
🎵Mereka yang mempelajari Budidaya🎵
🎵Tidak mengutamakan penampilan🎵
🎵Tetapi jalan hidup dengan Kebajikan🎵
🎵Menjadi pilar kehidupan Pembudidaya🎵
🎵Hidup di dunianya, dunia yang mengejar Keabadian🎵
🎵Mengukir namanya di Sembilan Alam Langit🎵
Alunan lagu merdu menyuarakan semangat tarian tombak dan pedang. Belasan Penari itu meliuk-liuk di dalam Ring Tarung menghibur ratusan ribu pendekar yang hadir di sana, di Pulau Api.
Ring tarung itu berbentuk persegi empat. Sebagian besar lantainya terbuat dari bebatuan berwarna merah. Ada empat buah tiang di setiap sudutnya. Setiap tiang setinggi 108 Kaki, diukir dengan ukiran Naga dan Harimau bertarung di bagian atas dan bawah tiangnya.
Terdapat selembar kertas kuning persegi panjang kecil menempel di bagian atas setiap tiang. Kertas kuning itu berisi ukiran formasi, Formasi Tameng Harimau Naga namanya. Formasi yang membuat serangan dari dalam ke luar ring atau sebaliknya tidak akan bisa dilakukan saat formasi diaktifkan.
Dengan kata lain, Formasi itu akan mengurung setiap peserta Turnamen di dalam ring tarung. Sekuat apa pun serangan yang terjadi dari dalam ring, tidak akan sampai ke tempat duduk para penonton, begitu juga sebaliknya. Formasi ini mutlak ada setiap Turnamen Pulau diselenggarakan.
Saat semua gadis bertopeng menyaksikan dengan hikmad suguhan tarian tombak dan pedang itu, tepat di bawah kibaran bendera Perguruan Lembah Bunga Kamboja, mata Meiling yang wajahnya tertutup topeng, terus mengarah ke arah Tianfuzi. Tampak amarah menyala di kedua mata itu.
Sementara Yubing, tidak terlihat. Dia ditugaskan pergi bersama seorang Penatua untuk menyelidiki berita tentang Partai Gunung Angkasa. Berita mengenai Partai Gunung Angkasa dimusnahkan seolah meredup karena kemeriahan Turnamen Pulau yang sedang terjadi saat ini, hanya Perguruan Lembah Kamboja yang begitu mencemaskan anak cabang Perguruannya itu.
Satu hal yang pasti, saat Yubing tiba di Partai Gunung Angkasa, dia tidak menemukan mayat Lengjing dan Qingyue di sana. Sementara berita tentang penculikan Lengyue telah diketahui lebih jelas dari cerita seorang pelayan Nenek Lengyue yang tiba beberapa hari sebelumnya di Pulau Api.
Nenek itu sendiri, bergegas kembali ke Partai Gunung Angkasa, namun, dia terlambat. Saat tiba, semuanya sudah luluh lantak. Dengan niat membunuh yang besar dia melesat menuju Kediaman Trah Gu, seorang diri.
Di arah tatapan mata Meiling, Tianfuzi duduk di deretan dua perguruan penguasa bela diri Benua Penda, yaitu Perguruan Awan Langit dan Perguruan Dunia Gelap. Kedua perguruan ini memang saling mendukung. Mereka bahkan menempatkan panji bendera perguruan mereka berjajar, berdampingan, seolah mereka adalah satu buah perguruan.
Meski yang menghadiri Turnamen Pulau lebih dari ratusan ribu pendekar, tapi kenyataannya hanya ada kurang dari 100 peserta yang mengikuti Turnamen tersebut, tepatnya hanya 96 Pendekar dan hampir separuhnya adalah murid dari dua perguruan Trah Darah Murni tersebut.
Selama ini, merekalah yang memonopoli posisi juara Turnamen Pulau. Banyak pendekar yang bilang, turnamen itu hanyalah sebuah ajang tontonan untuk memamerkan kekuatan para murid dari dua perguruan itu. Namun masih saja banyak para Pendekar yang meluangkan waktu untuk menyaksikan Turnamen Pulau.
Peringkat pertama di Turnamen Pulau sebelumnya, pemuda yang duduk di sebelah Tianfuzi, namanya Tianxian. Budidayanya adalah yang tertinggi di antara semua peserta yang ikut turnamen tahun ini, ranah Saint Master tahap awal. Ranah yang dikatakan sebagai awal kemacetan yang sulit ditembus.
