
"Sayang ...," ujar Leo mengusap paha mulus Sheila dengan lembut.
"Emm Mas Leo," jawab Sheila yang berusaha melepaskan tangan pria tua itu dari pahanya.
"Aku cape Mas, maka dari itu ... aku meminta cepat," sambung Sheila lagi menampilkan senyum palsunya.
"Baiklah, rupanya kamu sudah tidak sabar," ujar Leo menancapkan gas nya lebih kencang.
"Hemmm ...,"
"Akhirnya aku bisa menghindari Jeff, aku tidak mau Jeff tahu, jika aku sekarang menjalin hubungan dengan pria tua seperti dia. Jika bukan karena hartanya, aku tidak akan sudi menjadi simpanannya,"
"Tapi untuk apa Jeff ke minimarket, dan aku juga sempat melihat istri Steven yang ketakutan," gumam Sheila dalam hati.
***
Setelah menempuh jarak beberapa kilometer, akhirnya mobil Jeff sampai di rumah sakit. Jeff turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil belakang untuk istri Tuan nya.
"Silahkan Nyonya, dan Nyonya tidak perlu mengambil antrian, karena Tuan sudah menyuruh dokter Riyan untuk meluangkan waktu dokter Irma selaku dokter kandungan yang baru untuk Nyonya," ujar Jeff yang melihat Nyonya mudanya turun dari mobil.
"Ganti lagi Jeff, kemarin dokter Sinta, sekarang dokter Irma," tanya Zena sambil berjalan memasuki rumah sakit.
"Emm Tuan menginginkan dokter terbaik untuk Nyonya, karena dokter Sinta terlalu genit pada Tuan,"
"Apa hubungannya denganku Jeff, dia kan genit pada Mas Steven bukan padaku, lagipula dia hanya becanda,"
"Tapi Tuan tidak suka dengan sikap dokter Sinta,"
"Lebih baik Nyonya mengikuti perintah Tuan, itu juga demi kebaikan Nyonya," ujar Jeff yang mengikuti istri Tuan nya masuk kedalam rumah sakit.
"Terserah, sekarang jalan di sampingku jangan di belakang ku. Kita kan teman," titah Zena yang disetujui oleh Jeff, dia berjalan lebih cepat agar bisa berdampingan dengan istri Tuan nya.
"Silahkan Nyonya, dokter Irma sudah menunggu di dalam," ujar Jeff membukakan pintu ruangan dokter spesialis kandungan.
Zena mengangguk, dia masuk ke dalam dan melihat dokter cantik sedang menunggunya.
"Nyonya Zena?" tanya dokter Irma tersenyum manis, dia mempersilahkan Zena duduk di bangku hadapannya.
"Apa yang di belakang itu suami Nyonya?" sambungnya lagi.
Jeff menggerakkan tangannya, "Bukan, saya bodyguard Nyonya. Tuan saya sedang ada meeting di kantor, jadi saya yang menggantikannya," jawab Jeff tersenyum canggung, dia terhipnotis dengan kecantikan dokter kandungan itu.
"Oh, maaf saya tidak tahu ...," ujar dokter Irma meminta maaf.
__ADS_1
"Tidak apa-apa dok, boleh kita mulai?" tanya Zena yang sudah tidak sabar melihat calon anaknya di layar monitor.
Dokter Irma tersenyum, lalu mempersilahkan Zena untuk beranjak dari duduknya, "Silahkan Nyonya, Nyonya bisa berbaring di kasur itu," titah dokter yang diangguki Zena.
Zena beranjak lalu berjalan menuju kasur, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang tidak terlalu empuk.
"Kita mulai Nyonya," dokter Irma mulai mengoleskan jel ke permukaan perut buncit Zena, lalu meletakkan alatnya dan menggeser alat tersebut.
Di layar monitor, mereka bisa melihat calon anak dari Zena,
"Sudah kelihatannya Nyonya, dan ada dua makhluk hidup di dalam rahim Nyonya"
"A-apa dok, du-dua?" tanya Zena terkejut.
"Ta-tapi kata suami saya hanya satu dok?" sambungnya lagi.
"Tapi Nyonya bisa lihat sendiri di sini ada dua calon anak dan sudah kelihatan bulu mata serta alis. Nyonya bisa lihat di sini, jarinya sudah terbentuk," ujar dokter Irma tersenyum.
