Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 30. Sebagian Lain Peta Pulau Api


__ADS_3

_Di luar Dunia Dimensi - Gua Mouhuli_


Xionan melayang keluar dari portal dunia dimensi, dia mendapati keadaan masih siang, bahkan Urori masih belum sampai di ujung luar gua setelah mengantar Gofan memasuki dunia dimensi itu,


-Memang ada perubahan waktu, tapi aku tidak menyangka, perbedaannya sejauh ini, di dalam sudah malam, tapi di sini hanya berlalu beberapa hela napas-


Xionan melayang keluar gua, menuju ke arah barat, dia terbang cukup cepat, tanpa terasa dia sudah menyusul Yubing dan Nian,


-Apa yang mereka lakukan? Eh... Kenapa Jangbi itu bisa ada di sana?-


Saat Xionan menyusul Yubing dan Nian, dia menemukan mereka berhenti di depan sebuah rumpun bambu, dan membantu Jangbi yang berada di antara rumpun batang bambu itu keluar dari dalam rumpun batang bambu.


"Saudara Jangbi, Kenapa kamu bisa ada di sana? dan Kemana yang lain?"


Yubing bertanya pada Jangbi, ketika dia melewati area itu, dia dan Nian mendengar suara Jangbi yang meminta tolong dari dalam rumpun batang bambu. Yubing dan Nian, menolong Jangbi keluar, Jangbi tampak menahan gatal karena batang pohon bambu itu.


"Terima kasih nona Yubing, nona Nian, aku tidak tahu kenapa aku bisa ada di dalam rumpun bambu itu, dan aku juga tidak tahu kemana yang lain, sebelum ini aku pingsan,....nona, jika masih, bisakah aku minta sebutir pil putih ?"


Jangbi menjawab sebagaimana adanya.


Jangbi memang tidak sadarkan diri dan tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya. Jangbi yang merasa lemas dan gatal, berusaha bertahan, dia ingat, pil putih yang sebelumnya dia miliki pasti bisa membantunya pulih. Yubing dan Nian mengangguk mendengar ucapan terima kasih dari Jangbi.


"Oh benar,....Ini, masih ada tiga butir lagi di dalamnya, terimalah, lagi pula dari awal itu memang milikmu"


Yubing mengeluarkan sebuah botol obat dari kantungnya dan memberikannya pada Jangbi, botol obat itu adalah botol obat yang berisi pil putih yang sebelumnya diberikan Jangbi kepada Yubing untuk menolong Goli-Gofan-.


*Duuaarr*


Sebuah ledakan terdengar, dari arah barat, beberapa ratus langkah dari tempat Yubing, Nian, Jangbi dan Xionan berada,


"Senior, sepertinya ada pertarungan di barat sana, apa mereka sudah menemukan gua itu ?"


Nian yang terkejut mendengar ledakan itu, berpendapat bahwa ledakan itu terjadi karena Yanse dan kelompoknya berhasil menemukan gua pertemuan beruntung itu.


"Mungkin saja, tapi kita harus memastikannya dulu... saudara Jangbi, apa kamu akan ikut kami ke barat ?"


Yubing melihat kondisi Jangbi yang telah membaik setelah menelan dua butir pil putih, dia menawari Jangbi untuk ikut ke barat, sebab dia dan Nian ingin segera tiba di tempat Yanse dan kelompoknya, untuk memastikan ledakan yang sebelumnya di dengar mereka.


"Maaf nona Yubing, sepertinya aku akan kembali saja, tapi aku takut keluar sendiri dari hutan ini..."


Jangbi ketakutan setelah mendengar suara ledakan. Jangbi berpikir hal yang tidak baik pasti terjadi di sana, jadi dia menolak ajakan Yubing, hanya saja dia juga tidak berani keluar sendiri dari Hutan Bambu Kemarau itu, dia masih trauma dengan serangan dari anak Beruang Bambu.


"Kamu ini... Kalau takut, kenapa tidak ikut saja, sudahlah, ini, bawa ini, kamu pasti aman sampai di luar, dan tenang saja, tidak akan ada Beruang Bambu yang menyerangmu, mereka teman-teman Gofan, asal kamu tetap waspada pada yang kecil, kamu pasti bisa keluar dengan aman !"


Nian sedikit kesal mendengar jawaban Jangbi, dia memberikan sebuah pedang biasa kepada Jangbi, dan mengatakan bahwa dia akan aman dengan membawa pedang itu.


"Tapi... nona Nian, aku tidak bisa menggunakan pedang, baga..."


Kata Jangbi, terhenti ketika tiba-tiba Nian menyela perkataannya.


