
Gofan menggelengkan kepalanya pelan. Dia merasa lucu, di saat seperti itu, dia justru mengingat Shiyuxin yang telah dipindahkan Gurunya ke Gurun Kalajengking Hitam dan mengkhawatirkan nasib gadis itu di gurun tersebut.
***
[Gurun Kalajengking Hitam]
Sesaat setelah dipindahkan oleh Vasudev ke Gurun Kalajengking Hitam, Shiyuxin dan Shijie mengumpat keras. Ayah dan anak itu benar-benar merasa dikerjai oleh Gofan dan Guru barunya itu.
“Ayah! Aku ingin pergi ke Pulau Api.” Ucap Shiyuxin saat dia naik ke punggung seekor burung besar berkepala botak.
Shijie baru saja melepaskan Makhluk Buas peliharaannya, seekor burung seukuran lima kali pria dewasa dengan kepala yang tidak berbulu. Makhluk buas peliharaan Shijie itu, sering disebut dengan Gagak Kepala Gundul. Shijie memberinya nama Tutou.
“Kalau pergi bisa saja, tapi kalau kamu ingin mengikuti turnamen, ini mungkin sudah terlambat untuk mendaftarkan diri.” Sahut Shijie usai membantu putrinya naik ke punggung Tutou.
“Tidak perlu. Aku pergi ke Pulau Api bukan untuk mengikuti turnamen bodoh itu. Aku hanya ingin mencari suamiku!.”
“Ucapan si Penyihir Ruang dan Waktu itu ada benarnya... Muridnya itu masih terlalu muda, dia baru berusia 13 tahun... Umur kalian terpaut begitu jauh.” Shijie menepuk pelan leher Tutou setelah dia naik ke punggung burung botak tersebut.
*Kroaak* Burung gagak botak itu terbang melintasi gurun yang panas usai lehernya ditepuk pelan oleh Shijie.
“Ayah.. Aku tidak peduli... Ingat! Jika aku tidak menikah dengannya maka sumpah reinkarnasi Ibu akan jadi sia-sia.”
“Aiya... Kamu ini....” Shijie menghela napas panjang. Dia tidak mampu untuk melanjutkan debat dengan putrinya yang keras kepala itu.
“Aku tidak peduli, mau dia lebih muda atau lebih tua, asal dia bisa memberiku anak, itu cukup!” Tegas Shiyuxin.
Shijie menggelengkan kepalanya pelan saat angin berhembus menerpa wajahnya, “Gila! Mana boleh kamu berkata seperti itu! Kamu harus mendapatkan yang terbaik, bukan bocah 13 tahun seperti itu... Sekalipun kalian menikah, kamu harus menunggu lima tahun lagi sampai dia siap memberimu anak.”
“Bukan masalah... Ibu sudah mengatakan bahwa orang yang memenangkan perjodohan adalah orang yang harus menjadi Ayahnya... Dan dia adalah Gofan!.” Ucap Shiyuxin saat dia memegang erat cadar di wajahnya yang hampir terlepas tertiup angin.
“Baik. Baik. Ayah tahu.. Sekarang kita kembali dulu ke perguruan, setelah itu kita akan menyusul mereka ke Pulau Api.”
“Hihihi... Terima kasih Ayah!.” Tawa centil Shiyuxin mengakhiri perdebatan itu saat dia memeluk punggung Ayahnya yang mendesah pelan karena kalah berdebat dengannya.
*Kroaak*
*Kroaak*
Tutou terus mengepakkan sayapnya. Burung Gagak Kepala Gundul itu terus mengudara mengantarkan Tuannya kembali ke Kota Hantu.
Tutou terbang tinggi melintasi sebuah kapal laut yang tengah berlayar menuju ke Pulau Duyung.
***
[Laut Timur-Kapal Perguruan Tunjung Putih]
“Wah.. Lihat burung itu!!... Burung yang besar sekali.” Ucap kagum seorang murid Perguruan Tunjung Putih di atas kapal laut yang sedang melaju.
Tiga orang murid yang berada di dekatnya menoleh ke atas, ke arah burung besar yang melaju kencang di atas kapal mereka.
“Sepertinya yang mengendarainya bukan orang sembarangan, burung seperti itu susah untuk dikendalikan!.” Sahut murid lainnya.
“Tentu saja.. Hei... Apa kalian tahu?... Perguruan Yin Biru juga punya peliharaan Monster laut yang besarnya dua kali lipat kapal ini. Tapi anehnya, entah kenapa, mereka justru ingin menumpang di kapal perguruan kita ini?”
“Jangan-jangan monsternya itu sudah mati..”
“Atau mungkin, mereka ingin merayu salah satu dari kita... Bukankah murid-murid perempuan mereka cantik-cantik dan selama ini mereka hanya memiliki sedikit murid laki-laki.”
