Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 190_Putri Kita?


__ADS_3

"Tapi jangan membuatku penasaran? kejutan apa yang ingin kau berikan kepadaku?"


"Apa ini berhubungan dengan hartamu? kau akan memberikan separuh hartamu padaku?" tebak Sheila yang sudah kegirangan.


"Lihat saja nanti, jika aku beritahu sekarang, itu berarti bukan kejutan!" ucap Riski, "Di sini hari sudah pagi, aku mau tidur, tubuhku terasa lelah, semalaman tidak tidur!" sambung Riski lagi.


"Tunggu, jangan membuatku penasaran, sebenarnya apa kejutan yang ingin kau beri padaku?"


"Aku berharap, kau akan membagi separuh hartamu atau seluruh hartamu untukku!" ujar Sheila


"Melebihi itu, sudahlah. Aku capek!"


"Hei, bagaimana dengan uang yang aku minta? aku sangat membutuhkan uang itu!" pekik Sheila sebelum panggilannya di akhiri oleh Riski.


"Memangnya kau menginap di hotel mana? Luxury Hotel? atau Golden Hotel?" tanya Riski malas, beberapa kali dia menguap menandakan bahwa dirinya benar-benar mengantuk.


"Bagaimana kau bisa tahu aku singgah di hotel itu?" tanya Sheila terkejut.


"Aku sekarang berada di Luxury Hotel, tapi sebelumnya aku berada di Golden Hotel," jawab Sheila kemudian.


"Aku sudah menduganya, bicara saja manager hotel, kau adalah kekasih Leo, semua akan beres. Tunjukkan saja foto kebersamaan mu dengan pria tua itu!"


"Hei, yang benar saja, aku tidak sudi hubunganku dengan pria tua itu tersebar kemana-mana," kesal sheila.


"Cara aman, karena kedua hotel itu milikku. Dan sekarang--"


"Tunggu! tunggu! jangan bilang, pria tua itu mengetahui keberadaan ku di sini?" ujar Sheila menutup mulutnya.


"Ya, bisa dibilang seperti itu. Kita lihat saja, pria tua itu ... pasti akan mengganggu mu kembali. Hanya ada satu cara agar kau bisa lolos dari kejaran pria itu, tapi aku tidak akan memberitahukan mu, karena aku masih membutuhkan dirimu untuk mengelabui pria tua itu!" jawab Riski membuat napas Sheila terasa sesak.


"Bajjjinnngan! kau sengaja memanfaatkan ku untuk kepentingan pribadi mu sendiri!" geram Sheila.


"Eh, tunggu dulu, jangan seperti itu dong. Kita saling membutuhkan, dan aku sudah berjanji, akan memberikan kado spesial untukmu," jawab Riski.


"Aku tidak butuh kado atau kejutan darimu! sekarang pergi dari rumahku! selama ini, ternyata aku salah menilai mu. Aku pikir, kau pria baik yang mempunyai satu tujuan yang sama denganku!"


"Pergi!" teriak Sheila.

__ADS_1


"Aku akan pergi setelah semua rencana ku berhasil, dan maafkan aku yang telah memanfaatkan mu, demi urusan pribadiku sendiri. Sekarang, turuti perintahku," ucap Riski.


"Aku tidak mau menuruti semua perintah mu!" ketus Sheila.


"Semua keluargamu berada di tanganku, aku bisa saja membuat mereka menderita dalam sekejap, jika kau tidak mau menuruti semua perintahku!" ancam Riski.


"Kenapa, kenapa sikapmu berubah, Ris! Ingat aku yang sudah menolong mu di saat kau sedang sekarat. Hanya aku, orang yang selalu menjenguk mu. Ingat itu Tuan Riski yang terhormat!" ketus Sheila mengakhiri panggilannya.


Setelah mengakhiri panggilannya, sheila melempar ponselnya ke sembarang arah, matanya menatap langit kamar yang dihiasi dengan lampu berwarna putih.


"Aku tidak menyangka, pria yang selama ini aku anggap baik, justru menusukku dari belakang. Dan mau tak mau, aku harus menuruti semua permintaannya," gumam Sheila, "Demi keluarga ku."