"Sudah bawa saja, kamu cukup menghindari yang kecil, kamu pasti aman sampai di luar"


Nian menyela perkataan Jangbi, yang hendak mengatakan untuk meminta salah satu dari mereka agar mau menemaninya keluar hutan.

__ADS_1


Nian sekali lagi menegaskan bahwa Jangbi akan selamat sampai di luar hutan sebab para Beruang Bambu tidak akan menyerangnya, karena mereka adalah teman-teman Gofan, tetapi Jangbi tetap harus menghindari anak-anak Beruang Bambu.


Jangbi tidak tahu lagi harus berkata apa, dia melihat ke arah Yubing, tapi Yubing tampak sudah tidak sabar ingin pergi ke barat, sementara Nian jelas-jelas sudah menolaknya. Jangbi hanya bisa menggenggam pedang di tangan kanannya, dan mengangguk kecil mendengar kata-kata Nian.


"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa saudara Jangbi, aku harap kamu berhasil dengan aman keluar dari hutan ini, kami pergi... !"


*Zyuut*


*Zyuut*


Usai berpamitan dengan Jangbi, Yubing segera melesat berlari ke arah barat dan Nian menyusul di belakangnya.


-Hihihi, kasian sekali, bahkan dia kehilangan satu telapak tangannya karena peta pulau api Hihihi-


Xionan masih melayang-layang di sebelah Jangbi yang kini bersiap untuk pergi keluar dari hutan, dia menertawai Jangbi ketika mengingat Jangbi yang tidak berhasil mendapatkan sebagian peta jalur pertemuan beruntung di Pulau Api, tapi justru karena tindakan Jangbi itu, membuat Gofan yang mendapatkan banyak keuntungan.


"Sialan, Aku rugi besar, bahkan telapak tanganku sampai harus buntung seperti ini, jika saja aku tidak perlu sebagian peta lain, aku tidak akan mengalami ini, sekarang, apa gunanya aku mengingat isi sebagian peta lainnya ? Percuma... Sial !!"


Jangbi berkeluh kesah tentang kesialan yang dideritanya karena mencari sebagian peta Pulau Api, dia merasa percuma memiliki ingatan tentang isi sebagian peta lainnya. Kata-katanya cukup keras, sehingga terdengar oleh Xionan yang melayang perlahan ke arah barat.


"Dia mengingat isi sebagian lain dari peta pulau api ?!"


Xionan berhenti, dia sedikit terkejut mendengar kata-kata Jangbi. Xionan jelas mendengar Jangbi mengatakan dia menginngat isi sebagian peta Pulau Api lainnya. Xionan berbalik dan melayang mendekati Jangbi yang melangkah pergi ke arah yang berlawanan dengannya.


-Aku harus memastikannya..-


Xionan melakukan gerakan segel tangan, lalu tubuhnya berubah menjadi cahaya putih dan melesat masuk ke tubuh Jangbi, Xionan merasuki Jangbi.


Tubuh Jangbi sempat terlihat seperti kejang sesaat setelah Xionan mengambil alih tubuhnya, tubuh Jangbi kini terdiam kaku dengan mata yang tertutup, seperti orang yang sedang tidur dengan posisi berdiri.


Xionan yang berada di dalam tubuh Jangbi masuk ke dalam alam bawah sadar Jangbi untuk mencari tahu tentang isi sebagian lain dari peta jalur pertemuan beruntung di Pulau Api.


-Aku harus membuat ilusi, agar jiwanya mau mengatakan semua tentang peta itu-


Xionan tidak bisa mencari satu demi satu dari ingatan Jangbi di dalam alam bawah sadarnya.


Xionan memutuskan membuat sebuah ilusi yang akan membuat Jangbi seperti sedang bermimpi dan membuat jiwanya mengatakan semua tentang ingatan peta yang dia miliki.


Di dalam ilusi buatan Xionan, Jangbi sedang berjalan keluar dari Hutan Bambu Kemarau, tiba-tiba di tengah perjalanan, Jangbi menemukan sebagian peta yang sebelumnya dia jatuhkan karena serangan anak Beruang Bambu, Jangbi terlihat gembira, dia kemudian bergegas keluar dari hutan. Jangbi berhasil keluar hutan dengan selamat dan pergi menuju ke kediamannya di Kota Angin Putih.


Setibanya di kediamannya, Jangbi mulai mempersiapkan perjalanan menuju ke Pulau Api, dia merekrut banyak pendekar bayaran. Di dalam ruang pribadinya, Jangbi menggambarkan secara rinci bagian dari peta yang ada dalam ingatannya ke dalam sebuah kertas.


