Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 103. Masa Lalu Lenfan bg. 3


__ADS_3

Gadis itu menyadari kedatangan Lenfan, namun dia hanya menangis sembari menundukkan kepalanya. Rambutnya yang panjang terurai, menjuntai menutupi wajahnya.


Lenfan jelas terkejut mendapati gadis dengan wajah tertutup rambut itu menangis tersedu-sedu di sudut kamarnya.


" Ka-kamu!? Siapa kamu? " Tanya Lenfan penasaran.


Tidak banyak yang tahu lokasi gubuknya, bahkan Kongchu dan Guzhimei tidak tahu dimana Lenfan tinggal. Tapi gadis itu bisa tahu dan masuk tanpa permisi ke dalam gubuknya yang memang tidak terkunci tersebut.


Gadis itu berhenti menangis dan mengangkat kepalanya, tangan kanannya menyibak rambut yang menutupi wajahnya. Kini, Lenfan bisa dengan jelas melihat wajah gadis itu.


" Cenfan...huhuhu... " Ucap gadis itu sembari menangis kembali.


Ternyata gadis tersebut adalah seorang kenalan Lenfan. Namanya Muruyue. Muruyue sering kali pergi ke Kedai Kongchu untuk makan dan berbincang dengan Lenfan dan Guzhimei.


" Kak Muruyue!? Kenapa Kakak bisa ada di rumahku? Dan kenapa keadaan Kakak seperti ini? " Tanya Lenfan sembari mengambilkan sebuah selimut untuk menutupi bagian tubuh Muruyue yang hampir telanjang.


Muruyue ini adalah salah satu gadis yang dulunya bekerja di penginapan Cangren. Karena penginapan itu bangkrut dan tidak mempunyai tujuan lain lagi, Muruyue akhirnya bekerja sebagai pelayan di Paviliun Bunga Indah setelah Ziyishi membeli penginapan Cangren tersebut.


Muruyue tidak henti-hentinya menangis meski Lenfan sudah berkali-kali mencoba menenangkannya.


" Kak. berhentilah menangis dan katakan ada apa sebenarnya? Kenapa Kakak bisa sampai seperti ini? " Ucap Lenfan sembari mencoba menenangkan Muruyue.


Lenfan mengambilkan segelas air dan memberikannya kepada Muruyue dengan harapan gadis yang dua tahun lebih tua darinya itu akan berhenti menangis.


Beberapa hela napas setelah Muruyue meminum air tersebut barulah dia berhenti menangis. Lenfan memapahnya, bangun dari lantai dan duduk di kursi yang ada di dalam gubuk tersebut.


Muruyue pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi pada dirinya, " Seminggu yang lalu seorang Bangsawan kerajaan mengatakan menyukai diriku, ketika dia melihatku menyapu halaman Paviliun Bunga Indah... "


Muruyue mengatakan bahwa dia menolak berbicara dengan Bangsawan itu dan terus berusaha menghindarinya setiap kali Pria Bangsawan itu berkunjung ke Paviliun Bunga Indah.


" Tiga hari yang lalu, Bangsawan itu bertemu dengan Tuan Cangren dan Nyonya Bunga Indah. Sehari setelah itu, aku disekap dan dipaksa mengenakan gaun ini... " Ucap Muruyue sembari sesekali membersihkan air mata yang masih menetes dari sudut-sudut matanya.


Terlihat luka bekas tamparan di pipi kiri Muruyue saat dia merapikan kembali rambutnya.


Ternyata Muruyue dijual oleh Cangren dan Ziyishi. Muruyue dipaksa memuaskan hasrat Bangsawan tersebut. Tetapi karena Muruyue menolak, Muruyue dihajar oleh Bangsawan tersebut.


Beruntung, Pria Bangsawan itu pergi sebelum sempat berbuat lebih kepada dirinya, sebab Muruyue akhirnya berhasil melarikan diri melalui pintu rahasia yang dia temukan secara tidak sengaja di dalam kamar tempatnya disekap.


" Aku akhirnya berhasil keluar dari Paviliun Bunga Indah, tapi karena tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa, aku datang kemari " Tutur Muruyue.

