
Baru saja Gofan hendak mengayunkan Tongkatnya ke arah Xiongmeng. Dua tentakel darah melesat ke arah keduanya. Gofan dan Xiongmeng ditangkap dan ditarik naik ke arah Kepompong Hitam.
“Arrggghhh!!.” Teriak Xiongmeng. Saat tentakel darah menyentuh tubuhnya, semua Jiwa yang berada di dalam tubuhnya ditarik paksa oleh tentakel darah. Dalam hitungan puluhan hela napas Xiongmeng mati dalam tubuh dan Jiwa, hanya tersisa mayat kering tanpa darah sedikit pun.
“Haiwa membesarlah!!.” Melihat bagaimana Xiongmeng mati, Gofan tidak mengambil jeda, dia langsung melepaskan diri dari jeratan tentakel darah berkat bantuan Tongkat Emas Naga Kembar yang membesar.
Ledakan! *Bang!*
Dorongan paksa dari pelepasan jeratan itu membuat Gofan terkena serangan balik, dia terpelanting jatuh beberapa belas langkah dan memuntahkan tiga suap darah. Kulitnya tampak memucat.
Tentakel darah kembali menerjang ke arahnya, kali ini lebih banyak lagi.
“Cegah tentakel itu!.” Teriak Suddha.
Pertempuran antara Kepompong Hitam dengan anggota Perguruan Tujuh Jalan Kebajikan telah berlangsung lebih dari ratusan ronde. Tapi pertahanan tentakel darah begitu kuat, ditambah seteleh Gumulryong ditarik masuk ke dalam Kepompong Hitam, ada semacam cahaya emas aneh yang mulai memancar sedikit demi sedikit dari dalam Kepompong.
Ledakan! BOOOMMM
Bang! Bang!
Suddha dan Boudhia berhasil memotong tentakel yang mengarah ke arah Gofan, tapi setiap kali mereka memotong, tentakel lain akan muncul dan kembali menyerang ke arah Gofan.
“Ini tidak ada habisnya.” Ucap Boudhia saat ratusan pedang ilusi melesat memotong setiap tentakel yang muncul. Tapi... itu tumbuh lagi dan lagi.
Di bawah Gofan melompat, berlarian ke sana kemari menghindari Api dan serangan tentakel.
Gofan geram, pengejaran tentakel-tentakel itu tidak ada hentinya, dia menyadari telah mendapat bantuan dari Suddha dan para Vhala, tapi tetap saja, dia diburu, “Hyaaaa!!!!!.” Teriaknya. Dia mencengkram Tongkat Emas Naga Kembar yang membesar lagi dan mengayunkannya ke arah Kepompong Hitam, “Semuanya MINGGIR!!!.”
Tongkat Emas Naga Kembar setinggi tiang turnamen dan selebar enam kali pria dewasa, diayunkan Gofan, membanting ke arah Kepompong Hitam. Urat-urat hijau muncul di seluruh otot Gofan saat Tongkat Raksasa itu membuat Suddha dan para Vhala menyingkir untuk memberinya jalan menyerang Kepompong Hitam.
BOOOMMMM! Benturan keras mengguncang telinga terdengar. Suddha dan para Vhala yang berada tidak jauh dari sana terhempas terbang mundur bagai layang-layang putus.
Kepompong Hitam terdorong hampir jatuh ke tanah, ada retakan halus dari Kepompong itu, sinar emas merembes keluar dari retakan halus. Tapi belum hancur. Tentakel darah menopangnya dan melindunginya dari serangan Tongkat Emas Naga Kembar.
“Hyaaaa!!!!!.” Raung Gofan lagi. Kali ini kedua matanya memancarkan cahaya ungu, kemudian cahaya ungu itu menjalar masuk ke dalam Tongkat Emas Naga Kembar. Tongkat itu bergetar pelan sebelum memberi tekanan lebih besar kepada Kepompong Hitam.
__ADS_1
Bang! Bang! Bang! Ledakan besar terjadi setelah pertahanan Kepompong Hitam hancur satu demi satu. Kepompong Hitam itu jatuh dan masuk ke dalam tanah, tanah menjadi cekung sedalam hampir ribuan kaki.
“Ini?!.” Xiolingling terkejut.
“Inikah kekuatan Senjata Dewa?!.” Taiyang Yi ternganga.
“Tidak.. Ini bukan hanya itu...” Vasudev heran. Dia juga punya Senjata Dewa, dia punya Payung Tangisan Surga, tapi sedari tadi dia bertarung, tidak sampai membuat Kepomponh Hitam itu bergeser dari tempatnya. Apalagi membuatnya terkubur dalam cekungan tanah seperti itu.
Memang bukan, setengahnya adalah kekuatan Haiwa sendiri dan setengah lagi adalah Energi Surga. Jika Vasudev memiliki Energi Surga, mungkin dia akan bisa melakukan hal serupa.
HAHAHAHAHAHA
HAHAHAHAHAHAHA
HAHAHAHA!!!!!
Tanah berguncang hebat, tawa seram yang menyakitkan kepala terdengar dari dalam cekungan tanah, itu tawa Dewa Gelap. Langit meraung mengikuti tawanya, dan sembuaran Api semakin banyak terjadi. Sekarang Pulau Api terlihat benar-benar Pulau yang diselimuti Api. Tanahnya berapi.
Di langit awan hitam pekat kembali berkumpul, ini lebih pekat daripada sebelumnya. Terlihat seperti seluruh Pulau dikurunng oleh sebuah dinding langit hitam. Cahaya matahari saat hari berganti pun tidak bisa menembusnya. Benar-benar gelap.
