Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 193_Pengumuman


__ADS_3

...Hay gaes, numpang promosi. ...


...Yuk, yang baca dan berikan komen serta masukkan ke dalam rak buku kalian. Btw aku bakal kasih hadiah uang tunai sebesar 50rb bagi 1 orang pertama yang selalu ngikutin ceritaku sampai tamat. Dan 30k ribu untuk 2 orang selanjutnya. ...


Judul : Terpaksa Menikahi Mr. Arrogant


pena : gustikhafida


Rate : 18+


...Hanya di aplikasi yang masih bingung bisa komen...


Kisah cinta Zena dan Steven dalam versi lain, dan tentunya semakin seru dan menegangkan.


...Bab1 Kecelakaan...


Sebuah kecelakaan tragis dengan mobil mewah dan truk besar bermuatan pasir membuat salah satu penumpang di dalam mobil mewah itu langsung meninggal dunia di tempat dengan mengenaskan.


"Sayang, bangun sayang," ujar Steven menepuk-nepuk kedua pipi wanitanya.


Bangun Tiara, bangun ... jangan tinggalkan aku sendiri Tiara ... bangun!" teriaknya frustrasi saat Steven mengecek denyut nadi wanitanya sudah tidak ada, segera Steven menghampiri supir truk yang sedang terluka parah, dia menghajar habis supir truk itu sampai tidak sadarkan diri.


"Hentikan!" seorang wanita muda berlari memeluk Ayahnya yang sudah tergeletak tak sadarkan diri karena perbuatan Steven.


"Apa yang kamu lakukan pada ayahku, hah!" teriak wanita bernama Zena, dia berdiri menatap tajam pria muda berwajah tampan, tapi terlihat dingin dan kejam.


"Menurutmu apa, dia sudah membuat calon istriku meninggal!"


"Lihat, kau bisa lihat itu?" tunjuk Steven dengan jarinya pada seorang wanita yang tergeletak di pinggir jalan dengan darah disekujur tubuhnya, mobil yang ditumpangi Steven pun sudah hancur dibagian samping.


Melihat wanita yang tergeletak berlumpuran darah, seketika tubuh Zena menenggang, dia tidak tahu harus berbicara apa, dan bagaimana pada pria dihadapannya.

__ADS_1


"Ma-maafkan Ayahku, tapi ini benar-benar musibah Mas, Ayahku juga tidak mau mendapatkan musibah seperti ini. Dan tentang kematian calon istri Mas, itu sudah kehendak takdir," ujar Zena lirih.


Mendengar ucapan yang dilontarkan Zena, seketika emosi Steven terbakar. Dia langsung menampar pipi wanita yang sedang membela Ayahnya, banyak orang yang merasa iba pada Zena, tapi mereka hanya bisa diam. Karena mereka, tidak berani dengan amarah Steven yang menurutnya kelewat batas.


Tidak sengaja, pandangan Zena menatap pada jemari Ayahnya yang bergerak, dengan cepat Zena memeluk sang Ayah dan meminta pertolongan pada orang yang melihatnya.


"Pak, Bu, tolong Ayahku, tolong ... aku harus membawa ayahku kerumah sakit, tolong bu!" pekik Zena, menangis histeris dipelukan Ayahnya.


Semua orang yang melihat pun merasa iba, tapi mereka semua tidak berani menolongnya. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya datanglah beberapa polisi. Mereka langsung mengevakuasi jenazah Tiara serta membawa Ayah Zena ke rumah sakit terdekat. Agar setelah sadar, Ayah Zena bisa memberikan informasi atas perihal kecelakaan yang menimpanya.


Setibanya di rumah sakit, tak henti-hentinya Zena menangis, baru beberapa bulan lalu dia kehilangan sosok ibu. Dan sekarang, dia menerima kenyataan pahit jika Ayahnya terluka parah. Rasa cemas, khawatir, dan takut kehilangan sosok Ayah, tidak bisa Zena bayangkan saat ini.


Setelah selesai mengurus jenazah Tiara, Steven beserta keluarganya menghampiri Zena yang berada dirumah sakit, mereka meminta pertanggungjawaban dari Zena. Karena Ayahnya, telah membunuh Tiara, wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri dan menantu dari keluarga Fernando.


"Kau ... kau harus menikah dengan putraku. Karena Ayahmu, calon menantuku meninggal. Padahal, besok mereka akan melangsungkan pernikahannya," geram Tesa, dia menghampiri Zena yang sedang menagis tersedu-sedu.


Mendengar ucapan Ibunya, Steven membulatkan matanya terkejut. Bukan ini yang diharapkan olehnya. Dia berharap Ibunya akan memaki, menampar, atau memukuli anak yang membunuh kekasihnya.


"Maaf, tapi aku tidak bisa Tante, aku tidak mengenal putra Tante. Dan aku tidak bisa menikah, dengan orang yang tidak aku cintai," jawab Zena menghapus air matanya, sesekali ekor matanya melirik pada kaca ruangan yang tertutupi tirai korden.


