Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 148_Hilangnya Jack


__ADS_3

"Apa maksud Nyonya? Memangnya siapa yang sakit?" tanya Jack.


"Emm ...," Tesa berpikir sejenak, dia mencari alasan agar Jack tidak curiga dengan alasannya, "Teman Steven, tante juga tidak tahu, siapa teman Steven. Mungkin rekan kerja atau teman mainnya," ujar Tesa tersenyum, "Sudahlah lebih baik kamu temani tante berbelanja. Hari ini tante tidak ada kesibukan, jadi temani tante berbelanja, okeh?" sambung Tesa di angguki Jack.


"Siap Nyonya, kalau begitu saja siapkan mobilnya dulu," ujar Jack bangkit dari tempat duduknya lalu memberi hormat dan meninggalkan Tesa di kamar sendiri.


'Aku tidak bisa memberitahukan kabar ini pada Jack, dia mempunyai sifat arrogant melebihi sifat Jeff. Lebih baik aku rahasiakan dulu,' batin Tesa me broadcast di grup whatsapp nya.


Di depan ruangan IGD, Steven berjuang mati-matian untuk menolong anak buahnya yang sudah dianggap sebagai adik. Dia menelfon semua rekan kerjanya dan menyebarluaskan berita tentang seseorang membutuhkan donor darah AB-.


Sudah menunggu 2 jam, tapi Steven belum menemukan satu orang pendonor darah. Semua karyawannya tidak mempunyai golongan darah yang sama dengan golongan darah Jeff.


"Apa aku menghubungi Jack saja?" gumam Steven berjalan mondar mandir, "Tapi aku takut dengan tindakan yang akan dilakukan Jack setelah melihat adiknya terbaring di rumah sakit,"


Di saat kecemasan menghantui Steven, tiba-tiba ponselnya berdering. Seketika Steven langsung mengambil ponselnya dan melihat nama istrinya di layar ponselnya.


"Hallo sayang, apa kamu sudah mendapatkan pendonor darah untuk Jeff?" tanya Steven saat panggilannya sudah terhubung dengan istrinya.


"Belum Mas, apa kamu sudah mendapatkannya Mas?" tanya Zena di sebrang sana.


"Belum juga sayang. Aku sudah mebroadcast di beberapa grup tapi hasilnya nihil," jawab Steven menjatuhkan bokongnya di kursi depan IGD.


"Mas, aku sempat terpikirkan ini. Bagaimana jika kita menghubungi kembaran dari Jeff, mungkin saja golongan darah mereka sama," usul Zena membuat Steven menghembuskan nafasnya kasar.


"Aku sudah terpikirkan cara itu sayang. Cuma, aku masih menimangnya karena aku tidak mau menimbulkan masalah baru setelah Jack tahu jika adiknya sekarat karena wanita," ucap Steven.


"Tapi Mas, jangan pikirkan yang lainnya dulu. Sekarang kita pikirkan nyawa Jeff saja, jika Jeff tidak membutuhkan donor darah secepatnya, maka dia--"


"Dia akan baik-baik saja sayang, lebih baik kamu istirahat. Hari sudah malam, kemungkinan besar aku akan menginap di sini," titah Steven.

__ADS_1


"Iya Mas, selamat malam," jawab Zena lalu memutuskan panggilannya.


Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Rembulan dan bintang yang menerangi gelapnya malam, kini sudah digantikan dengan matahari dan sinarnya.


Mata Steven terbuka perlahan saat merasakan sinar matahari yang mengusik wajahnya, tubuhnya menggeliat merentangkan kedua tangan melemaskan otot-otot kaku nya karena tertidur di sofa ruang IGD.


Setelah dokter Riyan selesai memberikan pertolongan pertama untuk Jeff. Dia mengabarkan bahwa dalam waktu 24 jam Jeff belum mendapatkan pendonor darah selanjutnya, akan berakibat buruk untuk kesehatannya.


Di lihatnya wajah Jeff yang pucat disertai selang infus dan oksigen yang menancap di punggung tangan serta hidungnya.


Steven bangkit berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya setelah menghubungi sekertarisnya bahwa hari ini dia tidak masuk ke kantor dan sekertaris Nanda memaklumi karena keadaan Jeff yang tidak bisa ditinggal.