****


2 hari sudah, Zena rawat inap di rumah sakit terbesar dan terbaik di kota jakarta. Dan dua hari sudah, dia belum bertemu dengan Putrinya, setiap hari dia selalu merengek kepada suaminya untuk dipertemukan dengan putrinya, dan di saat itu juga, Steven memberikan seribu alasan.


"Sebenarnya, ada apa dengan putriku, Mas! aku tahu, kalian semua menyimpan rahasia tentang kondisi putriku, kan?" tanya Zena kesal.


"Tidak ada apa-apa, sayang!" ucap Steven mengusap punggung tangan istrinya.


"Jika tidak ada apa-apa, biarkan aku bertemu dengan putriku Mas! kamu tidak boleh memisahkan ibu dan anak seperti ini! setiap hari, kamu menyuruhku untuk memompa ASI untuk putriku," jawab Zena menepis tangan suaminya.


"Memangnya kenapa dengan jahitanku Mas? apa mempengaruhi kondisi bayiku, jika luka ku belum kering? tidak kan, Mas!"


"Sekarang, antar aku menemui putriku, Mas! antar aku!" pekik Zena.


"Hei, Hei, jangan berteriak seperti itu, sayang."


"Aku bosan dengan alasanmu. Aku akan menemui dokter Irma untuk berbicara langsung mengenai kondisi putriku, mas! aku tidak percaya lagi dengan ucapanmu itu!"


"Sayang, hentikan!"


"Sampai kau turun dari ranjang, aku pastikan, kamu tidak bisa menemui putri kita lagi!" ancam Steven.


"Apa maksudmu, Mas!"


"Dia anakku!" teriak Zena yang berusaha turun dari ranjang sambil memegang bekas jahitan yang belum terlalu kering. Dia berjalan menuju pintu ruangannya.

__ADS_1


Setelah sampai di depan ruangan putrinya, mata Zena membuat saat tak melihat putrinya di sana.


"Di mana anakku, Mas! kau bilang putriku baik-baik saja, tapi kenapa aku tidak melihatnya!" ucap Zena berpegangan lengan suaminya.


"Anak kita selamat kan, Mas? jawab Mas! jangan diam saja!" teriak Zena.


"Sabar ... sabar sayang, anak kita selamat," jawab Steven.


"Di mana anakku Mas, di mana? jangan pisahkan aku dengan anakku, Mas. Aku mohon, hiks ... hiks."


"Tenanglah, kita kembali ke kamar, dan susui putra kita, pasti dia haus," titah Steven mendapat gelengan dari istrinya.


"Dia sedang tertidur Mas, aku mau bertemu dengan putriku!"


"Cepat katakan! di mana putriku sekarang, Mas!" ucap Zena kemudian tubuhnya ambruk dalam pelukan suaminya.


"Sayang, bangun sayang ...," titah Steven saat melihat istrinya pingsan, jarum infus yang menusuk di punggung tangannya sudah terlepas membuat darah segar mengalir.


"Dokter! tolong dok!" ucap Steven saat melihat dokter Riyan keluar dari ruangannya.


"Kenapa Nyonya? cepat bawa masuk ke ruangannya. Saya akan memeriksanya," titah dokter Riyan yang disetujui oleh Steven.


Setelah membopong tubuh istrinya menuju ranjangnya, Steven mempersilahkan dokter Riyan mengecek keadaan istrinya,


"Dia histeris saat melihat putrinya tidak ada di ruangannya, dok!" ucap Steven.


"Lebih baik, ceritakan semuanya pada Nyonya, mau bagaimana pun, dia ibu kandung dari anak anda. Bicarakan semuanya dengan baik-baik," ucap dokter Riyan, "Nyonya hanya shock saja, sebentar lagi, dia akan sadar," sambungnya lagi.


"Baiklah, setelah sadar, aku akan menceritakan semuanya pada Zena. Semoga saja, dia bisa menerima kenyataan," jawab Steven.


"Kalau begitu saya permisi, dulu" titah dokter Riyan kemudian keluar ruangan.


Setelah menunggu 30 menit, akhirnya Zena tersadar dari pingsannya. Jarum infus yang sempat copot, sudah dipasangnya kembali.


"Mas, di mana putri kita Mas? aku mau melihatnya," ujar Zena, punggung tangannya terasa nyeri,


"Putri kita ... putri kita--"

__ADS_1


"Putri kita kenapa Mas?" tanya Zena penasaran.


Bersambung😘


__ADS_2