
"Mommy jangan menangis, Rio sedih melihat mommy menangis" Ujar Rio merasakan bajunya basah karna air mata Zena
Melihat punggung istrinya bergetar, Steven pun mengusapnya berulangkali,
Merasakan punggungnya diusap, Zena langsung melepaskan pelukan putranya dan menepis tangan Steven,
"Sayang, ayo kita ke kamar, mommy mau bermain dengan Rio" Titah Zena sambil menghapus air matanya
"No mom! Kita harus beri om genit itu pelajaran, aku tidak suka melihat mommy menangis" Tegas Rio yang berusaha melepas genggaman tangan Zena
"Ini bukan ulah om genit sayang, ayo temani mommy"
"Rio, daddy minta tolong pada Rio untuk menemani mommy disini, daddy akan pergi ke kantor" Timpal Steven saat Zena mengabaikannya
"Baik dad, tapi daddy harus janji pada Rio untuk membalas om genit itu, karna sudah membuat mommy menangis"
Steven menghembuskan nafasnya kasar lalu tersenyum pada putranya "Janji sayang, sekarang daddy pergi! Ingat! Jaga mommy jangan sampai Rio meninggalkan mommy sendiri di kamar atau di manapun okeh! "
"Okeh dad"
Setelah mengecup pipi gembul putranya, Steven berjalan keluar dengan Jeff yang menjadi supirnya
"Silahkan Tuan" Titah Jeff membukakan pintu mobil untuk Steven
Brak, pintu tertutup lalu Jeff berlari memutar mobil dan masuk kedalam mobil
"Kita mau kemana Tuan? " Tanya Jeff saat sudah di dalam mobilnya
"Kita ke hotel Samudra, aku akan menemui seseorang disana" Ujar Steven sambil membalas pesan dilayar ponselnya
"Baik Tuan," Jeff menyalakan mobilnya dan menancap gas
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke Samudra hotel
"Sudah sampai Tuan, memangnya Tuan mau bertemu dengan siapa? " Tanya Jeff saat Steven menunggu seseorang didalam mobilnya
Deg!
Mata Jeff membulat sempurna saat melihat wanita cantik menghampiri mobilnya lalu mengetuk kaca mobil Steven
"Aku akan turun, dan kau! Jangan kemana-mana, aku hanya sebentar saja, tunggu diparkiran, jika aku selesai aku akan menelfonmu" Ujar Steven yang langsung membuka pintu mobil dan turun
Jeff bisa melihat wanita itu merangkul mesra lengan Steven
"Tuan, apa kau benar-benar gila, istrimu lebih cantik daripada selebgram itu yang mengandalkan riasan make up tebal, kenapa matamu selalu tertutup" Gumam Jeff merasa kesal dengan sikap Tuan mudanya
"Sayang, terimakasih sudah mau menemaniku ke pesta temanku, aku sudah berjanji pada temanku jika aku akan membawamu menjadi pasangan dansa yang sangat romantis" Ujar Sheila sambil berjalan masuk menggandeng lengan Steven
"Acara dansa itu di malam hari shei, dan aku tidak bisa menemanimu sampai malam, banyak pekerjaan yang harus aku urus"
"Dan jangan seperti ini, aku tak mau jika ada media yang tahu kita masuk kedalam hotel bermesraan seperti ini"
"Kenapa sayang? Bukankah kita pernah tidur bersama di kamar hotel sewaktu kita berlibur ke negara J? " Tanya Sheila yang masih menyenderkan kepalanya dilengan Steven
"Terserah kau saja" Ujar Steven
Lalu mereka memasuki lantai 30, dimana pesta teman Sheila di gelar,
__ADS_1
Ting..
Pintu lift terbuka, Sheila keluar lift bersama Steven membuat semua teman yang sedang menyambut kedatangan Sheila menganga dibuatnya, bagaimana tidak, mereka semua terpana atas ketampanan Steven, tubuhnya yang tinggi dan tetap, menambah kesan berwibawa di mata kaum hawa
"Perkenalkan dia Steven, kekasih aku"
"Sayang dia teman-teman aku, dan ini Tiara yang mempunyai pesta, mereka sudah merencanakan ini semua, dan mereka juga akan menggelar pesta dansa siang ini" Ujar Sheila
Steven tersenyum kaku, dia tak ingin membalas setiap uluran tangan teman Sheila karna prinsipnya dari dulu yang tak suka di sentuh sembarang wanita
Mereka semua akhirnya masuk kedalam gedung, dan pesta akan dimulai
"Sayang kau menikmatinya bukan? " Ucap Sheila saat pesta sudah dibuka
Acara dansa pun dimulai, lampu yang terang kini sudah meredup dan digantikan lampu yang hanya menyorot sepasang kekasih berdansa
Nama Steven dan Sheila dipanggil agar menuju keatas panggung
"Aku tidak mau shei, kau lakukan saja dengan pria yang lain" Titah Steven saat Sheila mengulurkan tangannya
"Ayolah sayang, hanya sekali saja"
Tak sengaja pandangan Steven melihat seorang pria yang sedang menatapnya dan Sheila
"Kenapa dia bisa ada disini" Batin Steven lalu meraih uluran tangan Sheila
Mereka berdua maju ke atas panggung dan berdansa diiringi lagu dari penyanyi terkenal luar negri
Tangan Steven diletakan dipinggang ramping Sheila dan tangan Sheila mengalung di leher Steven
Salah satu teman Sheila melakukan siaran langsung di IG nya untuk bertujuan meningkatkan followers akunnya, banyak yang bertanya tentang sosok Steven yang pandai berdansa
