Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 10. Pelindung Bambu


__ADS_3

" Hihihi... Aku hanya bercanda, kenapa kamu menanggapinya serius. Hihihi... Tapi baiklah... Gofan, Fanfan, Aku akan memanggilmu Fanfan " Ucap Xionan.


Xionan tertawa sambil melayang-layang di depan makam di atas Gofan yang masih dalam posisi membungkuk, bersujud di depan makam.


Setelah sempat terkejut, Yubing beberapa kali menepuk punggung Gofan, berharap menenangkannya agar tidak menangis lagi.


" Tenanglah. Jangan menangis lagi... Aku yakin kamu akan benar-benar membanggakan Lenfan, Baik... Mulai sekarang, kami akan memanggilmu Gofan... Iya kan? " Tanya Yubing kepada Nian dan Jangbi.


Nian mengangguk mendengar itu, sementara Jangbi acuh tidak terlalu peduli.


Tentu saja Gofan tertawa memikirkan ini, dia hanya berpura-pura menangis, bagaimana bisa dia menangisi dirinya yang kini masih hidup.


Gofan bangkit dan berpura-pura menghapus air mata.


" Terima kasih Kak. Oh ya... Apa yang kalian lakukan di sini? " Tanya Gofan.


Dari awal melihat Yubing datang, Gofan sudah penasaran dengan tujuan Yubing datang ke Hutan Bambu Kemarau, tapi dia masih terlalu sibuk memikirkan hal yang menimpa dirinya. Sehingga kini, Gofan baru sempat menanyakan hal itu.


" Sebenarnya, aku tidak mengira akan bertemu dengan kalian di sini, aku dan Nian kemari bersama sekelompok pendekar lain, untuk.... " Sahut Yubing.


Yubing menceritakan semua yang terjadi termasuk kejadian yang menimpa Jangbi, juga tujuannya untuk mencari pertemuan beruntung di sebuah gua di barat hutan ini.


Gofan dan Xionan, terkejut mendengar tujuan Yubing dan para pendekar lain mencari gua di barat hutan.


" Fanfan, bukankah mereka menuju ke tujuan kita juga? " Tanya Xionan.


'Iya, aku juga tahu... Sebentar, biar ku tanyakan sesuatu dulu, semoga saja yang mereka cari berbeda ' Jawab Gofan melalui pikirannya kepada Xionan.


" Kakak Yubing, pertemuan beruntung seperti apa yang kalian cari di gua itu? " Tanya Gofan.


Gofan masih berharap bahwa yang dicari kelompok Yubing bukanlah hal yang sama dengan yang dia cari.


" Aku sendiri belum tahu, mungkin itu berasal dari Era Dewa jatuh " Sahut Yubing sembari melangkah mendekati Gofan.


" Gofan, karena sekarang kamu sudah sehat, sebaiknya kamu dan Jangbi segera meninggalkan tempat ini, di sini tidak aman " Imbuh Yubing.


Xionan muncul di sebelah Yubing sambil berdecak, " Ck... Era Dewa jatuh? Kalian hanya belum tahu, itu peninggalan ayah Gofan, warisan Raja Gelap, iya kan? "


Xionan menatap ke arah Gofan, berharap dia akan menanggapi perkataannya.


'Benar... Sepertinya mereka belum tahu tentang warisan ayahku, mereka hanya tahu di sana ada pertemuan beruntung ' Sahut Gofan melalui pikirannya.


" Aku akan tetap di sini kak, aku tidak bisa pergi keluar dari Hutan Bambu Kemarau ini " Gofan menolak saran Yubing untuk melinggalkan hutan. Bukan Gofan tidak mau, tetapi dia tidak bisa meninggalkan hutan itu, dia sudah dikutuk.


Setelah Gofan menyerap ingatan Beruang Bambu dan kekuatannya, bisa dikatakan dia kini adalah setengah Beruang Bambu, dia tahu semua tentang makhluk buas ini dan juga kutukan tentang mereka yang harus terkurung di Hutan Bambu Kemarau.


