Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 119_Lutis


__ADS_3

"Mas, kasihan Rio. Kasihan juga anak kita" titah Zena yang didukung Rio.


"Benar Dad, Rio dan mommy menginginkan es krim. Ayolah Dad, kali ini saja," mohon Rio memperlihatkan wajah melasnya.


"Tidak sayang, aku tidak mengizinkan kalian memakan es krim. Aku tidak mau kamu berakhir di rumah sakit seperti dulu," ucap Steven tak ingin dibantah.


Melihat suaminya tetap pada pendiriannya. Zena melancarkan aksinya, dia berpura-pura marah kepada Steven.


"Ya sudah Mas, kalau kamu tidak mau turuti permintaan kita juga tidak apa-apa, yang penting ... mulai malam ini, kita tidur terpisah. Dan jangan salahkan aku jika anak kita ileran," ujar Zena memalingkan pandangannya memandang pepohonan pinggir jalan.


Mendengar akan tidur terpisah membuat Steven memerintahkan Jeff menepi di minimarket terdekat.


"Jeff belikan es krim untuk Rio dan Zena, masing-masing satu biji," ujar Steven membuat Zena tersenyum senang. Dan Jeff hanya menggelengkan kepalanya.


"Nyonya, anda benar-benar pintar," gumam Jeff dalam hati.


"Ajak Rio sekalian, aku mau bicara empat mata dengan istriku," titah Steven lagi.


"Lalu bagaimana dengan saya Tuan?" tanya sekertaris Nanda yang sedang memainkan ponselnya.


"Kau, kau keluarlah ... ikut Jeff atau menunggu di luar mobil,"


5 menit kemudian, mobil yang dikendarai Jeff sudah sampai di depan minimarket terdekat.


"Tuan kecil Rio, ayo kita turun." Ujar Jeff saat mobilnya sudah terparkir di depan minimarket.


"Aku ikut kalian," titah Zena, dia tersenyum di dalam hati, saat melihat Steven melototkan matanya.


"Mom, kata Daddy, mommy di sini. Daddy mau bicara dengan mommy," ujar Rio turun dari mobilnya.


"Rio turunlah, ikut om Jeff, Daddy mau bicara dengan mommy," ujar Steven, menahan tangan istrinya yang akan keluar.


"Mas,"


"Apa?"


"Sekarang puas kan, kali ini aku mengabulkan permintaanmu," ujar Steven saat sudah berdua di dalam mobil.


"Siapa yang puas? Kamu selalu membatasi makananku jika berurusan dengan es krim, darimana aku bisa mendapatkan kepuasan," ujar Zena tersenyum membuat Steven mencubit gemas pipi istrinya.


"Tunggu, bukankah kamu marah padaku? tapi kenapa tiba-tiba langsung tersenyum, atau jangan-jangan kamu sedang mengerjaiku?" tanya Steven yang diabaikan Zena. Justru pandangan Zena sudah terpaku pada salah satu pedagang kaki lima.

__ADS_1


"Mas, lihat itu," tunjuk Zena saat melihat pedangan penjual lutis.


"Kelihatannya enak Mas," sambungnya lagi.


Steven melihat arahan dari istrinya, "Kamu mau aku belikan itu?" tanya Steven kepada istrinya.


"Iya Mas, aku mau. Tapi--" ucapannya terhenti, Zena langsung membuka mobil dan menyeret suaminya agar keluar dari mobilnya.


"Sayang, Hati-hati. Ingat kamu sedang hamil," ujar Steven saat tangannya ditarik paksa oleh istrinya.


"Mas, aku sudah hati-hati. Ayo cepat!"


"Aku tidak mau sampai kehabisan, Mas!" ujar Zena yang menghampiri pedangan penjual lutis.


"Tidak akan habis, jika habis. Aku akan menyuruh Jeff untuk membelikannya," ujar Steven


"Tidak mau, aku tidak mau. Aku maunya di tempat itu," ujar Zena berhenti di depan penjual lutis.


"Pak masih ada kan?" tanya Zena saat sudah berhadapan dengan penjual lutis.


"Masih neng, sebentar ya. Bapak melayani pesenan orang dulu,"


"Neng, bisa tunggu di tempat duduk itu," ujar penjual lutis menunjukkan kursi kosong.


