
"Maaf Nyonya, kami adalah pelayan dirumah ini,"
"Lepasin aku bi, lepasin... aku gak mau nikah sama mas Riski, aku sudah mempunyai anak dan suami bi, aku tidak bisa meninggalkan mereka" Ujar Zena yang berusaha memberontak dan pergi menuju pintu kamar yang sudah tertutup
"Maaf Nyonya kami tidak bisa membebaskan Nyonya, lebih baik Nyonya menurut saja" Ujar bibi yang mencegah langkah Zena, kedua pelayan itu langsung menyuruh Zena duduk di depan meja rias
"Bi! Aku sudah mempunyai suami dan anak! jadi tolong!! jangan halangi aku!!!!!" Bentak Zena yang diabaikan oleh kedua pelayan tersebut
"Nyonya! Tuan Riski orang yang baik,"
"Baik kau bilang!! dia merusak hidupku kau bilang baik hah! aku mau pergi dari sini" Geram Zena yang bangkit dari duduknya
Melihat Zena bangkit dan berjalan menuju pintu, kedua pelayan pun diam, dia tak berani mencegah
Krekk..krekk
Pintu terkunci dari luar, membuat Zena kembali menatap kedua pelayan "buka pintunya!! atau aku akan membunuh kalian!! aku memang wanita lemah, tapi jika aku ditindas seperti ini aku tidak bisa diam saja! "
Krek, pintu terbuka, Riski berjalan masuk dan mengunci rapat pintu kamar kembali "Apa yang kau lakukan! kenapa kau mengancam pelayanku!! "
Zena menoleh kearah sumber suara, dia bisa melihat pria brengssekk yang membawanya kedalam rumah ini "Iya! aku akan membunuh kalian semua!!! aku diam bukan berarti aku lemah, aku fikir kamu tidak akan berbuat nekat seperti ini tapi dugaanku salah, kali ini aku tidak takut padamu,!!" Tantang Zena, dia mendekati Riski yang tersenyum sinis
"Oh, silahkan bunuh mereka sekarang, aku akan senang hati melihat kematian mereka" Ujar Riski yang berjalan melewati Zena dan duduk diatas ranjang
"Setelah kamu membunuh mereka, maka jangan harap anakmu yang bernama Rio akan selamat dan hidup bebas" Sambungnya lagi sambil tertawa
Deg!
Tubuh Zena terasa lemas, dia berfikir sekali lagi tentang putra kesayangannya "Dia bukan putraku, jadi jangan bawa-bawa dia! atau suamiku akan marah dan membunuhmu! "
"Suami? oh iya! aku akan bunuh suamimu juga yang bernama emm..." Ujar Riski yang menjeda ucapannya
"Ahh Dave, benarkan suamimu yang memelukmu itu? aku bisa dengan mudah menyuruh salah satu anak buahku untuk membunuh suamimu agar kita bisa menikah sekarang dan kamu tidak mempunyai alasan untuk menolakku"
Deg!
"Mas! dia bukan suamiku! dia temanku!! "
"Suamiku ada-"
__ADS_1
"Jangan banyak bicara, ikuti perintahku, atau aku akan membunuh anakmu dan suamimu yang bernama Dave" Pekik Riski yang bangkit lalu berjalan menuju pintu kamarnya
"Ingat! nasib suamimu dan Rio ada ditanganku! " Sambung Riski lagi yang langsung membuka pintu dan pergi meninggalkan Zena
"Okeh, kali ini aku akan diam dan menuruti permintaannya sambil aku berfikir bagaimana cara untuk Kabur dari rumah ini
" Dave maafkan aku yang telah membawamu masuk kedalam masalah ini," Gumam Zena dalam hati, dia berjalan menduduki meja riasnya
Setelah 30 menit wajahnya di gambar, akhirnya Zena telah selesai dirias, wajahnya yang cantik sudah berubah menjadi lebih cantik bahkan pakaian yang dipakai sangat pas ditubuh Zena membuat dia berfikir bagaimana Riski bisa membeli gaun pengantin dengan cepat
Setelah melihat dirinya dipantulan cermin, Zena pun menyuruh kedua pelayan untuk meninggalkan dirinya sendiri di kamar
"Bi, bisa tinggalkan aku sendiri, dan apa aku boleh pinjam ponsel bibi, aku mau menghubungi suamiku untuk meminta restunya" Ujar Zena dengan pandangan lurus kedepan
"Maaf, kami tidak diperbolehkan meminjamkan ponsel kami pada Nyonya"
"Ya sudah bi, sekarang tinggalkan aku sendiri!! aku mau sendiri bi!"
