
"Jaga ucapanmu! Semua itu karena Tuan mu yang tidak bejus menjaga istrinya, sampai-sampai istrinya berpaling pada Tuan ku!" ucap Al dengan tawa mengejeknya.
"Apa! Kau bilang apa hah! Berani-beraninya kau menghina Tuan ku!" seru Jeff tak terima.
"Sudahlah, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk berdebat dengan pria arrogant sepertimu,"
"Tunggu!" cegah Jeff, "Kau bilang aku apa? Arrogant?" tanya Jeff, "Apa tidak salah dengar? Bukankah yang arrogant itu kau dan bossmu itu!" ucap Jeff dengan senyum mengejek.
"Sialaan!" umpat Al mengepal erat tangannya, "Seharusnya sekarang aku memberimu pelajaran, agar kau tahu rasanya masuk IGD dengan keadaan sekarat!" sambung Al melayangkan tangganya.
"Mas, hentikan!" ucap Irma saat melihat Kakaknya berkelahi dengan seseorang pria yang memunggunginya, "Hentikan Mas, jangan mempermalukan dirimu di depan umum," titahnya lagi berlari memeluk kakaknya, "Maafkan--" ucapan Irma terhenti saat melihat sosok pria yang baru saja makan malam bersamanya.
"Aku harus menghajar dia sayang," ucap Al melepas pelukan adiknya.
"Mas Al, lebih baik kita pulang saja. Ibu sudah menunggu kita di rumah, jangan pukul dia. Kasihan Mas," jawab Irma menatap wajah Jeff. Terlihat begitu jelas raut wajah kecewa diwajah pria yang sedang Irma pandangi.
"Malam ini kau aman. Tapi jika aku bertemu denganmu lagi, akan kuhabisi kau sampai rumah sakit dan kuburan menghampirimu!" ucap Al membuat Irma melototkan matanya.
"Mas, jangan mengancam," ucap Irma pada kakaknya.
"Mas, aku bisa jelasin semuanya, ini tidak seperti yang--" ucapannya terpotong saat Jeff tak mau mendengarkan penjelasan dari wanita yang beberapa menit lalu menolak cintanya.
"Mas, tunggu aku. Aku bisa jelaskan semuanya!" teriak Irma diabaikan oleh Jeff.
"Kamu kenal dengan dia Ir?" tanya Al yang mendengar adiknya berteriak memanggil musuhnya.
"Mas!" pekiknya sekali lagi.
"Mas Al, kenapa Mas Al membuat keributan di caffe dekat rumah sakit tempatku bekerja," gerutu Irma menghentakkan kedua kakinya menahan kesal.
"Dia musuh Mas, dan kami tidak sengaja bertemu. Kau tahukan jika kedua musuh saling bertemu maka akan ada peperangan besar. Keributan di sini belum bisa dibandingkan dengan keributan beberapa bulan lalu," jawab Al.
__ADS_1
Deg!
Irma terpaku saat mendengar ucapan Kakaknya 'Musuh'.
'Jadi, selama ini aku dekat dengan musuh kakakku sendiri. Bagaimana jika Mas Al tahu, jika Jeff lah yang selama ini dekat denganku' batin Irma.
"Kamu kenal dengan dia Ir?" tanya Al sekali lagi, dia menggoyangkan tubuh adiknya agar tersadar dari lamunannya.
"Ehh Mas, a-aku tidak mengenalnya. Lebih baik kita pulang, Ibu sudah menunggu kita," jawab Irma berjalan linglung mendahului kakaknya.
Menahan amarah di depan wanita incarannya membuat membuat Jeff frustrasi. Dia tidak menyangka bahwa dirinya kini hancur di tangan seorang wanita.
"Jadi ini sebabnya dia menolak cintaku. Apa ini permainan mereka, mereka sengaja menjebakku agar aku luluh lalu mereka bisa masuk kedalam keluarga Tuan Steven dan menghancurkannya dengan mudah!" gumam Jeff meremas stir mobilnya, "Aku benar-benar tidak percaya dengan semuanya, di saat aku tulus mencintai seorang wanita, justru di saat itu juga aku merasakan sakit hati yang luar biasa,"
"Aku membencimu dokter Irma, dan mulai sekarang aku akan menghilangkan rasa rasa cintaku ini. Karena penantianku selama ini terbuang sia-sia, Beruntung aku belum mengenalkanmu pada kakakku. Aku tidak mau kakakku sedih karenaku," sambung Jeff menyalakan mesin mobilnya dan berjalan keluar parkiran caffe.
