Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 102. Masa Lalu Lenfan bg. 2


__ADS_3


Lenfan masuk ke dalam Kedai milik Kongchu tersebut.


Di dalam Kedai, Lenfan melihat Kongchu berbicara dengan Guzhimei, yang saat itu masih berusia 14 tahun.


Tidak lama setelah itu, Guzhimei menghampiri Lenfan yang berdiri di sudut kiri pintu masuk Kedai Kongchu.


" Ayo.. Ikut aku. Paman Kongchu menyuruhku mengantarmu untuk berbenah dan membasuh diri... "


" Oh ya.. Namaku Guzhimei, sepertinya kita seumuran, aku sekarang ini baru 14 tahun "


" Siapa namamu? "


" Dari mana asalmu? "


Guzhimei terus membanjiri Lenfan dengan banyak pertanyaan. Lenfan menjawab semua pertanyaan Guzhimei, termasuk memberi tahu Guzhimei siapa namanya. Tapi entah disengaja atau tidak, Guzhimei justru memanggilnya dengan nama Cenfan.


Saat itu Lenfan menganggap Guzhimei hanya salah dengar tapi hingga mereka berpisah bertahun-tahun kemudian Lenfan selalu dikenal sebagi Cenfan oleh Guzhimei, Kongchu, serta semua orang yang mengenalnya di Ibu Kota.


" Ini kamarmu. Paman Kongchu bilang kamu bisa tidur sementara di sini. Setelah kamu mendapat gaji pertama, kamu harus mencari rumah sendiri " Tunjuk Guzhimei ke arah sebuah ruangan yang kurang lebih adalah sebuah gudang.


Sebuah tikar tipis ada di antara tumpukan barang yang sedemikian banyaknya.


" Tidak perlu khawatir. Paman Kongchu bukannya tidak ingin memberimu kamar yang layak. Tapi di Kedai ini hanya ada satu kamar dan itu sudah aku pakai... "


" Paman Kongchu tidak tinggal di sini, dia tinggal bersama anak dan istrinya di distrik barat " Ucap Guzhimei ketika melihat Lenfan mengerutkan alis melihat kamar yang diberikan padanya.


Lenfan sebenarnya tidak kecewa atau mengeluh, dia hanya terlalu lelah jika harus membereskan tumpukan barang itu agar memiliki sedikit ruang untuk dirinya.


" Ini pakaianmu. Gantilah dengan ini dan beristirahatlah. Besok pagi-pagi kamu sudah harus bersiap kerja. Aku pergi ya.. "


" Kalau ada yang ingin kamu tanyakan, cari saja ke depan " Ucap Guzhimei pergi untuk kembali bekerja.


Gudang tempat tidur Lenfan itu terletak di bagian belakang Kedai. Kedai Kongchu itu terletak di distrik utara Kota Langit Cahaya. Kota Langit Cahaya dibagi menjadi enam distrik, yaitu distrik timur, distrik selatan, distrik barat, distrik utara, distrik tengah, dan distrik khusus.


Keesokan harinya...


" Cenfan. Beginilah pekerjaan kita, lebih banyak diamnya daripada melayani pengunjung " Keluh Guzhimei setelah hampir setengah hari duduk berdiri menunggu pelanggan.


" Apa setiap hari selalu seperti ini? " Tanya Lenfan.


Lenfan tidak protes dengan nama panggilan itu, lagi pula itu juga baik baginya. Dengan demikian tidak akan ada yang tahu bahwa dirinya adalah keturunan trah Len yang selamat.


" Iya. Selalu seperti ini. Dulu ada koki hebat yang bekerja untuk Paman, tapi karena masalah gaji, koki itu pindah bekerja ke Restoran Lumbung Parta " Sahut Guzhimei.

__ADS_1


" Lalu siapa yang memasak makanan selama ini? " Tanya Lenfan.


" Aku yang memasak " Tiba-tiba Kongchu muncul menyela pembicaraan keduanya.


" Jangan karena kedai kita sepi lalu kalian bisa bersantai.. Sana keluar coba ajak pelanggan untuk makan kemari " Kongchu menggelengkan kepalanya, sudah beberapa bulan, Kedainya hanya dihampiri satu atau dua orang.


