Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 97_Ruang Jenazah


__ADS_3

"Hahahaha... aku menunggu hari itu semua, pasti aku akan tertawa melihat ekspresi Tuan yang kaku itu"


"Tapi, jika dilihat-lihat, aku tamvan dan cocok menjadi Tuan Muda, hanya saja ... aku tidak mempunyai perusahaan atau uang yang berlimpah" Gumam Jeff, dia bercermin di depan toko yang sudah tutup,


Cukup lama Jeff bercermin sampai dia lupa, jika nasi gorengnya sudah dingin, tak enak dimakan,


"Aku akan buktikan padamu Tuan, jika aku tak kalah tamvan ... aku hanya perlu menyisir rambutku yang selalu berantakan,"


"Oh iya, dimana sisir yang selalu aku bawa," gumam Jeff, sambil meletakkan nasi gorengnya di dekat toko, lalu merogoh saku celananya.


"Ah ini ... akhirnya ketemu juga ..., " ujarnya lagi, dia menyisir rambutnya yang sedikit panjang dan berantakan, setelah selesai sekali lagi, dia bercermin, memastikan penampilannya.


Kruyuk... Kruyuk...


"Perutku sudah lapar," ujar Jeff memasukan sisirnya ke saku celananya,


"Sudah rapih dan waktunya--"


"Shhiiittt!!! nasi gorengnya ..., " pekik Jeff, dia mengecek nasi gorengnya yang sudah dingin.


"Aduh!! alasan apalagi ini!! Tuan pasti marah, jika nasi gorengnya sudah dingin,"


"Tak apalah, biar aku panaskan di rumah sakit, siapa tahu ... di rumah sakit ada kompor," ujar Jeff berlari, dia berlari dengan kencang sampai tak memikirkan goyangan di plastiknya


30 menit, Jeff sampai di rumah sakit. Dia mulai mencari letak ruangan Nyonya mudanya.


"Suster, ruangan pasien bernama Zena ada dimana ya? " tanya Jeff saat berada di resepsionis


"Sebentar saya cek dulu, bapak bisa tunggu ..., " ujar resepsionis, yang mencari data Zena di dal komputer.


"Oh iya sus, apa disini ada kompor? saya sedang membutuhkan kompor, kalau ada ... boleh saya pinjam? " ujar Jeff kembali dengan ekspresi memelasnya


"Kompor? dirumah sakit?" ujar Suster tak percaya, dia melirik sekilas penampilan pria dihadapannya yang berantakan, bahkan rambut yang disisir Jeff sudah tertimpa angin,


"Ada, tapi tidak boleh dipakai sembarang orang Pak," jawab Suster menggelengkan kepalanya.


"Oh ... begitu ya, Sus!"


"Ya, sudah ... saya boleh minta tolong, tolong panaskan nasi goreng ini, karena ini pesanan Sus, saya bisa dimarahi," ujar Jeff memelas.


"Ya Sus, bolehkan Sus, apa Suster mau ... kalau saya kena pecat," rengek Jeff lagi, membuat Suster itu bergidik ngeri. Diliriknya jam dilayar komputer.


"Apa yang aku lihat di depanku tidak salah? mana ada pria mengemis malam-malam seperti ini. "

__ADS_1


"Atau, Jangan-jangan dia hantu jadi-jadian, lihat saja penampilannya yang lusuh, pakaian putihnya sudah kotor,"


"Atau dia orang gila,". batin Suster.


Merasa diperhatikan, Jeff justru tersenyum manis, dia mengingat bahwa penampilannya hari ini sangat perfect, rambutnya sudah tersisir rapih,


"Maaf, saya tidak bisa memanaskan nasi goreng milik bapak, jika kedatangan bapak ke rumah sakit ini, untuk mengganggu pasien disini, lebih baik bapak pulang saja,"


"Ehhh ... siapa bilang, saya mau bertemu dengan Nyonya muda saya, ini pesanan yang harus saya berikan, enak saja... tampang cakep begini, dibilang mengganggu pasien, awas saja ... aku akan bicarakan ini pada Tuan ku, dan aku pastikan kau di pecat besok! "


"Cepat katakan! dimana ruangan Nyonya Zena!" kali ini Jeff menjawab ucapan Suster dengan tegas, tak ada menggoda atau memberikan rayuan maut.


"Dasar, pria aneh! tadi memintaku memanaskan nasi gorengnya, dan sekarang, dia berniat mengadukanku dan memecatku, " gerutu Suster yang masih di dengar Jeff


"Hei, kau--" ucapannya terhenti saat Suster mengatakan ruangan Zena.


