
Setelah 3 menit berjalan menuju ruang rawat Nyonya nya, akhirnya Jeff sampai di depan pintu yang menghubungkan dengan Tuan dan Nyonya mudanya.
Ragu, Jeff ragu untuk mengetuk pintu. Sekali lagi, dia menghembuskan nafasnya dan memantapkan jiwanya yang akan dimaki atau di umpat Steven.
Tok... Tok ...,
Jeff mulai membuka pintu. Dia masuk berjalan dengan menenteng nasi gorengnya.
Terlihat Steven yang sedang memainkan ponselnya. Melihat pintu terbuka dan muncul sosok Jeff, Steven meletakkan ponsel lalu menyuruh Jeff mendekat.
"Jeff, mana nasi goreng pesananku dan istriku," ujar Steven, tangannya menengadah di hadapan Jeff
"I-ini Tuan, ta-tapi, nasi gorengnya sudah dingin," jawab Jeff lirih sambil meletakkan nasi goreng itu di meja dekatnya
Steven membuka plastik dan mengambil 1 kota nasi goreng, "Beli di restoran mana?" tanya Steven, perlahan dia membuka kotak nasi goreng itu.
Deg!"
Nasi goreng pesanannya sudah hancur, tercampur rata oleh irisan timun serta tomat, bahkan tidak ada aroma hangat atau wangi dalam nasi goreng itu.
"Kau yakin, ini nasi goreng spesial Jeff, kenapa bau nya berbeda?" tanya Steven mengambil sendok, lalu menyuapkan sedikit nasi goreng ke mulutnya.
Melihat Jeff diam di tempat, membuat Steven menepuk-nepuk sofa sampingnya, "Duduk, masih lumayan enak," ujar Steven sambil mengunyah makanannya.
Terdengar hembusan nafas lega dalam hidung Jeff, dia mengusap dadanya lalu tersenyum pada Steven.
"Terimakasih Tuan, saya fikir ... anda akan marah, karena nasi gorengnya sudah dingin,"
"Sudahlah, makan saja punyamu, aku akan memberikan ini pada istriku, " seru Steven, dia mengambil kota nasi goreng yang masih utuh, lalu berjalan menghampiri istrinya.
Diletakan nasi goreng itu diatas nakas, "Sayang," ujar Steven mengusap pipi istrinya yang tertidur.
"Jeff sudah datang, membawa nasi goreng untukmu" sambungnya lagi.
Jeff membulatkan matanya saat melihat perlakuan manis Tuan nya, bahkan nasi yang masih berada di dalam mulut Jeff sampai berjatuhan ke lantai.
"Apa aku bermimpi, ini benar-benar aku bermimpi?" gumam Jeff dalam hati, dia meletakan sendok, dan menepuk kedua pipinya keras.
__ADS_1
"Awww ... sakit, ini bukan mimpi. Tapi kenapa Tuan sikapnya sangat berbeda?"
"Atau Tuan benar-benar sudah mencintai Nyonya?"
"Aahh, benar itu ... selama ini, Tuan selalu memprioritaskan Nyonya, tapi kenapa di data Nyonya tadi--"
Jeff menggelengkan kepalanya pelan. "Apa ini sebagian dari rencana Tuan? "
"Tadi pagi sikapnya sangat cemas dan tak terima, jika Nyonya berdekatan dengan pria lain,
"Lalu, Tuan tadi meninggalkan aku demi Nyonya, apa mungkin karna Dave yang membawa Nyonya kemari, jadi Suster itu salah paham" gumam Jeff dalam hati.
Zena terbangun, dia mengucek kedua matanya perlahan "Mas, ada apa membangunkan aku malam-malam, aku masih mengantuk," ujar Zena, dia menarik selimut rumah sakit sampai atas leher.
"Bangun sayang, nasi goreng pesananmu sudah sampai, apa kamu tidak lapar?" tanya Steven pada istrinya.
Mendengar kata 'nasi goreng' membuat Zena bangkit dari tempat tidurnya.
"Mana mas, aku mau, " ujar nya lagi
"Sayang, kau kenapa?" tanya Steven saat melihat istrinya meneteskan air matanya.
"Apa kamu tidak suka, biar Jeff membelikan yang baru lagi," tanya Steven cemas, pandangannya seketika menuju pada Jeff yang sedang duduk menatapnya.
"Sa-saya tidak tahu Tuan, sa-saya baru saja datang ... jangan salahkan saya Tuan, " ujar Jeff menelan salivanya susah, karena tatapan tajam dari Steven.