Seusai melihat jiwa Jangbi menggambar secara rinci bagian peta lainnya, Xionan mengingat gambaran itu, lalu dia membentuk segel tangan dan melesat keluar dari tubuh Jangbi.


Seketika itu, ilusi yang dialami jiwa Jangbi langsung hancur dan membuatnya tersentak sadar, dia membuka matanya dan mendapati dirinya masih berada di Hutan Bambu Kemarau,


"Apa yang terjadi? Bukannya aku sudah di rumah? Kenapa ini? Apa tadi aku bermimpi ?"


Jangbi merasa bingung dengan apa yang terjadi, dia menampar pipinya dan mendapati bahwa dia memang benar masih berada di dalam Hutan Bambu Kemarau.


Jangbi bingung, dia diam selama beberapa hela napas, kemudian dia mengabaikan semua yang terjadi sebelumnya, dia memutuskan menganggap itu semua mimpi di siang bolong yang anehnya dia bermimpi sambil berdiri.


"Sudahlah... Aku harus keluar dulu dari hutan terkutuk ini"

__ADS_1


Kata Jangbi ketika dia melanjutkan perjalanannya keluar dari hutan.


Xionan sudah pergi melayang ke arah barat, meninggalkan Jangbi yang kebingungan. Xionan melayang-layang sambil terus tersenyum,


-Fanfan pasti akan senang mengetahui hal ini Hihihi-


Ketika Xionan melayang-layang dengan gembira, dia tidak sadar dia sudah sampai di tempat Yubing dan Nian berada. Xionan baru sadar ketika mendengar suara dentangan senjata yang saling berbenturan.


*Trang*


*Trang*


-Apa-apaan ini?-


Xionan melihat, Yubing, Nian, Yanse, Moyo, Hanbo, dan seorang kakek tua bertarung melawan lima orang berpakaian serba hitam dan seorang kakek tua bungkuk.


Tentu saja yang dilihat Xionan adalah pertarungan antara Yanse dan kelompoknya melawan Jingwu dan anggotanya serta Guxiu.


-Apa yang terjadi, Kenapa keadaannya sekacau ini ?-


Xionan bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi, dia melihat Canglini dan Lingzi yang terikat tidak sadarkan diri, dia juga melihat tiga mayat pendekar muda dari kelompok Yanse.


-Sudahlah, aku harus membantu mereka dulu, bagaimanapun mereka teman-teman Gofan-


Setelah mengamati beberapa saat, Xionan membentuk segel tangan dan mengirimkan dua serangan panah jiwa ke arah dua orang anggota Jingwu.


Dua anggota Jingwu itu, langsung memuntahkan seteguk darah dan jatuh ke tanah, mereka langsung mati di tempat. Xionan menyerang dengan kekuatan penuh, sehingga serangan panah jiwanya langsung menghancurkan jiwa dari dua anggota Jingwu itu.


"Apa yang terjadi? Ada apa dengan kalian?"


Putuo heran melihat dua rekannya tiba-tiba jatuh tertelungkup ke tanah, dia tidak melihat mereka memuntahkan darah, sebab wajah mereka ditutupi kain hitam.


Putuo kemudian mendekati dua rekannya itu dan memeriksa tubuh mereka, dia terkejut mendapati, keduanya telah meninggal.


"Putuo... Apa yang terjadi?!"


*Trang*


Di tengah pertarungan, Jingwu bertanya pada Putuo yang baru saja memeriksa kedua anggotanya yang tiba-tiba saja jatuh di tengah pertarungan.


Saat ini, Jingwu sedang bertarung melawan Yanse dan Yubing. Ligong sedang berhadapan dengan Moyo, sementara Hanbo bersama Nian sedang bertarung sengit melawan Daksa. Di sisi lain Guxiu juga sedang kewalahan melawan seorang kakek tua.


"Ketua, Mereka tewas"


Putuo menjawab pertanyaan Jingwu dan kemudian kembali menyerang ke arah Nian.


Jingwu bingung mendapati dua anggotanya tiba-tiba saja mati, padahal sebelumnya mereka dalam posisi yang unggul, juga tidak terlihat serangan dari kelompok Yanse yang bisa membunuh dua anggotanya itu.


-Ada apa ini? Apa ada Senior lain yang diam-diam membantu mereka ?-


Pikir Jingwu saat dia diam-diam mempersiapkan serangan mental untuk menghadapi Yanse dan Yubing.


Jingwu tidak bisa terus menerus menggunakan jurus pahit lidahnya, sebab dia hanya memiliki sedikit energi mental, dan setiap kali dia menggunakan jurus itu, dia memerlukan jeda yang cukup lama untuk menggunakan jurus itu lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2