Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 66. Kesalahpahaman Longwang


__ADS_3

Sementara Gofan masih terkapar lemah di tanah. Anak anjing itu akhirnya melolong, menangis melihat Gukguli yang tidak juga bangkit. Lolongan anak Anjing Taring Penyanyi itu sungguh merdu, namun menyayat hati. Lolongannya sangat memilukan.


' Jika saja aku sudah menjadi manusia, mungkin aku akan menangis sepertimu ' Ucap Haiwa kepada Gofan dari dalam tongkat.


Haiwa dan Gofan tersentuh oleh lolongan sedih anak anjing itu. Hingga tanpa terasa Gofan kembali meneteskan air mata yang lain.


' Berhentilah menangis. Bukankah kamu sudah memahami Keikhlasan, untuk apa kamu terus menyesalkan hal ini ' Imbuh Haiwa.


' Aku memang sudah mendapat pelajaran dari Lorong Masa milikmu, tapi aku tetap saja manusia, tidak bisa semudah itu mengikhlaskan sesuatu ' Ucap Gofan melalui pikirannya.


Gofan mengingat kembali hal yang dia pahami dari perjalanannnya memutar waktu. Saat mengetahui bahwa Xingmou dan Tungdie masih hidup, Gofan memahami bahwa masa lalu tidak bisa dia rubah.


Pada waktu Gofan merasuki Xingmou, Xingmou tewas ditikam oleh Ibunya dan saat Gofan merasuki Tungdie, Tungdie tewas ditusuk pedang ayahnya. Jika memang masa lalu bisa dirubah, yang seharusnya hidup adalah kedua orang tuanya.


Namun masa lalu tidak akan bisa dirubah, tidak akan pernah bisa. Kedua orang tuanya tidak akan hidup kembali, pamannya tidak akan kembali bernapas lagi, serta seluruh orang di Perguruan Tanah Terlarang tidak mungkin bangkit kembali, karena itulah Gofan mengikhlaskan masa lalunya dan bertekad merubah masa depan dengan menjadi yang terkuat.


Kini, melihat anak Anjing Taring Penyanyi yang menjadi korban keganasan serangannya, Gofan merasa menyesali kekuatan yang dia miliki. Gofan kecewa, dia tidak cukup kuat untuk mengendalikan dirinya.


" Haiwa. Apa yang harus kita lakukan padanya? " Tanya Gofan pelan sembari memandang punggung si anak Anjing Taring Penyanyi.


" Aku tidak yakin harus bagaimana. Tapi kamu mungkin bisa merawatnya, sementara mencari kawanan Anjing Taring Penyanyi lainnya " Sahut Haiwa.


Gofan tidak membalas perkataan Haiwa, dia hanya diam dan memandangi punggung si anak anjing. Air mata Gofan menetes hingga mengenai Kalung Kerang Ajaib yang tergantung di lehernya.


Di dalam Kalung Kerang Ajaib, Longyun menghalangi langkah ayahnya yang hendak menerjang keluar untuk menyerang Gofan.


" Ayah. Berhenti! Aku mohon, pikirkanlah lagi, pasti masih ada cara lain, selain membunuhnya " Teriak Longyun yang berdiri menghalagi langkah ayahnya saat hendak keluar dari dalam Kalung Kerang Ajaib.


" Ini kesempatan yang bagus. Dia sudah kehabisan tenaga dalam. Ayah bisa membunuhnya dengan mudah "


" Baik. Ayah tidak akan membunuhnya, ayah hanya akan memaksanya meminum air sungai itu... Bagaimana? " Ucap Longwang.


Longwang tadinya hendak keluar dan membunuh Gofan atau paling tidak membuat Gofan kehilangan ingatan setelah melihat Gofan terkulai lemah di tanah. Namun Longyun terus saja menghalangi langkahnya.


" Ayah. Mohon pikirkanlah lagi! "


" Meski dia sudah jelas bukan orang dengan darah suku naga lagi, tapi hanya dia satu-satunya harapan kita untuk pergi ke Laut Timur " Ucap Longyun yang masih berusaha keras meyakinkan ayahnya.


" Kamu lupa? Kita masih punya Longwei. Ayah yakin kakak sepupumu itu pasti akan menolong kita " Longwang mendengus pelan.


