
"Hahaha," tawa Sheila menggelegar.
"Cepat katakan! Menyangkut hal apa!" tanya Riski penasaran.
"Menyangkut Steven, kau pasti tahukan ... orang yang bernama Steven?" ucap Sheila menaik turunkan alisnya.
"Steven?"
"Iya aku mengenalnya, Memang apa hubungannya denganmu?"
"Atau jangan-jangan kau wanita yang selama ini berada diantara Steven dan Zena?" tanya Riski memastikan.
"Iya," jawab Sheila, perlahan tangannya meremas sprei kasur Riski, "Dia, pria yang sudah mencampakkanku di saat aku sudah benar-benar jatuh hati padanya," sambungnya lagi dengan emosi yang menggebu-gebu.
Melihat mata merah dan emosi yang menggebu-gebu, Riski menarik tangan wanita di sampingnya dengan paksa, "Duduk! kau ingin ketahuan hah!" ucap Riski membuat Sheila menjatuhkan bokongnya di kursi.
"Heh! bisa tidak jika ada orang yang emosi itu di tenangkan, bukan dijatuhkan!" gerutu Sheila menepis tangan Riski.
"Kau sudah mengerti kan, apa maksudku membantumu," sambungnya lagi sambil tersenyum.
"Asal kau tahu ya! Steven yang sudah membawaku kemari, dan aku tidak bisa membantumu," ujar Riski membuat Sheila melototkan matanya.
"Tidak, apa kau lupa atau kau bodoh hah! aku tahu ceritamu tentang pernikahanmu yang batal karena Steven. Apa cuma karena dia menolongmu lalu membawamu ke rumah sakit, dan kau begitu saja melepaskan semua perlakuannya yang membuatmu malu!"
"Ingat, kau harus membalaskan dendamu pada Steven, karena mau bagaimanapun, dia sudah merebut wanita yang kau cintai," ujar Sheila lagi.
Mendengar kata wanita yang dia cintai, membuatnya teringat dengan sosok Leo, mau bagaimanapun Zena adalah anak dari Leo yang artinya kakak untuk adiknya yang bernama Putra.
"Aku akan membalas perbuatan Leo dan mengesampingkan urusan cintaku. Apa kau tahu di mana keberadaan adikku Putra?" tanya Riski membuat Sheila menghembuskan nafasnya lalu bangkit dari duduknya.
"Lalu bagaimana denganku? aku sudah merawatmu sampai kamu sadar!" tanya Sheila tak menyangka.
"Aku akan mentransfer uang untuk membalas kebaikanmu selama ini," ucap Riski ringan.
"Tidak, kau tidak bisa membayar semuanya dengan uang,"
__ADS_1
"Lalu? aku harus membayar jasamu dengan apa?"
"Aku tidak mau kau mengatur hidupku, aku bukan tipe orang yang suka diatur melainkan aku adalah tipe orang yang suka mengatur," tekan Riski membuat Sheila berfikir keras.
"Sebentar ... aku berfikir dulu," ujar Sheila, "Kau harus membantuku memisahkan Steven dengan istrinya, dengan begitu aku bisa mendapatkan Steven seutuhnya dan kau ... kau bisa mendekati Zena, bagaimana Tuan Riski?" sambung Sheila yang merasa puas dengan ide cemerlangnya.
"Lalu, bagaimana dengan Pak tua itu?"
"Bukankah aku dengar kau pengikut Pak tua itu?" tanya Riski yang diangguki Sheila.
"Benar, aku baru ingat Pak tua itu, dan aku baru ingat jika aku--" ucapan Sheila terhenti lalu menepuk jidatnya, "Aku berjanji untuk menemui Pak tua itu, pasti dia sedang mencari keberadaanku di rumahmu!" pekik Sheila bangkit dari duduknya. Dia mengambil paperbag yang berisi gaunnya tadi.
"Rumahku? ada apa dengan rumahku?" tanya Riski tak mengerti maksud Sheila.
Sheila yang sudah berjalan pun menghentikan langkahnya, "Aku lupa memberitahumu, bahwa semua harta yang kau miliki sudah dikuasai oleh Leo, dan adik kesayanganmu itu di kirim ke luar negeri oleh Leo," ujar Sheila tertawa mengejek, "Jadi, kau tidak bisa menyuapku dengan uangmu itu," sambungnya lagi.
