
Akhirnya mereka memutuskan menyantap makanan yang telah dipesannya tadi dalam diam.
Tak ada yang memulai berbicara untuk memecahkan situasi yang mencengkram ini.
"Kamu salah paham denganku," ucap dokter Irma setelah menghabiskan makanannya. Di bersihkan mulutnya dengan tissue.
Mendengar ucapan dari dokter Irma, Jeff mengernyitkan keningnya heran, " Salah paham seperti apa?" tanya Jeff meminum jus alpukatnya, "Aku tidak mengerti apa arti ucapanmu itu dok?" sambungnya lagi.
"Mas mengiraku mempunyai kekasih?" tanya dokter Irma menggeser piring kosongnya. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan. Wajahnya menatap lekat wajah pria dihadapannya, "Bukankah Nyonya Zena sudah pernah menanyakan statusku? Aku kira dia diperintahkan olehmu?" sambungnya lagi membuat Jeff melototkan matanya.
"Saya tidak pernah meminta Nyonya Zena untuk menanyakan status dokter," jawab Jeff dengan wajah merah merona menahan malu.
"Jangan panggil aku dengan embel-embel dokter, namaku Irma dan panggil aku Irma jangan memakai embel-embel dokter. Aku risih mendengarnya," ucap dokter Irma tersenyum.
"Huh!"
"Saya lebih nyaman memanggil anda dengan sebutan dokter," jawab Jeff memalingkan wajahnya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang. Terimakasih untuk jamuan," ucap Irma bangkit dari duduknya.
"Tunggu!" cegah Jeff memegang lengan dokter Irma.
"Kamu belum menjelaskan arti ucapanmu itu. Aku salah paham seperti apa?" tanya Jeff memerintahkan Irma duduk kembali.
"Aku? Bukan saya?" sindir Irma, "Bicara aku kamu menang lebih menyenangkan dari pada anda dan saya," sambungnya lagi.
"Maaf, saya--"
"Aku bukan saya," tegas Irma, "Aku risih mendengarnya, setelah mengucapkan kata Saya, aku berasa orang lain yang baru bertemu denganmu, lebih tepatnya seperti orang asing," jawab Irma memotong ucapan Jeff.
"Okeh, aku. Sekarang jelaskan apa maksud ucapanmu itu? Siapa yang salah paham?" Jeff mengulang pertanyaannya kembali.
"Aku belum mempunyai kekasih ataupun pacar," ucap Irma menatap Jeff lekat, "Kamu salah paham padaku," sambungnya lagi.
"Tapi aku pernah melihat mu dengan pria lain?" ucap Jeff menolak kenyataan.
"Kapan?" tanya Irma mengerutkan keningnya, "Sejak kapan aku berjalan dengan seorang pria?" tanyanya lagi sambil mengingat-ingat kejadian beberapa hari ini.
__ADS_1
"Di rumah sakit, sewaktu aku mengantarkan Nyonya dan Tuan. Aku melihat kamu menggandeng mesra seorang pria, jadi menurutku--" ucap Jeff terhenti saat melihat senyum Irma yang mengembang, "Kenapa tertawa, memangnya ada yang lucu?" kesal Jeff.
"Kamu lucu," dua kata yang diucapkan dokter Irma mampu membuat Jeff mematung, "Kamu lucu," sambungnya lagi, "Kamu lucu hahaha... "
"Apa maksud mu! A-aku sedang marah seharusnya mukaku menakutkan bukan lucu!" ucap Jeff meraba wajahnya sendiri, "Apa wajahku terlihat tidak menakutkan?" tanya Jeff lagi.
"Iya, kamu lucu. Wajahmu sangat lucu Intinya sekarang kamu cemburu pada pria itu?" tanya Irma memandang wajah pria dihadapannya.
"A-aku cemburu? Emm ... jika aku cemburu memangnya kenapa? Walaupun cintaku ditolak tapi aku akan tetap menunggu dokter sampai dokter mau menerima cintaku," ucap Jeff menangkup wajah cantik dihadapannya.
"Maaf, maaf aku menolak menjadi kekasihmu," ujar Irma memegang tangan pria yang sedang menangkup wajahnya.
"Aku akan menunggu dokter sampai dokter siap menjalin hubungan denganku, tapi siapa pria itu? Dia benar kekasihmu?" tanya Jeff menarik tangannya dari wajah Irma.
