
Xionan terus melayang-layang menelusuri lubang bawah tanah itu, saat dia mencapai ujung lubang yang lain, hari sudah beranjak pagi.
-Ini? Ternyata jalan rahasia ini, menghubungkan dua gua ini-
Ketika keluar dari lubang bawah tanah, Xionan menyadari bahwa dirinya muncul di dalam gua Mouhuli, dia melihat Uroro dan Urori yang masih berada di depan lubang gua.
-Ternyata dugaanku benar, ular itu ada di sini, sepertinya dia sudah mengungsikan sebagian hartanya-
Xionan juga melihat si Ular Sisik Naga yang kini sedang diam melingkar di dekat tumpukan harta berharganya.
Tebakan Xionan benar, bahwa Julala pasti ada di ujung lain dari lubang bawah tanah itu. Hanya saja Xionan tidak menyangka akan ada banyak tumpukan harta yang kini dijaga oleh ular itu.
-Wah...! Banyak juga harta ular ini, ini semua pertemuan beruntung, pantas saja, kebanyakan harta yang tersisa di gua sebelumnya hanya harta bagi orang biasa, ular ini cerdik juga-
Xionan melayang berputar-putar di atas tumpukan harta berharga milik Julala, dia memeriksa dan melihat-lihat harta berharga tersebut dan menyadari bahwa semua harta di dalam tumpukan itu adalah pertemuan beruntung, semuanya adalah harta benda yang berguna bagi seorang pendekar.
Tidak ada yang menyadari kemunculan Xionan, dan apa yang dia lakukan saat ini, karena memang tidak ada yang bisa melihatnya kecuali Gofan.
-Dia punya banyak sekali mutiara jiwa, apa dia merampok sebuah perguruan? Tapi kalau dilihat dari kemampuannya, dia hanya mampu untuk merampok sebuah partai-
Ketika memeriksa tumpukan harta Julala, Xionan menemukan ada banyak mutiara jiwa di tumpukan harta itu. Hal itu membuat Xionan berpikir bahwa Julala mungkin mendapatkannya dengan merampok sebuah partai bela diri.
Mutiara jiwa merupakan mutiara olahan yang dibuat oleh para pendekar setingkat Holy Saint atau Human God, dengan mengumpulkan energi budidaya mereka dan memadatkanya hingga membentuk bola-bola mutiara. Bola-bola mutiara yang mengandung energi budidaya mereka itulah yang dikenal sebagai mutiara jiwa.
Biasanya hanya perguruan bela diri yang memiliki banyak pendekar setingkat Holy Saint atau Human God yang mampu memiliki mutiara jiwa.
Di dunia bela diri, partai bela diri bisa dianggap sebagai anak cabang dari sebuah perguruan bela diri. Sebuah perguruan bela diri biasanya membawahi satu atau lebih partai bela diri, seperti misalnya saat ini, Perguruan Lembah Bunga Kamboja memiliki tiga anak cabang, yaitu Partai Mawar Berduri, Partai YinYang, dan Partai Gunung Angkasa.
Umumnya sebuah partai akan mendapatkan bagian mutiara jiwa dari perguruan induknya. Perguruan akan mendistribusikan mutiara jiwa yang mereka hasilkan kepada partai yang merupakan anak cabang mereka, jumlahnya akan tergantung pada kontribusi partai pada perguruan tersebut.
Hal ini karena sebuah partai sangat jarang memiliki pendekar yang berada di tingkat Holy Saint atau Human God, sehingga mustahil bagi mereka untuk menghasilkan mutiara jiwa tanpa distribusi dari perguruan bela diri mereka.
Xionan lebih cenderung berpikir bahwa Julala merampok sebuah partai bela diri daripada merampok sebuah perguruan bela diri, untuk mendapatkan mutiara jiwa sebanyak itu.
Partai bela diri tidak sebesar dan sekuat sebuah perguruan bela diri, itulah yang membuat Xionan berpikir bahwa dengan kemampuan Julala saat ini, dia hanya mampu merampok sebuah partai bela diri.
-Gadis itu mungkin saja bisa ditolong dengan pil-pil obat yang ada di tumpukan harta ular ini-
Xionan juga melihat berbagai jenis botol obat di dalam tumpukan harta berharga Julala, mungkin saja salah satu dari sekian banyak botol obat itu mampu menyembuhkan Yubing, pikir Xionan.
-Aku harus memberi tahu Fanfan, mungkin dia bisa meminta beberapa pertemuan beruntung milik ular ini -
Setelah puas melihat dan memastikan harta berharga milik Julala, Xionan memutuskan untuk segera menemui Gofan dan memberitahukan segala sesuatu yang baru saja dia alami, termasuk kesempatan hidup Yubing yang kini hanya tersisa enam hari lagi.