Lenfan dan Guzhimei keluar Kedai dan berusaha membujuk orang-orang yang melintas untuk mampir dan makan di Kedai mereka. Namun hingga malam tiba tidak satu pun orang yang sudi mampir sekejap ke Kedai tersebut.


Hari seperti itu terus berulang hingga beberapa minggu. Karena keadaan Kedai yang begitu sepi tersebut, Kongchu kerap kali ditertawai oleh Cangren. Cangren menghina Kongchu karena mengambil pegawai baru namun tidak bisa mendapatkan pembeli. Kedainya tetap sepi meski dia sudah merekrut Lenfan sebagai pegawai.


" Paman. Maafkan aku, aku tidak banyak membantu. Aku bahkan membuatmu dihina orang jahat itu " Ucap Lenfan kepada Kongchu ketika mereka duduk bertiga di depan Kedai menatap langit malam.


" Apa yang kamu katakan. Jangan hiraukan anjing menggonggong. Aku baik-baik saja, kita baik-baik saja, hanya saja kita kurang usaha.. "


" Saat ini, Pengunjung banyak yang lebih suka minum arak berkualitas daripada arak yang kita punya. Coba saja, kita punya arak berkualitas dengan harga murah, Paman yakin mereka akan berdatangan satu demi satu " Ucap Kongchu.


" Tapi arak buatan Paman juga enak " Sahut Guzhimei.


" Loh... Kenapa kamu bisa tahu? " Kongchu dan Lenfan menoleh ke arah Guzhimei.


" Jangan-jangan selama ini, arak yang Paman suruh buang karena tidak laku itu, kamu minum? " Tanya Kongchu dengan tatapan sedikit melotot ke arah Guzhimei.


Guzhimei tertawa kecil dan mengangguk, membenarkan bahwa selama ini saat dia disuruh Kongchu membuang arak yang tidak laku itu, dia mencicipi dan meminumnya beberapa kali.


' Arak? Apa arak trah Gu itu bisa laku jika kami menjualnya di sini? ' Batin Lenfan seusai tertawa.


Saat masih menumpang di kediaman trah Gu, Lenfan sering diperintah untuk membeli beberapa bahan baku pembuatan arak. Katanya arak buatan trah Gu itu, sangat enak, benar-benar memabukkan.


Lenfan tentu tidak tahu rasanya, dia hanya mendengar bahwa arak itu sungguh enak. Karena sering diberi tugas membeli bahan baku pembuat arak, Lenfan hafal apa saja bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat arak milik trah Gu tersebut.


" Paman. Aku punya resep untuk membuat arak yang enak. Tapi aku hanya punya resep, aku tidak tahu cara membuat dan juga tidak tahu rasanya " Ucap Lenfan setelah mengingat kembali semua bahan-bahan untuk membuat arak tersebut.


" Benarkah? " Tanya Kongchu yang dibalas dengan anggukan oleh Lenfan.


Jadilah akhirnya Lenfan menuliskan resep bahan baku pembuatan arak trah Gu. Dengan kemampuan Kongchu membuat arak, dia memadukan resep pemberian Lenfan dengan resep yang dia miliki.


Setelah beberapa kali kegagalan, akhirnya Kongchu berhasil mendapatkan rasa yang luar biasa. Kongchu berhasil membuat arak berkualitas dengan harga murah.


Kongchu tertawa bahagia di hadapan Lenfan dan Guzhimei saat dia berhasil, " Cenfan. Ini semua berkat resep pemberianmu... "


" Aku akan menamai arak ini sebagai Arak Cenchu, bagaimana menurutmu? " Tanya Kongchu dengan senyum merekah.


Lenfan setuju dengan nama itu. Dari apa yang dilakukan Kongchu, Lenfan mendapat pengetahuan pembuatan arak.


Awalnya Arak Cenchu dibagikan secara gratis pada para pendekar yang melintas di sekitar Kedai mereka. Lama kelamaan berita kelezatan Arak Cenchu akhirnya mendatangkan banyak pendekar dan penduduk sekitar. Penjualan pun meningkat. Kedai Kongchu ramai kembali.

__ADS_1


Melihat hal tersebut, Cangren sedikit menyesal pernah menolak Lenfan sebagai pegawai baru. Di mata Cangren saat itu, Lenfan hanyalah seorang gembel tidak berguna.