" Sudah lebih dari sebelas tahun, kita belum melihatnya. Apa Longwei benar-benar bisa kita andalkan? " Tanya Longyun sembari menarik ayahnya agar kembali duduk.


" Maafkan ayah nak... "


*Duagh*


" Argh...! "


*Gedebug*


Longwang memukul tengkuk leher Longyun. Membuat anak gadisnya itu jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Longyun jatuh ke lantai sebelum sempat membujuk ayahnya untuk duduk kembali.

__ADS_1


Longwang memapah tubuh Longyun dan membaringkannya di atas sebuah ranjang yang terbuat dari bebatuan karang.


" Kita yang hidup atau dia yang mati. Ayah harus membunuhnya...! "


' Ayah harus melakukan ini atau usaha seluruh trah naga akan menjadi sia-sia! ' Longwang berbisik pelan ke telinga Longyun, sebelum melesat keluar dari Kalung Kerang Ajaib.


Longwang sudah berprinsip, bahwa tidak ada satu orang pun selain orang yang diramalkan yang boleh mengetahui keberadaan mereka sebelum mereka bisa menghimpun kekuatan di Laut Timur.


Longwang takut bahwa darah yang sekarang mengalir di dalam tubuh Gofan adalah darah keturunan dari salah satu Dewa kecil pengikut Dewa Cahaya dan atau Dewa Gelap.


*Blazh*


Longwang muncul tepat di sebelah Gofan yang masih terlihat lemah, bersandar di sebuah pohon di dekat anak Sungai Kuning.


' Gofan. Hei. Bangun!... Siapa siluman tua ini? Sepertinya dia keluar dari dalam kalungmu ' Haiwa membangunkan Gofan yang tengah tertidur.


Haiwa saat ini sudah kembali ke ukuran sebuah seruling dan tersemat rapi di ikatan pinggang Gofan.


Sebelumnya, Gofan sudah sempat bangun dan menghampiri si anak Anjing Taring Penyanyi. Gofan merangkul anak anjing itu dan menggendongnya.


Anak anjing itu masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang sedang terjadi, sehingga dia tidak menolak saat Gofan merangkulnya dan membawanya ikut bersandar di batang pohon. Gofan memberinya nama, Xiaobai.


Beberapa hela napas kemudian, Gofan dan Xiaobai tertidur di bawah pohon itu. Xiaobai tertidur di dalam dekapan Gofan.


" Hmm!?... Paman Longwang. Apa yang paman lakukan di sini? Bagaimana jika nanti ada yang melihat paman? " Gofan yang terbangun karena suara Haiwa, terkejut mendapati Longwang berdiri di dekatnya.


Longwang pernah berpesan kepada Gofan, agar tidak ada yang mengetahui keberadaannya selain Gofan. Oleh karena itu, Gofan tidak menceritakan pertemuannya dengan Longwang dan anaknya kepada siapa pun. Tapi sekarang, justru Longwang sendiri yang menunjukkan batang hidungnya.


' Gofan. Apa pria tua ini, Siluman Naga?' Tanya Haiwa yang kini terlihat penasaran.


' Iya. Benar. Dia dan putrinya tinggal di dalam kalung kerang yang aku pakai ini ' Sahut Gofan melalui pikirannya.


Haiwa semakin terkejut, sebab sepengetahuan Haiwa, Suku Naga sudah musnah ketika pembantaian besar-besaran yang dilakukan oleh Dewa Cahaya dan Dewa Gelap.


' Apa yang diinginkan Naga tua ini dari Gofan? Kenapa firasatku tidak enak melihat tatapannya itu ' Pikir Haiwa.


Haiwa melihat sorot mata Longwang seperti memancarkan niat yang tidak baik, saat Longwang berdiri diam menatap Gofan.


Longwang tidak menjawab pertanyaan Gofan, melainkan langsung mengerahkan serangan cakar tangan kanannya ke arah Gofan yang masih bersandar di batang pohon.


Telapak tangan kanan Longwang seketika berubah menjadi cakar seekor Naga dan melesat menyerang ke arah Gofan.


Gofan sudah mengerahkan semua 3000 lapisan Saripati Energi, sehingga kini dia sudah tidak lagi memiliki tenaga dalam yang tersisa. Gofan yang sudah kehabisan tenaga dalam, tidak bisa menggunakan jurus Langkah Kilat untuk menghidari terkaman cakar Longwang.


