Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 183. Kenapa?!


__ADS_3

Ketika Yuwenhuai berbalik, kakinya yang gemetaran tiba-tiba lemas. Dia terjatuh begitu melihat seorang Nenek berdiri memapah Lengyue. Itu Nenek Lengyue, Qimouzha. Setelah dinding pembatas Formasi hancur, dia segera melesat untuk menyelamatkan Lengyue. Tapi meski telah lepas dari Hipnotis Yuwenhuai, Lengyue masih belum sadarkan diri.


“Se-senior... Senior.. Ini salah paham... Aku hanya menjalankan perintah. Ini semua rencana mereka.. Ini rencana Hyang Abadi, Dewa Gelap.” Sambil merangkak mundur, Yuwenhuai berucap dengan terbata-bata. Tangannya menunjuk ke atas, ke arah Kepompong Hitam yang masih menyerap genangan darah.“Jika ini di alam mimpi, bahkan aku tidak perlu menganggapmu masalah... Nenek tua sialan!.” Gerutunya dalam hati.


“Lepaskan jiwa cucuku dari belenggu alam mimpimu! Atau aku akan membuatmu bermimpi selamanya.” Ancam Qimouzha, bayangan asap putih terlihat samar muncul di kedua telapak tangannya.


Saat memeriksa keadaan Lengyue, Qimouzha menyadari, jiwa Lengyue masih terikat di alam lain, di alam mimpi Yuwenhuai. Jika tidak, seharusnya setelah memberinya sebutir Pil Pemulih Kesadaran, Lengyue telah sadarkan diri, tapi sampai sekarang dia masih tidak sadarkan diri.


“E..E...” Mata Yuwenhuai melirik ke kiri dan ke kanan, dia bahkan melirik sesaat ke arah Kepompong Hitam, “Sial.. Tidak ada yang bisa membantuku.. Bagaimana ini?.”


“CEPAT!!.” Teriak Qimouzha, tekanan tenaga dalam yang lebih besar menimpa langsung ke arah Yuwenhuai.


“Ukh!!...” Yuwenhuai muntah tiga suap darah, “Ba-Baik... Baik...” dia segera duduk bersila, memaksa kedua tangannya yang gemetaran membentuk sebuah segel.


Tapi sebuah dengusan dingin terdengar dari dalam Kepompong Hitam. Sebuah tentakel darah muncul di luar kepompong itu. Tentakel darah itu berayun cepat dan bilah pisau angin berwarna merah darah melaju kencang ke arah Qimouzha.


“Tidak baik...” Saint Mental Qimouzha merasakan bahaya dari serangan bilah pisau darah itu dan mencoba menghindar.


BOOOMMM! Sebuah ledakan terjadi.


Yuwenhuai kaget, dia bergegas menjauh dan menyadari ledakan itu berasal dari serangan tentakel darah Kepompong Hitam. Senyum kebebasan terlihat di wajahnya dan dia bergegas lari mendekati Kepompong Hitam.


“Kecepatan macam apa itu? Aku sudah menghindar tepat waktu tapi...” Batin Qimouzha terguncang, dia segera memutar basis budidayanya untuk mengobati luka di kakinya. Sebelum serangan itu membentur tanah dan meledak, bagian pergelangan kaki kiri Qimouzha terluka, terkena sedikit goresan bilah pisau darah, tetapi luka kecil itu membuat darahnya terus keluar tanpa henti.


“Terima kasih Hyang Abadi. Teri.... Ukh...” Belum selesai Yuwenhuai menyembah sujud terima kasih, tentakel darah memadat dan menusuk ke arah jantungnya, “Hyang Abadi? Apa ini?....” Batin Yuwenhuai kebingungan, sesaat sebelum jiwanya ditarik masuk ke dalam Kepompong Hitam.


“Tidak berguna. Beraninya berkhianat hanya karena semut belaka. Mengingat jasamu. Aku akan membiarkan mayatmu utuh. Jiwamu akan menyatu denganku. Berbahagialah.” Sebuah suara serak muncul dari dalam Kepompong, saat suara itu berhenti terdengar, Yuwenhuai mati dengan mata dan mulut terbuka. Mayatnya utuh tapi jiwanya telah dilahap Kepompong Hitam.