“Haha... Benar.. Pasti karena itu. Aku jadi tidak sabar ingin berkenalan dengan salah satu dari murid Perguruan Yin Biru.”
“Haha.. Pikir-pikirlah dulu... Apa wajahmu itu cukup tampan untuk mendapatkan salah satu dari mereka? Bukankan kamu selalu ditolak adik Fieyun...”
“Hahaha... Hahaha...”
Obrolan para murid itu terus bergulir saat tawa renyah mereka terdengar hingga ke dalam ruang tempat Duan Tianlang sedang duduk berbincang bersama Wuling, Kangkai, Lujiang dan Suezilu.
“Apa ini!? Apa maksudnya ini?.” Teriak Wuling saat kedua tangannya gemetar usai mendengar kata yang diucapkan Duan Tianlang.
__ADS_1
Hampir saja cangkir gelas berisi teh yang dia genggam jatuh ke lantai. Wuling terkejut mendengar berita yang selama ini tidak pernah dia bayangkan.
“Ini benar Wuling, Kamu bukan anak dari keponakanku.. Vasudev menemukanmu di sungai dan menitipkanmu kepadaku. Demi kebaikan dirimu, aku membuatmu menjadi putra keponakanku yang telah meninggal bersama suaminya....” Duan Tianlang menatap khawatir pada Wuling, dia sudah menduga, apa yang dikatakannya akan membuat Wuling terkejut.
Selama lebih dari 20 tahun, Wuling menganggap dirinya sebagai Tuan Muda dari Penatua Perguruan Tunjung Putih. Wuling bahkan menumpas gerombolan bandit yang diduga membunuh kedua orang tuanya yang selama ini dia kira sebagai orang tua kandungnya.
Wuling diam. Mulutnya menganga dan matanya tampak berputar-putar mirip orang cemas. Jantungnya berdetak kencang, dia tidak pernah menyangka, bahwa ada rahasia semacam itu tentang dirinya.
“Vasudev juga tidak tahu siapa orang tuamu, tapi dia menemukan ini, saat menemukanmu di aliran sungai.” Duan Tianlang memberika sebuah token kayu yang bertuliskan kata 'Wu'.
Wuling masih diam. Dia hanya melirik ke arah token kayu yang sudah terlihat lapuk tersebut.
“Situasi sekarang tidak menentu, Tuan Muda Pewaris pergi untuk bekerja sama dengan Lixiayo, kami tidak tahu apa yang akan terjadi nanti di Pulau Api, untuk berjaga-jaga kami harus memberitahumu tentang semua kenyataan ini.” Imbuh Kangkai yang duduk di sebelah Duan Tianlang.
“Apa pun kenyataannya, saat ini, kamu tetaplah Tuan Muda dari Perguruan Tunjung Putih, mengenai orang tua kandungmu, bisa kamu cari tahu nanti.. Kita adalah keluarga.” Ucap Suezilu sembari menepuk pelan pundak Wuling.
Meski tidak terlalu dekat dengan Wuling, namun Suezilu selalu menganggapnya Tuan Muda dari Perguruan Tunjung Putih, bahkan setelah dia tahu mengenai identitas asli Wuling berpuluh tahun sebelumnya.
Mata Wuling nampak merah, bukan karena ingin menangis tapi karena marah karena merasa dibohongi. Seandainya tidak ada kejadian seperti saat ini, mungkin dia tidak akan pernah tahu kenyataan tentang asal-usulnya.
Usai menghela napas panjang, Wuling berdiri, meraih token kayu dan membungkuk pelan sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.
“Wul....”
“Sudah biarkan saja! Biarkan dia menenangkan diri. Dia harus mengatasi ini sendiri.” Sela Duan Tianlang saat Kangkai beranjak bangun hendak menyusul Wuling.
Kangkai mengangguk dan duduk kembali ke tempat duduknya. Dia merasa kasihan dengan nasib Wuling. Bagaimana bisa orang tua kandungnya tega membuangnya ke sungai saat masih sekecil itu, pikir Kangkai.
Suezilu hanya menggeleng pelan saat menyeruput teh yang sudah mulai dingin di dalam cangkir yang ada di genggaman tangannya.
Lujiang, sepanjang pembicaraan itu hanya bisa diam. Dia adalah orang asing yang dibawa Gofan sebagai pelayan, namun ditinggalkan Gofan begitu saja karena kedatangan Shiyuxin. Itu membuat Lujiang tidak bisa berkomentar apa-apa tentang rahasia yang baru saja didengarnya.
Demi janji hitam di atas putih, Lujiang memutuskan untuk mengikuti rombongan Perguruan Tunjung Putih, pergi menemui Gofan di Pulau Api.
