Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 87_Pulang Bersama


__ADS_3

"Baiklah, ibu akan mendukungmu, jika kamu butuh bantuan, bilang saja pada ibu, ibu akan menjaga Rio disini" Ujar Tesa sambil bangkit, lalu pandangannya beralih pada sekertaris dan sahabat anaknya sekaligus.


"Bantu Steven mencari keberadaan istrinya, bila perlu pasang selembar kertas berupa gambar Zena di setiap sudut negara AS, " Ujar Tesa pada sekertaris anaknya itu


"Jangan bu, kali ini jangan lakukan hal bodoh lagi, yang akan membuat Zena kecewa, aku tidak mengizinkan semua orang menyebar foto istriku di media sosial atau sebagainya, aku tidak mau istriku ketakutan dan Dave, temannya akan mencuri kesempatan agar bisa dekat dengan istriku" Jawab Steven cepat


"Tap-tapi Steve, bukankah cara yang ibu berikan akan mempersingkat waktu kita untuk menemukan Zena? "


"Iya, tapi cara ibu juga yang akan membuat Zena ketakutan, dia akan merasa jika dirinya telah di teror, dan aku tidak mau terjadi sesuatu pada anaku, aku sangat mengharapkan anakku bu"


"Tolong mengerti aku, dan lebih baik sekarang ibu pergi ke kamar, aku sedang tidak ingin di ganggu" Ujar Steven yang mengusir ibunya


Setelah mempertimbangkan ucapan anaknya, akhirnya Tesa setuju, segera dia pergi meninggalkan kamar anaknya agar anaknya bisa beristirahat dengan nyaman


"Nanda, temani aku minum" Ujar Steven saat melihat ibunya pergi dari kamarnya


Mata sekertaris Nanda membulat, "Minum? " Ulangnya lagi


"Jangan Tuan, bagaimana anda bisa sembuh jika anda minum? saya tidak mengizinkannya Tuan"


***


Pagi cerah telah datang dan kembali menjadi malam yang indah, perputaran waktu terasa begitu cepat, sudah 1 bulan Steven berusaha mencari keberadaan istrinya, tapi tak disangka, sampai satu bulan ini dia belum bisa mendapatkan titik terang tentang keberadaan istrinya, berulang kali Jeff mencari di luar negri tapi tak bisa menemukan keberadaan Zena


Dan tepat di satu bulan ini, Steven dengan tubuh lemasnya, akan berangkat menuju negara yang diyakini tempat persembunyian istrinya, Zena, untuk ke 3 kalinya, bahkan Steven sudah menghubungi beberapa klien kerjanya yang berada di luar negri berharap ada seseorang yang melihat istrinya, banyak bisikan yang di dengar Steven tentang perihal foto yang selalu Steven bawa.


"Daddy, mommy kapan pulang? Aku kangen mommy hikss...hikss.. " Tangis Rio dalam gendongan bi sari, sudah beberapa hari ini tubuh Rio mengalami kenaikan suhu drastis,


Kerinduan pada mommy nya membuat tubuh anak kecil ini drop, kesehariannya selalu meracau mencari mommynya


Steven perlahan mendekat lalu mengusap kepala anaknya yang sedang menangis "Sebentar lagi mommy pulang, ini daddy akan jemput mommy, Rio jangan nakal pada bi sari atau omah" Ujar Steven yang menarik tangannya lalu berjalan keluar menuju mobil yang sudah siap untuk mengantarkan dirinya ke bandara.


***


Tepat di satu bulan ini, Zena sudah bekerja di caffe milik Dave dengan posisi kasirnya, Zena sangat nyaman bekerja di caffe milik temannya ini, karna letaknya yang tidak jauh dengan apartemennya dan juga teman-temannya sangat ramah,


"Ayo pulang, ini sudah jam 9 malam" Ujar Dave pada Zena yang baru saja menyerahkan hasil pemasukan dari caffe temannya

__ADS_1


"Iya, sebentar...aku ambil tas dulu" Jawab Zena yang langsung menyambar tasnya.


"Nana, aku duluan" Ujar Alexa yang menjadi salah satu barista di caffe Dave


"Iya hati-hati" Jawabnya tersenyum


"Ayo Dave, aku lelah.."


