
Steven melihat tempat sampah di depannya lalu menggeser tubuhnya, "Terimakasih," ketus Steven lalu berjalan meninggalkan dokter Irma.
"Sama-sama," lirih Irma melihat Steven berjalan mendahuluinya.
'Beruntung dia dokter istriku. Jika aku tidak membutuhkannya kelak, sudah aku jebloskan dia mendekam di penjara' batin Steven.
"Tunggu Tuan, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Irma menghentikan langkah Steven.
"Silahkan, apa yang ingin dokter tanyakan?" ucap Steven tanpa memutar tubuhnya menghadap dokter Irma.
Dokter Irma berjalan menghampiri Steven, dia berdiri tepat di belakang pria yang sudah beristri dengan kepala di tundukkan.
"Emmm bagaimana keadaan Nyonya Zena, Tuan? Baik-baik saja kan?" tanya dokter Irma basa-basi.
"Oh, maksud anda, anda mendoakan istri saya tertimpa hal buruk!" jawab Steven tidak terima.
"Bu-bukan seperti itu. Saya hanya mengkhawatirkan keadaan Nyonya, bukankah Tuan di sini karena Nyonya?" ucap dokter Irma memundurkan beberapa langkah saat ekor matanya melihat Steven memutar tubuhnya.
"Saya sibuk. Saya tidak bisa meladeni ucapan anda, dan anda tenang saja. Saya kemari hanya menjenguk rekan kerja saya," jawab Steven lalu berbalik dan berjalan menuju ruang Jeff.
"Tunggu Tuan," kejar Irma di belakang Steven, "Bagaimana keadaan Mas Jeff, semalam saya menghubungi ponselnya tapi tidak aktif," sambung Irma menghentikan langkah kaki Steven lagi.
"Dia baik-baik saja. Dan mulai sekarang jauhi Jeff, saya tidak suka jika ada kerabat saya tersakiti karena hal sepele. Apalagi karena wanita, Jeff bisa mencari wanita yang lebih baik dan mapan dari dokter. Jadi, jangan khawatirkan Jeff dan jangan temui atau menghubunginya lagi. Anda mengerti!" ketus Steven melanjutkan langkahnya.
Mendengar ucapan Tuan Steven, hati Irma terasa sakit. Tubuhnya melemas sampai-sampai dia harus berpegangan pada dinding kokoh rumah sakit, tanpa terasa air mata lolos dari pelupuk matanya.
'Apa Jeff sudah mengatakan semuanya pada Tuan? Aku tidak percaya, semuanya sudah membenciku,' batin dokter Irma menghapus sisa air matanya yang menghiasi pipi.
__ADS_1
"Dokter baik-baik saja?" tanya dokter Riyan saat melihat getaran punggung rekan kerjanya.
Seketika dokter Irma menoleh, dia menatap temannya yang sesama dokter sedang merangkul pundaknya, "Aku tidak apa-apa dok. Terimakasih sudah membantuku," jawab dokter Irma tersenyum.
"Jangan menangis,"
"Siapa yang menangis?" tanya Irma, "Aku kelilipan debu. Jadi seperti orang menangis. Lebih baik dokter pergi dan kembali bertugas, tidak enak di lihat orang," titah Irma lagi.
"Jika ada beban yang tidak bisa diceritakan pada sesama manusia. Lebih baik ceritalah pada Tuhan, mungkin setelah kamu bercerita, masalah mu akan sedikit berkurang, itu saran aku," ujar dokter Riyan menepuk pundak Irma lalu pergi, 'Maafkan aku. Steven menginginkan masalah Jeff dirahasiakan dari siapapun termasuk padamu dok,' batin dokter Riyan menoleh ke belakang lalu menatap depan lagi.
Setelah sampai di ruangan Jeff, Steven dikejutkan dengan kehadiran sosok Jack, seorang pria yang mirip dengan Jeff.
"Jack, sejak kapan kamu di sini? Dan dari mana kamu tahu Jeff ada di sini?" tanya Steven terkejut.
"Tidak perlu tahu Tuan, siapa yang membuat adikku seperti ini? Aku akan membalasnya sekarang juga. Jika dia membuat hidup Jeff terbaring di rumah sakit, maka aku akan membalas seseorang itu hidup terbaring kaku di tanah," ujar Jack meremas jarinya erat.