"Menurutmu?" ucap Irma tersenyum, "Sudah aku bilang tadi, jika aku tidak mempunyai kekasih," sambungnya lagi.
"Jadi, siapa pria itu?"
"Dia adalah--" ucapan Irma terpotong saat melihat ponselnya menyala, "Sebentar aku angkat telfon dulu. Jangan bicara!" sambung Irma menggeser tombol berwarna hijau.
"Di mana kamu! Kata Ibu, kamu belum sampai rumah!" ucap Al dari sebrang sana, "Angkat video call dari Mas," ucapnya lagi membuat Irma salah tingkah.
"Mas, jangan video call. Aku sedang di luar, tidak enak jika--"
"Angkat!" titah Al tak ingin dibantah.
"I-iya Mas," ucap Irma menatap wajah Jeff sebelum menggeser tombol video call nya.
"Ada di mana?" tanya Al saat melihat background adiknya yang terlihat tidak asing.
"Di Caffe Mas, ya sudah matikan telfonnya. Kita bertemu di rumah," jawab Irma malas.
"Hei, dengan siapa? Mas susul kamu. Mas sudah dijalan." ucap Al membuat Irma melototkan matanya.
"Jangan gila Mas, aku sedang bersama teman-temanku. Bagaimana bisa kamu datang dan mengacaukan hangout kita!" ketus Irma, "Matikan telfonnya, kita bertemu di rumah," sambung Irma dengan nada kesalnya.
"Sayang--"
__ADS_1
"Gak Mas, jangan bujuk aku dengan makanan. Aku sudah kenyang," ketus Irma.
Jeff yang menyimak percakapan antara wanitanya dengan seorang pria pun menggeram kesal.
'Sudah jelas, pria itu memanggil Irma dengan sebutan sayang. Aku saja yang sudah dibodohi oleh dokter itu,' batin Jeff mengepalkan tangannya erat, 'Seharusnya, tadi aku membiarkannya pulang. Jika sudah seperti ini, hatiku yang terasa sakit,'
"Sudah ya Mas, aku mau pulang. Jangan ganggu aku!" kesal Irma.
"Mas sudah sampai di depan caffe. Tunggu sebentar, Mas akan turun dan memastikan teman-temanmu itu benar-benar teman atau melebihi teman," ucap Al yang membuka pintu mobilnya.
Melihat kakaknya membuka pintu mobil, Irma langsung mematikan panggilannya, "Mas, Mas sekarang pulang. Karena-karena Mas Al sudah sampai di sini. Aku tidak mau, Mas Al membuat keributan di sini," pinta Irma pada Jeff, "Aku mohon Mas, setelah sampai rumah aku akan jelaskan semuanya lewat telfon," sambungnya lagi sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Tidak perlu menjelaskan, jika niatmu ingin menipuku maka trik mu sudah berhasil dokter. Semoga setelah ini, kita tidak akan bertemu lagi. Terimakasih atas kehadirannya, maaf sudah mengganggu waktu dokter!" ucap Jeff bangkit dan berjalan menjauhi Irma yang sedang mematung.
"Ta--"
"Tidak perlu dijelaskan, semuanya sudah jelas," timpal Jeff benar-benar pergi.
Arggkkhhh ....
"Kenapa jadi seperti ini! Dan kenapa dia marah sebelum aku menjelaskan semua, seharusnya dia mau mendengarkan penjelasanku dulu! Ini semua karena Kak Al, kenapa dia memanggilku dengan sebutan sayang di depan Mas Jeff," gerutu Irma menjatuhkan bokongnya di kursi
Jeff melangkahkan kakinya dengan lebar, tercetak amarah dan kekecewaan di raut wajahnya.
Brugh!
Tak sengaja Jeff menabrak seorang pria yang berjalan berlawanan, "Maaf saya tidak sengaja," ucap Jeff merapihkan bajunya.
"Saya yang seharusnya meminta maaf, karena--" Al menjeda ucapannya, "Ka-kamu bukannya--"
"Kau sekertaris Tuan Riski kan?" tanya Jeff menatap wajah Al, "Sedang apa kau di sini?" ketus Jeff.
"Memangnya aku tidak boleh datang kesini hah! Ini tempat umum!" jawab Al tak kalah ketus.
"Oh, aku dengar-dengar, Tuan mu itu sudah meninggal dunia ya? Aku turut berbahagia," ejek Jeff membuat Al meremas ponselnya, menahan emosi
Bersambungš
__ADS_1