"Ruangan Nyonya Zena ada di..., "


"Eh, kalau boleh tahu, nama panjangnya siapa Pak, karna disini ada 2 nama Zena" ujar Suster melirik sekilas pada Jeff


"Apa!"


"Saya tidak tahu dok, saya hanya mengenal Nyonya Zena,"


"Coba dokter cek, nama suaminya adalah Tuan Steven Fernando" jawab Jeff lagi, dia mengetuk-ngetuk jarinya di meja resepsionis.


"Maaf Pak, mungkin ... anda salah rumah sakit, disini, nama suaminya Tuan Dave dan Tuan Reno" ujar Suster yang semakin tidak percaya dengan pria di hadapannya


"Ahh iya, nama suaminya Dave, iya Dave ... saya lupa" jawab Jeff tersenyum kaku.


"Tuan!! awas saja ... aku doakan, kau benar-benar turun jabatan dari suami menjadi mantan suami Nyonya, tega-teganya kau memberikan nama teman istri Nyonya untuk menutupi kebusukan anda, saya fikir anda, sudah tobat" geram Jeff dalam hati, sekali lagi dia melirik pada Suster.


"Anda yakin Pak, atau anda hanya berpura-pura,"


"Maksud berpura-pura itu apa, saya tidak mengerti" jawab Jeff,


" Ya, mungkin ... anda berniat jahat pada salah satu pasien yang bernama Zena " ujar Suster enteng, membuat Jeff mengepalkan tangannya erat.


Brak!


"Cepat berikan, atau aku akan membunuhmu! " ujar Jeff emosi.


Drttt... Drrtt...

__ADS_1


Ponsel Jeff berdering. Segera dia merogoh saku celananya dan melihat nama di layar ponselnya.


"Diam! dengarkan baik-baik, aku akan mengeraskan volume nya agar kau percaya" ujar Jeff lirih pada Suster, lalu dia menggeser tombol hijau di layar nya.


"Hallo Tuan," ujar Jeff tegas, dia sesekali melirik pada Suster yang sedang menatapnya heran.


"Jeff!!! kau dimana hah!!! "


"Aku sudah lapar!!! ini sudah 1 jam lebih!!! "


"Tu-tuan ... saya--" ucapan Jeff terhenti saat Steven menimpali dengan cepat.


"Cepat!! jika dalam lima menit, kau belum sampai juga!!! maka aku akan memecatmu!!! "


"Tu-tuan saya sud--"


Tut... Tut....


Panggilan sudah berakhir, dan Jeff langsung mengumpat dan memaki Tuan nya, membuat Suster cantik itu tertawa puas,


"Hei ... kenapa kau tertawa! apa ada yang lucu!! " kesal Jeff, dia menghentakkan kedua kakinya, "Cepat! dimana ruangan Nyonya Zena, waktuku tinggal 4 menit! " geram Jeff saat melihat Suster semakin tertawa puas.


"Hahahaha ... ruangannya berada di ruangan**** nomor ****,"


"Bapak lurus sampai ujung, lalu belok kiri melewati ruang jenazah" ujar Suster disela tawanya


"Je-jenazah, apa tidak ada jalan pintas, agar tidak melewati ruangan jenazah Sus? " tanya Jeff, bulu kuduknya berdiri tegak saat mendengar kata jenazah.


"Ada," jawab Suster cepat.


"Beritahu saya, dimana jalan pintas itu, cepat! " ujar Jeff berbinar, mungkin jika siang hari, dia tidak akan takut. Tapi ini di malam hari,


"Terbang, jika terbang ... Bapak tidak akan melewati ruangan jenazah hahaha" jawab Suster semakin tertawa renyah sambil memegang perutnya geli


Mendengar jawaban dari Suster, mata Jeff membulat, apalagi saat melihat Suster tertawa seperti mengamuk membuat Jeff emosi dan pergi meninggalkan Suster sendirian.


"Sebenarnya ada, lebih efektif juga, menaiki lift lalu menuju lantai 3" Teriak Suster yang bisa di dengar oleh Jeff.


Emosi Jeff semakin berkobar, dia menatap tajam Suster yang sedang tertawa menatapnya.


"Awas saja kau! aku akan mengemis pada Tuan, agar bisa memecatmu" geram Jeff yang bisa di dengar Suster.


"Bukan aku yang dipecat, melainkan kau sendiri, hahaha" lirih Suster menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Yang nunggu kehadiran Riski sabar ya, kita masih memainkan drama Zena dan Steven diluar negerišŸ˜„


Bersambung😘


__ADS_2