Xionan bergegas masuk ke dalam gua menuju ke portal ruang dimensi Mouhuli. Xionan masuk ke dalam dunia dimensi dan segera menuju ke gubuk Gofan di atas puncak bukit.
"Nannan, kamu kembali? Bagaimana dengan Yubing dan yang lain ?"
Saat Gofan tengah melatih jurus seribu cakar bayangan, tiba-tiba Xionan muncul melayang di hadapannya.
"Kamu ini... Bukannya menanyakan kabarku malah langsung menanyakan gadis itu, beri dulu sisa mutiara jiwa yang kamu simpan !"
Xionan sedikit merajuk ketika dia tiba, Gofan tidak memperhatikan keadaannya, yang kini semakin transparan.
Xionan meminta mutiara jiwa untuk menambah masa hidupnya yang sebelumnya banyak berkurang karena penggunaan cahaya panah jiwa.
"Maaf... Maafkan aku, aku hanya tidak sabar, ingin tahu tentang keadaan mereka... Ini... Ini sisa mutiara jiwanya"
Gofan merogoh kantong ruang miliknya, yang khusus menyimpan keperluan seorang pendekar, dan mengeluarkan delapan mutiara jiwa dari dalam kantong itu.
"Kenapa yang biru lagi? Tidak ada yang berwarna kuning? "
Xionan menerima delapan mutiara jiwa yang berwarna biru, seperti yang sebelumnya dia terima dari Gofan.
Mutiara jiwa berwarna biru adalah mutiara jiwa yang dihasilkan oleh para pendekar yang berada di tingkat Holy Saint.
Sementara yang berwarna kuning adalah mutiara jiwa yang dihasilkan oleh para pendekar di tingkat budidaya Human God.
Tentu saja mutiara jiwa yang diolah oleh para pendekar di tingkat Human God memiliki kualitas lebih tinggi daripada yang diolah oleh para pendekar Holy Saint.
"Tidak ada lagi, semua yang aku miliki, hanya yang berwarna biru, tidak ada yang berwarna kuning"
__ADS_1
Sahut Gofan, dia sudah tahu perbedaan antara dua warna dari mutiara jiwa berkat Kitab Kompilasi Bela diri yang dibacanya.
Xionan mengernyitkan alisnya mendengar jawaban Gofan, lalu dia melakukan sebuah gerakan segel tangan dan mutiara-mutiara jiwa itu berubah menjadi cahaya kebiruan dan menyatu dengan tubuh Xionan.
Kini tubuh Xionan menjadi jelas kembali, usia hidupnya bertambah lagi,
-Bertambah 16 hari lagi, dengan begini aku punya sisa waktu 32 hari lagi-
"Fanfan, sudah berapa hari kamu di sini ?"
Xionan yang mengetahui adanya perbedaan waktu antara dunia luar dan dunia dalam dimensi, ingin memastikan berapa besar selisih waktu yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa kamu menanyakan itu? Ini hari ke-23, aku berpikir apa yang menimpamu dan Yubing hingga kau pergi selama itu, ceritakan, bagaimana kondisi mereka ?"
Gofan masih penasaran, dengan apa yang terjadi, selama 23 hari ini, selain berlatih terkadang dia akan memikirkan keadaan Xionan, Yubing, dan yang lain, apalagi sebelum memasuki dunia dimensi, dia masih mengkhawatirkan Yubing dan kelompoknya yang mungkin akan bertemu dengan Julala.
"23 hari!? "
Xionan terkejut, dengan apa yang didengarnya dari Gofan.
-Aku hanya pergi selama dua setengah harian, ini berarti selisihnya adalah satu banding sepuluh, satu hari di dunia luar sama dengan sepuluh hari di dunia dimensi ini,-
Xionan kini telah jelas mengenai perbandingan perbedaan waktu antara di dunia luar dan di dunia dalam dimensi milik Mouhuli itu.
"Iya 23 hari, Kenapa harus terkejut seperti itu? Apakah ada masalah ?"
Gofan bertanya kepada Xionan yang mendadak tampak terkejut setelah mengetahui bahwa hari itu adalah hari ke-23.
"Ini... Begini, ada perbedaan waktu antara di luar dan di dalam dunia ini, sehari di dunia luar adalah sepuluh hari di dunia ini, itu yang membuatku terkejut"
Sahut Xionan menjelaskan tentang perbedaan waktu yang sudah dia ketahui.
