
Guyuran deras dari shower membuat seluruh tubuh Zena terasa dingin dan segar, hari ini adalah hari dimana Zena mengeramas rambutnya karna tamu bulanannya sudah selesai,
1 jam sudah Zena telah menyelesaikan ritual mandinya, dia keluar dengan menggunakan jubah mandinya dan berjalan menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya,
Setelah dirasa semuanya siap, dan Zena sudah berpenampilan rapih, diambilnya tas yang berisi dompet, sedikit alat make up dan ponsel,
Lalu disempatkan Zena menelfon Riski untuk membuat janji bertemu
"Hallo mas, aku mau bicara denganmu," Ujar Zena saat telfonnya sudah terhubung oleh Riski
"Aku akan ke kantor sekarang, mas bisa bertemu denganku kan? " Sambungnya lagi
Dari sebrang sana, Riski yang sangat merindukan sosok Zena pun langsung mengiyakan ucapan Zena "Datang saja Zen, aku selalu ada waktu untukmu, atau aku jemput kamu saja? " Tawar Riski yang bahagia, dia bangkit lalu merapihkan jasnya agar terlihat gagah saat menjemput Zena
"Jangan! Aku akan kesana saja, kita bertemu dikantor mas"
Seketika tubuh Riski terjatuh ke kursi kebesarannya lagi "Okeh" Jawab Riski lesu, "Aku tunggu" Sambungnya lagi
Panggilan berakhir, Zena memasukan ponselnya dan berjalan keluar kamar menuju lift,
Saat sudah di lantai dasar, Zena berjalan menuju meja makan, sebelum sampai di meja makan, terdengar suara anak kecil yang menyelinap masuk kedalam rumahnya, membuat Zena mengkerutkan keningnya
"Siapa bi" Tanya Zena pada bibi yang baru saja dari pintu utama
"Emm anu Nyonya, di luar-" Ucapan bibi terputus saat seorang anak kecil berlari kearahnya sambil berteriak "Mommy"
Zena pun langsung menoleh pada anak kecil itu lalu mensejajarkan tubuhnya dengan Rio, anak laki-laki berusia 7 tahun, dan tak lupa dia melihat Steven dibelakang anak kecil yang memanggilnya mommy,
"Apa tante cantik ini mommy baru Rio Dad? " Tanya Rio saat melihat wanita cantik di hadapannya yang tak lain Zena
"Mo-mommy? " Ulang Zena sambil menyatukan kedua alisnya karna heran
"Siapa yang mommy baru? aku? " Tanya Zena lagi sambil menunjuk dirinya sendiri
"Iya, mommy cantik, memangnya siapa saja yang berada di rumah ini?"
"Daddy tak mungkin memilih bibi untuk menjadi mommy baru Rio, siapa nama mommy??"
"Oh iya perkenalkan nama aku Rio mom, anak Daddy yang paling tampan" Rio memeluk Zena erat membuat Zena menatap Steven lalu semenit kemudian dia membalas pelukan Rio
"Rio" Panggil Zena sambil melepaskan pelukannya
"Iya mommy, mommy cantik deh, kalau Rio udah gede, Rio mau menikah sama mommy" Ujar Rio yang memeluk Zena kembali
"Dad, bolehkan mommy buat Rio"
"Mommy mau kan menikah dengan Rio, sebentar lagi Rio besar mom" Sambung Rio yang melepaskan pelukannya lalu memperlihatkan otot kecilnya pada Zena pertanda dia sudah besar
__ADS_1
Steven yang mendengar ucapan anaknya pun langsung menghampiri dan mencubit gemas pipi putranya "Sudah berani menggoda mommy hem? "
"Mommy milik Daddy, kau tak boleh mengambilnya! dasar bocah, baru juga sadar sudah membuatku kesal" Gerutu Steven sambil mencubit pipi putranya
"Dad! Sakit! Siapa yang menggoda mommy"
"Aku sedang serius" Gerutu Rio sambil memegang bekas cubitan di pipinya
"Masuk ke kamar," Titah Steven pada Rio, bukan Rio namanya jika dia menurut perkataan Daddynya, dia malah berakting menangis di depan Zena yang sedang melamun
"Mommy hiks.. hiks.. Daddy jahat, aku baru saja sembuh dari sakit, tapi daddy mencubit pipiku dan membentakku hiks..hikss" Ujar Rio sambil mengalungkan kedua tangannya dileher Zena kemampuan berakting Rio saat menangis sangat bagus membuat Zena yang melihatnya tak tega
"Jangan menangis sayang, Dad-daddymu hanya becanda" Ucap Zena kelu saat menyebut Steven Daddy
"Mana ada mommy, Daddy mencubit pipiku keras, sampai sakit" Ucapnya bohong, dengan perhatian Zena mengusap beberapa kali pipi bekas cubitan Steven
"Sudah, sebentar lagi sembuh" Zena tersenyum manis di depan Rio, membuat Rio senang dan menjulurkan lidahnya pada Steven
"Rio! Daddy mau bicara dengan mommy, Rio masuk ke kamar dan jangan berakting di depan mommy!" Titah Steven membuat Rio mengerucutkan bibirnya lagi
