantor lalu membukakan pintu untuk Nyonya mudanya.
"Jeff, kau ikut kan?" tanya Zena lagi, dia belum siap masuk ke Kantor suaminya seorang diri dengan perut yang sudah buncit.
"Saya akan temani Nyonya sampai ke ruangan Tuan," titah Jeff yang menunggu Zena turun dari mobilnya.
Zena mengangguk tersenyum, dia mulai menurunkan kakinya ke lantai kantor suaminya.
"Hati-hati Nyonya," ujar Jeff saat melihat Nyonya mudanya turun dari mobil.
"Pasti Jeff, jika aku tidak hati-hati, Mas Steven pasti sudah memarahiku, dia kan hobinya cuma marah,"
"Aku juga heran, kenapa aku bisa punya suami seperti dia," jawab Zena yang mulai berjalan memasuki kantor.
"Hahaha Nyonya, Tuan sangat menyayangi Anda,"
"Sudahlah Jeff, jangan dibahas. Jika sekertaris Nanda dengar, pasti dia akan mengadukan ini pada Mas Steven,"
Saat Zena mulai memasuki kantor suaminya, semua karyawan kantor menunduk, mereka memberi hormat dan ucapan selamat pagi untuk Jeff dan Nona cantik yang diketahui kekasih pemilik FN Group.
"Selamat pagi, Tuan, Nona," sapa salah satu karyawan yang melewati Jeff dan Zena.
Zena tersenyum, "Pagi juga," jawab Zena lalu menoleh pada Jeff yang bersikap datar dan dingin.
"Jeff, kenapa diam?"
"Mereka menyapa kita?" ujar Zena berjalan di depan anak buah suaminya.
"Maaf Nyonya, saya tidak mengenal mereka. Dan tugas saya di sini hanya menjaga Nyonya, bukan menjawab salam dari karyawan Tuan," jawab Jeff tegas, tatapan lembutnya kini sudah berubah menjadi tatapan tajam, dan aura berbicaranya juga sudah berbeda.
"Jeff, kamu bisa membuat semua karyawan takut, jika aura bicaramu seperti itu,"
"Bisakah nada bicaramu seperti tadi, seperti di dalam mobil," titah Zena pada Jeff.
"Silahkan Nyonya," ujar Jeff mengabaikan ucapan Zena, dia mempersilahkan istri Tuan nya memasuki lift yang sudah terbuka.
Setelah lift tertutup, Jeff menghembuskan nafasnya kasar, "Nyonya jangan takut, saya bersikap seperti itu, agar saya dihargai di kantor Tuan," kekeh Jeff. Dia bersenandung ria sambil menyenderkan tubuhnya di lift.
__ADS_1
"Siapa yang takut, aku hanya kasihan pada semua karyawan kantor di sini,"
Jeff mengerutkan keningnya, dia membenarkan posisinya agar berdiri tegap, "Memang kenapa Nyonya," tanya Jeff, "Bukannya mereka digaji di sini, jadi untuk apa kasihan dengan mereka," sambungnya lagi.
"Jeff, kau benar-benar--" ucapannya terhenti saat pintu lift terbuka dan sudah ada sosok sekertaris Nanda di depan lift.
"Silahkan Nyonya, saya akan kembali ke mobil dan menyiapkan bekal untuk Tuan kecil Rio," ujar Jeff mempersilahkan istri Tuan nya keluar dari lift.
"Jaga Nyonya, aku akan menyiapkan bekal untuk Tuan kecil Rio," lirih Jeff pada sekertaris Nanda.
"Baik,"
"Ayo Nyonya, Tuan sudah menunggu di dalam," titah sekertaris Nanda membuat Zena berjalan lebih dulu menuju ruangan suaminya.
Setelah sampai di depan ruangan suaminya, sekertaris Nanda mengetuk pintu lalu membukakan pintu dan mempersilahkan istri Tuan nya masuk ke dalam ruangan.
"Silahkan Nyonya, Tuan sudah menunggu" ujar sekertaris Nanda.
"Terimakasih," jawab Zena, dia berjalan memasuki ruangan suaminya.
"Sayang," ujar Steven saat melihat Zena muncul dibalik pintu, dia berdiri dan menyuruh istrinya untuk duduk di sofa dekatnya.
"Kita duduk di sofa, dan kamu mau minum apa?"
"Bagaimana kandungannya, anak kita sehat kan?" tanya Steven tersenyum kikuk, dia melupakan hal penting jika istrinya mengandung anak kembar.
"Kamu membohongiku lagi, kata dokter Irma di dalam sini ada dua calon anak,"
"Dan ini buktinya," ujar Zena mengeluarkan kertas hasil USG nya.
Steven menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Maafkan aku sayang, aku tidak ingin kamu merasa terbebani,"
"Siapa yang terbebani Mas,"
"Aku tidak merasa terbebani, mereka anakku," ucap Zena, dia berpura-pura marah pada suaminya.
"Sayang, maafkan aku," titah Steven sekali lagi, dia menarik istrinya kedalam pelukan lalu mencium pucuk kepalanya.
Zena tersenyum, dia membalas pelukan suaminya. Aroma tubuh Steven sangat membuat dirinya tenang.
"Ini sudah 4 bulan lebih, jadi ... aku bolehkan menjenguk anak-anak kita?" tanya Steven ragu.
"Aku sudah menahannya terlalu lama," sambungnya lagi.
__ADS_1
Bersambungš