
"Putri kita sudah aku pindahkan di rumah sakit lain sayang," jawab Steven.
"Kenapa Mas? Memangnya, ada apa dengan putri kita? kenapa harus di pindahkan ke rumah sakit lain?" tanya Zena mulai cemas.
"Kamu yang tenang, sayang. Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting."
Plak!
"Ulangi lagi ucapanmu, itu Mas! ulangi lagi!" teriak Zena emosi, dia menampar pipi mulus suaminya.
"Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud--"
"Apa! jika menurutmu, putriku tidak penting. Okeh ... fine! tapi, menurutku ... anak adalah segalanya, lebih baik aku kehilangan suami dari pada anak-anakku, Mas! Bersusah payah aku mengandung dan melahirkan, Mas! dan sekarang, kau bilang tidak penting! di mana hati nurani mu, mas! dia anakmu!" geram Zena, tangannya bergetar saat melihat pipi suaminya yang memerah.
Deg!
"Maafkan aku, tapi ... aku tidak bermaksud seperti itu, sayang! aku hanya ingin, kamu tenang. Sudah itu saja," jawab Steven berusaha meraih punggung tangan istrinya.
"Jangan sentuh aku Mas!" tepis Zena, wajahnya menatap lurus ke depan, air matanya kembali lolos dari pelupuk matanya, "Katakan, kenapa anakku bisa terpisahkan. Aku tahu, kau menyembunyikan sesuatu dariku, kan!" ujar Zena, nada bicaranya sangat dingin.
"Aku akan menceritakan semuanya," jawab Steven.
"Putri kita mengalami kelainan di organ jantungnya. Dan aku, sedang melakukan yang terbaik. Aku sengaja tidak memberitahukan mu dulu, aku tidak mau ... kamu shock atau drop lagi," sambung Steven.
Mendengar semua ucapan yang keluar dari bibir suaminya, hati Zena terasa sakit. Seketika keinginan bertemu dengan putrinya memuncak dari dalam dirinya.
"Brenggssekk! pertemukan aku dengan putriku, Mas!" gumam Zena saat tubuhnya di tarik ke dalam pelukan suaminya.
"Aku memang pria breengsseek, tapi ... aku tidak mau putriku mendapatkan karma dari kebrenggseekan ku, aku akan memberikan yang terbaik untuknya, bila perlu ... aku akan membawa putriku ke rumah sakit luar negeri, agar mendapatkan penanganan terbaik," ujar Steven mengusap punggung istrinya berulang kali.
"Aku mau bertemu dengannya, Mas! bawa aku ke sana, hiks ... hiks,"
"Kenapa semuanya terjadi pada putri kita, Mas! kenapa tidak terjadi padaku, saja? aku rela menggantikan putriku, bahkan aku rela mati untuk anak-anakku, Mas, kenapa! kenapa harus anakku yang mengalami nasib seperti ini, kenapa!"
__ADS_1
"Sabar, semua adalah ujian. Aku yakin, anak kita akan baik-baik saja, dia sudah mendapatkan penanganan terbaik dari dokter spesialis jantung," ucap Steven.
'Aku tidak bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya, kejadian saat putri kita tak bernyawa. Ya Tuhan, aku sangat menyayangi anak-anakku, berikan mereka kesehatan,' batin Steven.
"Mas, antarkan aku ke rumah sakit!"
"Aku mau melihatnya," ujar Zena menghapus air matanya.
"Ini sudah hampir malam. Sebaiknya, besok kita mengunjunginya," titah Steven menangkup wajah cantik istrinya dan mengecup seluruh wajahnya.
Cup ....
"Sekarang istirahatlah, aku tidak mau kamu kecapean. Biar urusan baby Revan, aku yang mengurusnya." titah Steven membuat Zena menyatukan alisnya.
"Revan? siapa Revan?"
"Dan siapa yang menjaga putri kita di sana, Mas?" tanya Zena penasaran.