" Apa ini ada kaitannya dengan Mata Iblis? " Tanya Nian.


sebenarnya Nian masih penasaran dengan kejadian saat Gofan mengerang kesakitan dan suara aneh yang muncul di pikirannya saat itu.


" Bisa dikatakan begitu, tapi aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi " Gofan tidak ingin mengungkap lebih banyak tentang hal yang sebenarnya terjadi.


" Sudah kuduga, aku yakin pasti suara aneh itu yang membantumu kan? kami mendengar peringatannya, sebelum naik kemari "


Nian mengambil kesimpulan sendiri, tentang yang sebenarnya terjadi. Nian tidak yakin, bocah 12 tahun bisa mengatasi kekuatan mata iblis sendirian.


" Iya, suara itulah yang membantuku, dia memberitahu, bahwa aku tidak bisa pergi dari hutan ini, itu bisa membahayakan orang lain " Sahut Gofan, tidak menceritakan tentang kutukan Beruang Bambu.


" Dimana pemilik suara itu sekarang? suruh dia keluar... ! " Lanjut Nian, dia ingin tahu siapa pemilik suara tanpa sumber itu.


" Aku tidak tahu, aku juga hanya mendengar suaranya." Jawab Gofan berbohong.


Gofan tidak ingin memberitahukan tentang Xionan kepada mereka. Meski dia ingin, mereka juga tidak bisa melihatnya.

__ADS_1


" Begitukah...? " Tanya Nian, sedikit meragukan kata-kata Gofan, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Gofan.


" Jadi begitu, tapi aku tetap tidak bisa meninggalkanmu di sini sendiri " Mendengar jawaban Gofan dan penjelasannya, Yubing khawatir untuk meninggalkan Gofan.


" Tenang saja Kak. Setelah mengatasi mata iblis aku aman dari Beruang Bambu, mereka akan mengiraku sebagai teman mereka, dan saat aku bisa mengendalikannya dengan bebas, aku akan meninggalkan hutan ini "


Jelas Gofan dengan sedikit merubah kenyataan, dia tidak bisa pergi karena kutukan, dia telah dikutuk agar tidak bisa pergi meninggalkan hutan.


" Baiklah, kalau begitu kau ikut saja dengan kami " Yubing memutuskan untuk mengajak Gofan ikut ke barat daripada meninggalkannya sendirian.


" Iya kak, sebenarnya aku memang ingin ikut " Kata Gofan.


Tentu Gofan harus ikut, itu adalah tujuannya dari awal, datang ke Hutan Bambu Kemarau.


Sesaat sebelum berangkat ke barat mencari pertemuan beruntung, tiba-tiba Gofan mengatakan sesuatu,


" Mm... Kakak Yubing, sebaiknya kalian membuat pakaian pelindung dari bambu, itu akan menjauhkan Beruang Bambu dari kalian " Saran Gofan.


Gofan tahu hal ini dari ingatan Beruang Bambu yang berhasil dikuasainya, jadi dia menyarankan pada Yubing dan lainnya untuk mengenakan pakaian pelindung dari bambu.


Setelah berpikir sebentar, Yubing mengikuti saran Gofan dan menyuruh Nian serta Jangbi, untuk membuat pelindung dari bambu.


[Di bagian barat, Hutan Bambu Kemarau]


Hari sudah mulai siang, rombongan Yanse masih berdiam di dalam kabut asap formasi pelindung dari harta rahasia Moyo. Dalam kabut asap ini, mereka semua siaga, tidak ada satupun ketenangan di raut wajah kedelapan orang ini.


" Pendekar Moyo, bagaimana? kau masih mampu bertahan? " Tanya Yanse, dengan sebuah pedang yang sudah tidak disarungkan berada ditangannya, tampak siap untuk bertarung.


" Masih... Masih... aku akan bertahan " Sahut Moyo.


Moyo saat ini sedang dalam posisi membentuk segel jurus, keringat mengucur di wajahnya.


" Kita semua harus siap, kita tidak bisa terus bertahan di sini " Hanbo menggenggam tongkat besi dan berdiri dengan posisi siap menyerang.


