Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 101_Kamu!


__ADS_3

"Ahhh Tuan bisa saja becandanya," gurau Jeff tak percaya dengan ucapan Steven.


Tawa Steven terhenti, saat anak buahnya tidak mempercayai ucapannya, "Memang aku seperti orang becanda Jeff," ucap Steven yang mendapat geleng dari Jeff.


"Tidak Tuan, ahh ya sudahlah. Lagipula itu hanya air kran bukan air kencing, perut saya tidak akan sakit jika meminum air kran," ujar Jeff tersenyum kaku.


Setelah menempuh jarak cukup jauh, akhirnya mereka sampai di rumah yang sangat luas. Rumah itu bahkan terlihat sepi seperti tidak ada acara apapun.


"Benar, ini rumahnya sayang?" tanya Steven pada istrinya.


"Benar Mas, aku hanya sekali ke rumah ini, tapi aku paham banget. Secara rumah Dave, rumah paling besar di kawasan ini," jawab Zena, dia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam meninggalkan Steven di dalam mobil.


Merasa ditinggalkan oleh sang istri. Steven beranjak dari duduknya, dia keluar dari mobil dan memasuki rumah yang sangat luas, meninggalkan Jeff di dalam mobil. "Sebenarnya, keluarga Dave orang kaya, tapi kenapa dia rela menikah dengan orang yang tidak dikenal. Pasti ini ada yang tidak beres," gumam Steven saat berjalan di belakang istrinya.


Tidak mau dilihat seperti orang yang sedang bertengkar, Steven menarik tangan istrinya agar berhenti, "Sayang, kita sepasang suami istri. Jangan berjalan sendirian, bagaimana jika Dave menganggap kita sedang bertengkar," ujar Steven sambil meletakkan tangan istrinya di lengan kekarnya.


"Apaan sih Mas, jangan lebay deh. Aku mau bertemu dengan ibu dulu," ujar Zena yang menarik tangannya dan berjalan masuk ke rumah Dave.


"Huft, dia bukan ibumu. Dia hanya orang asing, sayang," gumam Steven yang masih bisa di dengar oleh Zena.


Tak ingin berdebat dengan suaminya, dia tetap berjalan dan mencari keberadaan Dave serta ibunya.


"Bi, di mana Dave dan ibu," tanya Zena saat melihat ketua pelayan di rumah Dave sedang menyiapkan pesta sederhana pernikahan anak majikannya.


"Tuan, dan Nyonya besar sedang berada di balkon lantai dua Non," jawab Bibi tersenyum, lalu pandangannya beralih pada pria yang sedang menatapnya tajam dibelakang Zena.


Melihat Bibi ketakutan, akhirnya Zena mencubit gemas pinggang Steven, "Mas, jaga ekspresimu. Lihat Bibi ketakutan saat melihatmu," bisik Zena tepat ditelingga suaminya.


"Aww sayang, sakit," ringis Steven memegang pinggang yang terkena cubitan dari Zena, "Aku tidak menakut-nakuti Bibi, aku cuma memasang wajahku agar terlihat berwibawa saja," sambungnya lagi yang setengah berbisik.


"Maaf Non, saya harus kembali bekerja ... jika Nona dan Bapak mau menemui Tuan Dave, saya silahkan,"


"Bapak!" seru Steven, dia mengencangkan suaranya karena terkejut dengan ucapan Bibi


"Memang aku--" ucapannya terhenti saat istrinya membekap mulutnya.


"Mas, diam. Bukankah kamu sudah pantas di sebut dengan Bapak, kamu sudah memiliki anak Mas,"


"Ta-tapi sayang, dia bisa kan, memanggilku dengan sebutan Tuan atau Mas, jangan Bapak," protes Steven tak terima.

__ADS_1


Zena menghembuskan nafas kasar, "Huh, Bi ... siapa calon mempelai wanitanya, aku ingin melihatnya," ujar Zena penasaran dengan calon istri Dave.


"Bi ..., " panggil Zena sekali lagi, saat Bibi mematung.


"Emm anu Non ...," ujar Bibi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Anu apa Bi,"


"Aku penasaran dengan calon istri Dave Bi," sambung Zena kembali.


"Emm ... saya fikir calon istrinya Nona Zena, karena sedari tadi, Bibi tidak melihat tamu atau wanita lain di rumah ini,"


"Deg!"