"Aku tidak tahu kejadian yang sebenarnya seperti apa. Dan aku tidak bisa memastikan penyebab Jeff seperti ini. Jika kamu penasaran dengan semuanya, lebih baik kamu tunggu Jeff sadar," jawab Steven berjalan menghampiri Jack yang sedang duduk di kursi dekat ranjang Jeff.
"Aku tidak mau kamu cemas dan keadaan mu semakin memburuk. Ingat, kamu baru saja sembuh, lukamu bahkan baru kering," jawab Steven membuat Jack terpaku, "Dia membutuhkan donor darah, rumah sakit ini hanya mempunyai persediaan satu kantong darah dan masih kurang 2 kantong darah. Aku ingin memberitahukan kabar ini, tapi ponselmu mati," sambung Steven membuat mata Jack melotot.
"Ambil darahku saja Tuan. darahku sama dengan Jeff, cepat beritahu aku, di mana aku bisa mendonorkan darahku," jawab Jack bangkit dari tempat duduknya.
"Ikut saya, jika anda ingin membantu pasien, maka ikut dengan saya," titah dokter Riyan yang baru masuk ke ruangan Jeff.
Jack menoleh sumber suara lalu menganggukkan kepalanya, "Saya titip adik saya pada Tuan," ucap Jack berjalan menghampiri dokter pria muda itu.
"Ambil darah saya sebanyak mungkin. Saya tidak ingin kehilangan adik saya dok, hanya dia yang saya punya," curhat Jack saat darahnya sedang di ambil.
__ADS_1
"Kami membutuhkan dua kantong darah untuk pasien. Tapi saat saya lihat keadaan Pak Jack, saya hanya bisa meminta satu kantong darah saja," ucap dokter Riyan melihat wajah pucat Jack.
"Tidak dok, ambil saja darah saya sebanyak mungkin. Saya kuat," Jack berusaha meyakinkan dokter Riyan.
"Tapi--"
"Jangan tapi-tapian dok, apa dokter mau disalahkan jika terjadi sesuatu pada adikku ha! Cepat ambil darahku sebanyak mungkin. Aku masih bisa bertahan hidup walaupun dengan sedikit darah!" timpal Jack emosi.
"Baiklah, jika anda yang meminta. Sebelumnya anda harus menandatangani surat ini, karena jika terjadi apa-apa dengan Anda, rumah sakit tidak akan bertanggung jawab," ucap dokter Riyan memerintahkan suster menyerahkan selembar kertas.
Tanpa membaca, Jack langsung menandatangani surat itu, "Sudah," ujarnya memberikan selembar kertas pada Suster.
"Okeh, jika semuanya sudah selesai, mohon untuk Pak Jack beristirahat sampai satu atau beberapa jam kemudia. Karena setelah ini, tubuh dan kepala anda akan terasa lemas," ucap dokter Riyan, "Saya izin pamit untuk mengecek pasien lainnya," sambungnya kembali.
"Terimakasih dok," jawab Jack lalu memejamkan matanya. Benar apa yang dikatakan dokter bahwa tubuhnya terasa lemas tak berdaya, kepalanya sedikit berkunang-kunang, 'Setidaknya, adikku selamat,' batin Jack.
***
"Apa! Menikah?" pekik Sheila menutup mulutnya, "A-aku belum siap menikah denganmu sayang," sambungnya lagi.
"Aku sudah memberikan semua yang kamu mau. Bukankah setiap wanita menginginkan status yang jelas?" tanya Leo saat mereka sedang makan di sebuah restoran mewah.
'Walaupun aku menginginkan pernikahan tapi aku harap bukan menikah denganmu,' batin Sheila menatap setiap inchi wajah pria paruh baya di depannya.
"Sayang?"
"Kamu mau kan menikah denganku? Menjadi Ibu dari anak-anak kita kelak?" ujar Leo meraih tangan Sheila.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari pria tua di depannya, tiba-tiba perut Sheila terasa mual. Ingin rasanya, dia memuntahkan semua isi perutnya di depan wajah pria tua itu.
Bersambungš