"Bagus, nama yang bagus, 'Revan dan Resya'. Aku suka dengan namanya," jawab Zena tersenyum.
***
Dua hari nasib Sheila sungguh menyedihkan, tak disangka saat dirinya sedang tertidur lelap di kamar hotelnya tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran orang yang tidak pernah dia anggap. Dan sekarang, dia sedang duduk manis sambil menunggu menu makanannya datang.
"Setelah ini, kita pergi menemui anakku. Dan aku akan memperkenalkan anakku padamu, sayang," ucap Leo meneguk kopi hangatnya.
"Iya Mas!" jawab Sheila lesu, dia mengedarkan pandangannya dan melihat sepasang kekasih muda yang tengah lunch bersama.
'Kapan aku bisa seperti itu? ingin rasanya, aku bisa duduk berdua, saling suap-suapan dengan kekasih yang aku cintai. Ah, malang sekali nasibmu, shei.' batin Sheila.
"Lihat apa sayang?" tanya Leo saat melihat kekasihnya melamun sembari menatap sepasang kekasih yang tertawa bahagia, "Kau ingin, kita seperti mereka?" tanya Leo kembali.
"Em ... apa Mas? aku tidak mendengarkan ucapanmu!" ujar Sheila.
__ADS_1
"Selamat siang Nona dan Tuan, ini makanan pesanan anda," ujar pelayan Caffe meletakkan beberapa masakan di atas meja Leo dan Sheila.
"Terimakasih Kak," jawab Sheila mengambil jus jambunya.
'Bagaimana kabarnya Riski? Apa dia sudah berhasil merebut semua hartanya. Aku sudah tidak tahan lagi, ingin rasanya aku tendang pria tua ini! matanya sungguh jelalatan menatap bagian depanku yang besar!' batin Sheila meletakkan gelas jusnya dan mengambil pisau untuk memotong steak nya.
"Aaa ...." titah Leo yang tiba-tiba menyodorkan satu sendok makanannya.
"Apaan sih, Mas! aku bukan anak kecil yang harus disuapi!" kesal Sheila memalingkan wajahnya.
"Aku tahu, kau cemburu dengan kemesraan mereka, kan? sekarang, kita lakukan saja. Agar cemburumu hilang," ucap Leo.
"Aku cemburu? siapa yang cemburu Mas!" kesal Sheila, 'Justru, aku merasa ilfil saat melihat perlakuan mu Mas!' batin Sheila.
"Ya sudah, sekarang buka mulutmu dan aku akan menyuapimu, sayang!" titah Leo.
'Apa hanya pria tua ini yang benar-benar tulus mencintaiku? Apa mungkin ... dia jodohku yang ditakdirkan Tuhan, oh tidak! aku tidak mau mempunyai pasangan hidup seperti Leo yang sudah tua. Apa kata anak-anakku nanti, pasti saat anak-anakku sudah besar, dia sangat malu, karena mempunyai Ayah yang sudah seperti kakek-kakek,' batin Sheila menatap pria tua yang sedang menyodorkan sendok makannya.
"Aku bisa sendiri, Mas! Lebih baik, Mas makan saja!" titah Sheila menerima suapan dari Leo, "Sudah Mas, sekarang ... Mas makan!" sambungnya lagi.
"Sekali lagi!" titah Leo yang mendapat gelengan dari wanita yang dicintainya.
"Aku tidak mau, Mas! aku akan memakan makananku!" ucap Sheila.
Di saat mereka sedang melangsungkan lunch di restoran mewah, tiba-tiba ponsel Sheila berdering dan dia segera merogoh tas nya.
'Aduh, kenapa dia telfon!' batin Sheila saat melihat nama Riski di layar ponselnya.
"Mas, aku keluar sebentar, mau mengangkat telfon dari teman," titah Sheila beranjak pergi.
"Siapa yang menelfon, kenapa harus pergi dari hadapanku? Aku pikir, ada yang disembunyikan oleh Sheila," gumam Leo dalam hati.
Bersambung 😘
__ADS_1