Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 147_Ambulance


__ADS_3

"Jangan lakukan hal aneh yang membuat nyawamu serta nyawa anakmu terancam Zen," ucap dokter Riyan.


"Aku setuju dengan dokter Riyan, aku tidak mau terjadi hal buruk padamu dan calon anak-anak kita," timpal Steven, "Lebih baik kita cari pendonor darah lainnya atau mungkin rumah sakit mempunyai stok golongan darah AB-," sambung Steven lagi.


"Golongan darah AB- di rumah sakit sedang kosong. Coba saya tanyakan pada pihak PMI," ujar dokter Riyan merogoh ponselnya.


Setelah menghubungi pihak PMI, ternyata pihak PMI hanya mempunyai sisa satu kantung darah AB- dan Jeff membutuhkan paling tidak 3 kantong darah.


"Kita harus secepatnya membawa Jeff ke rumah sakit, walaupun hanya satu kantong darah, setidaknya bisa membuat keadaan Jeff lebih baik. Setelah itu, kita pikirkan bagaimana cara mendapatkan pendonor darah lainnya," ucap dokter Riyan, "Saya sudah menghubungi ambulance untuk kemari," sambungnya lagi.


"Aku ikut ke rumah sakit ya Mas," ucap Zena cemas.


Mendengar rengekan manja dari istrinya, segera Steven menghampiri dan merangkul pundak istrinya, "Jangan, ini sudah larut malam. Lebih baik kamu di rumah menjaga Rio, urusan Jeff biar menjadi tugasku," ujar Steven.


"Ta-tapi Mas ...,"


"Percayalah, Jeff sudah mendapatkan pertolongan pertama. Dan dia akan baik-baik saja," jawab Steven mengecup pucuk kepala istrinya.


"Baik Mas, tapi jika terjadi hal buruk, secepatnya kamu harus menghubungi aku," titah Zena di setujui Steven.


"Iya sayang, jaga dirimu dan calon anak kita baik-baik. Aku dan dokter Riyan akan pergi," ucap Steven di angguki Zena,


Setelah menunggu 10 menit, akhirnya mobil ambulance tiba di kediaman Steven.


Dari dalam kamar, Steven dan dokter Riyan yang mendengar sirine dari ambulance tersebut pun langsung berlari menuju pintu utama. Mereka memerintahkan perawat untuk membawa Jeff ke mobil ambulance.


"Cepat!" teriak Steven saat melihat pergerakan lambat dari beberapa perawat yang datang bersama mobil ambulance.


"Jangan teriak-teriak Tuan Steve, kau bisa membuat seisi rumah terbangun," timpal dokter Riyan cepat.


"Bagaimana aku tidak teriak-teriak, mereka bekerja dengan lambat," ketus Steven.

__ADS_1


Tak ingin mendengar maki dan umpatan Steven, dokter Riyan justru memerintahkan dua perawat itu untuk membawa pasiennya masuk ke mobil ambulance.


"Ikut aku, kau harus ikut aku masuk menemaniku di sini," titah Steven menepuk bangku kosong sampingnya.


"Aku membawa mobil. Biar aku menyetir di belakang kalian," tolak dokter Riyan yang tak ingin mendengar makian dari keluarga pasiennya.


"Terserah mu saja," ketus Steven, "Ayo jalan!" titahnya lagi pada supir ambulance.


Ambulance pun berjalan menjauhi kediaman rumah Steven, dengan di ikuti mobil dokter Riyan dari belakang.


***


Semenjak makan malamnya berakhir dengan tidak baik, dokter Irma selalu menimang ponselnya. Keinginan menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi pasa Jeff membuatnya bimbang.


"Apa aku menghubungi dan menjelaskan semuanya pada Mas Jeff. Mungkin dengan begitu, hatiku tidak akan gelisah lagi," gumam Irma memainkan ponselnya dan mencari nomor kontak Jeff.


Setelah berhasil menemukan nomor pria yang mengisi pikirannya beberapa jam ini, Irma seakan ragu untuk memencet tombol telfon, "Apa tindakan ku benar. Apa setelah aku menghubungi dan menjelaskan pada Mas Jeff, lalu Mas Jeff akan memaafkan aku dan menerima semua keputusanku?" gumam Irma menggigit ujung jarinya.