Kesibukan pekerjaan yang selalu di rangkap oleh sekertaris Nanda, membuatnya sulit mencari waktu untuk membesuk temannya Jeff.


"Bagaimana? Apa sudah mendapatkan pendonor darah untuk Jeff?" tanya dokter Riyan saat melihat Steven keluar dari kamar mandi dengan wajah basahnya.


Steven menoleh dan melihat dokter serta suster yang sedang mengecek kondisi Jeff, "Belum dok," jawab Steven berjalan dan duduk di kursi dekat ranjang Jeff.


"Jika sampai besok kita tidak bisa mendapatkan donor darah, maka saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan keadaan pasien," sambungnya lagi.


"Keluarga Jeff berada di luar negeri. Karena dia asli negara J dan saya tidak bisa memberitahukan kabar ini pada keluarganya," jawab Steven menatap wajah pucat Jeff, "Karena keluarganya baru saja sembuh dari kecelakaan. Apa mungkin dia bisa mendonorkan darah dalam kondisi belum sembuh total?" lanjutnya lagi.


"Kita akan mengeceknya dulu. Jika semuanya aman maka saya akan memperbolehkannya," ujar dokter Riyan, "Saya permisi dulu. Tolong pertimbangkan ucapan saya," sambungnya lagi lalu berjalan keluar ruangan.


Setelah kepergian dokter Riyan, Steven langsung mencari ponselnya dan menghubungi Jack, tapi beberapa panggilannya tidak dijawab karena nomor Jack tidak aktif. Setelah putus asa menghubungi Jack, akhirnya Steven mencari kontak Ibu nya dan menghubungi, tidak membutuhkan waktu lama untuk Steven tersambung dari Ibu nya.


"Ibu, di mana Jack, aku sudah menghubunginya berulang kali tapi tidak diangkat, dan ponsel Jack sepertinya mati," ucap Steven saat panggilannya sudah terhubung oleh Tesa.


"Jack?" ulang Tesa mengernyitkan keningnya di sebrang sana, "Jack ada di kamar, semalaman tidak keluar rumah. Coba Ibu lihat kamarnya," sambung Tesa berjalan menuju kamar anak buah anaknya.

__ADS_1


"Iya, Ibu coba temui Jack. Dan bilang padanya, tolong hubungi aku," titah Steven.


Tesa berulang kali mengetuk pintu kamar Jack tapi tidak ada sahutan sama sekali, dan saat Tesa mencoba membuka pintu kamar Jack, ternyata kamar itu tidak terkunci.


Tesa masuk dan mencari keberadaan Jack di kamarnya tapi dia tidak menemukan keberadaan anak buah putranya.


"Jack tidak ada di kamar, mungkin dia sedang pergi keluar," ucap Tesa pada Steven.


"Oh, ya sudah aku titip pesan pada Ibu. Jika Jack kembali, tolong hubungi aku. Karena keadaan Jeff sangat memprihatinkan," jawab Steven yang di setujui Tesa.


"Baik, nanti Ibu sampaikan,"


Setelah panggilannya terputus, cacing di perut Steven tiba-tiba berbunyi meminta demo.


"Aku mencari makan dulu Jeff, cepatlah sadar," ujar Steven beranjak dari tempat duduknya lalu pergi berjalan menuju pintu ruangan.


Setelah mengisi perutnya yang kosong di kantin rumah sakit, akhirnya Steven melangkahkan kakinya lagi ke ruangan Jeff.


Sudah beberapa kali Steven menelfon dan memberikan pesan pada Jack, tapi tak ada satupun pesan itu terbalas membuat Steven merasa frustrasi.


"Aarrrggkkhhh ...."


'Sebenarnya apa yang terjadi padamu Jeff!' batin Steven berjalan menuju ruangan Jeff.


"Tuan!" panggil dokter Irma saat melihat Steven berjalan hampir menabrak tempat sampah di depannya.


Langkah Steven terhenti, dia menoleh sumber suara, 'Huh! Ada apa lagi ini, tidak cukupkah dia membuat Jeff seperti ini dan berimbas padaku,' batin Steven menatap dokter Irma.


"Tuan, hampir saja Tuan menabrak tempat sampah itu," ujar dokter Irma berjalan menghampiri Steven.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2