__ADS_1


" Kenapa Kakak kemari? Dari mana Kakak mengetahui rumahku ini? Kakak pasti tahu bahwa aku hanya orang biasa, aku tidak bisa membantu apa-apa "


Muruyue diam sesaat, beberapa kali dia melirik ke arah Lenfan sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Lenfan, " Cenfan. Aku tidak tahu lagi harus kemana. Pria Bangsawan itu adalah putra dari Panglima Tertinggi Pasukan Taizongbudui.... "


" Meski aku mengadu pada setiap pejabat di Kota ini, mereka tidak akan memihak padaku. Tidak ada yang akan berani melawan Panglima Tertinggi... "


" Maafkan aku, karena penasaran, dimana kamu tinggal. Aku diam-diam sering mengikutimu ketika kamu pulang bekerja. Rumahmu ini benar-benar tersembunyi, jadi aku memutuskan untuk bersembunyi di sini "


Mendengar penjelasan Muruyue barulah Lenfan mengerti situasi yang dihadapi Muruyue sekarang. Sekarang orang-orang suruhan Cangren dan Ziyishi tengah mencari dimana Muruyue berada. Begitu pula dengan Pasukan Taizongbudui, mereka memasang pengumuman pencarian orang hilang untuk menemukannya.


" Kakak boleh tinggal sementara di sini. Jika keadaan memungkinkan, aku akan membantu Kakak keluar dari Kota ini " Ucap Lenfan yang dibalas Muruyue dengan ucapan terima kasih.


Hari demi hari berlalu, dan setiap harinya Lenfan akan mencari cara untuk menyelundupkan Muruyue keluar dari Kota Langit Cahaya. Tapi tidak ada satu pun cara yang bisa Lenfan temukan. Sebagai orang biasa, Lenfan tidak bisa berbuat banyak.


Bukannya Lenfan tidak mendapatkan cara. Namun untuk keluar dari Kota Langit Cahaya, Muruyue harus melewati Gerbang Dimensi. Sementara Gerbang-gerbang tersebut dijaga ketat oleh Pasukan Taizongbudui. Jika Muruyue keluar melalui gunung sekali pun, akan lebih berbahaya. Ada banyak binatang liar dan Makhluk buas di gunung-gunung yang mengitari Kota Langit Cahaya tersebut.


Muruyue pernah berpikir untuk menyamarkan diri sebagai laki-laki agar diizinkan melewati Gerbang Dimensi, namun itu pun akan sia-sia. Setiap penduduk biasa yang hendak keluar dari Kota Langit Cahaya selalu diperiksa secara fisik. Sementara, jika itu Pendekar, hanya akan dimintai beberapa batu darah sebelum keluar atau masuk Kota.


Hari berganti Minggu, Minggu berganti Bulan, Bulan berganti Tahun. Muruyue masih bersembunyi di dalam gubuk Lenfan. Pengumuman pencarian dirinya pun tidak dihentikan. Bahkan hadiah untuk menemukan dirinya, semakin lama semakin bertambah.


" Kak. Aku tidak mengerti, kenapa mereka masih mencarimu? " Tanya Lenfan pada Muruyue.


Lenfan memperhatikan hal itu, namun Lenfan tidak menanyakan lebih jauh perihal cincin yang dikenakan Muruyue.


" Cenfan. Maafkan aku. Bertahun-tahun ini, aku sudah menyusahkanmu " Imbuh Muruyue.


" Tidak apa Kak. Aku senang ada Kakak yang tinggal di sini dan merawat gubuk ini untukku. Bagiku Kakak sudah seperti Saudara kandungku " Ucap Lenfan.


Keberadaan Muruyue selama ini, benar-benar mengobati kesepian yang dirasakan Lenfan. Lenfan tidak lagi merasa sebatang kara. Setiap hari sepulang kerja, dia akan melihat Muruye di gubuknya tersebut. Itu membuat Lenfan merasa memiliki seorang saudari.


Hampir dua tahun setelah kejadian yang menimpa Muruyue itu. Lenfan menerima berita bahwa Partai Mawar Berduri mengadakan perekrutan murid baru tanpa seleksi. Siapa pun dipersilahkan bergabung, asalkan dia perempuan.


' Bagus. Jika Kakak Muruyue bisa bergabung dengan Partai ini, dia pasti akan bisa keluar dari Kota Langit Cahaya ' Batin Lenfan.


