
"Bukan seperti itu, sayang,"
"Maafkan aku, aku hanya trauma," ucap Steven.
"Trauma, memangnya apa yang aku perbuat untukmu, sampai-sampai kau trauma, Mas!"
"Maafkan aku sayang, maafkan aku," ucap Steven.
Di saat perdebatan antar Steven dan istrinya sedang dalam mode serius, tiba-tiba datanglah dua orang yang sedari tadi, sudah dia tunggu.
"Maaf Tuan, ada apa memanggil saya selarut ini? Bukankah, saya sudah menyelesaikan pekerjaan di kantor?" tanya Nanda malas, beberapa kali dia menguap di depan sahabatnya.
"Dan, kenapa Tuan menyuruh saya pulang. Padahal, saya sedang bersama--"
"Kau kencan dengan dokter Irma?" timpal Steven cepat.
"Apa! Kau kencan dengan wanita yang dicintai Jeff? Sungguh terlalu, Jack," ucap Nanda menggelengkan kepalanya. Tubuhnya dihempaskan ke atas sofa.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku tidak ingin membahasnya, sebenarnya Tuan ingin bicara apa? Sepertinya, masalah ini cukup serius?" tanya Jack menjatuhkan tubuhnya di samping sekertaris Tuan nya.
"Aku hanya--"
"Jangan menggunakan kekerasan, aku tidak mau ada yang terluka, Mas. Ingat! Aku sedang hamil," bisik Zena.
"Gaji kalian akan aku potong tiga bulan ke depan, 50%," ucap Steven tiba-tiba yang mengejutkan kedua pria yang sedang menguap semakin menganga.
"Apa! Kenapa, gajiku dipotong! Aku sudah bersusah payah mengerjakan semua pekerjaan mu, Steve. Ini tidak adil, kau memotong gajiku tanpa alasan yang pasti. Aku tidak terima, bila perlu ... aku akan mogok bekerja mulai besok," ucap Nanda kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Tuan, saya membutuhkan biaya untuk pengobatan Jeff. Jangan potong gaji saya," pinta Jack mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Berikan alasanmu, agar kami bisa menerima keputusan mu itu, Steve!" ujar Nanda kesal.
"Kau tahu, kenapa aku memotong gaji kalian? Jika istriku tidak hamil, maka aku akan memukul dan memotong bibir serta tangan kalian. Kenapa, kalian meracuni otak anakku dengan permainan game online. Kau tahu, anakku sampai berkelahi--"
"Itu bukan urusanku, Steve. Kau sempat mengeluh, karena Rio selalu menempel pada istrimu. Sekarang, kau menyalahkan kami? Kami hanya menuruti semua perintahmu," timpal Nanda.
"Hei! Kau mulai berani padaku!" pekik Steven.
"Aku akan laporkanmu pada tante Tesa," ucap Nanda mengeluarkan ponselnya dan berusaha menghubungi Ibu dari Steven, tapi sudah beberapa kali panggilan tidak dijawab oleh Tesa.
Melihat Jack mematung, membuat Nanda serasa gemas, dia menendang kaki Jack, agar berada di pihaknya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, ha!" pekik Nanda.
"Apa yang aku lakukan? Aku hanya memikirkan nasib Jeff, saja," ucap Jack lesu.
'Dan, aku sedang memikirkan nasibku dan Irma. Bagaimana jika dalam beberapa bulan ini, aku mendapat kejutan yang membuatku semakin terjebak dalam perangkap ini!' batin Jack.
"Masalah rumah sakit, kau tenang saja, aku sudah mengurusnya, " ucap Steven.
'Benar-benar tidak beres, kenapa sikap Jack menjadi pasrah seperti itu, apa yang Jack pikirkan,' batin Steven menatap gerak gerik anak buahnya.
"Sudah, aku mau kembali ke kamar. Terimakasih atas kejutanmu, Tuan. Aku benar-benar sangat terharu, sampai jantungku berhenti berdetak dan otakku menolak memikirkan ucapan Tuan," ucap Jack beranjak dari tempat duduknya, kemudian membungkukkan badannya memberi hormat.
"Mas, kau bilang ... Jack orangnya lebih kejam dari Jeff, kenapa aku tidak melihat sisi kejam darinya?" bisik Zena setelah kepergian Jack.
"Steve, aku rasa ... ini bukan masalah Jeff, tapi ini masalah Jack sendiri," ucap Nanda.