"Penjarakan saja Ayahnya," ujar Steven ringan, dia berjalan mendudukan pantatnya di kursi tunggu, tangannya merogoh saku celana kain dan mengeluarkan satu batang rokok dari bungkusnya.


Mendengar kata 'penjara' mata Zena membulat, bagaimana dia tidak terkejut, Ayahnya akan dipenjarakan dalam kondisi tak berdaya dan mengenaskan.


"Aku mohon Tante, jangan penjarakan Ayahku, aku mohon ... ini murni kecelakaan," ujar Zena, dia mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Sewaktu Zena sedang memohon pengampunan dari keluarga Steven, tiba-tiba dari kejauhan datanglah kedua polisi yang tengah berjalan menujunya. Mereka membawa beberapa lembar barang bukti di tangannya.


"Selamat malam," ujar kedua polisi membuat Zena terdiam.


"Selamat malam Pak, apa Bapak, sudah mendapatkan barang bukti, jika supir truk itu bersalah?" tanya Tesa penasaran.

__ADS_1


"Sudah Nyonya, saya mendapatkan bukti rekaman CCTV ini di dekat peristiwa kecelakaan mobil dan truk yang ditumpangi anak Anda," ujar salah satu Bapak polisi.


"Dan di sini, saya melihat jika truk yang dikendarai Bapak Leo berjalan dengan ugal-ugalan. Kami juga sudah menyelidiki ditempat kejadian, dan ada beberapa saksi yang mengatakan bahwa Bapak Leo mengemudi dengan kondisi mabuk," sambungnya lagi, dengan menyerahkan barang bukti yang diberada ditangannya.


Degg!


"In-ini tidak mungkin," Gumam Zena, dia tidak percaya dengan ucapan Pak polisi.


Sebelum Tesa mengambil barang bukti yang diserahkan polisi, Steven sudah dulu menyambarnya. Dia melihat semua foto dan hasil rekaman yang diambil dari CCTV, tiba-tiba emosinya memuncak. Dengan keputusan yang bulat, dia akan menikahi anak supir truk yang sudah membuat calon istrinya meninggal, agar dia bisa membalas kematian calon istrinya.


"Bedebah!" tangan Steven mengepal erat, rokok yang baru saja di hisap sudah dibuang kesembarang arah.


"Tangkap saja, dan berikan hukuman mati untuknya," ucap Tesa dengan cepat mengeluarkan pendapatnya


"Pasti kedua orang tua Tiara di alam sana tidak akan terima, jika pembunuh Tiara tidak dihukum mati," sambungnya kembali, membuat tubuh Zena semakin melemas.


"Baik Nyonya, setelah Bapak Leo sadar, kami akan menangkapnya," ujar Pak polisi, lalu pergi meninggalkan mereka semua.


Kaki Zena tertekuk, dia bersimpuh sujud di hadapan Steven dan Tesa, dengan kedua tangan mengatup di depan dada. Air matanya sudah mengalir deras, berharap sang Ayah akan mendapat pengampunan dari keluarga Steven.


"Maafkan Ayahku Tante, Ayahku pasti kelelahan karena bekerja sepanjang waktu untukku," ujarnya lagi, diiringi dengan isak tangis yang mendalam.


"Steve, kamu mau kan menikah dengannya, kita tidak punya banyak waktu untuk mencari pengganti Tiara. Kita juga tidak bisa membatalkan pernikahanmu, karena semua media bisa memberikan tanggapan negatif tentangmu. Dan urusan kecelakaan, Ibu sudah membungkam semua mulut yang melihat kecelakaanmu. Beruntung kecelakaanmu terjadi di malam hari, jadi banyak orang yang tidak mengetahuinya, termasuk media," ujar Tesa dengan ekspresi memohon.


"Aku akan menuruti permintaan Ibu," jawab Steven menarik kedua sudut bibirnya ke atas sambil menampilkan senyum manisnya yang mengerikan. Setelah itu, Steven kembali duduk di tempatnya semula.


'Aku akan membalaskan kematianmu, sayang. Aku akan membuat wanita ini merasakan penderitaan dan berakhir dengan kematian yang mengenaskan,' gumam Steven dalam hati, sambil sesekali melelirik sekilas penampilan Zena yang lusuh.


Setelah berpikir dengan matang, akhirnya Zena bersedia menikah dengan pria yang baru dikenalnya. Demi menyelamatkan Ayahnya yang terbaring di rumah sakit, "Baik, aku mau menikah. Aku akan menggantikan calon istri anak Tante yang meninggal karena Ayahku. Tapi aku mohon, jangan masukan Ayahku kedalam penjara," mohon Zena, yang bangkit dari sujudnya.


***

__ADS_1



...#Happy Readingđź“–...


__ADS_2