Sementara Duan Tianlang, usai percakapan itu hanya menatap jauh ke luar jendela. Dia sedang berpikir apa yang akan terjadi nanti di Turnamen Pulau.
Berkat pemberitahuan dari Mouhuli, Duan Tianlang akhirnya tahu tentang rencana kerja sama Gofan dan Lixiayo.
Dari Mouhuli juga, Duan Tianlang akhirnya menjadi tahu tentang kepergian Gofan ke Rawa Bairawa untuk mendapatkan Mata Ilahi.
Dalam batinnya, Duan Tianlang berharap Gofan akan berhasil mendapatkan Mata Ilahi.
***
[Celah Dimensi di Rawa Bairawa]
Gofan masih khusyuk membaca kitab yang dulu dipelajari Ayahnya itu. Dia terus membolak-balik halaman demi halaman.
“Ini.. Jurus Jejak Kaki Menyapu Angin? Ternyata Ayah juga menyelipkan beberapa jurus-jurus ciptaannya di dalam kitab ini. Bahkan Ayah menuliskannya dengan sangat rinci....”
“Semoga saja Shiyuxin dan Ayahnya belum mempelajari jurus-jurus ini..” Gumam Gofan saat tangan dan kaki bergerak-gerak mengikuti arahan yang tertera di dalam Kitab Raja Awan Hitam.
Kitab Raja Awan Hitam sebenarnya adalah kitab pengolah energi tenaga dalam, Energi Intisari. Kitab itu seharusnya tidak mencantumkan jurus-jurus khusus, hanya teknik budidaya Energi Intisari. Namun ternyata, di dalam kitab itu berisi beberapa jurus yang terkait dengan pengolahan Energi Mental. Bahkan jurus-jurus ciptaan Lenhao sendiri juga disisipkannya di dalam kitab tersebut.
“Baik. Ayo kita mulai!” Gofan yang penuh antusias mengambil posisi duduk bersila.
Kedua tangannya membentuk sebuah segel. Gofan menyerap menyerap Energi Langit dan Bumi yang ada disekitarnya dan merubahnya menjadi untaian Energi Intisari.
Gofan merubah untaian Energi Intisari yang baru diserapnya menjadi Energi Mental. Gofan melatih lagi Ilmu Raja Siluman miliknya yang telah hilang sesaat setelah dia menelan Pil Teratai Racun Pelangi.
Kali ini, dalam pikirannya, Gofan berencana untuk menggunakan Energi Mental dari kekuatan Mata Iblis untuk mempelajari jurus-jurus yang tertera di Kitab Raja Awan Hitam.
Dari tujuh tingkatan Ilmu Raja Siluman, Gofan akhirnya berhasil menembus tingkat pertama, tingkat Saripati Bumi dalam waktu 40 hela napas.
Setelah 200 hela napas kemudian, Gofan berhasil meningkatkan Ilmu Raja Siluman miliknya sampai ke tingkat kedua, tingkat Kesadaran Mental.
Namun setelah mencapai tingkat Kesadaran Mental, Gofan merasa ada dinding tipis yang menghalanginya untuk maju. Darah yang mengalir di tubuhnya seperti melawan, saat dia hendak meningkatkan kekuatan Mata Iblis ke tingkat ketiga, tingkat Mental Murni.
__ADS_1
Gofan menyadari Pil Teratai Racun Pelangi telah menyatu dengan darah di dalam tubuhnya. Saat dia menelan Pil itu, Energi Mental miliknya seketika lenyap dimusnahkan oleh pengaruh Pil Teratai Racun Pelangi yang telah menyuling darahnya. Bahkan secara bertahap, pengaruh Pil Teratai Racun Pelangi meresap ke dalam daging dan tulangnya.
Namun yang tidak Gofan sangka adalah Pil itu akan membuatnya tidak bisa mengolah Ilmu Raja Siluman ke tingkat ketiga dan seterusnya. Ada sebuah penolakan dari tubuhnya saat dia memaksakan untuk meningkatkan kekuatan Mata Iblis ke tingkat Mental Murni.
Gofan terus berusaha melawan penolakan yang terjadi di dalam tubuhnya. Semakin besar kekuatan Mata Iblisnya, semakin kuat penolakan dari tubuhnya.
“Uhk!....” Gofan memuntahkan seteguk darah.
Gofan membuka kedua matanya saat tangannya melepas segel dan memegang dadanya yang kesakitan. Penolakan dari tubuhnya dan pemaksaannya dalam meningkatkan kekuatan Mata Iblis membuat Gofan mengalami cedera organ dalam.
‘Jika bukan karena Ilmu Tubuh Tulang Abadi dan setengah Tubuh Naga Sejati, mungkin aku akan mengalami kelumpuhan... Uhk...’ Batin Gofan saat segumpal darah lain kembali keluar dari mulutnya.