"Kita tunggu di sini saja ya Mas," pinta Zena saat melihat raut wajah Steven yang sudah berubah.


"Kita pesan saja, lalu bilang pada Bapak itu agar mau mengantarkan pesenan kita ke mobil. Jika kamu terus berdiri di sini, maka akan cape sayang,? " ujar Steven mengusap pundak istrinya.


"Gak Mas, aku mau berdiri. Dan Mas, jangan pergi-pergi, temani aku di sini,"


"Pak, sudah selesai belum?" tanya Zena sekali lagi.


"Sudah neng, mau beli berapa?" tanya penjual lutis.


"Bapak minggir Pak, aku mau yang buat lutis itu suamiku," ujar Zena membuat Steven menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa. Dia disuruh membuat lutis oleh istrinya.


"Pak, buatkan saja satu untuk istri saya," titah Steven


"Mas, kamu mau anak kita ileran. Aku ingin kamu yang membuatkan lutis itu," protes Zena, dia menghampiri penjual lutis itu agar menjauh.


"Sayang, aku tidak bisa membuat lutis, mungkin potong-potong buahnya aku bisa, tapi jika membuat bumbunya aku tidak bisa,"

__ADS_1


"Dan lihatlah penampilanku. Masa iya, pria gagah berpenampilan rapih disuruh membuat bumbu lutis di pinggir jalan," protes Steven menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, kalau Mas tetap tidak mau. Aku akan menyuruh Jeff saja. Biarkan anak kita mirip seperti Jeff," ujar Zena kepada Steven.


"Pak, sebentar ya ... aku akan memanggilkan teman saya," sambung Zena yang mulai berjalan membuat Steven mau tak mau mengalah.


"Pak ambilkan kursi untuk istri saya. Dan saya akan buatkan lutis untuknya. Saya minta Bapak beritahukan apa saja bumbu-bumbunya," ujar Steven membuat Zena mengembangkan senyumnya. Dia langsung memeluk suaminya dan memberikan kecupan di pipi suaminya.


"Terimakasih sayang,"


"Tambah cinta deh," ujar Zena mendudukan bokongnya di kursi yang sudah disediakan.


Dari kejauhan terlihat Rio, Jeff dan sekertaris Nanda yang berjalan menuju Steven dan Zena.


"Mom-mommy, sejak kapan Daddy beralih profesi menjadi penjual keliling," tanya Rio mengagetkan Zena yang sedang melamun.


"Eh sayang," pekik Zena mengusap dadanya.


"Rio bicara apa tadi?" tanya Zena sekali lagi.


"Sejak kapan Daddy beralih profesi menjadi pedagang keliling," ucap Rio, dia berjalan menuju Steven yang sedang fokus menumbuk bumbu yang sudah disiapkan oleh Bapak penjual lutis.


"Daddy, Rio tidak percaya jika Daddy ahli menumbuk," ejek Rio, saat melihat Steven menumbuk bumbu tidak halus.


"Kasihan mommy Dad, kasihan adik Rio juga jika makan lutis buatan Daddy, pasti rasanya sangat aneh," sambungnya lagi membuat Steven ingin melemparkan alat yang terbuat dari batu itu ke kepala anaknya.


"Dad, itu yang halus, kasihan mommy. Masa makan gula Jawa segede itu," ujar Rio semakin terkikik.


"Dad! Itu--" ucapanya terhenti saat Steven menatapnya tajam.


"Oh, sorry dad, maaf ... maafkan Rio Dad, Rio duduk," ujar Rio berjalan menuju Zena.


"Sejak kapan Tuan bisa membuat bumbu seperti itu?" tanya Jeff yang mendapat gelengan dari sekertaris Nanda.


"Aku tidak tahu, Kira-kira bagaimana rasa masakan Tuan ya?"


"Aku ingin mencobanya," ujar sekertaris Nanda melihat bossnya yang sedang berkutat dengan bumbu dapur.


"Kalian, kalian mau aku bicarakan dengan Mas Steven?" tanya Zena membuka es krim miliknya.


"Jangan Nyonya, maafkan saya," ucap Jeff membuat Zena mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Heh! Kalian jangan salah artikan ucapanku! Aku sedang menawarkan mau lutis buatan suamiku atau tidak," ujar Zena membuat sekertaris Nanda dan Jeff menganggukan kepalanya.


Bersambung😘


__ADS_2