
"Mas ada apa? Kenapa teriak-teriak. Kamu tahu, suaramu terdengar sampai lantai atas Mas, kamu juga bisa membangunkan Rio," ucap Zena saat menghampiri suaminya di depan kamar Jeff.
"Sayang, minggirlah. Aku mau mendobrak pintu kamar Jeff, tadi aku mendengar teriakan dari dalam. Aku takut terjadi sesuatu pada Jeff," jawab Steven merentangkan salah satu tangannya agar Zena memundurkan langkahnya.
"Bukankah Jeff meminta izin padamu untuk berkencan dengan dokter Irma Mas? Mungkin kamu salah dengar, aku tidak mendengar suara Jeff," ujar Zena.
Steven menggelengkan kepalanya, dia meminta kembali istrinya untuk menjauh, "Menjauhlah sayang, aku yakin di dalam ada Jeff. Telingaku masih berfungsi," jawab Steven.
Zena memundurkan langkahnya, dia melihat beberapa kali suaminya berusaha membuka paksa pintu kamar Jeff.
Satu ...
Dua ...
Tiga ...
Pintu berhasil di buka, dan terlihat Jeff yang sudah tidak sadarkan diri dengan tangan mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
"Jeff!" pekik Steven dan Zena bersamaan.
"Mas, Jeff kenapa? Kenapa tangannya bisa berdarah seperti ini?" tanya Zena panik.
"Aku tidak tahu sayang, lebih baik kamu bantu aku. Cepat hubungi dokter Riyan dan aku akan berusaha menghentikan darah yang menetes ditangan Jeff," ucap Steven di angguki Zena.
"Iya Mas, aku ambil ponselku dulu di kamar,"
"Jangan sayang, pakai ponselku saja. Kita tidak punya banyak waktu," ujar Steven, mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada istrinya.
"Iya Mas, Mas angkat tubuh Jeff ke kasur," titah Zena di angguki Steven.
Setelah selesai menghubungi dokter Riyan, Zena kembali menghampiri suaminya yang sedang menjaga anak buahnya.
'Aku senang melihatmu seperti ini Mas, memperhatikan setiap bawahanmu, tidak membedakan antara atasan dan bawahan,' batin Zena menatap Steven yang sedang membenarkan posisi Jeff pingsan.
"Bagaimana Mas, apa darahnya sudah berhenti?" tanya Zena.
"Lumayan sayang, bagaimana dokter Riyan. Dia mau datang kan?" tanya Steven bangkit dari tepi ranjang, "Kita tunggu dokter Riyan di sofa saja," sambungnya lagi.
__ADS_1
"Iya Mas," jawab Zena berjalan menuju sofa, "Aku senang kamu bisa bersikap hangat dengan anak buahmu. Bahkan kamu mau membersihkan sisa darah yang mengalir di tangan anak buahmu," ucap Zena mendudukkan bokongnya diikuti Steven di sampingnya.
"Aku akan bersikap baik dengan orang yang menurutku baik sayang. Aku tahu Jeff seperti apa, dan aku sudah menganggapnya sebagai adikku, jadi sudah sepantasnya jika aku merawat adikku," jawab Steven menarik tubuh Zena ke dalam pelukannya.
"Mas, tapi kira-kira apa penyebab Jeff sampai seperti ini? Bukankah sebelum berangkat menemui dokter Irma, wajah Jeff berseri?" tanya Zena.
"Aku tidak tahu sayang, mungkin Jeff ada masalah dengan dokter Irma. Biar aku cari tahu sendiri, sekarang kita tunggu dokter Riyan datang. Jika kamu mengantuk biar aku antar ke kamar, setelah itu aku akan kembali dan menjaga Jeff lagi," titah Steven mengecup pucuk kepala Zena.
"Aku belum ngantuk, dan aku masih mau di sini Mas. Aku mau dipeluk sama kamu," jawab Zena mengeratkan pelukan suaminya.
Steven tersenyum, dia mengusap punggung istrinya, "Dasar manja," kekeh Steven.
Mendengar ucapan suaminya, Zena langsung melepaskan pelukannya, "Oh jadi Mas risih kalau aku manja gitu?" tanya Zena pura-pura marah.
