Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 132_Dokter Irma


__ADS_3

"Terserahmu saja Jeff," jawab Zena melirik sekilas suaminya yang fokus dengan iPadnya.


Mobil terparkir mulus di depan minimarket pinggir jalan, kemudian Jeff turun dan berlari meninggalkan Zena dan Steven di dalam mobil.


Drtt ...


Drtt ...


Ponsel Steven berdering, dia merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya.


"Hallo," ucap Steven saat panggilannya sudah terhubung.


'Pasti itu simpanan Mas Steven,' batin Zena menatap suaminya.


"Mas ...." panggil Zena


"Aku sedang dalam perjalanan, jika sudah sampai aku akan menghubungimu kembali," ujar Steven mematikan ponselnya.


"Iya sayang," jawab Steven memasukkan ponselnya kedalam jasnya.


"Siapa yang teflon?" tanya Zena penasaran.


"Oh, bukan siapa-siapa. Biasa teman ...," kekeh Steven.


"Kata Mas ... ponselnya mati?" tanya Zena.


"Berikan ponselmu Mas," titahnya lagi.


"Jeff apa yang kau beli?" tanya Steven saat melihat Jeff masuk membawa satu kantong plastik berukuran kecil.


"Emm tidak apa-apa Tuan, hanya cemilan kecil untuk mengganjal perut," ucap Jeff bohong. Dia menyimpan kantong plastik itu di samping tempat duduknya.


"Mas berikan ponselmu! atau aku akan marah!" ancam Zena.


"Sayang, jangan bilang kamu sedang mencurigaiku?" tanya Steven tak percaya.


"Jeff cepat jalan," seru Steven.


"Siapa yang mencurigaimu, aku ingin meminjam ponsel suami apa itu tidak boleh?" tanya Zena.


"Bukan tidak boleh, tapi--"


"Tapi apa Mas,"


"Takut ketahuan jika kamu mempunyai wanita simpanan?" ketus Zena.


"Simpanan? Sayang ... aku tidak pernah menduakanmu. Jangan berfikir jika aku mempunyai simpanan," jawab Steven.


Setelah menempuh jarak 5 kilometer, akhirnya mobil Jeff memasuki parkiran rumah sakit, tempat di mana majikannya akan memeriksakan kandungnya.

__ADS_1


'Akhirnya aku bertemu dengan dokter Irma. Beruntung aku sempat berfikir memberikan coklat batang untuknya. Rasanya aku benar-benar rindu dengan dokter Irma,' gumam Jeff dalam hati. Dia mengambil coklat batang yang dibelinya di minimarket tadi.


"Kita sudah sampai Tuan," ucap Jeff membukakan pintu belakang untuk bossnya.


Saat pintu terbuka, Zena mencoba turun dari mobil tanpa meminta bantuan Jeff atau suaminya. Kehamilannya yang semakin membesar membuatnya susah berjalan.


"Sayang, jangan marah. Aku tidak menduakanmu," ucap Steven membantu istrinya turun dari mobil lalu diikuti Steven di belakangnya.


"Lepas Mas, kamu bohong!"


"Jika tidak mempunyai wanita simpanan, untuk apa ponselmu terus disembunyikan." Ketus Zena mengusap perutnya.


Steven menghembuskan nafasnya kasar, "Sayang, ada sesuatu yang tidak perlu kamu ketahui," ucap Steven memegang pinggang Zena.


"Lepas Mas, aku tidak mau ditemani denganmu," bisik Zena berusaha melepaskan tangan suaminya.


"Jangan dilepas, biarkan seperti ini. Bagaimana kata orang saat melihat istrinya dibiarkan berjalan sendiri. Pasti mereka mengira jika aku suami tidak benar," jawab Steven.


"Jeff, kau tunggu saja di mobil," titah Steven membuat bola mata Jeff membulat sempurna.


"Ta-tapi Tuan!"


"Tidak ada tapi-tapian," ucap Steven tegas.


Melihat ekspresi Jeff, Zena merasa iba, "Biarkan Jeff ikut masuk dengan kita Mas, atau kamu yang tunggu di mobil," ucap Zena.


Steven mengerutkan keningnya, "Aku? Aku tunggu di mobil? Jangan aneh sayang, aku suamimu. Yang berhak menemanimu adalah aku bukan Jeff," ujar Steven kesal.


"Baiklah," jawab Steven pasrah.


Di saat mereka berjalan menuju ruangan dokter Irma, tiba-tiba ponsel Steven berdering,


"Jangan dianggurin Mas, ayo angkat! Itu ada telfon!" titah Zena saat berada di depan ruangan dokter Irma.


