
"Enak saja mau satu ranjang denganku, aku tidak sudi disentuh pria tua sepertinya. Mungkin aku sudah gila, karena dulu, aku pernah mau menerima cintanya," gumam Sheila menuju meja resepsionis dan memesan satu kamar untuknya.
"Pesan satu kamar, usahakan yang berada di lantai satu atau dua," titah Sheila pada resepsionis.
"Baik, saya cek dulu," ucap pegawai resepsionisnya.
'Rasakan, aku sengaja meminta lantai dasar, agar tidak berdekatan denganmu, pria tua!' batin Sheila mengeluarkan dompet yang berada di tas nya.
"Maaf Nona, kamar di sini sudah terisi penuh, hanya tinggal--"
"Ya sudah, aku tahu ... aku tahu, aku akan pergi!" ketus Sheila saat melihat dari kejauhan anak buah Leo yang tengah memantaunya.
'Ah siall, pasti karenanya! lalu, aku harus kemana? aku tidak mau tinggal bersama dengan pria tua itu!' batin Sheila berjalan keluar hotel tempat Leo menginap.
Melihat anak buah Leo yang masih memantaunya, Sheila semakin mempercepat langkahnya, dia menyetop taksi lewat di saat anak buah Leo berusaha mencegahnya pergi.
"Pak!" pekik Sheila merentangkan kedua tangannya, "Bawa aku pergi dari sini!" sambungnya lagi kemudian masuk ke dalam taksi.
"Baik Nona."
'Aku harus kemana? apa aku pulang saja? tapi, Leo pasti sudah memerintahkan anak buahnya untuk berjaga di bandara, aduh ... bagaimana ini?' batin Sheila kebingungan.
"Pak, hotel terdekat di daerah sini, tolong antarkan aku ke hotel itu, Pak!" titah Sheila melirik ke belakang mobil memastikan anak buah Leo tidak mengikutinya lagi.
'Aman!' batin Sheila.
"Baik Nona." jawab Pak supir.
Setelah 10 menit berada di di jalanan, akhirnya taksi itu berhenti tepat di depan hotel yang tidak terlalu luas tapi terlihat sangat mewah.
"Ini, untuk Bapak, terimakasih," ucap Sheila menyodorkan beberapa dollar yang diberikan oleh Leo sebelum dia pergi tadi.
"Sama-sama, Nona," jawab pak supir setelah mengambil uang dari penumpangnya.
Setelah turun dari taksi, sheila segera masuk ke dalam hotel, dia berjalan menuju meja resepsionisnya, berharap ada kamar kosong yang bisa dia tempati untuk menginap di sini.
__ADS_1
"Aku pesan kamar," ucap Sheila melihat setiap sudut hotel yang terkesan mewah.
"Tunggu sebentar, biar saya cek dulu," ucap pegawai resepsionisnya.
Setelah menunggu, akhirnya ada 1 kamar yang terletak di lantai tiga, dengan harga yang cukup menguras kantong sheila.
"Apa tidak ada yang lebih murah lagi?" tawar sheila saat mengetahui isi dompetnya yang menipis.
"Maaf, semua kamar sudah penuh dan hanya tersisa satu kamar saja di lantai tiga, jika Nona bersedia, kami akan mengurusnya," ujar pegawai resepsionisnya.
"Siapa yang tidak bersedia? aku bersedia, aku cuma tanya ... apa bertanya hukumnya dilarang atau haram?" kesal sheila mengambil seluruh isi dompetnya.
"Ini aku bayar! cepat urus semuanya! aku lelah!" titah sheila memberikan seluruh uangnya pada pegawai wanita tersebut.
"Tunggu sebentar Nona," jawab pegawai resepsionisnya yang mengambil uang dari tangan customernya.
'Uangku hanya tersisa $1000, apa akan cukup untuk kebutuhanku selama di sini? atau aku minta saja Riski mengirimkan uang atau menjemput ku,' batin Sheila mengetuk meja resepsionisnya berulang kali.
"Ini Nona," ujar pegawai resepsionis yang memberikan kartu akses kamarnya, "Dan Nona bisa menggunakan lift di sana untuk menuju lantai tiga, sekali lagi ... terimakasih, dan berikan ulasan terbaik untuk hotel kami," sambungnya lagi.
