
Melihat musuh lengah, Jack langsung menendang kaki dan perut musuh yang sedang menyanderanya membuat orang itu jatuh tersungkur ke tanah dan Jack langsung mengambil senjata yang berada di tangan musuh
Dor!!
Tubuh Jack terkulai lemas, dia jatuh ke lantai
Steven yang melihat itu semakin marah tak terima, dia sangat melampiaskan kemarahannya dengan menembak musuh dihadapannya Dor!! Dor!! Dor!!
2 musuh habis ditembak Steven, tersisa 1 musuh lagi yang melarikan diri,
Saat melihat musuh pergi dan dirasa keadaan sudah aman, Steven menghampiri Jack yang tergeletak ditanah dengan setengah sadar
"Tu-tuan" Gumam Jack merasakan sakit yang luar biasa, di tertembak di dekat dadanya
"Bertahanlah, aku akan membawamu kerumah sakit" Ujar Steven yang menggendong Jack masuk kedalam mobil
Tak berselang lama, kini Steven sudah sampai di depan rumah sakit, dia berjalan sambil menggendong tubuh Jack,
"Tolong! " Teriak Steven
Suster dan dokter yang mendengar teriakan orang penting di negaranya pun segera berlari menghampiri Steven
"Cepat tangani dia! Pelurunya harus dikeluarkan! " Pekik Steven saat dokter dan suster datang membawa bangsal dan merebahkan tubuh Jack lalu membawanya keruang IGD
"Pasien harus di operasi untuk mengambil pelurunya, karna pelurunya masuk begitu dalam, jika tidak, pasien akan-" Ucapan dokter terputus oleh Steven
"Hei! Lakukan bodoh! Jangan bicara terus!!" Seru Steven yang diangguki dokter,
Suster keluar dari ruang IGD dan berbicara pada dokter yang menangani Jack
"Dok, pasien ingin ditemani pasca operasi, dia mengatakan jika dia takut dan tak mau dioperasi kalau tak ada yang menemani"
"Kita beri obat bius saja agar pasien tidak takut, dan bicara pada dia, kalau operasinya akan berjalan lancar"
"Lebih baik suster siapkan semua peralatannya dan kita akan melakukan operasi 10 menit lagi"
"Baik dok" Jawab suster yang pergi meninggalkan dokter dan Steven
"Saya akan menemani teman saya operasi" Ucap Steven membuat dokter mengerjapkan matanya berulang kali karna tak percaya
"Maaf bukannya kami me-"
"Hei!! Kau dengar sendiri kan apa yang dikatakan suster itu!! Temanku meminta ditemani pasca operasi! Apa kau tuli hah! Cepat siapkan semuanya dan aku akan masuk kedalam" Titah Steven yang langsung masuk kedalam ruangan Jack
"Sebenarnya disini siapa yang dokternya sih? Aku atau Tuan Steven"
__ADS_1
"Aku tahu dia orang terkaya nomor 2 di negara ini, tapi-"
"Ya sudahlah, orang kaya bebas," Gumam dokter sambil berjalan pergi mengurus berkas yang harus ditanda tangani Steven sebelum operasi itu dilaksanakan
Setelah mendapat persetujuan dan tanda tangan dari Steven menyangkut keselamatan Jack, akhirnya operasi itu akan dimulai, dan benar saja Steven menemani Jack yang siap di operasi,
Dia berada di samping Jack dengan wajah yang sedikit pucat, bagaimana tidak pucat, Steven akan melihat dokter membedah dada Jack lalu mengambil peluru yang menyusup masuk.