“Terima kasih Paman. Berkat bantuan Paman, aku berhasil mencapai ranah budidaya ini.” Ucap Tianxian pada Tianfuzi. Baru saja sehari sebelumnya, dia berhasil menembus kemacetan dan menjadi Pendekar Saint Master. Semua itu berkat Pil Pembentukan Saint yang diberikan Tianfuzi.
“Bukan masalah. Aku melakukan semua ini, juga untuk kebaikan keluarga Tian. Ingat, tugasmu adalah membunuh Iblis Putih itu, gunakan ini, sebelum membunuhnya.” Sahut Tianfuzi saat kedua matanya memindai barisan tempat duduk di Perguruan Tunjung Putih.
Semalam sebelum ini, Tianfuzi mengetahui, nama asli Iblis Putih adalah Gofan dan merupakan Pewaris Baru Perguruan Tunjung Putih, yang telah mendaftarkan diri sebagai peserta Turnamen.
Tianxian menerima sebuah paku kecil berwarna hijau tua sebesar ibu jari dari Tianfuzi.
“Paku Lautan Kenangan?.” Ucapnya pelan.
“Benar. Sebelum dia mati, aku ingin kamu menyalin semua ingatan bocah itu.” Sahut Tianfuzi.
Paku kecil yang diberikannya itu merupakan sebuah Harta Rahasia, bisa menyalin ingatan dan kenangan dari orang yang terkena serangan paku kecil tersebut. Tianfuzi berniat untuk mengetahui lebih jauh tentang Gofan sebelum membunuhnya.
__ADS_1
Tianxian mengangguk, dia mengingat kembali saat Tianfuzi mendatanginya dan menanyakan tentang berita identitas Iblis Putih. Tianxian menjelaskan semua rumor yang dia dengar itu berasal dari seseorang yang tiba-tiba saja menyebarkan berita tentang Gofan di antara para Pasukan Taizongbudui.
Tentu saja, itu ulah Xiongmeng. Setelah memberi petunjuk rencana pengkhianatan kerja sama Gofan dan Perguruan Tunjung Putih pada Lixiayo, dia menyebarkan identitas Gofan, bagaimana pun dia tahu, banyak Pangeran yang membenci Gofan.
Di sisi lain, duduk seorang Pemuda kurus bermata satu, dia tersenyum menatap ke arah Raja Penda, seakan-akan dia akrab sekali dengan raja itu. Dia adalah seorang Pendekar Lepas, dia, Gumulryong yang beberapa waktu sebelumnya telah memusnahkan Partai Gunung Angkasa. Dia juga mendaftarkan diri sebagai Peserta Turnamen. Bukan mewakili Klan Gu, tujuannya bukan untuk mendapatkan Hadiah tapi sesuatu yang lain. Sementara Trah Gu sendiri telah diwakili Guxiong.
Peserta lain yang juga mengikuti Turnamen, adalah beberapa Pendekar yang sebelum ini ditemui Gofan di Hutan Bambu Kemarau. Sudah lebih dari setahun sejak saat itu, mereka bahkan tidak akan mengingat Gofan, jika bertemu dengannya.
Di bawah kibaran bendera Perguruan Bambu Giok, duduk Yanse dan seorang Gadis muda yang mewakili Perguruan tersebut. Tidak jauh dari sana, Hanbo dari Perguruan Tongkat Besi juga hadir sebagai peserta.
Di barisan Pendekar yang terlihat memamerkan tombak-tombak mereka, duduk Moyo, dari Perguruan Tombak Naga, dia juga hadir sebagai perwakilan perguruannya. Di sebelahnya duduk Kakek yang sangat menyayanginya, Mogui, si Pendekar Jarum Emas. Sekarang, Mogui telah mengambil alih kekuasaan sementara di Perguruan Tombak Naga. Dia adalah Mahaguru Sementara perguruan dengan bendera bergambar tombak menyilang tersebut.
Di sisi Selatan, di bawah bendera bergambar Mata, terlihat Lingzi yang juga mengikuti Turnamen tersebut. Namun penampilannya sudah jauh berubah, Gadis itu kini berpakaian sangat tertutup. Seluruh tubuhnya dibalut pakaian berwarna hitam, hanya kedua mata dan telapak tangannya saja yang terlihat dari luar. Di punggungnya menggantung dua buah pedang yang saling menyilang. Dia adalah satu-satunya perwakilan Perguruan Mata Langit.
