Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 194_Aman


__ADS_3

"Benar Mas, tadi ... aku sedang bicara dengan teman-temanku, mereka bicara tentang tempat wisata yang sangat buruk, dan tempat itu, aku yang memilihkannya. Jadi, aku mengatakan jika, aku bodoh," jawab Sheila bohong.


"Oh, aku pikir ... ada yang mengatai kekasihku ini bodoh. Aku tidak akan terima jika kamu di hina seperti itu, sayang,"


"Mas, aku mau kembali ke kamar. Aku capek, mau istirahat."


"Biar aku antar!"


"Tidak perlu Mas," tolak Sheila.


'Bisa-bisa, aku terjebak lagi, lebih baik aku pergi sendiri,' batin Sheila.


***


"Siapa Ayah dari anak yang kamu kandung! Siapa!" teriak Al setelah mendudukkan adiknya di tepi ranjang.


"Mas, kamu apa-apaan, siapa yang hamil? aku tidak hamil!"


"Ini apa! kenapa aku menemukan ini ditumpukan bukumu!"


"Sudahlah ir, jangan mengelak lagi, siapa ayah dari anak yang kau kandung! siapa!" bentak Al memberikan benda pipih nan panjang.


"Bertahun-tahun, aku menjagamu Ir, bertahun-tahun aku menyekolahkan mu untuk menjadi wanita yang sukses, tapi kenapa ... kenapa, Ir! kenapa, kamu mengecewakan ku? Siapa ayah dari anakmu itu!" ujar Al frustrasi.


Irma terpaku, dia bingung harus menjelaskan semuanya dari mana dan seperti apa? hanya menangis, yang bisa Irma lakukan.


"Itu, bukan punya aku Mas, mana mungkin aku hamil. Itu milik pasienku!" elak Irma sekali lagi.


"Pasien? Okeh! jika benda itu milik pasien mu, kenapa berada di tanganmu?"


"Wajar saja kan Mas? Aku dokter kandungan, pasienku mengalami awal-awal tanda kehamilan. Ya sudah, aku memberikan testpack untuknya, dan ternyata testpack itu tertinggal, jadi aku membawanya, aku membawanya ke rumah, di rumah sakit, aku takut hilang Mas. Sekarang kamu percaya padaku, kan? aku tidak hamil," jawab Irma.


'Alasannya cukup masuk akal. Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan,' batin Al menghembuskan napasnya lega.


"Lalu, kenapa kamu menangis?" tanya Al saat melihat Irma menghapus air matanya.


"Pastilah aku menangis, sedari dulu aku tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari Mas Al, dan sekarang ... Mas Al bentak aku dan memarahi aku. Ya sudah, sana Mas pergi dari kamarku! aku mau istirahat!" ketus Irma meluruskan kakinya dan menarik selimutnya.


"Maafkan aku, Ir, aku tidak bermaksud membuatmu bersedih ataupun menangis," ujar Al menghampiri dan menekuk kedua lututnya agar sejajar dengan adiknya. Diusapnya kening dan pipi Irma berulangkali.


"Mas hanya takut terjadi sesuatu yang buruk padamu. Ibu bilang, beberapa hari ini kamu suka melamun."

__ADS_1


'Syukurlah, Mas Al percaya denganku,' batin Irma.


"Iya Mas, aku tahu perasaanmu. Kamu hanya ingin melindungiku dari hal buruk."


Al tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, "Ya sudah, sekarang beristirahatlah, tapi sebelum beristirahat, kamu harus mengisi perutmu yang kosong. Sedari tadi, kamu mual, Ir!


"Iya Mas, tapi aku tidak lapar. Aku mau tidur. Oh iya, Mas ... aku boleh minta tolong?"


"Apa?"


"Tolong rahasiakan pertengkaran kita dari ibu, aku tidak mau ... ibu berpikiran sepertimu, aku tidak mau ibu shock," jawab Irma ragu.


"Iya, tenang saja. Besok kita periksakan kesehatanmu, aku tidak bisa melihat adik tersayangku sakit," titah Al membuat Irma menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak perlu Mas, aku hanya salah makan saja, Mas Al tidak perlu mengkhawatirkanku, aku tidak sakit Mas," ucap Irma tersenyum.