Setelah Jeff ketakutan. Steven beralih pada istrinya yang sedang menangis, "Apa nasi gorengnya tidak enak, atau Jeff memberikan racun pada nasi goreng itu?" tanya Steven lagi membuat Jeff susah menelan nasi gorengnya.
"Mana ada, aku tidak pernah memasukan racun kedalam makanan Nyonya, yang ada ... aku berniat memberikan racun padamu Tuan, aku tidak mempunyai masalah dengan Nyonya, masalahku hanya padamu," gerutu Jeff dalam hati dengan kesal.
"Zena sayang?" panggil Steven lagi.
"Aku mau nasi goreng yang di pinggir jalan mas, kenapa kamu membelikannya di restoran. Padahal aku sudah bermimpi memakan nasi goreng yang di pinggir jalan, kalau tahu kamu membelikannya di restoran, lebih baik jangan membangunkan aku!" kesal Zena, dia merebahkan tubuhnya lagi di ranjangnya.
"Apa!"
"Jadi, kamu menangis karena Jeff membelikan nasi goreng ini restoran?" tanya Steven tak percaya.
__ADS_1
Dalam diam, Zena tersenyum puas. Dia berniat mengerjai suaminya, dan dia berniat menguji kesabaran suaminya. Jika suaminya benar-benar sudah berubah dan mencintainya, pasti Steven tidak akan memarahi atau memakinya.
Tapi berbeda dengan Jeff, wajah nya terlihat pucat, saat mendengar penolakan dari Nyonya mudanya. Dia takut, jika malam-malam seperti ini, dia akan di perintahkan membeli nasi goreng di pinggir jalan.
"I-ini, kenapa semuanya tidak ada yang beres. Tuan sudah menerima nasi goreng dari aku. Tapi kenapa Nyonya tidak mau menerimanya,"
"Wahh, jika ini karna kehamilan Nyonya, maka aku akan usulkan untuk Tuan sendiri yang mencari nasi goreng di pinggir jalan," gumam Jeff dalam hati, dia memakan suap demi suap nasi gorengnya sambil sesekali melirik pada majikannya. Tak lupa dia, menajamkan pendengarannya.
"Sa-sayang, bukankah nasi goreng itu semuanya sama saja?" tanya Steven, dia berusaha mengontrol emosinya agar tidak terpancing dengan ucapan istrinya.
"Berbeda, bentuknya memang sama, tapi terkadang rasanya berbeda mas," ketus Zena yang pura-pura memejamkan matanya.
"Baiklah, aku akan menyuruh Jeff untuk mencarikan nasi goreng di pinggir jalan," ujar Steven, meletakkan nasi goreng itu di atas nakas, lalu berjalan menghampiri anak buahnya.
Merasa akan ada bahaya yang mengganggu nafsssu makanannya, Jeff sesegera mungkin memakan nasi goreng itu sampai habis, bahkan belum selesai mulutnya mengunyah, Jeff sudah memasukan nasi goreng itu lagi.
"Jeff, carikan nasi goreng di pinggir jalan, aku takut istriku sedang nyidam," titah Steven, yang diangguki Jeff. Jeff hanya bisa menganggukan kepala tanpa berbicara, karena makanannya terlalu banyak di dalam mulutnya, pipinya saja sampai melar.
"Cepat!!" seru Steven, dan Jeff hanya menganggukkan kepalanya.
Saat Jeff menerima beberapa lembar pecahan dollar, Jeff segera berjalan menuju pintu ruangan. Langkahnya terhenti saat Zena memanggilnya.
"Jeff," panggil Zena saat Jeff hampir membuka pintu.
Jeff menoleh dengan posisi mengunyah makanannya, tanpa ingin menjawab pertanyaan Nyonya mudanya, Jeff menunjuk mulutnya yang terisi makanan agar Nyonya mudanya tahu jika dia sedang memakan.
"Kau duduklah, biar mas Steven yang membelikannya," titah Zena membuat kedua pria itu membulatkan matanya.
Uhuk... uhuk...
Jeff tersedak makanannya sendiri, di dalam hatinya dia tertawa puas saat melihat ekspresi Steven yang terkejut.
Uhuk... Uhuk...
Jeff berlari menumpahkan makanannya di kamar mandi. "Rasain Tuan, memangnya mudah mencari nasi goreng di negara ini. Nasi goreng pinggir jalan hanya ada di Indonesia, bersenang-senanglah Tuan eh maksud aku berpusing-pusinglah Tuan, hahaha" gumam Jeff dalam hati yang baru saja memuntahkan makanannya.
Bersambungš
__ADS_1