"Sebenarnya siapa yang menuduh? dia yang menawar harga dan dia juga yang tersinggung dengan ucapannya sendiri," gumam resepsionis hotel.
Setelah sampai di kamarnya, tak henti-hentinya ponselnya berdering, "His! apa pria tua itu tidak lelah menelfon ku terus! aku saja yang mendapat telfon darinya sangat lelah," gerutu Sheila kemudian merijek panggilan Leo dan memilih menelfon Riski, pria yang menghuni rumahnya.
"Hei, kirimkan uang untukku! Aku sedang kesulitan uang. Aku kabur dari pria tua itu!" titah sheila menjatuhkan tubuhnya di ranjang hotel yang empuk.
"Hahaha ... jangan bilang, kau sedang bertengkar dengan kekasihmu itu. Halalkan saja, dan kau bisa honeymoon dengannya sekarang juga!" kekeh Riski dari sebrang sana.
"Aku tidak butuh ceramah darimu. Aku butuh uang, aku tidak bisa pulang jika seperti ini!"
"Bagaimana? apa semuanya berjalan dengan sempurna?" tanya Sheila saat teringat tentang harta Riski.
"Al, aku sedang menunggu keputusan Al, dia masih ragu denganku. Karena hanya Al, yang bisa masuk ke dalam rumahku tanpa dicurigai anak buah dari pria tua itu!" ucap Riski.
"Kenapa tidak kau sogok saja dengan uang. Di dunia ini, asalkan ada uang, semuanya berjalan dengan lancar!" kesal sheila saat mendengar pergerakan lambat dari teman prianya.
__ADS_1
"Memangnya aku sepertimu! sudahlah jangan ikut campur urusanku, aku akan mengurusnya sendiri!" ucap Riski tak kalah kesal.
"Kirimkan uang sekarang juga! aku akan pulang esok!" ujar Sheila.
"Tunggulah beberapa hari di sana, dan rayulah si pria tua itu agar tidak cepat kembali, setidaknya sampai semua rencana ku berhasil!"
"Tidak mau! enak saja, setelah semuanya berhasil, kau akan pergi dan meninggalkanku, itu tidak adil!"
"Ayolah, setidaknya 3 hari lagi dari sekarang, dan beritahu pada Putra, adikku. Suruh dia kembali ke Indonesia, aku sangat merindukannya," pinta Riski.
"Adikmu mau menikah, dan dia tidak akan kembali ke negara asalnya," ucap Sheila enteng.
"Apa! Menikah? dengan siapa? kenapa kau baru beritahu aku! dia masih kuliah! dan aku sebagai kakaknya tidak mengizinkan dia menikah secepat itu," ujar Riski emosi.
"Jangan bilang, kau cemburu kan? karena adikmu akan menikah, dan kau ... kau masih Jones alias jomblo ngenes!" ejek Sheila sambil tertawa renyah.
"Jaga ucapanmu! siapa yang cemburu! adikku masih di bawah umur, dan dia belum pantas menikah dengan sikapnya yang masih labil. Mau diberi makan apa anak dan istrinya kelak!" ketus Riski.
"Hartamu! kau kan meninggalkan harta yang berlimpah, haha ...," kekeh Sheila.
"Kau! aku sedang serius!"
"Aku juga! Leo bukan mengajakku berlibur, tapi dia ingin melamar wanita yang dicintai anaknya. Dia bilang seperti itu, tapi aku juga belum pernah bertemu dengan anaknya," jawab Sheila serius, tidak ada tawa yang menyelimutinya.
"Aku akan menyusul kalian. Beritahu kalian sedang di mana?" tanya Riski.
"Tidak perlu, sekarang fokuslah dulu dengan tujuan awalmu. Setelah mendapatkan apa yang kau mau, baru kau susul kami ke sini," jawab Sheila.
"Baiklah, tapi aku titip adikku padamu. Setelah aku menyelesaikan semua urusanku, maka aku akan menyusul mu dan memberikan kejutan untukmu!"
"Kejutan? kejutan apa?" tanya Sheila penasaran.
"Bekerjasama lah denganku, setelah semuanya selesai, aku pastikan akan memberikan kejutan untukmu!" titah Riski.
Bersambung 😘
__ADS_1