"Oh iya, bagaimana dengan keadaan keluarga ku di Indo? "


"Apa suamiku masih mengalami morning sickness nya atau?? " Ujar Zena yang mulai berjalan keluar dari caffenya


"Dokter Riyan belum memberitahukan apapun padaku, mungkin dia sedang sibuk,"


"Oh iya Zen-" Ucapan Dave terhenti saat Zena mencubit pinggangnya


"Dave, panggil aku Nana, namaku sekarang Nana, aku sudah bersusah payah merubah penampilanku, dan kau ingin mengacaukan semuanya? bagaimana jika ada anak buah mas Riski yang sedang mencariku, aku tidak mau ditangkap dia, Dave! " Gerutu Zena kesal yang berjalan lebih cepat lagi dan meninggalkan Dave dibelakangnya.


Dia sudah bersusah payah mengubah penampilannya, bahkan rambut yang biasa dia gerai, sekarang harus di cepol dengan kacamata yang selalu bertengger di matanya, wajahnya yang tak boleh memakai make up karna kehamilannya, membuat wajahnya semakin glowing alami


"Na! Nana! Jangan tinggalin suamimu ini" Ujar Dave yang berlari mengejar Zena


Mendengar kata suami, Zena langsung menghentikan langkahnya, dia kembali berbalik menatap Dave "Jangan macem-macem," Ujar Zena ketus


"Jangan marah istriku, hahaha"


Plak!


Zena memukul pundak Dave keras,


"Sakit Na! " Seru Dave sambil mengusap pundaknya yang habis dipukul oleh istri pura-pura nya.


"Jangan menyebutku dengan sebutan itu! ini sudah sepi"


"Memangnya kenapa Na! selama kamu berada disini, kamu menjadi istri pura-pura ku, agar aku bisa bebas keluar masuk kedalam apartmenmu, dan agar kejadian beberapa hari yang lalu tidak terulang lagi" Ujar Dave sambil mengingat kejadian beberapa hari lalu sewaktu Zena di goda oleh penghuni tetangga unit apartemennya


"Hemm.. Tapi sekarang kita tidak di apartemen Dave, kita sedang berjalan di pinggir jalan"

__ADS_1


"Hehe, Zen... Kamu benar, tidak merindukan anak atau suamimu? " Kini Dave berbicara dengan serius, mereka berjalan pelan karna mobil Dave, terparkir di parkiran apartement yang di tempati Zena


"Ntah Dave, sebenarnya aku rindu, aku juga punya ke niatan untuk menghubungi Rio, tapi... Aku takut, jika yang mengangkat suamiku, pasti dia akan memarahi Rio" Ujar Zena, yang tiba-tiba sedih, membuat Dave tak enak hati, segera dia merangkul pundak Zena


"Maaf Na, jika kamu mau kembali ke negara asalmu, aku akan menemanimu"


"Bagaimana pun kamu masih tanggungjawabku, apalagii ada bayi di perutmu, aku tidak mau terjadi sesuatu pada anakku" Sambung Dave membuat Zena melototkan matanya, dengan sekuat tenaga, Zena memukul Dave dengan slingbag nya


Plak!!


Plak!!


"Dave!! aku tidak mau anakku punya Ayah sepertimu yang suka tebar pesona pada setiap wanita" Geram Zena yang berlari mengejar Dave yang sedang melindungi diri dari amukan Zena, seketika mereka tertawa bahagia


"Cape? " Tanya Dave yang diangguki Zena, setelah keduanya berhenti berlari


Hosh.. Hosh...


"Cape banget, perutku Dave, perutku kram" Ujar Zena memegangi perutnya.


Dengan sigap, Dave langsung menggendongnya dan berjalan kembali menuju apartemennya


"Dave, apa suamiku masih bermain gila dengan selebgram itu setelah kepergianku? Apa suamiku sudah melupakanku? " Tanya Zena di saat Dave menggendongnya


"Emmmm Zen...


"Apa kau yakin, wanita itu simpanan suamimu?" Tanya Dave penasaran


Zena menganggukan kepalanya cepat "Iya, aku lihat sendiri dan aku juga mendengar sendiri, dia memanggil kata sayang pada suamiku"


"Pasti kamu terkejut ya?"


"Hahaha pastilah.. mata suamimu harus diperiksakan Zen, jelas- jelas kamu lebih segalanya, kamu lebih cantik, kamu lebih unggul dari segi fisik atau hati, coba deh... Itu selebgram gak usah pake make up, pasti wajahnya biasa aja," Jawab Dave yang sekaligus menggoda temannya yang sedang dalam gendongannya


"Lama-lama, aku bisa jatuh cinta jika seperti ini terus Zen" Ujar nya polos membuat Zena membulatkan matanya lalu meminta turun dari gendongan Dave


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2