
"Irma! Kamu sudah siap, sayang? Kakakmu sudah menunggu lama di meja makan. Cepatlah, karena makanannya sudah mulai dingin," teriak Ibu dari Irma dari balik pintu kamaenya.
"Mas, aku tutup dulu telfonnya. Nanti kita sambung lagi," ucap Irma menghapus air matanya.
"Jangan Ir, aku mohon jangan menangis Ir, kita belum tentu melakukannya. Dan jika kita melakukannya--"
"Kamu akan bertanggungjawab kan Mas? Kamu tidak akan meninggalkanku kan Mas? Aku takut Mas, aku takut seperti pasienku," ucap Irma, tubuhnya dia senderkan di ranjangnya.
"Ibu! Ibu dan Mas Al makan saja dulu. Aku masih lama!" teriak Irma sesenggukan.
Mendengar suara tangisan putrinya, ti
"Ir, ada apa denganmu, sayang? Kenapa suaramu--"
"Aku tidak apa-apa, Bu. Ibu temani Mas Al makan ya?"
"Bener, kamu tidak apa-apa, Ir?" tanya Ibu Irma cemas.
"Benar Bu, aku baik-baik saja. Ibu tenang saja," teriak Irma.
"Ya sudah, Ibu pergi dulu menemani Kakakmu makan," ujar Ibu Irma melangkahkan kakinya menuju dapur rumahnya.
Setelah mendengar derap kaki Ibu nya yang semakin menjauh, Irma pun kembali menangis, dia benar-benar bingung atas kejadian yang baru menimpanya.
"Mas, bagaimana ... kamu mau kan bertanggungjawab," ujar Irma pada Jack.
"Ir, tapi--"
"Tapi apa Mas! Jangan bilang, kamu tidak mau bertanggungjawab? Kamu mau lepas tangan dan memberikan seluruh beban masalah ini menimpaku sendiri! Di mana hati nurani Mas!"
"Bukan begitu Ir, kita tunggu satu bulan. Jika kamu mengalami menstruassi, artinya kita aman," jawab Jack.
"Mas Jeff, sebenarnya kamu serius denganku atau tidak sih? Kamu benar-benar mencintaiku atau jangan bilang, aku hanya--"
"A-aku, aku mencintaimu, Ir," jawab Jack terpaksa.
'Aku tidak mungkin bicara yang sejujurnya jika aku bukan Jeff melainkan Jack. Aku tidak ingin menambah masalah baru. Sudah cukup masalah semalam menghantui pikiranku,' batin Jack.
Irma tersenyum bahagia. Akhirnya kata cinta itu terucap lagi dari bibir pria yang dicintainya.
"Aku juga mencintaimu Mas, ya sudah ... aku mau mandi, lalu bersiap-siap kerja," titah Irma.
__ADS_1
***
Di dalam kamar yang begitu luas, Zena berjalan mondar mandir seperti setrika, mengingat gerak gerik Jack yang mencurigakan membuatnya memikirkan dokter Irma, dokter spesialis kandungan.
"Apa yang Jack dan Mas Steven rencanakan? Kenapa, aku takut berbicara pada Jack. Sikapnya, ternyata sangat berbeda dengan Jeff, tidak ada senyuman, yang ada hanyalah wajah datar dan mengerikan, aku jadi takut, jika berhadapan dengannya," gumam Zena, kemudian menjatuhkan bokongnya di ranjang empuknya.
"Tapi, apa yang terjadi dengan Jack? Bukankah, kemarin aku sempat mendengar percakapan antara Jack dan sekertaris Nanda, jika tadi malam, Jack dan dokter Irma bertemu?" ujar Zena.
"Jika mereka bertemu, apa pertemuan mereka sampai larut malam atau sampai pagi?"
"Atau jangan-jangan mereka sudah memiliki hubungan khusus? Tapi itu tidak mungkin. Aku tahu dokter Irma seperti apa. Dia bukan orang gampang ditaklukkan hatinya."
"Aaaaaa .... "
Teriakan seorang wanita dari lantai dasar terdengar sampai lantai telinga Zena, membuat Zena sedikit terkejut.
"Astaga, sebenarnya ... dia mau apa sih! Sudah berapa kali aku usir tapi tetap saja kekeh ingin tinggal di sini. Giliran sudah aku beri tumpangan semalam, dia protes," gerutu Zena berjalan keluar kamar dengan pelan. Kehamilannya yang sudah mendekati hari-H membuatnya tidak bisa berjalan dengan cepat.