Cangren ingin bekerja sama dengan Kongchu dan bersedia membeli Arak Cenchu dengan harga mahal untuk dijual di penginapannya. Tentu saja Kongchu menolak.


Kongchu justru menjual Arak Cenchu kepada Penginapan Bintang Utara, sehingga banyak yang beralih menginap di penginapan tersebut.


Penginapan Bintang Utara menuai sukses besar berkat Arak Cenchu. Berkat hal itu, penginapan tersebut membuka cabang di setiap distrik di Kota Langit Cahaya.


" Paman. Kenapa Paman membiarkan Penginapan Bintang Utara ikut menjual Arak Cenchu? " Tanya Lenfan.


" Tentu akan aku biarkan. Penginapan itu milik istriku " Bisik Kongchu pelan kepada Lenfan.


Mendengar jawaban itu, Lenfan menyadari bahwa selama ini, Kongchu bisa bertahan tanpa pengunjung berkat pinjaman modal dari istrinya yang juga seorang pengusaha.


" Nak. Kamu tahu kenapa saat itu aku menanyakan mengenai harga diri? " Ucap Kongchu.


Lenfan menggeleng-geleng tidak mengerti.


" Itu karena aku ingin memberitahumu bahwa kamu mampu dan tidak perlu mengemis pada orang seperti Cangren. Sekarang semua itu terbukti bukan?.. "


" Semua kemajuan ini, berkat dirimu. Berkat kerja keras dan usahamu " Ucap Kongchu sembari menepuk pundak Lenfan.


Ucapan Kongchu menyadarkan Lenfan. Semenjak saat itu Lenfan memiliki kembali kepercayaan dirinya, ucapan Kongchu membuat Lenfan tersadar, bahwa meski kini dia sebatang kara, dia tidak boleh patah semangat.


Di lain pihak, karena kalah persaingan dengan Penginapan Bintang Utara, penginapan Cangren gulung tikar. Cangren menjual penginapannya pada seorang wanita bernama Ziyishi.


Ziyishi inilah yang akhirnya dikenal dengan Nyonya Bunga Indah, pemilik Paviliun Bunga Indah, rumah pelacuran nomor satu di Ibu Kota Kerajaan Penda.


Ziyishi juga meminta kerja sama dengan Kongchu untuk menjual Arak Cenchu di Paviliun Bunga Indah. Kongchu setuju, hanya saja dengan harga sepuluh kali lipat lebih mahal.


Lenfan tidak tahu, apa alasan Kongchu menjual semahal itu kepada Ziyishi. Belakangan, setelah Lenfan memiliki rumah sendiri, sebuah gubuk kecil yang dia buat sendiri, barulah Lenfan mengetahui alasannya.


Secara tidak sengaja, ketika hendak pulang ke gubuknya usai bekerja. Lenfan melihat Cangren ternyata ada dan bekerja di Paviliun Bunga Indah, namun dia menyembunyikan dirinya. Selain itu, ada rumor mengatakan bahwa Kelompok Bandit yang terkenal menjadi pemasok gadis-gadis muda untuk bekerja di Paviliun milik Ziyishi tersebut.


Itulah alasan Kongchu menjual mahal kepada Ziyishi. Selain karena Kongchu tidak berani menolak akibat ada Kelompok Bandit yang berada di belakang Ziyishi.


Meski ada rumor buruk semacam itu, tidak ada yang berani mengusik Paviliun tersebut. Semua petinggi Kerajaan Penda dan para Bangsawan memalingkan wajah dari kasus penjualan dan pelelangan gadis yang dilakukan di Paviliun tersebut.


Lenfan yang saat itu hanyalah orang biasa tidak bisa berbuat banyak, dia hanya merasa iba saat mendengar rumor tersebut.


Waktu berlalu dan tidak terasa Lenfan sudah bekerja selama tujuh bulan lebih di Kedai Kongchu, kehidupan Lenfan berjalan normal dan biasa saja.


Tapi suatu hari, ketika dia pulang bekerja dan tiba di gubuk kecilnya. Kehidupan normal Lenfan mulai berubah. Seorang gadis setengah telanjang bersembunyi di sudut kamar gubuk miliknya tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2