"Tetap saja, lihatlah wajah sangat pucat Ir! aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Kau seorang dokter, seharusnya kamu tahu resiko penyakit yang di diamkan. Atau begini saja, besok aku panggilkan dokter Riyan, kekasihmu ... untuk mengecek kondisimu," tawar Al.


"Tapi Mas, besok aku sudah sembuh. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, Mas!"


"Aku tidak ingin bantahan, lebih baik ... sekarang makan, atau wajahmu akan semakin pucat," ucap Al beranjak dan mengecup kening adiknya sekilas.


"Mas, aku tidak perlu dibawa rumah sakit."


"Untuk benda tadi, lebih baik ... buanglah, apa kamu tidak jijik, Ir? itu bekas orang lain. Banyak virus atau bakteri di benda tersebut."


"Em ... besok aku membuangnya, sekarang aku ... aku takut, Ibu memergokiku dan berpikiran macam-macam tentangku!" jawab Irma mematikan lampu utama kamarnya.


"Good Night, Mas Al!" sambung Irma kemudian memejamkan mata.


Setelah mendengar pintu kamar tertutup, Irma perlahan membuka kelopak matanya, dia memastikan lagi kepergian Kakaknya.


"Maafkan aku, Mas! aku sudah mengecewakanmu. Tapi aku janji, aku akan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin," ucap Irma mengibaskan selimut dan berlari menuju kamar mandi.


Hoek ... Hoek ....


"Kenapa perutku mual terus si!" ujar Irma membasuh mulutnya dengan air kran yang menyala, "Pantas saja, Mas Al memintaku untuk ke dokter, ternyata wajahku sangat pucat seperti mayit. Aku harus menghubungi dokter gadungan itu. Aku tidak mau mempunyai masalah baru lagi. Aku bisa habis ditangan Mas Al, jika aku ketahuan berbohong."


***


"Apa adikmu mau menemuimu, Al?" tanya Ibu Irma setelah Al sampai dilantai dasar tanpa membawa bungkus makanannya.

__ADS_1


"Dia sakit, Bu! aku akan memanggilkan dokter Riyan besok. Sekarang, Ibu jaga Irma, aku harus kembali!" titah Al merapikan penampilannya.


"Untuk apa kembali? di sini juga rumahmu, Al!"


"Menginaplah di sini, dan temani Irma."


"Tapi Bu, aku tidak bisa! aku harus kembali!"


"Kalian sudah dewasa, tinggalah bersama kami, Al! sudah cukup lama, kamu pergi dari rumah ini," pinta Ibu Irma.


"Aku akan tinggal di sini, setelah Irma menikah," jawab Al kemudian berjalan menuju pintu utama.


Ke esokan harinya, Irma telah rapi dengan pakaian kerjanya. Dia berjalan menuruni tangga agar sampai di meja makan.


"Pagi Bu," ucap Irma.


"Pagi, wajahmu kenapa pucat sekali, Ir? jika kamu sakit, kamu izin saja dan beristirahat di rumah," titah sang ibu.


"Aku jenuh di rumah, sudah beberapa hari ini aku berdiam terus di kamar.Oh iya, dimana Mas Al?" tanya Irma sambil menggeser tempat duduknya.


"Kakakmu pulang semalam."


"Kenapa Bu? aku pikir dia menginap di rumah ini," jawab Irma, mengambil makanannya.


"Tumben gak pake ikan laut, Ir?" tanya Ibu Irma, "Padahal itu makanan favoritmu?"


"Gak Bu, baunya amis. Aku tidak suka, bisa muntah aku. Lebih baik, singkirkan ikan itu. Ini saja, perutku sudah terasa mual!" ucap Irma tanpa sadar membuat ibunya mengerutkan alisnya.


"Susunya Ir, di minum?" titah Ibu Irma.


"Iya Bu," jawab Irma mengambil satu gelas yang berisi susu coklat kesukaannya.


Hoek ...


"Bu, mulai besok, jangan buatkan aku susu. napsssu makanku langsung hilang," ucap Irma berlari menuju wastafel dan mencuci mulutnya.


"Ada apa denganmu?" teriak Ibu.


Hoek ... Hoekk ....


"Emm ... aku mungkin salah makan, beberapa hari ini perutku bermasalah," jawab Irma gugup.

__ADS_1


"Kamu hamil?" tanya Ibu Irma tiba-tiba.


Bersambung😘


__ADS_2