Irma yang baru saja keluar dari caffe pun melihat mobil Jeff berjalan keluar parkiran caffe, 'Mungkin, kita memang tidak ditakdirkan bersama. Walaupun aku sudah menaruh hati padamu. Tapi, saat melihat Kakakku yang membencimu, aku memilih pergi,' batin Irma mematung menatap kepergian mobil pria yang selama ini mengisi harinya.
"Engga Mas, aku sedang berfikir di mana aku menyimpan kunci mobilku," ujar Irma tersadar dari lamunannya.
"Naik mobil Mas saja, biarkan mobilmu di sini. Nanti Mas akan memerintahkan seseorang untuk mengangkut mobilmu," jawab Al mendapat gelengan dari Irma.
"Gak, aku gak mau satu mobil dengan Mas Al lagi. Dan aku mau pulang sendiri, lagipula kunci mobilku sudah ketemu," dengus Irma berjalan melewati Kakaknya.
"Ada apa dengannya? Kenapa sikapnya berubah. Biasanya dia bahagia jika diajak pulang bersama denganku. Apa ini ada hubungannya dengan anak buah Steven itu?" gumam Al berjalan menuju mobil adiknya.
"Kita bertemu di rumah, Mas mau bicara denganmu!" ucap Al setelah kaca mobil Irma terbuka.
"Iya Mas," jawab Irma tak semangat. Dia menyalakan mesin mobilnya dan menancapkan gassnya, "Aku pulang!" pamitnya lalu mengklason pria di samping mobilnya.
"Hati-hati sayang,"
__ADS_1
Setelah melihat kepergian adiknya, Al berlari menuju mobilnya.
"Aku harus mengikuti Irma dari belakang. Aku takut jika dia tidak kembali ke rumah," gumam Al menancapkan gass mobilnya.
Di dalam mobil, Irma menitikan air matanya. Melihat pertengkaran Kakaknya dengan teman prianya membuat Irma tak kuasa menahan rasa yang bergejolak di hatinya.
"Apa sebaiknya aku menjelaskan semuanya pada Mas Jeff, tapi ... apa dia mau mengangkat telfonku?" gumam Irma mengambil ponsel yang berada di tasnya.
"Tapi setelah aku menjelaskan semuanya pada Mas Jeff, itu tidak akan membuat keadaan berubah. Aku tahu Mas Al, jika sudah membenci seseorang sampai kapanpun akan membencinya, lebih baik aku tidak usah memberikan penjelasan apapun pada Mas Jeff. Biarkan kesalahpahaman ini berlarut, demi kebaikan semuanya," sambungnya lagi meletakkan ponselnya di dashboard.
Menunggu penjelasan dari seseorang yang dicintai membuat Jeff memegang ponselnya erat.
Sudah 1 jam Jeff menunggu penjelasan dari Irma, wanita yang berjanji akan menjelaskan semuanya dan sudah 1 jam juga Jeff menatap layar ponselnya, bahkan rasa kantuk yang belum menyerangnya, kini sudah datang.
Arggggkkkhhhh ....
Jeff melempar ponselnya ke atas ranjang, "Kenapa! Kenapa harus aku!" teriaknya frustrasi, "Kenapa!"
"Aku benar-benar mencintaimu dok, tapi kenapa! Kenapa kamu menipuku. Kamu bilang tidak mempunyai kekasih, tapi kenapa ... kenapa kamu memeluk pria yang memanggilmu sayang di depan mata kepalaku sendiri!" pekik Jeff membanting semua barang yang berada di atas meja dekat kasur, "Kenapa dokter tega menipuku! Kenapa!" ulangnya lagi.
Tokk ...
Tokk ....
"Jeff kau kenapa!" teriak Steven saat mendengar suara teriakan dari dalam kamar anak buahnya.
"Jeff buka pintunya atau aku dobrak!"
"Jeff buka, Jeff!"
"Dalam hitungan ke tiga kamu tidak membukakan pintu, maka aku akan mendobraknya!" teriak Steven cemas, karena tidak mendengar teriak anak buahnya lagi.
__ADS_1
Bersambungš