Gofan menatap ke arah darah yang baru saja dia muntahkan. Segumpal darah yang dia muntahkan untuk kedua kalinya tidak berwarna merah, melainkan berwarna hijau kebiruan.
‘Racun? Selama ini ada racun di dalam tubuhku? Siapa yang telah meracuniku?’
Menyadari bahwa gumpalan darah berwarna hijau kebiruan itu adalah racun, Gofan menjadi bertanya-tanya, kapan dan siapa yang telah meracuninya.
Gofan kemudian kembali membentuk segel tangan, kesadarannya masuk menjelajah ke dalam tubuhnya. Gofan mengamati dimana letak racun itu sebelumnya bersembunyi.
‘Otak!? Ini racun pengendali pikiran? Bagaimana bisa?’
Beberapa saat setelah menjelajahi tubuhnya, Gofan mendapati jejak sisa racun itu menempel di bagian otak kecilnya. Racun itu membaur dengan sempurna di setiap jaringan otak Gofan.
Sebagai murid tidak langsung Lenchan, Gofan pernah membaca tentang racun yang menyatu dengan saraf otak. Racun semacam itu disebut sebagai Racun Pengendali Pikiran.
Karena itu, Gofan menyadari, berkat Pil Teratai Racun Pelangi, dia secara tidak langsung telah terbebas dari racun tersembunyi yang selama ini ada di dalam tubuhnya, ada di dalam otaknya.
Satu hal yang menjadi pertanyaan di dalam benak Gofan setelah menemukan semua sisa racun adalah kapan dan siapa yang meracuni dirinya, siapa yang berniat untuk mengendalikan dirinya.
Tidak menemukan jawabannya, Gofan akhirnya hanya bisa menghela napas pelan saat dia kembali membudidayakan Energinya. Kali ini, Gofan berniat untuk membersihkan semua sisa Racun Pengendali Pikiran yang tersisa di otaknya.
Setelah itu, tiga kali lagi, gumpalan darah hijau kebiruan keluar dari mulut Gofan. Semua sisa Racun Pengendali Pikiran telah dia keluarkan.
Merasa lega dirinya kini kebal dari segala jenis racun, Gofan tidak menyesal telah menelan Pil Teratai Racun Pelangi. Meskipun pil itu membuatnya tidak bisa lagi mengolah lebih lanjut Ilmu Raja Siluman.
‘Sayang sekali... Kekuatan Mata Iblis yang sedari awal aku pelajari harus berhenti di tingkat kedua’ Menggelengkan kepala pelan, Gofan memutuskan untuk bangkit berdiri.
Meskipun Energi Mentalnya tidak sekuat sebelumnya. Namun, Gofan merasa itu sudah cukup untuk membantunya mencoba menerapkan jurus Kubah Kegelapan milik Ayahnya.
“Mata Iblis”
Gofan membentuk sebuah segel tangan saat Energi Mentalnya menutupi area sejauh dua sampai tiga langkah di sekitar tubuhnya.
Gofan kemudian menggabungkan kekuatan Mata Iblis miliknya dengan Jurus Awan Gelap yang tertera di dalam Kitab Raja Awan Hitam.
“Awan Gelap”
Penggabungan itu membuat Energi Mental Gofan berubah menjadi asap hitam, yang setelah dia kembangkan lagi berhasil merubah asap itu menjadi semakin padat hingga menjadi sebuah kubah hitam.
“Kubah Kegelapan”
Sebuah kubah berwarna hitam pekat kini menyelubungi tubuh Gofan sejauh dua sampai tiga langkah kaki di sekitarnya.
Penerapan jurus Kubah Kegelapan versi Gofan memang sedikit berbeda dengan versi yang dilakukan Ayahnya. Semua itu dikarenakan mereka mempelajari budidaya Energi Mental yang berbeda.
‘Ini masih kurang besar... Kubah ini belum menjangkau Mata Ilahi’
Usai berpikir demikian, Gofan mengerahkan seluruh Energi Mental miliknya dan mengubahnya menjadi Kubah Kegelapan.
*Blazh* Kubah hitam pekat itu menjadi semakin besar.
Setelah kubah kegelapannya mencakup Mata Ilahi. Gofan berhenti memperbesar ukuran kubah tersebut dan melangkah mengambil Mata Ilahi. Saat Mata Ilahi berada di dalam jangkauan Kubah Kegelapan, Gofan dengan mudah mengambil bola mata bercahaya tersebut.
‘Jika kelak aku bisa terbang... Aku tidak perlu lagi takut jatuh dari ketinggian semacam itu’ Batin Gofan saat dia menggenggam Mata Ilahi yang bercahaya di tangan kanannya.
Bersambung...
__ADS_1