Steven tertegun. Dia benar-benar shock dengan ucapan wanita yang sudah berumur itu, "Hei, kau ... jangan asal bicara!" seru Steven emosi, dia maju beberapa langkah ke hadapan Bibi.


"Maaf Nona, saya tidak tahu. Tuan Dave juga tidak memberitahukan calon istrinya kepada kami, dan setahu kami, Tuan Dave hanya dekat dengan Nona," ujar Bibi dengan tubuh bergetar.


"Gak papa kok Bi, aku juga terkejut saat Dave bilang mau nikah. Mas jangan buat Bibi ketakutan," ujar Zena menarik tangan Steven.


"Oh iya Bi, agar kesalahpahaman ini tidak terlalu panjang. Perkenalkan dia Bi, dia Mas Steven, suamiku aku. Ayah dari anak yang aku kandung," sambung Zena tersenyum.


"Terimakasih Pak,"


"Panggil aku Tuan, aku bel--" ucapannya terhenti saat Zena berbicara.


"Ya sudah, Bibi lanjutkan pekerjaannya. Aku dan suamiku akan pergi menemui Dave,"


"Baik Nona,"


"Kenapa kamu membiarkan dia pergi sayang, bahkan aku belum memarahinya. Dia sudah lancang mengiramu calon istri dari Dave di depan suamimu sendiri," ujar Steven halus, dia mengikuti langkah kaki istrinya yang berjalan menaiki tangga.


"Memangnya kenapa Mas, wajar jika Bibi beranggapan seperti itu,"


"Sayang, kamu benar-benar mencintai Dave?" tanya Steven yang menghentikan langkah istrinya menaiki anak tangga ke tiga.


"Deg!"


"Mencintai?" gumam Zena dalam hati, "Apa aku mencintai Dave," sambungnya lagi tak percaya

__ADS_1


Melihat istrinya diam mematung, Steven semakin yakin jika istrinya sudah jatuh hati pada temannya itu. Pria yang baru beberapa bulan dikenalnya.


"Aku tidak mencintai Dave, Mas, jika kamu menuduhku terus-terusan, lebih baik pernikahan kita cukup sampai di sini," ucap Zena melepas tangan suaminya dan berjalan menaiki tangga meninggalkan suaminya yang sedang mematung di tempat.


"Lalu, lalu kenapa sikapmu seperti itu, kamu merasa bahagia saat Bibi mengiramu calon istri dari Dave. Jika benar kamu mencintai Dave, kenapa kamu memberikanku kesempatan kedua, atau kesempatanmu ini karena bayi dalam kandunganmu," gumam Steven dalam hati.


"Zen, kemarilah ...," ujar ibu Dave saat melihat kedatangan Zena. Dave yang melihat Zena pun tersenyum.


"Dave, Ibu, Zena kangen sama ibu," ujar Zena menghampiri ibu dari Dave lalu memeluknya erat, "Ibu, mana yang sakit," sambungnya lagi.


"Tidak ada, hanya luka kecil di kening ibu," ujar Ibu Dave memperlihatkan luka keningnya yang terbungkus plester.


"Lalu, dimana calon istri Dave, aku ingin melihatnya,"


"Aku sudah berjanji pada Dave, akan memastikan calon istrinya sebelum Dave mengucapkan ijab qobul," ujar Zena


Ibu Dave menatap Dave anaknya, mereka saling menatap, Steven yang melihat dari kejauhan semakin penasaran, siapa calon istri dari Dave.


"Ekhemm ...," deheman Steven memecahkan keheningan yang baru saja tercipta oleh istrinya.


"Siapa Zen, apa itu suamimu?" tanya ibu Dave yang diangguki Zena.


"Iya bu, dia suamiku...,"


"Dimana calon istri Dave, Bu," tanya Zena lagi.


"Zen, sudah waktunya acara dimulai. Kamu bisa melihat calon istriku di bawah,"


"Ayo kita ke bawah...," ujar Dave yang diangguki ibunya.


"Ayo sayang, nanti kamu juga akan tahu siapa calon istri Dave" ujar ibu Dave sekali lagi.


Akhirnya, mereka semua berjalan menuruni tangga. Tak ada senyuman yang menghiasi wajah Dave dan ibunya.


Saat sudah di lantai dasar, Zena dapat melihat wanita yang sudah duduk di depan penghulu.


"Deg!"


"Ka-kamu," ujar Zena terpaku.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2