
"Wah ... tapi aku tidak bisa percaya begitu saja denganmu, Steve. Aku tahu akal licik mu itu," ujar Dinda membuat Steven frustasi.
"Lalu, apa mau mu, ha! Aku sudah menuruti semua permintaan mu, kembalikan istri dan anakku!" teriak Steven, yang tak sengaja membuat baby Evan menangis.
"Aku mau, kau menikahi ku sekarang! Baru aku percaya!"
'Cih, enak sekali. Sampai kapanpun, aku tidak akan sudi menikahi mu, wanita ular yang berbisa! Tapi, baiklah. Aku akan mengikuti semua permainanmu,' gumam Steven dalam hati, "Aku tidak bisa menikahi mu sekarang, Din! Memangnya, kau mau menjadi yang ke dua, hem? Lalu, kau mau merawat anak-anakku yang masih kecil. Dia masih butuh ASI dari Zena, dan hanya Zena yang bisa memberikannya, karena bagaimana pun, dia ibunya. Dan kau, kau tidak bisa memberi anak-anakku ASI," ujar Steven.
"Aku tak apa menjadi yang ke dua, Steve. Asalkan aku bisa bersamamu. Masalah anak-anakmu, aku bisa mengurusnya."
"Sungguh, baiklah. Coba tenangkan baby Evan, aku rasa dia terbangun karena nada ucapanku yang terlalu tinggi. Aku juga ingin tahu, seberapa besar kasih sayangmu yang diberikan pada putraku," titah Steven, kemudian mengambil putranya yang berada di dalam box bayi, "Ini, coba kamu tenangkan." sambungnya lagi.
__ADS_1
"Sekarang, Steve?" tanya Dinda ragu.
"Iya sekarang, kau juga memintaku untuk menikahimu sekarang, bukan? Jadi, aku juga ingin ... kau merawat anakku sekarang, aku akan mengerjakan pekerjaanku," ujar Steven memberikan putranya pada Dinda, "Tenangkan, okeh. Dia suka rewel, dan jangan marah kalau dia kencccing atau buang air besar. Aku tidak pernah memakaikan pempees untuknya. Biasakan dirimu menjadi Ibu sambung yang baik," ucap Steven tersenyum sinis.
Mata Dinda membulat sempurna saat mendengar kata-kata yang diucapkan Steven.
'Apa-apaan ini, yang benar saja. Pakaian mahalku bisa rusak terkena kencccing dan kotoran dari bocah ini, tapi mau bagaimana pun, aku harus bisa mengambil hati Steven. Pakaian bisa aku beli lagi, setelah menjadi istri dan Ibu sambung dari anak Steven,' gumam Dinda dalam hati, sambil menepuk-nepuk bokong baby Evan.
"Kamu tenangkan putraku, di sini saja, Din! Agar aku bisa melihat ketulusanmu dalam mengurus putraku," ucap Steven yang mendapat anggukan kepala dari Dinda.
"Ya, kau benar, Steve. Tapi, kau bilang anak-anakku? Lalu dimana satunya lagi?" tanya Dinda penasaran.
__ADS_1
'Dia belum tahu tentang keberadaan baby Esya? Lebih baik, aku rahasiakan saja. Aku takut, jika dia marah ... lalu melampiaskannya pada putriku,' gumam Steven dalah hati.
"Lupakan, anakku hanya Evan dan Rio," jawab Steven tersenyum manis.
Melihat senyuman yang tulus dari mantan suaminya, tiba-tiba jantung Dinda berdetak dua kali lebih cepat,
'Kenapa jantungku seperti ini. Apa, aku benar-benar jatuh hati pada Steven?' gumam Dinda dalam hati, 'Tapi ini tidak mungkin, aku mendekati Steven karena hartanya saja. Karena aku takut hidup miskin lagi,' sambungnya lagi.
"Rio bukan anakmu, Steve! Dia anak dari Kakakmu yang sudah mati," ujar Dinda membuat emosi Steven kembali muncul.
"Mau anakku atau anak kakaku. Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri!" ketus Steven, "Dan jangan pernah bahas masalah itu, lagi!" sambungnya lagi.
__ADS_1
Bersambungš