Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 128_Buka Jendelanya!


__ADS_3

"Buka! Buka jendelanya dok!" pekik Sheila mengetuk jendela ruangan Riski.


Tok ...


Tok ....


"Dok! Wanita itu dok," ujar Riski membuat dokter Riyan menepuk jidatnya lupa.


"Ah iya, saya lupa!" jawab dokter Riyan berjalan membuka tirai korden.


"Buka dok!"


"Cepat!" sambungnya lagi.


"Sebentar, saya buka dulu," ujar dokter Riyan membuka kunci jendela.


Shiit!


Krek ... Krek ...


Dokter Riyan berusaha membuka kunci jendela tapi tidak bisa.


"Kenapa dok?" tanya Riski melihat dokter Riyan kesusahan.


"Tiba-tiba kuncinya tidak bisa dibuka, mungkin saya terlalu kencang menutupnya," ucap dokter Riyan lirih.


"Biar aku bantu dok?" ujar Riski merasa iba


"Jangan, akan bahaya jika ada yang melihatmu turun dari ranjang, apalagi jika bodyguard itu melihatmu," seru dokter Riyan.


"Dok, buka! Saya takut!" titah Sheila dengan mata terpejam.


Di saat dokter Riyan sudah berhasil membuka jendela, dan Sheila sudah mengangkat kakinya, tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara derap kaki yang melangkah menujunya.


Seketika dokter Riyan menutup kembali jendela dan tirai korden membuat Sheila melototkan matanya tajam.


"Aww .... sakit!" ringis Sheila mengusap kakinya yang hampir saja terjempit, "Dasar dokter gila!" sambungnya lagi.


"Dok, Dok ... aku belum masuk dok!" pekik Sheila menggedor kaca jendela membuat dokter Riyan membuka sedikit tirai jendela lalu menempelkan jarinya dibibirnya.


"Diam!" gumam dokter Riyan, setelah itu di berjalan menuju Riski yang sudah pura-pura mati.


"Dok, bagaimana? Jam berapa jenazah dimandikan?" tanya Viz, bodyguard Leo yang baru saja masuk ke ruangan Riski.


"Emm ... kurang 27 orang lagi, mungkin pasien akan di mandikan di malam hari. Jika sudah saatnya, akan saya beritahu."

__ADS_1


"Kalau begitu, saya permisi dulu," ucap dokter Riyan berjalan menuju pintu keluar.


Glek, tubuh Viz tiba-tiba merinding ssaat kepergian dokter Riyan dan menyadari jika dirinya satu ruangan dengan orang mati, walaupun hari sudah sore, tapi tetap saja bulu kuduk Viz meminta berdiri.


Di luar jendela, Sheila yang ketakutan akan terpeleset berusaha merekatkan tubuhnya di dinding tembok ruangan Riski. Tubuh yang bergetar membuat seluruh tubuhnya berkeringat.


Tak sengaja tangan Sheila menyenggol kaca jendela Riski membuat bunyi nyaring yang terdengar dari arah luar jendela.


Brraaak...


"Suara apa itu?" gumam Viz saat mendengar suara dari luar jendela. Bulu-bulu di tangannya sudah berdiri tegak menandakan bahwa dia sedang ketakutan.


"Apa di sore hari hantu sudah berdatangan?" batinnya dalam hati.


"Lebih baik aku cek," sambungnya lagi yang perlahan melangkah menuju tirai jendela kaca itu.


Mendengar derap langkah yang semakin menjauh, membuat Riski membuka sebelah matanya. Dia melihat bodyguard suruhan ayah tirinya sedang berjalan menuju jendela.


"Tidak ada suara lagi, mungkin tadi suara angin yang mau menerobos tapi tidak bisa," gumam Viz saat memegang tirai korden.


"Atau, itu arwah dari anak boss yang masih bergentayangan di sini," tebaknya lagi.


Viz menatap kembali tubuh Riski yang terbujur kaku di ranjang.


"Kenapa ruangan ini mendadak menjadi horor setelah kepergian dokter Riyan,"


Melihat kepergian bodyguard dari Leo, Riski beranjak turun dari ranjang dan berjalan lalu mengunci pintu kamarnya, dia berusaha memaksakan dirinya untuk membantu wanita yang sudah merawatnya sampai dia sadar.