Gofan sedikit terkejut, tetapi kemudian dia tersenyum kecil,
"Benarkah? jika benar begitu, ini adalah hal yang bagus, setahun berlatih di sini berarti hanya sebulanan di dunia luar, ini benar-benar menghemat waktuku"
"Itu benar, tapi jika kamu menghabiskan waktu setahun di sini, aku sudah musnah terlebih dahulu dan Yubing mu itu pastinya sudah mati ketika kamu keluar dari dimensi ini"
Xionan melayang membalikkan badannya, memunggungi Gofan dan menjawab dengan ketus kegembiraan Gofan.
"Tapi, Apa maksudmu dengan Yubing pasti sudah mati?"
Tanya Gofan, dia beranjak dan bergerak ke arah depan, sehingga kini dia bertatapan kembali dengan Xionan.
"Yubing terkena racun, dia dan kelompoknya di serang oleh sekelompok bandit. Saat ini Yubing hanya menelan pil penunda racun, yang memberinya kesempatan hidup enam hari lagi"
Jawab Xionan sambil menatap ekspresi wajah Gofan yang tiba-tiba tampak terkejut. Kemudian Xionan melihat Gofan menunduk dan duduk ke tanah, seperti kaki-kakinya mendadak lemas.
"Fanfan kamu kenapa? gadis pujaanmu itu saat ini masih hidup"
Kata Xionan sambil melayang mendekat ke tempat Gofan yang tiba-tiba duduk lemas dan terdiam.
"Nannan, Apakah yang menyerang mereka adalah Bandit Serigala Biru ?"
Gofan bukannya menjawab, tetapi bertanya balik untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Benar, itu nama kelompok bandit itu, bagaimana kamu tahu ?"
Tanya Xionan, saat Gofan mengangguk pelan, mendengar jawabannya.
"Akulah yang menyebabkan Yubing harus di kejar balas dendam dari kelompok bandit itu, kira-kira sebulan sebelum ini, aku adalah tahanan para bandit bersama Jangbi, dan yang lain...."
Gofan menceritakan awal mula pertemuannya dengan Yubing di Gurun Kalajengking Hitam, yang menolong membebaskannya dan yang lain dari para bandit.
"....Yubing akhirnya berhasil membunuh Kapten ke-13 dari kelompok bandit itu, jadi karena itu sekarang Yubing menjadi sasaran balas dendam mereka"
Imbuh Gofan melanjutkan ceritanya, kini Gofan tampak kecewa dengan dirinya yang sudah membuat Yubing harus menderita serangan racun karena balas dendam para bandit.
Xionan akhirnya tahu bagaimana Gofan bisa bertemu dan bergaul dengan pendekar muda seperti Yubing, tetapi Xionan hanya diam mendengarkan cerita Gofan itu.
Gofan ingin membantu Yubing menyembuhkan dirinya, sehingga Gofan menanyakan detail racun yang kini menggerogoti tubuh Yubing,
__ADS_1
"Nannan, racun apa yang diderita Yubing saat ini ? Bisakah kamu ceritakan lebih rinci tentang racun-racun itu"
Xionan memikirkan kembali percakapan Yubing dan Mogui, mengenai racun yang diderita Yubing, lalu menjawab pertanyaan Gofan,
"Setahuku gadis mu itu terkena serangan tapak beracun, kalau tidak salah nama jurusnya itu 'Telapak Lima Racun', ada lima jenis racun di dalam serangan itu, tapi apa saja racunnya, aku tidak mendengar mereka membahasnya, jadi aku tidak tahu"
Mendengar jawaban Xionan, Gofan sedikit terkejut, bukan hanya satu jenis racun tetapi ada lima jenis racun yang diderita Yubing. Gofan meraih kantong ruangnya dan berusaha mencari sesuatu.
Gofan mengeluarkan Kitab Kompilasi Bela diri dan mulai mencari tahu mengenai jurus tapak beracun itu. Selama beberapa saat, Gofan membolak-balik halaman kitab itu.
Gofan menemukan bahwa racun yang ada di dalam serangan itu adalah gabungan dari lima racun makhluk buas, yaitu bisa dari Ular Hijau Bertanduk, racun dari ekor Kalajengking Hitam, racun dari Katak Pengerat, bisa dari Kelabang Mata Seribu, dan racun dari Ulat Mayat.
-Ini?!, racun-racun ini, aku tahu obat penawarnya, semua tercantum dalam Kitab 100 Kehidupan yang diberikan paman Chan, untung aku masih mengingat semua isi kitab itu, aku harus segera membuat obat pemawarnya untuk Yubing-
Kini setelah mengetahui obat penawar untuk racun yang diderita Yubing, ekspresi Gofan berubah sedikit bersemangat. Gofan menyimpan kembali Kitab Kompilasi Bela diri dan beranjak bangun untuk melanjutkan kembali latihannya.
"Fanfan, kamu sudah baikan? Kamu tampak sedikit lebih bersemangat, Ada apa? Kamu menemukan sesuatu di kitab itu ?"