*Gruduug* Gempa besar terjadi.
*Duuuaaaarrrrr!!!*
*Duuuaaaarrrrr!!!* Gunung meletus. Asap panas membumbung, muntahan lava menjalar, dan batu-batu besar berapi muntah keluar dari Puncak Gunung.
Bang! Bang! Bang! Ledakan terjadi dimana-mana diiringi tawa mengerikan dan kobaran Api yang terus membesar. Pulau Api telah membara!!
Para Pendekar yang sebelumnya telah terluka parah, tidak bisa bertahan dan mati terbakar. Beruntung bagi mereka yang mengolah Elemen Api, meski bersusah payah, mereka masih bisa bertahan. Dari 200an yang tersisa kini hanya 72 Pendekar yang masih hidup, itu pun sebagian besar adalah Kelompok Dewa Gelap.
Tungdie, terluka parah, satu kakinya buntung, dia bertahan tapi tidak mungkin baginya untuk bertarung lagi. Xingmou hancur dikoyak Serigala Mata Biru Raksasa, Mouhuli mengamuk dan menampilkan wujud aslinya, dia membunuh Xingmou.
Tianfuzi dan Tianyekwang bersembunyi entah dimana. Huangkok kehilangan satu matanya tapi masih bertahan, dia sekarang memimpin semua anggota Kultus Abu-Abu dan sisa anggota dua Perguruan yang ditinggalkan Tianfuzi. Sementara Xionghuo berdiri melayang, penuh luka, memimpin sisa-sisa anggota Bandit. Dongkho tewas, Zawugi memutuskan untuk meledakkan diri bersamanya.
Di sisi kelompok Gofan. Duan Tianlang kelelahan, darah dan luka disekujur tubuhnya, dia berdiri di atas mayat Serigala Mata Biru milik Gumulryong. Wuling berhasil membunuh beberapa petinggi dua Perguruan, tapi dia juga terluka parah.
__ADS_1
Suezilu duduk bersila memulihkan dirinya, kobaran Api di tanah tidak bisa menyentuhnya, lapisan cahaya kuning melindungi Suezilu. Partai Tongkat Sakti hanya tersisa sedikit orang. Hal serupa juga terlihat di Perguruan Yin Biru dan Lembah Bunga Kamboja. Sebagian besar kekalahan mereka disebabkan serangan cepat ratusan tentakel darah.
“Kembalikan Cucuku!!!.” Qimouzha yang terluka parah melesat ke arah cekungan untuk merebut kembali Lengyue. Lengyue masuk ke dalam Kepompong Hitam, entah apa yang terjadi.
“Senior Qimo!!!.” Yuniang melesat maju, berusaha menghentikan tindakan Qimouzha, tapi... dia berada terlalu jauh. Qimouzha sudah terlebih dahulu masuk ke dalam cekungan tanah.
BOOOOMMMM!! Ledakan terjadi dari dalam cekungan tanah, darah segar bertebaran kemana-mana. Membuat Yuniang yang berhenti di tempat, tubuhnya basah oleh guyuran darah...
“I-Ini??!!.” Tubuh Yuniang bergetar, perasaannya terguncang, dalam pikirannya, darah itu pasti darah Qimouzha. Dia bergegas melesat mendekati cekungan.
“Berhenti!.” Teriak Suddha, mencegah Yuniang semakin mendekati cekungan tanah.
Yuniang tidak mempedulikan itu, dia menambah kecepatan dan melemparkan berbagai jurus ke dalam cekungan tanah. Bola-bola cahaya biru dilempar Yuniang tanpa henti... Bang! Bang! Bang! Ledakan besar terjadi, kepulan asap debu membumbung dari dalam cekungan. Semua itu terjadi dengan sangat cepat, hanya beberapa hela napas, tapi perlu waktu untuk dijelaskan.
Sesaat setelah itu, tawa mengerikan dari dalam cekungan tanah tiba-tiba terhenti.
HENING...!
Hening... Semua suara tiba-tiba menghilang. Saat dua puluh satu tentakel darah raksasa muncul, merobek tanah dan menyerang para Pendekar yang tersisa. Mereka tidak ada yang menyadari hal itu. Semuanya terdiam dalam kebingungan, pandangan mereka kosong, napas mereka terngah-engah, semua indra mereka seakan lumpuh.
Meski satu demi satu kematian terjadi, tidak satu pun suara terdengar, mereka tidak menyadari bahwa mereka mati oleh serangan tentakel darah raksasa. Semua HENING! Satu demi satu, mereka mati dalam keheningan.
Di saat itu, hanya satu orang yang menyadari apa yang sedang terjadi, dia melayang di udara, itu Boudhia, hanya dia yang menyadarinya.
“Batu Kuasa. Ini pengaruh Batu Kuasa... Bisakah kalian mendengarku? Ini Kuasa atas panca indra!!.” Boudhia adalah yang paling peka, dia buta tapi pendengarannya tidak terpengaruh oleh KEHENINGAN. Tapi bagaimana pun dia memberitahukan yang lain mereka tidak akan bisa mendengarnya. “Salurkan Saint Mental kalian untuk melindungi semua Indra kalian!!!.” Teriaknya lagi.
Gofan mendadak kehilangan semua rasa, mulai dari pendengarannya, pengelihatannya, rasa sakit di tubuhnya, semua HENING!
“Apa ini?!.”
“Apa yang terjadi?.”
Gofan tidak merasakan apa-apa, saat sebuah tentakel darah menggulungnya dan menariknya masuk ke dalam tanah berapi.
Bersambung...
__ADS_1
Ini adalah episode-episode menjelang akhir (Musim I). Like jika kalian suka.