"Siapa pria itu? Kenapa selalu dirahasiakan namanya"
"Hatiku sakit saat melihat kekasih onlineku berdansa dengan pria lain"
"Dimana tempatnya, aku mau dong lihat secara langsung"
Dan banyak lagi yang mengomentar siaran langsung itu,
Di sisi lain, Zena yang sedang duduk melamun dikejutkan dengan teriakan Rio yang memanggil nama Steven
"Daddy! " Pekik Rio saat sedang membuka ipadnya, merengek meminta komputer Steven membuat sekertaris Nanda memberikan ipad keluaran terbaru dan mengajarinya bermain
"Mommy, ini daddy? Tapi dengan siapa? " Tanya Rio saat memperlihatkan siaran itu di ipadnya
Zena tersenyum getir saat melihat suaminya berdansa dengan selebgram gadungan itu
"Itu dengan teman kantor daddy sayang, Rio jangan terlalu lama bermain ipad, nanti mata Rio bisa sakit, Rio tak mau kan? Jika mata Rio pakai kacamata" Ujar Zena yang mendapat gelengan dari Rio
"No mom, kata omah gak bagus kalau pakai kacamata masih kecil"
"Oh iya, omah dimana sekarang? Kenapa Rio tidak pulang dengan omah? " Tanya Zena saat tak lama ada kabar dari ibu mertuanya
"Omah lagi menemani teman daddy yang sedang sakit" Jawab Rio polosnys
"Teman? " Ulang Zena
__ADS_1
"Iya, teman daddy"
"Ya sudah mom, kita makan habis itu kita tidur" Titah Rio sambil mengambil makanan yang diatas meja lalu membawanya ke atas ranjang, karna bi sari sudah membawakannya
"Bagaimana aku bisa makan, hatiku sakit saat mengingat perlakuan Steven padaku, dan baru saja aku melihat Steven berdansa dengan selebgram gadungan itu,
"Apa mereka sedang merayakan kehancuranku ini" Gumam Zena dalam hati, tak terasa air matanya menetes begitu saja
"Mom, mommy menangis? Apa Rio melukai mommy, maafkan Rio mom," Rio meletakkan makanan itu di atas ranjang dan memeluk Zena
"Jangan menangis mom," Sambungnya lagi
Zena langsung menghapus air matanya dan membalas pelukan putranya "Rio gak salah, mommy gak nangis, mommy hanya kelilipan" Jawab Zena sambil melepaskan pelukannya
"Apa itu kelilipan mom? "
"Kelilipan itu, ada debu yang masuk kedalam mata mommy lalu mommy seperti menangis karna perih" Tutur Zena yang diangguki Rio
"Oh jadi mata- apa! mata mommy sakit, biar aku panggilkan bibi, dan mommy tunggu disini okeh" Seru Rio cemas, segera bocah itu turun dari ranjang dan berlari keluar kamar berteriak memanggil bi sari
Zena yang melihat putra tirinya perhatian pun sangat terharu "Setidaknya dirumah ini ada seseorang yang menyayangiku" Gumam Zena dalam hati
Rio datang dengan membawa bi Sari yang sedang membereskan dapur, serbet yang digunakan untuk mengelap meja makan pun masih berada dipundak bi sari
"Bibi, mommy sakit" Ucap Rio cemas, dia berlari kearah mommynya yang sedang duduk di tepi ranjang
"Nyonya, apa yang Nyonya rasakan? Apa perlu saya panggilkan dokter Riyan untuk memeriksa Nyonya" Ujar bi sari saat melihat Nyonya mudanya menghapus air mata
"Gak usah bi, aku gak sakit, cuma kelilipan saja, tapi Rio gak tahu arti kelilipan dan salah mengartikannya" Jawab Zena tersenyum,
Bi sari bisa melihat wajah sembab Nyonya mudanya, dia benar-benar kasihan dengan Zena "Maafkan saya Nyonya, saya tidak bisa berbuat apa-apa, Nyonya wanita yang baik" Ujar bi sari yang menatap wajah Zena yang sembab
"Tak apa bi, bibi bisa keluar, aku dan Rio mau makan"
"Rio sayang, lain kali jangan merepotkan bibi, kasihan bibi sedang bekerja" Titah Zena pada bocah kecil yang sedang mengambil nasi ke sendoknya
"Iya mom, mommy makan dulu ya, aaaaa" Rio menyuapkan sendok yang berisi makanan kedalam mulut Zena
"Makasih sayang" Zena menerima suapan dari Rio, senyumnya terbit saat bocah itu membersihkan sisa nasi yang menempel dibibir Zena
"Rio makan juga dong" Sambung Zena, dia mengambil sendok yang diisi nasi serta lauknya
Bi sari yang melihat interaksi antar keduanya pun terharu, bagaimana tidak, mereka seperti ibu dan anak yang saling menyemangati
"Saya permisi dulu Nyonya"
"Iya bi" Jawab Zena saat menyuapkan makanan itu kedalam mulut Rio
Di satu sisi, Jeff sedang kesusahan menghubungi Tuan mudanya, ponsel yang tidak aktif membuat fikiran Jeff menjadi kacau
"Tuan! Angkat! " Ujar Jeff panik, dia baru saja mendapatkan kabar dari Riki bahwa Nyonya mudanya sakit
Setelah beberapa kali mencoba menghubungi Steven, akhirnya Jeff menghubungi Riki bahwa Tuan mudanya sedang sibuk dan berikan pertolongan pertama untuk Nyonya mudanya
"Telfon dokter jika sakit Nyonya semakin parah, Tuan sedang sibuk" Ujar Jeff saat panggilannya sudah terhubung oleh Riki
"Baik boss"
__ADS_1
Panggilan berakhir, dan Jeff kembali menghubungi ponsel Steven
Bersambungš