Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 214_Mata-mata


__ADS_3

"Bagaimana? Apa kalian berhasil menemukan keberadaan istri dan anakku?" tanya Steven kepada anak buah Nanda.


"Belum Tuan. Kami belum berhasil menemukan keberadaan anak dan istri Tuan. Mereka tidak meninggalkan jejak untuk kita," jawab salah satu anak buah Nanda yang ditugaskan untuk mencari bukti di sekitar rumahnya.


"Argkh ... siall! Hari sudah hampir petang dan kita sama sekali belum menemukan istri dan anakku. Aku tidak bisa tinggal diam! Aku harus turun tangan sendiri!" pekik Steven setelah berada di dalam ruang kerjanya.


"Lebih baik, kita lanjutkan pencarian besok pagi saja, Tuan. Saya tidak mau, anda terluka. Karena bagaimanapun kita--"


"Apa kau pikir, aku pria jahat yang tidak memperdulikan keadaan anak dan istriku!" potong Steven cepat.


"Bukan seperti itu, Tuan. Kita tunggu kabar dari Fakhri, semoga saja dia berhasil menemukan bukti dan titik terang tentang keberadaan anak, istri anda," ujar Nanda menyodorkan segelas air putih untuk Steven.


"Aku tidak akan tinggal diam. Jika terjadi sesuatu pada anak dan istriku. Aku akan menghabisinya secara langsung. Aku tidak mau kakakku di sana menangis, karena melihat Rio terluka. Aku sudah berjanji padanya untuk menjaga Rio, seperti aku menjaga anakku sendiri!" gumam Steven.

__ADS_1


"Iya Tuan, saya mengerti. Tapi, kita tunggu fakhri. Semoga saja, dia membawa kabar baik untuk Tuan," ujar Nanda, "Dan Nyonya, Nyonya Tesa akan pulang kemari. Saya sudah menghubunginya," sambungnya lagi.


"Hem ... Setelah itu datang, aku akan menitipkan Evan padanya, dan mencari keberadaan istri, anakku. Oh iya, kalian sudah memperketat ruangan Esya? Aku tidak mau terjadi sesuatu pada putriku," tanya Steven yang mendapat anggukan kepala dari Nanda.


"Sudah Tuan. Saya sudah menempatkan beberapa anak buah untuk menjaga Nona kecil di rumah sakit," jawab Nanda.


'Siapa yang berani-beraninya mengusik kehidupan keluargaku. Aku akan pastikan hidupnya tak akan tenang. Bila perlu, aku akan membunuhnya sekarang juga,' geram Steven dalam hati. Tangannya mulai meremas kertas penting yang berada di atas meja.


"Tuan, ini kertas sangat penting. Ini kontrak perjanjian antar perusahaan kita dengan perusahaan luar negeri," ujar Nanda merapikan kertas itu lagi.


"Aku tidak butuh kertas atau perjanjian apapun, yang hanya aku butuhkan anak dan istriku. Tanpa mereka, aku hancur! aku tidak bisa hidup tanpa mereka, Nanda! Cepat cari mereka. Atau aku saja yang mencari mereka, tapi aku harus membawa putraku. Aku takut, penjahat itu datang dan melukai putraku," ujar Steven, kemudian berjalan menuju box bayi yang baru saja dipindahkan di ruang kerjanya.


"Jangan Tuan. Kasihan anak anda, dia bisa sakit dan--"

__ADS_1


"Kalau begitu, suruh Ibu datang lebih cepat! Karena aku sudah tidak mempercayai semua orang yang berada di sini!" teriak Steven, membangunkan baby boy.


Oek ...


Oek ....


"Aduh Tuan, dia terbangun," ucap Nanda cemas.


"Biar aku tenangkan dulu. Ambilkan persediaan ASI untuk Evan di kulkas dan panaskan sampai hangat!" titah Steven, yang diangguki Nanda.


"Baik, tunggu sebentar," titah Nanda, kemudian berlari keluar ruangan kerja, 'Sebenarnya siapa mata-mata di sini? Semua orang di sini, aku yang mencarinya. Aku merasa berdosa kepada Tuan, jika benar, ada mata-mata di sini,' gumam Nanda dalam hati.


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2