Di sisi Selatan itu juga terlihat sebuah perguruan yang hampir semua muridnya mengenakan pakaian dari kulit binatang. Salah satunya, seorang Gadis yang mengenakan topi dari kulit rubah, yang merupakan perwakilan perguruan itu, Perguruan Dewa Binatang.
Tatapan Gadis itu memancarkan kejantanan. Sebelah kakinya naik, di tempat duduknya, sama sekali tidak terlihat seperti seorang Gadis pada umumnya. Tangan kanannya terus menerus mengelus seekor rubah putih berekor merah yang ada di dalam pelukannya.
“Mereka yang selalu menempati posisi juara. Tapi, sepertinya, tahun ini, mereka akan tersingkir semua.” Gumam Gadis itu meremehkan, saat pandangannya mengarah pada tempat duduk Tianxian.
**
“Fanfan. Token suara ini mengabari lagi, acara pembukaannya sudah hampir selesai. Raja Palsu itu akan memberikan sambutannya.” Ucap Xionan saat tangannya menggenggam sebuah token kayu yang memancarkan cahaya hijau tipis menerangi langkahnya di dalam kegelapan.
Sementara kemeriahan terjadi di Ring Tarung Turnamen Pulau, dibawah tanah, di sebuah terowongan kecil mirip lorong gua, tidak jauh dari Ring Tarung tersebut, Gofan, Xionan, dan Shiyuxin tengah berjalan seperti hendak mencari sesuatu.
“Diam. Kamu tidak perlu tahu. Tugasmu sudah selesai, kenapa kamu malah terus mengikuti kami?.” Sahut Xionan ketus.
Gofan mengerutkan alisnya, seharian ini, dia terus dipusingkan dengan perdebatan aneh kedua gadis yang mengikutinya tersebut “Nannan. Sebaiknya kalian kembali saja, aku akan mengirimkan boneka manusia tanahku untuk mewakiliku di putaran awal Turnamen ini.” Sahut Gofan menyela Shiyuxin yang baru saja membuka mulutnya hendak membalas ucapan Xionan.
Gofan lebih memilih untuk melanjutkan sendiri perjalanan di dalam terowongan panjang tersebut, daripada harus terus mendengarkan perdebatan keduanya. Sudah seharian, selama menelusuri terowongan, keduanya terlihat sangat tidak akur.
Xionan diam sesaat, dia tampak memikirkan banyak hal, “Baik. Tapi ingat untuk membagi bagian Pertemuan Beruntung yang kamu peroleh untukku.”
“Fanfan. Aku juga.” Celetuk manja Shiyuxin.
Mengetahui Xionan, terus menerus memanggil Gofan dengan sebutan Fanfan, dia mengikutinya. Aku istrinya, jadi aku yang lebih pantas memanggilnya seperti itu, itulah yang dia pikirkan.
Terowongan yang mereka telusuri ternyata masih sangat panjang, padahal dalam peta yang mereka temukan, Pertemuan Beruntung di Pulau Api itu, tidak akan sejauh itu. Ternyata gambar di peta berbeda jauh dengan skala nyatanya. Itu semua karena, di peta tersebut hanya terlihat gambaran awal lorong terowongan dan tempat yang dituju, tidak memperlihatkan adanya terowongam panjang sebelum mencapai lokasi tersebut.
Iya, sehari sebelumnya, karena melihat dekatnya lokasi Pertemuan Beruntung di Peta yang mereka peroleh dari Jangbi. Gofan dan Xionan memutuskan untuk mencari Pertemuan Beruntung itu, meskipun hanya tersisa satu hari lagi sebelum Turnamen dimulai. Siapa yang menyangka, jika lokasi masuknya berada di tenda Perguruan Dunia Gelap.
Tepatnya di sebuah retakan kecil di celah dinding bukit batu di bagian perkemahan Perguruan tersebut. Karena perguruan tersebut dijaga oleh kawanan Mayat Hidup, mereka secara tidak sengaja meminta bantuan Shiyuxin untuk menyelinap, agar tidak menimbulkan keributan. Saat itu, Shiyuxin sedang menyelidiki tentang Xionan dan bertemu dengan keduanya.
Sehari setelah Gofan menyelesaikan penggabungan dua Kalung Kerang Ajaib, Gofan bertemu Xionan yang mengingatkannya tentang Peta Pertemuan Beruntung di Pulau Api dan mereka pun memutuskan untuk mencarinya.