"Bi! " Seru Steven
"Iya Tuan" Jawab bibi yang berlari kearahnya
"Bawa Rio ke kamarnya, berikan kamar di dekat kamarku"
"Ayo den, ikut bibi" Ajak bi sari pada Rio yang masih mengalungkan tangannya dileher Zena
"Mommy" Rengek Rio, dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Zena membuat Steven semakin kesal
"Mommy antar Rio ke kamar, okeh" Rengek Rio
"Hah apa ini nyata? pagi buta datang seorang anak kecil lalu memanggilku mommy, apa aku sudah gila karna memikirkan kabur dari rumah ini tapi tak bisa-bisa"
"Dan apa ini mimpi karna semalam aku tak bisa tidur " Gumam Zena dalam hati yang masih tak percaya
"Sayang, cubit tangan tante eh maksudnya mo-mommy" Ujar Zena membuat Rio mengkerutkan keningnya
"Cubit sayang" Ulangnya lagi
"Ta-tapi mom"
"Baiklah aku akan mencubit tangan mommy" Jawab Rio dengan terpaksa karna melihat wajah Zena yang memohon
"Aww sakit" Pekik Zena saat dicubit tangannya keras
"Aku benar-benar tidak bermimpi, a-aku sudah mempunyai anak" Gumam Zena tatapannya lurus menatap wajah Rio
__ADS_1
"Sakit ya mom, sinih aku cium biar sembuh" Ujar Rio yang meraih tangan Zena lalu mencium bagian yang dicubit Rio
"Sudah sembuh belum mom" Tanya Rio lagi dengan wajah yang menggemaskan karna cemas mommy barunya kesakitan
"Sudah, terimakasih sayang"
"Oh iya sayang, ikut bibi ke kamar ya, tiba-tiba ada yang harus mo...my bicarakan dengan dad...dy " Ujar Zena, lidahnya masih terasa kelu saat memanggil dirinya dengan sebutan mommy dan memanggil Steven dengan sebutan Daddy
"Baiklah tapi setelah mommy selesai, mommy harus temui aku"
"Ayo bibi cantik, kita pergi" Ajak Rio genit sambil mengedipkan kedua matanya membuat bi sari terkekeh dengan tingkah laku Tuan kecilnya
Kepandaian Rio dalam berbicara membuat dia mudah akrab dengan semua orang termasuk orang baru seperti Zena
Dan kepintaran cara berfikirnya pun tidak kalah dewasa dengan Steven, membuat Steven kewalahan mengurus putranya angkatnya ini
Setelah Zena melihat Rio dan bi sari masuk kedalam lift, Zena mendekati Steven, terlihat beberapa bekas cakaran di setiap lengan kekar tangannya membuat Zena berfikir jika itu perbuatan Sheila
"Sekarang serahkan aku pada rentenir tua itu, aku sudah siap" Ujar Zena sambil memicingkan matanya melihat bekas cakaran di lengan Steven, karna Steven menggunakan kaos oblong
Steven tersenyum sinis saat mendengar ucapan istrinya, dia mendekat lalu mencengkram dagu Zena "Aku tekankan sekali lagi, sebelum kau memberi anak untukku, aku takan menyerahkan kau pada siapapun! "
"Ingat itu! " Seru Steven
Zena memejamkan matanya karna cengkraman keras itu, "Lepas! " Gumam Zena sambil kedua tangannya meraih tangan Steven yang mencengkramnya
"Kau bisa membunuhku, lagipula kau baru saja membuat anak dengan kekasihmu kan, tunggu saja sampai anak itu jadi" Gumam Zena membuat Steven tersenyum sinis
"Anak, kau cemburu?? aku tekankan lagi aku menginginkan anak dari rahimu, bukan wanita lain"
"Aw sakit" Lirihnya lagi yang diabaikan Steven
Melihat wanitanya hampir menangis, Steven merasa iba, tiba-tiba tubuhnya bereaksi saat membicarakan tentang anak, membuat libidonya kambuh, beberapa hari tak menyentuh istrinya sangat menyiksa batinnya, perlahan tapi pasti Steven membungkam bibir Zena, bibir merah manis yang selalu dia rindukan di negara J,
Zena membulatkan matanya saat Steven menciumnya di dekat dapur, dia berusaha mendorong tubuh suaminya agar menjauh, tapi bukannya menjauh, Steven malah merangkul pinggang ramping Zena dengan tangan satunya agar mengikis jarak diantaranya
Tak kehabisan akal, Steven melepas ciumannya dan langsung menggendong Zena ke kamar tamu yang berada di lantai bawah, membuat Zena semakin memberontak dengan kegilaan suaminya
"Gila! Gila! Apa bedebah ini belum puas menikmati tubuh selebgram gadungan itu ha!"
"Dasar buaya" Gumam Zena dalam hati
"Woy lepas!! Jangan sentuh aku! Antarkan aku pada rentenir tua itu! "
"Turunkan aku!!" Ucap Zena memberontak memukul punggung Steven, karna Steven menggendong Zena seperti mamanggul karung beras
Bersambungš
__ADS_1