Di kibaskan tirai korden yang menutupi jendela kaca besarnya.


Melihat ada seseorang yang membuka tirai korden itu, Sheila langsung bersembunyi. Dia menutupi kepalanya dengan tas brandednya yang harganya ratusan juta.


Krek ...


Krek ....


Jendela terbuka dengan sempurna, perlahan tangan Riski menggapai pundak Sheila,


"Ampun-ampun, maafkan aku! tapi jangan adukan ini pada Leo," pekik Sheila saat pundaknya di pegang oleh seseorang yang dia yakini adalah bodyguard Leo.


"Aku janji, aku tidak akan nakal lagi. Tapi maafkan aku, jangan beritahukan ini pada Leo," sambungnya lagi membuat Riski heran.


"Hei! Bangunlah!" titah Riski membuat Sheila menarik tas yang menutupi kepalanya.


"Apa maksudmu? Kau orang suruhan Leo?" tanya Riski lirih, dia memegang kepalanya yang terasa pusing.

__ADS_1


"Ka-kamu," ujar Sheila menghembuskan nafasnya lega, "Aku fikir kamu bodyguard Leo," sambungnya kembali.


"Masuk! dan jelaskan semuanya padaku, tentang hubunganmu dan Leo," titah Riski tegas, membuat Sheila mengangkat kakinya dan masuk ke dalam ruangan dengan tubuh yang bergetar.


"Di mana pakaianku, aku harus mengganti pakaianku dulu," tanya Sheila yang tidak melihat paperbag miliknya.


"Dokter Riyan sudah simpan di lemariku,"


"Cepatlah bergerak, sebelum bodyguard itu kembali," seru Riski merebahkan tubuhnya kembali.


"Terimakasih, aku berhutang budi denganmu. Aku akan mengganti pakaianku dulu," jawab Sheila mengambil paperbag lalu membawanya ke kamar mandi.


Setelah 10 menit berada di kamar mandi, kini Sheila sudah keluar menggunakan pakaian susternya dan tak lupa dia memakai masker agar bodyguard Leo tidak mengenalinya.


"Aku lupa mengunci pintu, bukalah ... jangan sampai bodyguard itu curiga karena pintu terkunci dari dalam," ujar Riski di angguki Sheila.


Sheila berjalan menuju pintu ruangan tak lupa dia menyimpan gaunnya yang sudah dipenuhi dengan keringatnya di lemari milik Riski.


Setelah selesai membuka kunci pintu ruangan Riski, Sheila berjalan dan duduk di samping Riski.


"Ada hubungan apa kamu dan Leo. Apa semua yang kamu lakukan termasuk rencanmu dengan Leo!" hardik Riski membuat Sheila menggelengkan kepalanya.


"Tidak, eh bukan ...," tukas Sheila, "Leo sama sekali tidak mengetahui jika aku membantumu. Untuk apa aku bersembunyi jika ada Leo kalau kita bekerjasama," ujar Sheila kesal, dia meminum air putih yang di sediakan untuk Riski.


"Lalu? Bisa sajakan, setelah aku sadar ... kamu akan memberitahukan Leo!" tebak Riski memandang wajah Sheila lekat.


'Cantik, tapi apa maksud tujuannya membantuku. Aku yakin jika wanita ini mempunyai maksud lain,' gumam Riski dalam hati.


"Jangan memandangku seperti itu, akan repot jika kamu jatuh hati padaku," sindir Sheila membuat Riski memalingkan wajahnya.


"Jatuh hati? pada wanita ular sepertimu? Itu adalah hal mustahil bagiku. Karena aku sudah mempunyai wanita idamanku," kekeh Riski, "Cepat katakan, apa maksudmu menolongku," sambungnya lagi.


"Hei! Aku bukan wanita ular!" ketus Sheila menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Aku membantumu karena kita mempunyai tujuan yang sama," sambungnya lagi.


"Tujuan yang sama?" ulang Riski mengerutkan keningnya, "Aku tidak mengenalmu, dan kita tidak mempunyai tujuan yang sama," ketus Riski.


"Tapi, ini menyangkut--"


"Menyangkut apa!" tanya Riski penasaran


...Hay gaes, yuk jangan lupa dukung. Berikan like, komen, favorit, vote dan hadiah🎁. ...


...Happy Reading... ...

__ADS_1


...Bersambung😘...


__ADS_2