"Tidak penting. Aku akan temani kamu masuk kedalam," jawab Steven mengabaikan ponselnya.


Di satu sisi, sekertaris Nanda mendengus kesal saat panggilan tidak diangkat oleh Tuan nya.


"Maaf Tuan, sepertinya boss saya sedang sibuk," ucap sekertaris Nanda di depan kliennya.


"Sibuk! lalu untuk apa kita menunggu setengah jam di sini. Jika perusahaan ini tidak bisa bertanggung jawab, maka saya akan membatalkan kerjasama kita dan saya akan mencari perusahaan yang lebih bonafit," ucap klien membuat sekertaris Nanda mengatupkan kedua tangannya.


"Mohon maaf, sepertinya boss saya mengalami insident di tengah perjalanan. Dan saya akan mengatur waktu lagi untuk pertemuan selanjutnya. Tapi saya mohon, jangan batalkan kerjasama dengan perusahaan ini," pinta sekertaris Nanda.


"Saya beri waktu 1 minggu. Jika dalam satu minggu tidak ada kabar, maka dengan terpaksa kerjasama kita saya batalkan," ucap klien yang langsung pergi meninggalkan sekertaris Nanda di ruang meeting.


Aarrrggkkhh ...


"Sialll! di mana Steven!" gerutu sekertaris Nanda menendang meja dan kursi tempatnya meeting.

__ADS_1


Di ruangan dokter Irma terlihat sepasang kekasih dan dokter yang sedang fokus menatap layar monitor.


"Apa jenis kelaminnya dok?" tanya Steven penasaran.


"Mas, bukankah kita sepakat untuk merahasiakan jenis kelamin anak kita!" jawab Zena.


"Sayang, aku--"


"Dok, rahasiakan saja jenis kelaminnya," ucap Zena cepat.


"Sayang, please!"


"Jika aku mengetahui jenis kelamin anak-anak kita, maka itu akan memudahkanku untuk membuat nama," pinta Steven, "Dok, beritahu jenis kelamin anak-anak saya," titah Steven mendapat anggukan dari dokter Irma.


Di gesernya alat yang sedang menempel di perut Zena, mencari letak di mana jenis kelamin pasiennya.


"Kita bisa lihat di sini," ujar dokter Irma menunjukkan organ vital calon bayi pasiennya. Steven yang penasaran pun langsung menatap layar monitor.


"Di sini kita lihat, bahwa salah satu calon bayinya mempunyai menara Eiffel yang berarti laki-laki," ujar dokter Irma.


Steven tersenyum saat mendengar calon anaknya adalah jagoan, impiannya akan terwujud mempunyai anak laki-laki.


"Lalu satunya lagi dok?" tanya Zena dengan antusias.


"Sebentar saya lihat dulu," jawab dokter Irma masih menatap layar monitor.


"Kalau kita lihat di sini, calon anak Tuan dan Nyonya berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, karena setelah saya melihat tidak ada menara Eiffel di calon anak Nyonya satunya," ucap dokter Irma.


"Benar dok, Mas ... Mas Steven anak kita Mas, anak kita ...," ucap Zena tak sadar meneteskan air matanya.


"Iya sayang, terimakasih sudah mau mengandung anakku sayang, terimakasih," jawab Steven mengecup kening dan memeluk istrinya erat.


'Bukankah mereka sedang tidak akur?' batin Jeff menggelengkan kepalanya.


'Sekarang giliranku mendekati dokter Irma, hahaha...' sambung Jeff memandang dokter Irma.


Setelah selesai mengecek kondisi baby twins nya, dan dokter sudah memberikan hasil USG nya kepada Steven. Kini Jeff tersenyum manis pada dokter Irma.


'Kira-kira jika aku mengajaknya berkencan, apa dokter Irma mau?' batin Jeff menunggu bossnya pergi dari ruangan wanita idamannya.


"Jeff ayo keluar, jangan diam saja!" ucap Steven saat Jeff membukakan pintu untuk istri dan dirinya saja.


"Tuan, bisakah saya berbicara empat mata dengan dokter Irma?" tanya Jeff berbisik.


"Sudah Mas, lebih baik kita tunggu di luar. Moment ini sangat langka untuk Jeff," ucap Zena menarik suaminya.


Setelah melihat kepergian Steven dan Zena. Jeff memberikan coklat yang berada di genggamannya ke atas meja dokter Irma.


"Ini?" tanya dokter Irma heran.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2