Begitu juga dengan lima orang lainnya, mereka semua berada dalam posisi siaga dengan senjata di tangan, ada tombak, pedang, dan cambuk.


Beruang Bambu adalah makhluk teritorial mereka sangat menjaga ketat wilayah kekuasaan mereka.


Saat Yanse memilih tempat berbukit yang agak jauh dari sarang terdekat dia lupa memperkirakan jangkauan kekuatan mental para Beruang Bambu ini.


Dengan kekuatan mentalnya, Beruang Bambu mampu merasakan jika ada makhluk hidup lain yang memasuki wilayah kekuasaannya.


Saat ini, kabut asap formasi pelindung sedang diserang oleh lima ekor Beruang Bambu setinggi pria dewasa. Kelima Beruang Bambu ini datang beberapa saat setelah Yanse mengirimkan boneka burung pengantar pesan kepada Yubing.


*Rooaarr*


*Punch*


*Duagh*


Para Beruang Bambu ini, menyerang, memukul dan menyelimuti kabut asap formasi pelindung dengan cahaya hijau tipis, berusaha menembus pelindung itu.


Mereka mengelilingi formasi pelindung, sementara kedelapan orang di dalam formasi terus menerus siaga, bersiap-siap menyerang jika formasi pelindung tidak mampu lagi bertahan.


" Sepertinya ada seseorang mendekat?, Pendekar Yanse, lihat... ! " Seru Lingzi ketika melihat seseorang berjalan mendekati mereka.


" Aneh... Kenapa para Beruang Bambu ini diam saja? bahkan semut yang melewati batas wilayah mereka pun bisa diketahui, kenapa mereka masih menyerang kita? " Orang yang berkata ini adalah seorang gadis lainnya, namanya Canglini.


" Benar juga... " Kata beberapa orang lainnya sambil mengangguk, membenarkan perkataan Canglini.


Mereka melihat, Beruang Bambu seakan-akan tidak menyadari ada seseorang yang mendekat, bahkan mereka seperti mengabaikannya.


" Itu... Dia ! " Lingzi menunjuk ketika seseorang itu, kini tepat di belakang salah satu Beruang Bambu,

__ADS_1


" Pendekar Yanse, ini? Dia masih anak-anak... ! Haruskah kita menolongnya? " Tanya Lingzi.


Melihat yang datang masih lebih muda darinya, Lingzi berpikir iba, dia tidak menyangka anak semuda itu berani menerjang maut.


" Tunggu... Lihat!, Tidak ada satu pun dari beruang-beruang ini yang membahayakannya " Sahut Yanse.


Yanse merasa bahwa bocah itu, bukan bocah biasa, ada sesuatu yang membuatnya aman dan lolos dari jangkauan mental Beruang Bambu.


Setelah sangat dekat dengan salah satu Beruang Bambu, bocah yang nampak berusia belasan tahun itu menepuk pundak si Beruang Bambu, seakan-akan mereka berteman, dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa dimengerti delapan orang di dalam formasi.


Beberapa saat kemudian, Beruang Bambu itu berteriak.


*Rooaarr*


Dan seketika itu, empat Beruang Bambu lainnya langsung berhenti menyerang.


Para Beruang Bambu pergi meninggalkan formasi pelindung mengikuti Beruang Bambu yang sebelumnya diajak bicara oleh bocah tersebut. Bocah belasan tahun ini, sudah pasti adalah Gofan.


" Para pendekar, keluarlah, kalian sudah aman " Ucap Gofan setelah para Beruang Bambu benar-benar pergi jauh.


Moyo melirik Yanse, dan melihatnya mengangguk, kemudian Moyo melakukan segel tangan sambil berteriak, " Kembali... "


Seketika itu, piringan cakram yang berputar-putar di atasnya menyedot kembali kabut asap dan perlahan-lahan jatuh ke tangan Moyo dan formasi pelindung pun menghilang.