Kedua pelayan itu saling menatap, mereka saling melemparkan pertanyaan yang diucapkan calon Nyonya nya, "Baiklah, kami akan kembali ke pekerjaan kami dulu, sebentar lagi Tuan akan datang dan membawa Nyonya menuju lantai bawah"
"Iya bi"
Setelah beberapa menit mencari celah untuk kabur, akhirnya Zena bisa menjebol pintu balkon dengan jarum yang dia temui di laci meja riasnya
"Aku harus keluar, tapi tiba-tiba perutku sakit dan kepalaku, kenapa terasa berat"
"Awww sakit perutku, pasti maag ku kambuh karna sedari pagi aku belum sarapan" Gumam Zena yang berjalan menuju balkon lalu dia mencari celah untuk turun
Setelah melihat keadaan balkon, Zena kembali masuk kedalam kamar dan mencari beberapa sprei, diikatnya ujung sprei ke ujung sprei lainnya, lalu sprei itu di iikat di pembatas besi balkon dan dia mulai turun menggunakan sprei tersebut,
5 menit dia bergelantung pada sprei yang di ikat, akhirnya Zena berhasil turun dari lantai dua, lalu Zena mengendap-endap mencari jalan keluar, sewaktu dia melihat pintu utama, Zena melihat banyak sekali penjaga yang menjaga pintu utama,
"Ah sial.. Aww sakit.. Kenapa perutku tiba-tiba sakit lagi"
"Haduh bagaimana aku bisa keluar kalau pengawasan disini sangat ketat!!? " Gumam Zena, dia bersembunyi dibalik tembok rumah Riski sambil memegang perutnya
Disaat Zena mencoba mencari celah lagi, Zena yang sedang mengendap-endap di balik tembok pun hampir ketahuan oleh penjaga yang sedang berjalan untuk berjaga-jaga
"Hosh! Hosh! "
__ADS_1
"Hampir saja aku ketahuan, aku harus pergi, aku harus memanjat dinding itu agar aku bisa kabur, tapi bagaimana aku memanjat sedangkan aku menggunakan kebaya ini" Gumam Zena dia memikirkan cara untuk bisa manjat ke dinding yang menjadi pembatas rumah Riski,
"Oh iya, disana ada tumpukan semen yang utuh, aku bisa keluar dengan itu, tapi bagaimana aku mengelabui mereka semua ya? " Gumam Zena yang kembali berfikir
Disaat Zena sedang berfikir, salah satu pelayan rumah memberitahukan bahwa waktu makan siang sudah tiba, dan mereka diwajibkan untuk makan siang karna acara pernikahan akan dimulai
Melihat semua penjaga di area belakang sudah pergi kedalam rumah untuk mengambil jatah makannya, Zena pun langsung berlari dan menumpuk karung semen itu agar menjadi tinggi, setelah itu dia naik dan berusaha memanjat pagar itu
Sreekkkk..
Rok yang dipakai Zena robek, bersyukur Zena memakain celana pendek jadi dia tidak akan malu
Rasa sakit yang menyerang perutnya dan rasa pusing dikepalanya semakin menjadi saat tubuh Zena sudah diatas pagar, dia sempat kehilangan keseimbangannya dan jatuh ke tumpukan pasir yang menjulang tinggi
"Aww hikkss.. hiks.. sakit" Ringis Zena, perutnya semakin sakit bahkan terlihat darah segar yang keluar membuat semua orang yang mendengar jeritan Zena menghampirinya
"Nona, Nona tidak apa-apakan? "
"Kita harus bawa dia kerumah sakit, ada darah yang keluar dari kakinya" Ujar salah satu tukang bangunan yang sedang beristirahat
"Iya kau benar, aku akan menghentikan mobil," Timpal temannya yang lain
Dari kejauhan tukang bangunan itu dapat melihat salah satu mobil yang melintas, dan langsung saja dia menghentikan dan meminta tolong pada pemilik mobil
"Mas tolong, disana ada perempuan yang kecelakaan"
"Bisa antarkan dia kerumah sakit? "
Tanpa berfikir panjang, pria itu menganggukan kepalanya "Bisa pak, bawa kemari," Ucap pemilik mobil membuat tukang bangunan itu berteriak pada temannya, lalu temannya menggendong tubuh Zena yang kesakitan
"Pak sakit pak hiks.. hiks.. " Ujar Zena memegang perutnya
"Sabar mbak, mbak akan dibawa kerumah sakit"
"Ini, masukan kedalam mobil" Ujar tukang bangunan yang menyetop mobil tersebut
Deg!!
"Zena!! "
__ADS_1
Bersambungš