Xionan melayang mengikuti Gofan yang kini memasang kuda-kuda bersiap untuk melakukan serangan seribu cakar bayangan pada sebatang pohon di hadapannya.
"Lima racun itu, Aku sudah tahu obat penawarnya, besok akan ku buat obat itu untuk menyembuhkan Yubing"
Jawab Gofan sambil mengedarkan tenaga dalamnya pada kedua tangannya yang jari-jarinya melengkung membentuk cakar.
"Benarkah? Jika benar demikian, gadis itu akan bisa terselamatkan, Syukurlah"
Xionan melayang sedikit menjauh dari Gofan ketika merasakan aliran tenaga dalam yang sangat padat dan murni sedang bergejolak di tubuh Gofan.
Gofan mengangguk tanpa menatap ke arah Xionan, lalu dia menyerang ke arah depan dengan serangan jurusnya,
"Seribu Cakar Bayangan"
*Crash Crash*
*Duaarr*
*Kretaktak*
*Gedebug*
Kini serangan cakar Gofan sudah jauh lebih cepat, serangannya bisa menghasilkan ratusan serangan cakar bayangan. Hal ini membuat, tidak hanya satu pohon yang tumbang, melainkan empat batang pohon tumbang berjejer sekaligus.
Gofan melanjutkan menggunakan kekuatan mata iblis untuk memotong batang-batang pohon itu menjadi potongan-potongan kayu kecil seukuran kayu bakar. Kemudian dia mengumpulkan dan merapikan potongan-potongan kayu itu.
"Hihihi... Hebat, baru dua hari aku tidak melihatmu, kamu sudah menjadi seorang pendekar, tenaga dalammu juga murni, sangat bagus Hihihi"
Xionan yang baru saja melihat aksi Gofan, kini menyadari bahwa Gofan sudah berhasil mencapai ranah Body Binding tahap awal.
Tetapi itu bukan sembarang Body Binding biasa, dari serangan Gofan itu, Xionan mengetahui bahwa tenaga dalam Gofan sangat padat dan murni.
Bisa dibilang Gofan lebih tangguh daripada pendekar yang sama tingkatannya dengan dia, bahkan mungkin Gofan bisa mengalahkan pendekar di ranah Body Binding tahap akhir, yang dua tahap lebih tinggi dari tingkatan budidayanya saat ini.
"Terima kasih, aku juga merasakan perbedaan kepadatan dan kemurnian energiku, mungkin ini karena aku mengolah Kitab Surga Sembilan Langit"
Gofan mengiyakan pendapat Xionan, tetapi dia tidak menceritakan mengenai perubahan yang terjadi dalam energi budidayanya akibat energi dari batu reinkarnasi.
"Benar, itu mungkin karena kitab itu, dulu pada masa ku, ada pendekar yang juga membudidayakan kitab itu dan energi budidayanya juga padat dan murni, entah bagaimana kitab itu bisa berakhir di tangan ayahmu"
Xionan mengingat kembali, dulu pada masanya, ada seorang pendekar yang sangat kuat karena mengolah budidaya energi dengan Kitab Surga Sembilan Langit, pendekar itu sangat terkenal, kekuatannya bahkan mampu untuk meratakan beberapa perguruan bela diri.
"Aku juga pernah mendengarnya dari cerita ayahku, ayahku mengenal pendekar itu dengan baik, mungkin karena itu kitab ini jatuh ke tangannya, dulu ayahku menyebut pendekar itu dengan sebutan Pendekar Sembilan Langit,"
Sahut Gofan, sambil mengingat kembali masa-masa ketika ayahnya mengajarinya dasar-dasar ilmu dalam Kitab Surga Sembilan Langit.
"Jadi, karena kamu juga mengolah budidaya energi dengan Kitab Surga Sembilan Langit, haruskah aku menyebutmu Gofan si Pendekar Sembilan Langit ?"
Xionan tersenyum tipis, dia tampak sedikit berharap, dia berharap kelak Gofan akan menjadi sekuat pendekar yang pernah diketahuinya itu.
"Pendekar Sembilan Langit ?... Sekarang aku masih jauh dari itu, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mencapainya, menjadi Pendekar Sembilan Langit yang menembus ke alam besar, menjadi dewa dan abadi"
Mendengar apa yang dikatakan Xionan, Gofan menjadi bertekad untuk menjadi semakin kuat.
__ADS_1
Tatapan mata Gofan kini penuh semangat berapi-api, tujuannya menjadi semakin jelas, menjadi Pendekar Sembilan Langit, menembus sembilan langit dan mencapai alam besar, menjadi dewa, menjadi abadi.
Bersambung...