Jack yang di bius diarea dada pun tak merasakan sakit saat tubuhnya disayat pisau oleh dokter, cukup lama Steven mengajak Jack berbicara, dia mendengar Jack bercerita karna dokter bilang, Jack tidak boleh tertidur atau dia akan tidur selamanya
Tak sengaja pasca operasi berjalan Steven melihat bagian dalam dada Jack, perutnya terasa mual, untuk pertama kali dia melihat organ dalam manusia
"Jack aku tidak kuat" Ujar Steven sambil menahan muntahan yang sudah berada di tenggorokannya
"Ta-tapi aku takut Tuan"
"Dok, apa masih lama? " Tanya Steven saat sudah tidak tahan lagi
"Sedikit lagi, kita akan menjahit sedikit lalu selesai" Jawab dokter dengan pandangan fokus ketubuh Jack
"Aww Tuan sakit" Jack merasakan sakit saat dadanya di jahit
"Sakit Tuan" Sambungnya lagi lalu mencakar pergelangan tangan Steven membuat Steven meringis kesakitan
"Aww sakit Jack!" Steven mengadu sakit saat pergelangan tangannya dicakar oleh anak buahnya, perutnya yang mual pun sudah tidak bisa ditahan
Steven memuntahkan isi perutnya dan mengenai tepat di jas dokter yang sedang menjahit luka Jack
Dokter yang bernama Excel pun menghentikan aktivitasnya, dia memandang jasnya yang sudah kotor lalu menatap Steven
"Apa yang kau lihat! Cepat jahit" Hoek " Titah Steven sambil menahan muntahannya lagi
"Tuan, jika anda tidak kuat lebih baik anda pergi dari sini" Lirih dokter Excel yang terlihat kesal namun tetap tersenyum dihadapan Steven
"Aku kuat, cepat lanjutkan"
"Baik" Dokter itu melanjutkan menjahit tubuh Jack dan "Hoek" Steven memuntahkan isi perutnya lagi di jas dokter Excel membuat dokter itu kesal lalu menjahit dengan cepat tak memikirkan rasa sakit yang di rasakan Jack
Jack merasakan sakit yang luar biasa melebihi rasa sakit sebelumnya, dia langsung mencakar lengan Steven membuat Steven meringis kesakitan lagi, tak segan-segan Jack mencakar pinggang Steven juga.
"Bodoh! kau membuat tanganku lecet! " Pekik Steven dengan wajah pucatnya
Hoek.. Hoek..
Kini muntahan Steven mengenai tepat bekas luka yang sedang dijahit dokter excel,
__ADS_1
Jijik, mungkin kata itu yang mewakilkan penglihatan dokter saat tangannya yang terbungkus sarung tangan terkena muntahan dari Steven
Dokter excel melototkan matanya saat melihat kedua tangannya yang terkena muntahan "Suster bersihkan tanganku" Ucap dokter Excel pada suster yang menemaninya
"Kau! kau awww.. sakit bodoh! " Seru Steven yang ingin memaki dokter excel tapi tak jadi karna lengannya di cakar oleh Jack
"Aku juga sakit Tuan! "
Akhirnya setelah 2jam berada diruang operasi, operasi itu selesai dan berjalan sangat lancar, dokter berbicara pada Steven tentang Jack yang tidak sadarkan diri karna faktor obat yang masuk kedalam tubuhnya,
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan" Ucap dokter Excel yang tersenyum lalu berjalan keluar ruangan sambil melepas jasnya yang sudah bau muntahan Steven
"Andai dia bukan orang penting, pasti aku sudah memakinya! " Gumam dokter Excel dalam hati
Setelah kepergian dokter Excel, ponsel Steven berdering, dia melihat nama layar yang memanggilnya
"Hallo shei"
"Aku sedang dirumah sakit, kau lebih baik pulang sendiri ke Indonesia,"
"Memangnya apa yang terjadi padamu sayang, aku tidak mau kembali sendiri, dan bila perlu aku akan menjengukmu dirumah sakit"
"Aku akan mentransfer uang ke rekeningmu, ingat! Pulang sekarang juga"
"Kita akan bertemu di Indonesia"
Mendengar kata uang, Sheila langsung menyetujui ucapan kekasihnya, dia memberi kecupan jauh untuk Steven lalu mematikan panggilannya
Setelah panggilannya terputus, Steven langsung mengabari ibunya jika dia sedang di rumah sakit
"Bu, aku sedang dirumah sakit, Jack terluka karna menolongku dan baru saja dia dioperasi" Curhat Steven saat panggilannya sudah terhubung
"Ibu akan kesana bersama Rio,"
"Baik bu"
Panggilan berakhir, Steven merasakan tubuhnya yang sakit dan pegal-pegal karna ulah kaki kanannya,
***
Pagi hari yang cerah menyinari wajah cantik Zena yang sedang terlelap, dia menggeliat karna merasakan cahaya mentari menerobos masuk dan bertengger di wajahnya
"Hoammm... " Zena bangkit sambil mengucek matanya,
"Sudah pagi, aku harus mandi dan berangkat melamar pekerjaan di tempat mas Riski," Gumam Zena sambil turun ranjang dan berjalan menuju kamar mandi
__ADS_1
Bersambungš