Kejadian itu berlangsung cepat, Qimouzha terkejut melihat kematian Yuwenhuai. Sambil memapah Lengyue, dia bergerak cepat untuk pergi dari Pulau Api.

__ADS_1


“Mau Kemana? Tidak ada yang bisa pergi dari Pulau ini.” Hembusan bilah pisau darah lainnya mengiringi ucapan dingin Kepompong Hitam tersebut. Bilah pisau darah melesat mengejar Qimouzha dan Lengyue.


**


“Tuan Muda.. Kamu pergi saja. Biar kami mengulur waktu untukmu pergi.” Duan Tianlang cemas melihat Gofan kembali lagi ke dalam pertarungan. Gofan menerjang membantunye bertarung menghadapi Gumulryong dan Serigala tunggangannya.


“Senior.. Evakuasi yang lain. Jangan biarkan mereka menjadi tumbal darah lainnya untuk Dewa Gelap.” Gofan mengarahkan tinju api ke arah Gumulryong, sebuah tinju jarak jauh.


“Tapi...”


“Lihat!” Gofan menunjuk ke arah Kepompong Hitam, kini ada lebih dari enam tentakel darah yang berayun-ayun di luar Kepompong Hitam itu, “Dia sudah mulai menyerap Jiwa. Ini mungkin tahap kedua dari proses kebangkitannya.”


Pembicaraan itu berlangsung cepat, bahkan saat Duan Tianlang masih ragu, terntakel-tentakel darah itu melesat membunuh para Pendekar yang berada di dekatnya. Tentakel darah itu tidak menyerang secara acak, itu menyerang semua Pendekar, kecuali kelompok Kultus Abu-Abu, dua Perguruan dan Bandit Serigala Biru pimpinan Dongkho. Mereka yang diserang tentakel darah, tewas menjadi mayat kering, mati dalam tubuh dan jiwa. Tidak tersisa jiwa, tidak mungkin bereinkarnasi lagi.


“Aarrggh!!!.”


“Tolong.. Tol... Arrggghh!!.”


“Aarrggh!!!.”


Satu demi satu jerit kematian terdengar menggema di keramaian riuhnya pertarungan. Semakin banyak Jiwa yang dilahap semakin banyak jumlah tentakel darah yang mengelilingi Kepompong Hitam.


Semua menghindar, berusaha bertarung sejauh mungkin dari Kepompong Hitam. Tapi tentakel darah itu seperti hidup, itu memanjang dan mengikuti seperti anak panah tajam yang dapat mendeteksi kehidupan.


Sisa kelompok Kultus Abu-Abu, Bandit Serigala Biru, dan Anggota dua Perguruan, mundur membentuk lingkaran, mereka membatasi gerak para Pendekar yang masih hidup. Sekarang tidak lebih dari 6.000 Pendekar yang tersisa, kebanyakan dari Tiga Perguruan, Tunjung Putih, Yin Biru, Lembah Bunga Kamboja dan Partai Tongkat sakti. Saat ini, yang paling lemah berada di ranah Great Master.


Xiongmeng masih bertarung melawan Tongkat Emas Naga Kembar, Tianfuzi masih mencoba mengalahkan Meiling, Qimouzha terluka parah, Lengyue terseret kembali ke arah Kepompong Hitam. Vasudev berhadapan dengan Tungdie, dan Xingmou bertarung sengit melawan Mouhuli.


Duan Tianlang masih ragu dan terus bertarung bersama Gofan menghadapi Gumulryong. Sisa lainnya, termasuk Goyige dan kaum Bangsawan Penda lainnya tampak menyerah untuk merebut Kitab Surga, terlalu banyak dukungan yang berdiri melindungi Gofan, ditambah sekarang mereka harus waspada dengan tentakel pembunuh yang melayang-layang di langit atas.

__ADS_1


“Dongkho... Apa ini? Kenapa kamu juga membunuh sesama saudara kita?.” Tanya Zawugi antara marah dan bingung. Tubuh Mukene terbujur kaku, dia tewas dibunuh Dongkho.