Merasa bahwa itu adalah kesempatan bagi Muruyue untuk pergi dari Kota Langit Cahaya. Lenfan pun menemui salah satu Penatua Partai Mawar Berduri yang kebetulan menginap di Penginapan Bintang Utara.


Setelah perbincangan singkat, akhirnya Lenfan dan Penatua tersebut membuat janji untuk bertemu di Kedai Kongchu. Lenfan berjanji akan membawa Muruyue untuk dipertemukan dengan Penatua tersebut.


" Cenfan. Apa kamu yakin, mereka akan menerimaku? " Ucap Muruyue dengan penampilan mirip laki-laki saat dia mengikuti Lenfan menuju ke Kedai Kongchu.

__ADS_1


" Mereka akan menerima siapa saja, asalkan dia perempuan. Aku juga sudah menceritakan masalah yang Kakak hadapi dan mereka tidak ada masalah dengan itu... "


" Mereka sudah menunggu kita di Kedai Kongchu. Aku mengatakan, bahwa aku akan membawa Kakak kepada mereka " Ucap Lenfan sembari berjalan memunggungi Muruyue.


Anehnya, saat Lenfan dan Muruyue hampir tiba di Kedai Kongchu. Ternyata Penatua Partai Mawar Berduri itu justru menunggu mereka beberapa puluh langkah di depan Kedai Kongchu.


" Penatua. Mengapa Anda tidak menunggu di Kedai? " Tanya Lenfan ketika mereka bertiga bertemu.


Penatua itu tidak menjawab pertanyaan Lenfan melainkan tiba-tiba menotok tubuh Lenfan sehingga membuat Lenfan terdiam kaku tidak bisa bergerak. Hal yang sama juga dialami Muruyue. Muruyue ditotok hingga menjadi kaku dan tidak bisa bergerak.


Selanjutnya Lenfan dan Muruyue dibekap dengan seberkas kain beraroma sangat menyengat. Ketika Lenfan dan Muruyue menghirup aroma kain tersebut, mereka kehilangan kesadaran.


Hal selanjutnya yang diketahui oleh Lenfan ketika dia tersadar adalah dirinya yang sedang berada di dalam sebuah penjara bawah tanah. Penjara bawah tanah milik Bandit Serigala Biru.


Sementara, dimana dan bagaimana keadaan Muruyue tidak diketahui oleh Lenfan. Satu-satunya yang Lenfan tahu, bahwa Muruyue tidak berada di dalam penjara tersebut.


Semenjak saat itu, Lenfan hidup sebagai tahanan Bandit Serigala Biru. Bertahun-tahun Lenfan hidup sebagai budak pekerja di Markas ke-13 Bandit Serigala Biru yang letaknya sangat jauh dari Ibu Kota.


Markas itu dipimpin oleh seorang Kapten, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Bulga, Kapten ke-13 Bandit Serigala Biru.


Tiga tahun setelah itu, Bulga memilih Lenfan untuk dijual sebagai budak di Tambang Batu Darah, akibat kurangnya orang yang cukup cakap untuk dijual kepada pihak tambang.


Bersama dengan 11 tahanan bandit lainnya, Lenfan pun melakukan perjalanan menuju ke Tambang Batu Darah. Untuk menuju ke Tambang Batu Darah tersebut, mereka harus melewati Gurun Kalajengking Hitam.


Setelah 15 hari di Gurun Kalajengking Hitam. Akhirnya Lenfan dan beberapa tahanan lain yang masih bertahan hidup melalui ganasnya gurun tersebut, diselamatkan oleh Yubing.


Kini tiba giliran Lenfan-Gofan- untuk membalas budi itu, untuk menyelamatkan Yubing dari pelelangan yang akan diadakan oleh Paviliun Bunga Indah.


[Saat ini - Kedai Kongchu]


" Tuan... "


" Tuan... Anda mau pesan apa? " Tanya Guzhimei kepada Gofan yang masih melamun memandangi dirinya.


" Hei.. Zhao Feng! Sadarlah! Kenapa kamu melamun? " Seru Vasudev membuyarkan kilasan ingatan masa lalu Gofan.


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2