Ting ...
Pintu lift terbuka di lantai dasar, dan keluarlah sosok Zena yang berjalan menuju dapur, di mana terdengar keributan dan caci maki yang dilontarkan dari wanita yang Zena pastikan, mantan istri suaminya.
"Maaf Nyonya, dia yang membuat ulah duluan," ujar Jack menunjuk wajah Dinda.
"Apa kau bilang! Aku membuat ulah!" geram Dinda, "Asalkan kau tahu, dia salah masuk kamar, di saat aku baru saja selesai mandi. Atau jangan-jangan, dia sengaja masuk ke kamarku! Ngaku saja, kau!" pekik Dinda menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Ala benar yang dikatakan Mbak Dinda, Jack? Kau salah kamar?" tanya Zena menatap mata bodyguardnya.
"Maaf Nyonya, itu benar. Tapi saya tidak sengaja, dan saya langsung keluar kamar kok, "
"Sungguh Nyonya, saya tidak bohong. Saya masih waras, tidak mungkin saya memilih jodoh seperti mantan istri boss, boss saja yang mempunyai harta berlimpah, pernikahannya tidak bisa bertahan lama. Apalagi dengan saya, Nyonya? Kemungkinan besar, saya bisa stress dan mati berdiri."
"Apa! Kau bicara apa! Berani-beraninya, kau mengatakan semua itu di depanku!" geram Dinda, tangannya sudah meremas ujung dress nya.
"Yang saya ucapkan, semuanya benar Nyonya. Saya tidak tertarik dengan anda!" ketus Jack.
"Hentikan! Sudahi pertengkaran kalian. Ini masalah sepele, jangan di besar-besarin. Dan Mbak Dinda, bukankah Jack bilang, jika dia tidak sengaja, maka maafkan Jack," ujar Zena menengahi perdebatan keduanya.
"Tidak bisa! Dia sudah melihat seluruh tubuhku!"
"Hei, Nyonya, jaga bicara anda. Saya tidak sempat melihat semuanya," ucap Jack jujur.
__ADS_1
"Jangan bohong, aku--"
"Sudah!"
"Lebih baik, Mbak kembali ke asal Mbak, aku sudah meminta sekertaris Nanda untuk mengawal Mba Dinda," titah Zena.
"Kau, kau mengusirku?"
"Kau berani mengusir calon Nyonya besar di rumah ini," pekik Dinda.
"Calon?" ulang Zena,
"Iya, aku akan merebut posisimu, aku akan membuat Steven jatuh cinta padaku lagi, dan aku akan pastikan, kau dibuang oleh Steven," ujar Dinda tertawa keras.
'Sabar, ini ujian mu, Zen. Jangan menangis atau memperlihatkan kemarahan mu. Karena bisa jadi, dia hanya memancing emosimu saja,: batin Zena.
"Lakukan saja Mbak, jika Mas Steven tergoda oleh Mbak dan meninggalkan kami. Aku mengikhlaskannya," jawab Zena.
"Hahaha ... sudah pasti, dia akan tergoda olehku."
"Nyonya, Nyonya bicara apa? Bagaimana jika Tuan mendengar ucapan Nyonya? Dia akan marah, Nyonya!" ujar Jack.
"Jack, aku ingin bicara denganmu empat mata, aku tunggu di kamar," ucap Zena kemudian berjalan menuju lift.
'Apa aku sanggup jika kehilangan Mas Steven? Ah, lupakan ... aku mengandung anaknya, dan Mas Steven juga bilang, kalau dia sangat mencintaiku. Seharusnya, aku mempercayai suamiku bukan menuduhnya yang tidak-tidak,' batin Zena memencet tombol lift dan masuk.
***
"Maafkan saya, Tuan. Karena kecerobohan saya, Nyonya bersedih," ucap Jack setelah panggilannya sudah terhubung dengan bossnya.
"Sekali lagi, kau membuat kesalahan ... maka, aku akan memulangkan mu. Aku tidak mau melihat istriku terus bersedih, cepat temui istriku sekarang juga!" pekik Steven langsung menutup telfonnya.
"Huft! Tidak ada yang istimewa, pagi hariku sangat menyedihkan, masalah selalu datang silih berganti," gumam Jack kemudian berjalan keluar kamar.
Tokk ...
Tokk ...
"Nyonya ...," panggil Jack di iringi dengan ketukan pintu.
Bersambungš
__ADS_1