"Sudahlah, mungkin Jack lelah, berikan dia waktu untuk beristirahat dan kau ... kau bisa pulang," ucap Steven mengusir sekertaris sekaligus sahabatnya.
"Sudah dipotong gaji, diusir pula," gerutu Nanda.
"Jika kau ingin menginap di sini, maka menginaplah. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu," ujar Zena beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pergi menuju lift.
"Terimakasih Nyonya, saya akan menginap di sini!" teriak Nanda membuat Steven pergi menyusul istrinya.
***
Ke esokan harinya.
Zena yang baru saja menggeliat mendengar suara ketukan dari luar kamarnya.
"Siapa!" teriak Zena turun dari ranjang dan berjalan membuka pintu.
"Rio, Mom!"
Krek ...
"Rio, ada apa Rio pagi-pagi mengetuk kamar mommy? Apa ada sesuatu yang menganggu Rio, hem?" tanya Zena memerintahkan putranya duduk di sofa kamarnya.
"Rio mau meminta janji mommy. Tidur Rio tidak nyenyak, karena memikirkan iPad Rio, yang di sita Daddy," gumam Rio menjatuhkan bokongnya di sofa dengan kedua tangannya disilangkan di depan dada.
"Tunggu Daddy, Daddy mu sedang mandi," ujar Zena.
__ADS_1
***
"Hei, sampai kapan kamu akan menginap di rumahku, hah! Aku sudah bosan melihat wajahmu yang jelek itu setiap hari!" ucap Sheila saat melihat Riski terbaring di sofa dengan pandangan fokus ke layar televisinya.
"Sampai kau sukses merebut hartaku kembali. Dan sampai aku menemukan keberadaan adikku," jawab Riski santai, tangannya digunakan untuk menyanggah kepalanya.
"Dasar pria tidak berguna. Hanya bisa mengandalkan wanita saja," gerutu Sheila meletakkan beberapa uang ratusan ribu di atas meja, "Gunakan uang itu untuk membeli persediaan makananmu sehari-hari. Kemungkinan besar, aku tidak akan pulang berhari-hari. Jadi, jangan mencoba-coba menghubungi aku, atau--"
"Itu tidak mungkin. Aku justru senang, jika tidak ada kau di rumah ini," timpal Riski menatap sekilas wanitanya yang sudah berpakaian rapi.
"Huh!
"Kunci mobil jangan lupa," titah Riski mengambil uang yang diletakkan Sheila di atas meja.
"Sebenarnya, di sini yang tuan rumah siapa? Aku atau kamu!"
"Kita berdua," jawab Riski santai, "Kau, sudah siapkan makanan untukku kan?" tanya Riski lagi.
"Untuk apa, aku menyiapkan makanan untukmu. Memangnya, kau suamiku yang harus aku layani. Siapkan saja makanan untukmu sendiri," ujar Sheila melanjutkan langkahnya dan berjalan keluar rumah.
***
Di sebuah rumah sakit terbesar di kota jakarta, terlihat Irma yang baru saja menjatuhkan bokongnya di kursi kebesarannya dengan wajah kusut.
Pertemuan semalam membuat Irma memikir keras untuk menghadapi hari selanjutnya.
"Bagaimana, jika--"
"Semalam dengan siapa?" tanya Al yang baru saja tiba.
"Semalam? Bukankah, sudah aku katakan. Jika, aku pergi bersama dokter Riyan," ucap Irma sedikit terkejut akan kehadiran Kakaknya yang super protektif.
"Benarkah?" tanya Al tidak percaya.
"Benar, kalau Mas Al tidak percaya, tanyakan langsung pada dokter Riyan," ketus Irma
"Tapi, Riyan bilang pada Mas, jika kalian tidak jadi pergi?" ucap Al membuat Irma terkejut.
'Bagaimana mungkin, dokter Riyan mengkhianati ku. Aku pikir, dia hanya mengertakku saja,' batin Irma meremas ujung jas nya.
"Wah ... itu tidak mungkin Mas, aku akan bicara dengan dokter Riyan. Bisa-bisanya di berbohong pada Mas," geram Irma berjalan keluar ruangan dan mencari keberadaan teman prianya.
__ADS_1
'Akan aku hajar dia sampai babak belur. Bila perlu, aku suntikan obat tidur, agar tertidur selamanya,' batin Irma emosi.