"Tidak sayang, aku justru senang, jika kamu manja-manja denganku, Janji ya ... sikap manjamu itu hanya boleh ditunjukkan padaku, awas saja kalau kamu manja pada pria lain," ancam Steven menarik tubuh istrinya dalam peluk.
"Engga Mas, aku manja cuma sama kamu. Tapi janji, kalau malam jangan ilang-ilangan terus, aku kan susah jika mau meminta dipijit," gerutu Zena menatap wajah suaminya.
"Pijit?" ulang Steven, "Jadi selama ini kamu mencariku malam-malam hanya meminta di pijit?" tanyanya tak percaya.
"Iya Mas, memangnya aku mau meminta apa? Jangan-jangan kamu berpikir buruk tentangku?" tebak Zena membuat Steven menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku tidak berselera melakukan hubungan ranjang Mas. Karena akhir-akhir ini, aku gampang sekali lelah," timpal Zena cepat.
"Maaf sayang, aku tidak tahu,"
"Sekarang pijat kakiku. turun dari lantai atas membuatku lelah," jawab Zena meluruskan kakinya di pangkuan Steven.
"Sekarang sayang?" tanya Steven tak percaya, "Bagaimana jika dokter Riyan datang dan melihat kita--"
"Memangnya kenapa Mas, memangnya kenapa jika dokter Riyan datang dan melihat kita? Kita tidak melakukan hal aneh di sini. Aku hanya ingin di pijat saja," timpal Zena meletakkan tangan suaminya di kaki putih mulusnya.
"Pelan-pelan ya Mas," ucap Zena lagi saat Steven mulai memijat kakinya.
'Harga diriku sebagai CEO dari perusahaan terbesar dan terkenal di dunia akan turun seketika saat dokter Riyan melihatku memijat kaki Zena,'
'Huh! beruntung dia wanita yang aku cintai, jika dia seperti Sheila ... sudah aku tendang kakinya,' batin Steven dalam hati sambil memijat kaki istrinya.
__ADS_1
"Kencang sedikit lagi Mas, pijatanmu sangat enak. Jika seperti ini, aku mau dipijat setiap hari Mas," titah Zena sambil memainkan ponsel suaminya.
Zena memencet aplikasi kamera dan memfoto tangan Steven yang sedang memijat kakinya. Kemudian di uploadnya ke dalam akun instagram milik suaminya.
"Suami perhatian, pagi hari mencari nafkah untuk keluarga dan malamnya menyenangkan hati istri, terimakasih suamiku," begitulah caption yang ditulis Zena.
Tok ...
Tokk ....
"Permisi Tuan, dokter Riyan sudah datang," ujar Bi Sari di balik pintu kamar Jeff.
"Masuk Bi! Pintunya tidak dikunci," teriak Zena, "Ayo Mas, lagi," ucap Zena saat melihat suaminya menarik tangannya.
"Ada dokter Riyan sayang, kita harus menghormatinya," jawab Steven membuat senyum diwajah Zena memudar.
"Ya sudah Mas, gapapa. Mungkin kamu malu dengan dokter Riyan," ucap Zena menurunkan kakinya.
"Maksudmu apa sayang, siapa yang malu. Sinih aku pijat kakinya lagi," rayu Steven saat melihat istrinya merajuk.
"Tidak usah Mas, lain kali saja," ketus Zena.
"Say--"
Ekhem ...
Deheman dokter Riyan menghentikan perdebatan sepasang kekasih yang sedang merayu dan merajuk.
"Apa yang terjadi dengan Jeff?" tanya dokter Riyan menghampiri tubuh Jeff yang pingsan.
"Dok, cepat periksa. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba aku menemukannya dalam keadaan tangan sudah berdarah," ucap Steven mengabaikan Zena yang sedang merajuk.
"Baik," Dokter Riyan langsung memeriksa dan mengecek tangan Jeff, dia memeriksa denyut nadi serta tekanan darahnya.
"Jeff kehilangan banyak darah. Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit, apa di sini ada kerabat atau orang yang bergolongan darah AB-?" tanya dokter Riyan.
"Emm aku dok, tapi apa tidak apa-apa jika aku mendonorkan darahku untuk Jeff?" tanya Zena mendapat gelengan dari Steven dan dokter Riyan.
__ADS_1
"Tidak boleh!" ucap mereka bersamaan.
Bersambungš