Mendengar semua ucapan Sheila, Riski pun menggeram kesal, dia berusaha turun dari ranjangnya dan tak sengaja Riski menyenggol gelas kaca membuat bodyguard Leo yang baru tiba di depan ruangan terperanjat kaget.
"Deg!"
"Suara apa itu dok?" tanya Viz menghentikan langkahnya dan mempersilahkan dokter Riyan berjalan mendahuluinya.
Viz melihat sekitar ruangan, tak ada seorang pun yang melintas di sekitar ruangan Riski, "Saya ikut dok, jangan tinggalkan saya sendiri di sini," ujar Viz bergidik merinding.
"Huh!"
"Jika dia ikut, maka sandiwara ini akan terbongkar. Dan dia akan melaporkan pada Leo jika Riski masih hidup," gumam dokter Riyan dalam hati.
"Baiklah, mari ikut saya masuk," ujar dokter Riyan memperkeras volume bicaranya membuat Riski dan Sheila yang berada di dalam ruangan mendengar ucapan dokter Riyan.
Deg!
"Cepat, cepat ... kembali ke tempatmu, di depan ada orang," panik Sheila menarik tangan Riski agar kembali ke ranjangnya.
"Lepaskan," tepis Riski tak suka di atur, "Aku bisa kembali sendiri tanpa bantuanmu!" sambungnya lagi membuat Sheila memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
"Terserah kau saja! sekarang cepat kembali, dan berpura-puralah menjadi orang mati, aku juga akan berpura-pura menjadi suster," titah Sheila sambil menyimpan paperbag yang di pegangnya ke lemari Riski.
Setelah Riski membaringkan tubuhnya di ranjangnya, Sheila membenarkan selimut Riski agar terlihat rapih seperti semula.
"Dok!" sapa Sheila dengan wajah tertupi masker.
"Bagaimana, apa jenazah--" ucapan doker Riyan tepotong saat bodyguard Leo menimpalinya dengan cepat.
"Kau, kenapa kau bisa di sini. Bukankah sebelum aku meninggalkan tempat ini, tidak ada suster ataupun dokter yang masuk ke ruangan ini?" tanya Viz menggaruk kepalanya tidak gatal.
"Maaf, saya di perintahkan oleh dokter Riyan untuk melihat jenazah Tuan Riski," jawab Sheila menunduk.
"Benar apa yang dikatakan suster, saya memerintahkan suster ini untuk mengecek keadaan jenazah, jika tubuhnya sudah kaku akan sulit bagi kami untuk memandikannya," timpal dokter Riyan.
"Biar saya lihat, jika sudah kaku, kita guyur saja menggunakan air," titah Viz yang tiba-tiba mendapatkan ide konyolnya.
"Air?" ulang dokter Riyan dan Sheila bersamaan. Mata keduanya saling bertemu lalu semenit kemudian mata mereka menatap Riski yang sedang menahan nafasnya.
"Guyur saja, aku ikhlas lahir batin," gumam Sheila dalam hati, tak terasa salah satu sudut bibirnya terangkat mengukir senyuman sinisnya.
Dokter Riyan melirik sekilas pada Sheila yang sedang tersenyum aneh, dia melihat tatapan Sheila mengarah pada pasiennya yang berpura-pura mati.
"Suster," panggil dokter Riyan.
Merasa dipanggil, tatapan Sheila kembali menatap dokter Riyan, "Iya dok?" jawab Sheila memudarkan senyumnya.
"Coba tanyakan sudah urutan keberapa pemandian jenazah," ucap dokter Riyan.
Sheila mengerutkan keningnya, dia menunjuk dirinya sendiri dengan jari tangannya.
"Saya dok?" tanya Sheila tak percaya, "Ini sudah malam dok!" sambungnya lagi.
"Memangnya kenapa? bukankah sudah menjadi kewajiban suster untuk membantu dokter?" tanya dokter Riyan terkekeh saat melihat ekspresi wajah Sheila.
"Ba-baik dok!" jawab Sheila kesal, dia berjalan keluar ruangan dengan sejuta makian untuk dokter Riyan.
__ADS_1
"Dokter gila! memangnya siapa dia! berani-beraninya dia menyuruhku ke ruang jenazah malam-malam begini!" gerutu Sheila menghentakkan kedua kakinya.
Bersambungš