" Saudara muda, aku mewakili yang lain mengucapkan terima kasih kepadamu, siapakah kamu dan kenapa menolong kami? " Meski berterima kasih, melihat orang di depannya jauh lebih muda, Yanse hanya mengatupkan tangan tanpa membungkuk.


" Tidak perlu dipikirkan, saya kemari bersama pendekar Yubing dan dua lainnya, mereka di belakang, sebentar lagi mungkin sampai " Sahut Gofan kepada Yanse.


Beberapa hela napas kemudian, Yubing, Nian, dan Jangbi tiba. Kedelapan pemdekar yang baru saja ditolong Gofan, melihat ada sesuatu yang aneh dengan mereka bertiga.


" Pendekar Yubing, terima kasih, apakah saudara muda ini kenalanmu juga?." Tampak seperti menahan tawa. Yanse menyapa Yubing yang baru tiba.


" Pendekar Yubing, apa yang kalian kenakan ini? " Lanjut Yanse menanyakan sesuatu yang hampir membuatnya tertawa.


Yubing, Nian, dan Jangbi, ketiga orang ini mengenakan sebuah anyaman batang-batang bambu, mereka seperti mengenakan pakaian pelindung yang terbuat dari bambu, tampak lucu di mata kedelapan orang pendekar itu.


" Kalian... Sebaiknya segera membuatĀ  pelindung bambu ini, kalau mau selamat... ! " Kata Nian kesal ketika melihat beberapa orang tertawa kecil di belakang Yanse.


" Nian... ! " Tegur Yubing pelan.


Nian berdecak kesal dan tidak melanjutkan lebih jauh.


" Benar pendekar Yanse, dia adalah kenalanku, kenalkan namanya Goli... Ah... Bukan... Gofan, namanya Gofan " Yubing masih belum terbiasa dengan nama baru Lenfan.


" Mohon ikuti kata juniorku, kalian juga harus mengenakan pelindung yang sama seperti yang kami kenakan, ini akan melindungi kita dari Beruang Bambu " Kata Yubing.


Yubing sendiri enggan mengenakan hal ini, tapi bambu-bambu yang dia kenakan benar-benar ampuh mengusir Beruang Bambu.


Kedelapan orang itu terdiam dan saling melirik.


Moyo melangkah ke depan dan berkata, " Haha... pendekar Yubing, mohon jangan bercanda, dari mana kamu tahu, kalau bambu-bambu itu dapat melindungi kita? "


" Sudahlah pendekar Moyo, ayo kita kumpulkan bambu dan buat yang seperti dikenakan pendekar Yubing " Yanse menengahi, dia percaya bahwa Yubing tidak akan bercanda dengan apa yang dia lakukan.


" Tapi.... " Moyo masih belum percaya, dia merasa akan terlihat konyol jika mengenakan pakaian pelindung bambu itu.


" Pendekar Moyo, lihatlah dari arah mana pendekar Yubing dan yang lainnya datang, mereka jelas-jelas aman kan? " Tunjuk Canglini ke arah yang sebelumnya dilalui oleh para Beruang Bambu ketika pergi meninggalkan mereka.


Mata Moyo tiba-tiba seperti tercerahkan, sekarang dia yakin dan segera bergerak mengumpulkan batang bambu, begitu juga dengan ketujuh orang lainnya. Mereka bergegas membuat pakaian pelindung bambu.


Nian tersenyum tipis melihat kedelapan orang yang sedang membuat pelindung bambu, dia melirik ke arah Gofan, 'Tidak ku sangka ide Bocah ini, ampuh juga '


Awalnya Nian kesal dengan keputusan Yubing yang percaya begitu saja kepada Gofan dan menyuruhnya memakai pelindung bambu yang aneh itu, tapi dia tetap melakukan perintah Yubing.

__ADS_1


Kini Nian percaya, sebab Nian sendiri, sudah merasakan manfaat dari pelindung bambu yang dikenakannya. Sebelumnya, ketika berpapasan dengan kelima Beruang Bambu, dia diabaikan dan tidak diserang.


Bersambung...


__ADS_2