Zena melihat layar tersebut, dia melihat calon anaknya yang sedang tertidur.
"Iya dok, saya melihatnya,"
"Oh iya, apa aku boleh tahu, kelamin anak-anakku dok?" tanya Zena penasaran.
"Yeah, Nyonya ... Anak-anak masih ingin merahasiakan jenis kelaminnya pada ibunya, dia menutupinya dengan tangan," ujar dokter Irma terkekeh, dan Zena ... dia menghembuskan nafasnya kasar.
"Anak mommy nakal, mommy kan ingin tahu jenis kelamin kalian," ucap Zena tersenyum kecut.
"Ya sudah, biar saya print dulu hasilnya,"
"Iya dok, terimakasih ...,"
"Oh iya dok, akhir-akhir ini mereka suka nakal, mereka sedikit aktif kalau di malam hari, membuatku susah tidur," keluh Zena yang mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.
"Sudah menjadi hal biasa Nyonya, apalagi di dalam perut terdapat dua nyawa,"
"Ini, saya sudah print kan, dan ini juga saya sudah menuliskan vitamin yang perlu di tebus," ujar dokter Irma memberikan dua kertas kepada Zena.
Zena mengambil dua kertas itu dan melihatnya, "Terimakasih dok, kalau begitu saya permisi dulu,"
"Jeff, tolong tebus vitaminku," titah Zena memberikan satu lembar resep vitamin yang baru saja diberikan dokter Irma.
Jeff menghampiri Nyonya mudanya tak lupa dia tersenyum pada dokter Irma, membuat dokter Irma salah tingkah.
__ADS_1
"Baik Nyonya," jawab Jeff dengan tatapan yang menatap dokter Irma.
Melihat Jeff salah tingkah di depan dokter Irma, Zena menggelengkan kepalanya, dia bangkit lalu berjalan menuju pintu ruangan.
"Maaf Tuan Jeff, Nyonya Zena sudah mau pergi," ujar dokter Irma saat melihat Jeff yang mematung memandangnya.
Jeff menggelengkan kepalanya, dia tersadar dari lamunannya, "Eh ... maaf dok, kalau begitu saya permisi," ujar Jeff berlari menghampiri Zena, dia membuka pintu ruangan agar Zena bisa keluar dari ruangan dokter Irma.
"Jeff, aku lelah ... aku tunggu di sini saja, biar kamu yang menebus obatku, setelah itu ... kita ke kantor Mas Steven," titah Zena mendudukkan bokongnya do kursi antrian menebus obat.
"Baik Nyonya," jawab Jeff yang meninggalkan Zena sendiri di kursi antrian, sesekali Jeff memandang istri Tuan nya agar tidak hilang.
"Kira-kira dokter Irma sudah mempunyai kekasih belum ya?" gumam Jeff membayangkan wajah dokter Irma yang tersenyum manis,"
"Jika belum, aku mau menjadi kekasihnya, bila perlu hari ini juga ... aku akan menikahinya," sambungnya lagi.
"Maaf Pak, ini vitamin untuk ibu hamilnya," ucap salah satu suster yang memberikan pesanan resep vitamin Zena pada Jeff.
"Pak?" seru suster lagi karena melihat Jeff melamun.
"Pak!!! "
"Eh, iya dokter cantik," ujar Jeff keceplosan, membuat suster itu heran.
"Maaf, di sini tidak ada dokter cantik,"
"Aduh! Jeff ...Jeff kenapa bisa keceplosan si, kan malu dilihat banyak orang," gumam Jeff dalam hati, dia memandang istri Tuan nya yang sedang tersenyum kepadanya.
"Apa Nyonya tahu, tadi aku memanggil dokter cantik,"
"Aduh, malu banget aku!"
"Bodoh!" gerutu Jeff memaki dirinya di dalam hati.
"Maaf, maaf ... saya tidak fokus," ujar Jeff mengambil obat lalu memberikan uang untuk membayarnya.
Setelah membayar vitamin tersebut, Jeff langsung menghampiri Nyonya mudanya dengan wajah malunya.
"Jeff, baru kali ini, aku melihatmu memalukan dirimu sendiri," ujar Zena terkikik, "Dia laki-laki Jeff, bukan dokter cantik," sambungnya lagi.
"Nyonya, Nyonya bisa diam," ketus Jeff, di dalam hatinya dia merasa malu dengan kejadian ini.
Bersambungš
__ADS_1