" Awas...!! " Teriak Haiwa.


*Zyuut*


*Trang*


Tongkat Emas Naga Kembar bergerak melesat dari sela ikat pinggang Gofan dan menangkis serangan cakar Longwang. Haiwa menggunakan kekuatan jiwanya untuk mengendalikan Tongkat Emas Naga Kembar.

__ADS_1


Menggunakan kesempatan perlindungan dari Haiwa. Gofan memeluk erat Xiaobai dan bergerak menjauh dari Longwang.


*Trang*


*Trang*


Cakar dan tongkat terus menerus berbenturan.


" Paman!! Apa-apaan ini? Kenapa kamu ingin membunuhku? " Tanya Gofan kebingungan.


Gofan yang sudah berada sepuluh langkah dari tempat pertarungan Longwang dan Haiwa, berteriak menanyakan tentang serangan cakar yang di arahkan Longwang padanya.


*Trang*


*Trang*


Longwang tetap diam tidak bergeming. Dia terus menerus berusaha melancarkan serangan ke arah Gofan. Namun Tongkat Emas Naga Kembar, berkali-kali menangkis serangannya.


' Gofan. Aku merasa dia tidak terlalu serius bertarung, dia mungkin sedikit ragu... Pasti telah terjadi kesalahpahaman, sehingga dia ingin membunuhmu...'


'...Coba tanyakan pada putrinya, mungkin dia tahu sesuatu'


Haiwa mengirimkan suara pikirannya, saat dia tengah bertarung menangkis setiap serangan cakar Longwang.


Memang seperti yang dipikirkan Haiwa. Masih ada keraguan di dalam hati Longwang untuk membunuh Gofan. Bagaimana pun juga Gofan adalah anak ketururan dari trah Len, yang juga merupakan kerabat Suku Naga.


' Longyun. Longyun. Kamu ada di sana?... Bisakah kamu mendengar suaraku? '


Gofan mengirimkan suara pikirannya ke dalam Kalung Kerang Ajaib, dia hendak menanyakan kepada Longyun mengenai serangan yang sedang dilakukan ayah Longyun.


' Longyun. Longyun. Bisakah kamu mendengar suaraku? '


Gofan mengulangi panggilan suaranya selama beberapa kali, namun belum juga ada tanggapan dari Longyun.


Ketika Longwang sudah menyerang Haiwa beberapa puluh kali, barulah Longyun tersadar dan membalas suara pikiran Gofan. Longyun menceritakan semua yang dilakukan ayahnya saat melihat perbedaan, antara bentuk jiwa Gofan dan tubuhnya.


' Itulah yang terjadi... Ini hanya kesalahpahaman. Mohon maafkan kesalahpahaman ayahku. Jika saja Tablet Dewa Naga ada ditanganmu, mungkin itu bisa mengembalikan darah naga di tubuhmu yang lama ' Ucap Longyun dari dalam Kalung Kerang Ajaib sembari memegang tengkuk lehernya yang masih terasa sakit.


" Paman! Aku tahu dimana Tablet Dewa Naga berada! " Teriak Gofan setelah mendengar penjelasan Longyun.


Longyun terkejut mendengar ucapan Gofan, dia berpikir bahwa hal yang baru diucapkan Gofan hanyalah sebuah akal-akalan agar ayahnya berhenti menyerang.


" Tidak hanya satu bagian. Aku tahu dimana kedua bagian dari Tablet Dewa Naga " Imbuh Gofan sekali lagi.


" Kamu pikir aku anak kemarin sore!. Kami Suku Naga yang sudah hidup ribuan tahun, tidak sekali pun pernah menemukan jejak tablet itu...!! " Sahut Longwang saat dia terus melancarkan serangan cakarnya.


" Kakek Leluhur Lenzhufu sendiri yang memberikan tablet itu kepada ayahku, Raja Gelap, Lenhao! " Ucap Gofan dengan pandangan tegas, menatap tajam ke arah Longwang.


Longwang terkejut mendengar nama 'Lenzhufu'. Setahu Longwang, satu-satunya orang selain Tianyuan, yang berhasil menembus Alam Besar hanyalah Lenzhufu si Pendekar Sembilan Langit.


Longwang menarik serangan cakarnya dan melompat mundur beberapa langkah, sebelum berdiri diam menatap Gofan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2