Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 208_Bocor


__ADS_3

Di saat Riyan sedang mencari keberadaan teman wanitanya, tiba-tiba dia melihat mobil teman wanitanya melintas keluar rumah sakit.


"Pergi kemana dia?" gumam Riyan, kemudian berjalan menuju mobilnya.


Di dalam perjalanan, tak henti-hentinya, Irma berdoa dan mengelak bahwa berita yang diucapkan oleh majikan dari pria yang dicintainya itu salah. Tanpa sepengetahuan Irma juga, dokter Riyan mengikutinya dari belakang.


Melihat arah tujuan Irma yang berlawanan dengan rumahnya, membuat Riyan semakin penasaran.


"Kemana dia pergi? apa yang terjadi. Dan sebenarnya, Tuan Steven berbicara apa padanya? Kenapa putra Tuan Steven sampai marah seperti tadi?" gumam Riyan, "Aku harus mengikutinya. Aku takut, dia melakukan hal nekat yang membahayakan nyawanya," sambungnya lagi.


Di kediaman Steven. Terlihat Rio yang baru saja keluar dari mobil, lalu berlari memasuki rumah meninggalkan Steven yang tengah terpaku.


'Aku tidak bersalah. Tante itu, yang memaksa Rio untuk berbicara. Jangan salahkan Rio! Rio tidak bersalah!' kata-kata yang dilontarkan Rio di dalam mobil, selalu terbayang-bayang di pikiran Steven.


"Apa aku salah memarahinya? tapi karenanya, Irma menjadi tahu kondisi Jeff. Dan aku pastikan, dia akan mencari kabar terbaru dari jeff. Aku hanya tidak ingin menambah masalah baru. Bagaimana, jika Jack sadar, dan Irma belum bisa melupakan Jeff. Apa jadinya nanti!" gumam Steven, kemudian berjalan menyusul putranya.


"Rio! Tunggu Daddy!" teriak Steven, saat melihat putranya memasuki lift, "Tunggu! Kamu harus mendengarkan penjelasan Daddy, sayang. Daddy, tidak ada niatan untuk memarahi Rio," ujar Steven yang diabaikan putranya.


"Rio! berani menutup lift, Daddy akan menyita semua fasilitasmu!" ancam Steven.


Mendengar semua ancaman yang di lontarkan Daddy nya, Rio pun terdiam, tangan yang hampir memencet tombol pun dia urungkan.


"Tunggu Daddy!" titah Steven semakin melebarkan langkah kakinya.


"Hem ...," ketus Rio.

__ADS_1


"Kamu marah dengan Daddy, hem?" tanya Steven yang tidak mendapatkan jawaban dari putranya.


"Daddy bertanya denganmu, sayang. Anak daddy marah dengan daddy, hem?" ulangnya sekali lagi.


"Tidak!" ketus Rio memalingkan wajahnya dari Steven.


"Huh!" Steven membuang napasnya kasar.


"Maafkan Daddy, Daddy tidak bermaksud untuk membentak atau memarahi Rio," ucap Steven mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh putranya.


"Hem," jawab Rio ketus.


"Sayang, jangan seperti ini. Rio mau mainan apa? Daddy dengar dari mommy, Rio ingin mainan mobil remot keluaran terbaru yang berada di toko depan sana, bukan? Daddy belikan buat Rio. Asalkan Rio mau memaafkan Daddy," rayu Steven.


"Tidak perlu, Dad! Rio tidak perlu apapun. Lebih baik, Daddy urusi saja tante itu. Rio sudah besar, Rio bisa jaga diri Rio sendiri!" ketus Rio memanyunkan bibirnya, membuat Steven semakin gemas dengan putranya.


"Yakin!" ketus Rio, kemudian berjalan menuju kamarnya setelah pintu lift terbuka.


Melihat putranya marah, Steven semakin frustrasi. Dia berjalan mendahului putranya menuju kamarnya.


Melihat Daddynya melintasinya tanpa menyapa, membuat Rio semakin kesal dengan Steven.


'Rio benci Daddy. Kenapa Daddy salahkan Rio! Tante itu yang memancing Rio. Seharusnya, Daddy salahkan tante itu! bukan Rio!' gumam Rio dalam hati, kemudian membuka pintu kamarnya dengan paksa.


Brak!

__ADS_1


Steven terkejut saat mendengar pintu kamar yang tertutup keras.


"Astaga, anak itu benar-benar marah," gumam Steven, kemudian membuka pintu kamarnya.


"Mas, Mas Steven bisa santai tidak sih. Kita punya anak bayi, kalau mau menutup pintu ... yang pelan dikit!" gerutu Zena yang mendengar pintu tertutup dengan keras.


"Bukan aku, sayang. Tapi Rio. Rio yang menutup pintu kamarnya dengan keras," ujar Steven membuat Zena menautkan kedua alisnya.


"Maksud Mas, apa? Tidak mungkin Rio menutup pintu seperti itu. Kalau mau nuduh, yang benar dikit Mas. Jelas-jelas, aku mendengar suara pintu itu keras Mas! Apa iya, anak sekecil Rio bisa--"


"Bisa saja, sayang. Dia sedang marah, karena aku baru saja memarahinya. Mungkin, dia terkejut, karena pertama kali aku membentaknya," ucap Steven menjatuhkan bokongnya di tepi ranjang.


"Ada apa, Mas? Kenapa kamu membentaknya. Dia anak kamu Mas! Bukankah sudah aku peringatkan berulang kali, jangan sampai membentak anak kecil sepertinya, Mas. Jika Rio salah, kamu bisa menegurnya tanpa membentak, kan?" ucap Zena, sedikit kesal.


"Sudah terjadi, sayang. Biarkan saja, sekali-kali ... aku harus tegas padanya."


"Tapi, dia masih kecil Mas. Dia hanya tidak tahu, seharusnya ... kau beritahu bukan membentaknya," ujar Zena.


"Iya, iya ... maafkan aku, sayang," ucap Steven.


"Sebenernya, kalian bertengkar membahas apa? coba ceritakan padaku."


"Ini masalah Jeff sayang. Rio membocorkan keadaan Jeff kepada dokter Irma. Dan aku--"


"Minta maaf pada Rio Mas, dia anak kecil. Aku membela Rio," ucap Zena

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2