
"Hidupku baik-baik saja. Kau tidak perlu tahu semua cerita tentangku. Sekarang, aku menginginkan sesuatu darimu sebagai bentuk balas budimu terhadapku," ucap Riski serius.
"Balas budi?"
"Apa yang bisa aku lakukan untuk membalas budimu, Tuan?" tanya Al, seketika raut wajahnya pun menjadi serius.
"Bekerjasama lah denganku!" titah Riski, kakinya dia naikan ke atas kaki satunya lagi, jari tangannya sudah memainkan meja di depannya.
"Bekerjasama? Denganmu, Tuan?" tanya Al sedikit ragu.
Mendengar jawaban yang terdengar ragu dari bibir pria dihadapannya, seketika Riski tersenyum simpul.
"Jika, semuanya berjalan dengan lancar, maka aku jamin ... kau tidak dipecat dari perusahaanku. Eh maksud aku, perusahaanku yang telah direbut paksa oleh pria tua yang sekarang menjadi bossmu," ucap Riski membuat Al terdiam.
"Bagaimana?" tanya Riski setelah beberapa menit keduanya terdiam, "Waktu kita tidak banyak! Aku tidak mau membuang-buang waktu berhargaku!" sambung Riski lagi.
"Jika semuanya gagal, bagaimana nasibku? Aku akan kehilangan semua yang ku punya?" ucap Al.
"Tidak ada di kamus ku kata gagal. Aku ingin semua berjalan dengan sukses," jawab Riski.
***
Setelah sampai di kediaman rumah Steven, mobil yang ditumpangi Jack dan Rio telah terparkir sempurna di halaman depan rumahnya.
Mereka membuka pintu dan turun dari mobilnya dengan perasaan yang berbeda. Jack yang sedang bertanya-tanya tentang kejadian di taman dan Rio yang sedang menahan kesal karena sikap Om nya yang tega menelantarkannya.
Di saat Jack melangkahkan kakinya, Tiba-tiba ponselnya bergetar, seketika langkah Jack terhenti dan mengambil benda pipih itu yang berada dalam saku celananya.
__ADS_1
"Hallo Tuan?" ucap Jack setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Cepat kantor, ada sesuatu yang harus kita bahas, dan ini bersifat penting serta rahasia," titah Steven kemudian mematikan telfonnya secara sepihak.
"Ada apa Om?" tanya Rio saat melihat perubahan wajah Jack.
"Em ... tidak ada apa-apa. Sekarang Tuan kecil masuk dan tidur. Sudah saat jam tidur siang," ucap Jack kemudian berjalan menuju mobilnya.
"Dasar aneh, semuanya serba aneh," gumam Rio sambil melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
Setelah menempuh perjalanan beberapa kilometer, akhirnya mobil yang ditumpangi Jack telah memasuki halaman kantor Steven. Mobil Jack terparkir ditempat khusus berdekatan dengan mobil Steven.
Semua karyawan sangat tunduk pada Jack, tidak ada yang berani menatap atau menyapanya. Hanya membungkukkan badan sebagai tanda menghormati atasannya.
Kejadian saat Jeff memarahi resepsionis dan Pak satpam karena sudah lancang menggosipkan istri Tuan nya, membuat semua karyawan takut padanya.
Ting ...
Pintu lift terbuka, Jack mulai melangkahkan kakinya yang lebar menuju ruangan pemilik perusahaan yang tak lain saudara jauhnya sendiri.
Tok ...
"Maaf Tuan, Tuan Jack sudah datang," ucap sekertaris Nanda mempersilahkan Jack masuk ke ruangan pribadi Steven.
"Sekarang tinggalkan kita berdua. Ada sesuatu yang harus aku bahas dengannya," ujar Steven menjatuhkan bokongnya di sofa.
"Baik Tuan. Saya permisi," ucap sekertaris Nanda berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
Setelah melihat sekertarisnya pergi, Steven meletakkan beberapa lembar kertas di hadapan Jack
"Duduk! Dan baca itu!" titah Steven tak ingin dibantah.
Jack patuh, dia menjatuhkan bokongnya di sofa depan Steven. Tangannya mulai meraih kertas yang berisi coretan hitam dari tinta. Matanya membulat sempurna saat Jack perlahan membaca coretan tersebut.
"Tuan, Tuan mendapatkan semua ini dari mana?" tanya Jack meletakkan beberapa lembar kertas yang baru saja dibaca di atas meja.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa maksud semua ini! Kau tega mengkhianati adikmu sendiri yang sedang terbujur kaku di rumah sakit, ha!" pekik Steven, "Jika, kau bukan bagian dari keluargaku, maka aku tidak sudi mencampuri semua urusanmu!" sambungnya lagi.
"Aku bisa jelaskan, aku dan dia tidak ada hubungan apapun. Aku melakukan semua ini hanya untuk Jeff. Aku tidak mau saat Jeff tersadar, Irma sudah menjadi milik orang lain," jawab Jack masuk akal.
Steven terdiam. Jawaban dari Jack sangat masuk akal untuk diterima.
"Jelaskan apa maksud dari foto ini!" ucap Steven mengeluarkan dan melemparkan foto kemesraan Irma dan Jack di beberapa tempat.
"Jelaskan Jack! Apa ini yang di maksud menjaga?" sambung Steven.
"Maaf Tuan, tapi ini masalah pribadi saya, dan saya harap ... Tuan jangan pernah mencampuri urusan pribadi saya!" ucap Jack.
Steven terkekeh, dia sudah tahu dengan jawaban yang akan diberikan oleh Jack.
"Kau jatuh cinta dengan kekasih adikmu sendiri?" tanya Steven menatap wajah Jack yang terlihat kaku.
"Tidak Tuan," jawab Jack sambil menggelengkan kepalanya, "Saya tidak mempunyai perasaan apapun dengannya. Dan Tuan tenang saja, saya tidak membongkar identitas asli saya. Irma menganggap saya sebagai Jeff," jawab Jack.
Bersambungš
__ADS_1