“Zawugi.. Zawugi.. Setelah markas pusat mengabaikan kematian Bulga, bagaimana bisa kamu masih tidak mengerti?.” Dongkho menggeleng dan tersenyum meremehkan, “Ai... Sudahlah.. Lagi pula Hyang Abadi sudah mulai menyerap Jiwa, aku tidak akan membunuhmu.”


“Apa maksudmu?! Kenapa kalian bekerja untuk Dewa Gelap itu?.”


“Kenapa?.” Dongkho tertawa keras, “Beliau adalah Kakak Tertua, Kapten Bandit Nomor satu di seluruh dataran Penda. Pendiri kelompok kita, Bandit Serigala Biru Hahaha.”


Zawugi melihat ke arah Kepompong Hitam, “Kapten Kesatu?! Tidak mungkin.. Bagaimana bisa?.”Dia terhuyung dan jatuh. Setahu Zawugi, Kapten Kesatu pendiri Bandit Serigala Biru, setelah mengobati penyakit Litaihwang mengalami cedera parah dan mengumumkan kematiannya untuk secara rahasia menjalani pengobatan tertutup.


Zawugi ingat betul, bahwa Kakak tertua, Kapten Kesatu bukanlah Dewa, bukan Dewa Gelap, tapi sekarang Dongkho mengatakan hal itu, membuatnya terguncang. Terlebih, tidak lebih dari sepuluh orang yang tersisa dari kelompoknya, semua mati tanpa mengetahui bahwa mereka dibunuh atas perintah pendiri kelompok Bandit Serigala Biru.


“Kenapa?!.” Gumamnya pelan.


“Kenapa dia bilang?... Zawugi.. Zawugi... Siapa suruh meninggalkan wilayahmu hanya untuk mengejar pembunuh Bulga?.. Aku sendiri baru tahu, siapa sangka Kakak tertua kita ternyata seorang Dewa yang menyamar menjadi Raja, dia juga menguasai dua Perguruan besar Darah Murni dan yang pasti Organisasi di bawahnya.. Kultus Abu-Abu.” Dongkho menggeleng mengasihani ketidak tahuan Zawugi.


“Kamu ingat permasalahan Tambang Batu darah?.” Sahut Dongkho, “Setelah kegagalanmu memenuhi kuota budak, kamu pergi mengejar pembunuh Bulga dan mengabaikan pengiriman Batu Darah untuk markas pusat. Aku pergi dan mengatasi masalah itu... Jadi, anggap saja, sekarang lahanmu adalah milikku.” Tawa puas Dongkho mengakhiri ucapannya.


“Tidak benar... Batu Darah masih kami kirimkan.. Saudara-saudara divisi 11 masih bekerja di tambang itu.. Kamu.. Apa yang kamu lakukan pada mereka?.”


“Ini perintah Hyang Abadi, Kakak Tertua kita... Kamu mengutamakan kepentingan pribadi dan melalaikan kewajiban utamamu, itu adalah sebuah kesalahan, kalau salah, harus dihukum....” Dongkho mendekat dan berbisik di sebelah Tianfuzi, “Saudara divisi 11, tidak sanggup memenuhi Kuota Batu Darah, itu membuat Markas Pusat marah, mereka sudah lama mati... Aku sudah membunuh mereka semua.” Dongkho mengayunkan pedangnya dan menebas dengan cepat ke arah kaki Zawugi.


Mata Zawugi melebar, dia menghindar dan berhasil menyelamatkan kakinya dari potongan bilah pedang Dongkho.


“Dongkho!!.” Teriak Zawugi menyerang ke arah Dongkho. Saat semua kebingungan terjawab di benaknya, dia mengamuk dan menyerang ke arah Dongkho. Apapun alasannya, persaingan di antara Kapten memang kerap terjadi, semua demi kekuasan dan kekayaan.


**


Di luar Pulau Api, Enam cahaya warna-warni melesat di udara, mendekat menuju lokasi Area Turnamen Pulau. Dua sosok di antaranya adalah orang-orang yang pernah ditemui Gofan. Mereka datang untuk memberikan bantuan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2