Tut ....


Tutt ....


'Nomor yang Anda tuju sedang dalam luar jangkauan. Hubungi sesaat lagi, atau tinggalkan pesan setelah ini,'


"Kenapa nomor ponsel Mas Jeff tidak aktif? Apa mungkin dia sengaja mematikan ponselnya karena marah padaku?" gumam Irma turun dari ranjang dan berjalan menuju jendela kaca kamarnya.


"Di luar sedang hujan. Apa dia belum sampai rumah? Ingin rasanya aku tanyakan kabar Mas Jeff pada Nyonya Zena, tapi itu tidak mungkin. Aku sudah menolak cintanya dan tidak mungkin juga, wanita yang menolak cintanya menanyakan kabar pria yang ditolak pada bossnya, bisa-bisa terjadi kesalahpahaman lagi," gumam Zena meraba kaca besarnya yang dingin akibat guyuran hujan deras.


***


"Kalian bisa menyetir atau tidak sih! Jeff sedang sekarat dan kalian menyetir seperti siput!" gerutu Steven saat merasakan perjalanan menuju rumah sakit yang lambat.

__ADS_1


"Di luar sedang hujan, kami tidak bisa membawa kendaraan dalam kecepatan tinggi saat hujan deras seperti ini. Itu akan membahayakan keselamatan nyawa kita semua," jawab supir ambulance.


"Huh!" Steven mengeluarkan nafasnya kasar,


"Kau harus sabar Jeff, setidaknya sebentar lagi. Kamu akan mendapatkan pertolongan pertama, sabarlah sebentar," ucap Steven monolog di depan tubuh Jeff yang pingsan.


'Aku tidak bisa menghubungi Jack sekarang. Dia pasti akan kemari dan mencari penyebab adiknya terluka. Sebaiknya aku rahasiakan ini pada Jack,' batin Steven melihat ponsel Jeff yang mati. Dia memasukan ponsel anak buahnya ke saku celananya.


Setelah berada di jalanan dengan hujan deras tanpa petir. Akhirnya mobil ambulance Jeff sudah sampai di depan rumah sakit, segera semua perawat membantu menurunkan Jeff dan membawanya ke ruang IGD untuk mendapatkan penanganan terbaik.


"Tolong Jeff, aku akan mencari pendonor darah untuk melengkapi kekurangannya," titah Steven pada dokter Riyan saat mereka sampai di depan ruang IGD.


"Percayakan semuanya padaku. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk keselamatan pasienku," ucap dokter Riya masuk ke ruang IGD.


Setelah kepergian dokter Riyan, Steven berusaha menghubungi semua kerabat serta keluarga dekatnya termasuk Tesa, Ibu kandungnya untuk membantu mencarikan donor darah Jeff.


Tak sengaja pembicaraan itu terdengar oleh Jack yang berada di depan pintu kamar Tesa.


"Nyonya siapa yang membutuhkan pendonor darah? Darahku sama seperti darah yang dibutuhkan orang itu. Jika di izinkan, saya berkenan menolong orang itu," ucap Jack membuat Tesa dan Steven yang mendengar ucapan Jack mematung.


"Steve, Ibu akan mengatasinya. Kamu pikirkan cara terbaiknya," ucap Tesa dari sebrang sana.


"Jika kita tidak ada pendonor darah, aku yang akan bicara pada Jack," jawab Steven kemudian mematikan telfonnya.


Setelah telfon terputus, Tesa menyuruh Jack untuk duduk di sampingnya,"Duduk Jack," titah Tesa pada pria yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri.


"Nyonya, saya mau membantu orang itu. Izinkan saya untuk pergi, dan saya juga merindukan Jeff, sudah lama kita tidak jumpa dan bertukar kabar," ucap Jack menjatuhkan bokongnya di sofa dekat Tesa.


"Tunggu sampai Steven tidak menemukan donor darah untuk temannya. Jika benar-benar tidak ada kamu boleh pergi. Tapi dengan satu syarat, jangan pernah menangis ataupun bersedih setelah ini," ucap Tesa membuat Jack bingung.


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2