Adapun hasil dari penggabungan kedua Kerang Ajaib itu, terlihat menjadi seperti pondasi dua lantai dari sebuah miniatur menara. Kini, Longwang, Longyun, dan Longwei, ketiganya, tinggal di dalam miniatur menara setengah jadi tersebut.
“Tentu saja.” Sahut Gofan, ketika sebuah boneka manusia tanah berpenampilan mirip dirinya muncul di belakang Shiyuxin.
__ADS_1
“Ayo-!.” Ucap boneka manusia mirip Gofan tersebut. Entah bagaimana Gofan bisa membuat Boneka manusia tanah itu seakan benar-benar hidup, itulah yang dipikirkan Xionan dan Shiyuxin saat mereka meninggalkan terowongan tersebut.
Setelah beberapa saat, di saat Gofan berjalan sendiri menelusuri lebih dalam terowongan tersebut, sebuah cahaya redup terlihat tidak jauh darinya.
“Lampu ini?!.” Gumam Gofan saat dia tiba di dekat cahaya redup tersebut.
Sebuah lampu mirip Lentera Jiwa memancarkan cahaya redup tersebut.
“Benar. Ini Lentera Jiwa... Ini masih berfungsi dengan baik.” Gumamnya saat memperhatikan lebih dekat Lentera Jiwa yang melayang di tengah Terowongan tersebut.
“Hmm... Bocah... Apa kamu datang untuk mengambil Harta itu?.” Sebuah suara terdengar keluar dari Lentera Jiwa itu.
Gofan terkejut sesaat, dia tahu, bahwa cahaya redup itu bukan api biasa, itu adalah cahaya jiwa. Saat suara itu terdengar, sosok mungil terlihat muncul dari cahaya redup di dalam Lentera Jiwa.
Sosok itu, tubuhnya hanya cahaya, tapi berbentuk manusia kecil. Terlihat seperti seorang pria tua dengan janggut panjang tapi tidak memiliki rambut. Sosok mungil itu, duduk bersila dan menatap ke arah Gofan.
Tubuh Gofan gemetaran, saat pandangan mata mereka bertemu. Seolah ada gunung besar di atas punggunggnya, yang membuat seluruh tubuhnya terasa hampir jatuh. Jika bukan karena Tubuh Gajah Naga Sejati, mungkin saja Gofan sudah terkulai tidak sadarkan diri di tanah.
“Ukh....” Gofan memuntahkan segumpal darah.
Kakinya yang gemetaran berusaha keras menahan rasa berat yang menimpanya. Apa ini, hanya memandangnya saja, aku merasa seperti hampir mati, pikirnya saat jantungnya berdetak sangat kencang.
Bahkan seorang Pendekar di Ranah Human God, tidak akan membuatnya seperti ini. Ini membuat Gofan benar-benar ketakutan.
Gofan mengangguk, dia tidak sanggup mengucapkan kata-kata, tubuhnya benar-benar tertekan. Untuk mengangguk itu pun, dia harus mengerahkan banyak tenaga dalamnya.
“Kembali saja. Pulanglah dan datang lagi saat kamu mencapai ranah Human God tahap akhir....” Ucap sosok mungil tersebut.
Gofan menggeleng. Dia sudah menghabiskan seharian, untuk menelusuri terowongan. Meski dengan Langkah meringankan tubuhnya, dia masih memerlukan satu hari untuk sampai di tempatnya sekarang. Dia begitu penasaran dengan Harta yang tadi disebut sosok bercahaya tersebut, jelas dia tidak akan mau pergi.
Setelah beberapa tarikan napas kemudian, sosok mungil bercahaya itu tertawa lantang, “Baik... Kalau kamu bisa sampai di Lentera berikutnya, dan masih bisa berjalan, lanjutkanlah.”
*Deg*
Mata Gofan membelalak mendengar ucapan jiwa pria tua di Lentera Jiwa tersebut. Masih ada Lentera lain lagi setelah ini, begitulah pikirnya. Lentera di hadapannya saja, sudah membuatnya serasa memikul sebuah Gunung, bagaimana dengan Lentera berikutnya.
Gofan memaksakan diri untuk bergerak lebih jauh. Meski sesaat tadi, dia sempat terkejut, akan ada Lentera lain yang menunggunya di depan. Dia bersikeras melanjutkan.
Setelah beberapa tarikan napas, ketakutan yang dia rasakan di awal tadi berubah menjadi rasa penasaran akan Harta yang mungkin dia temukan. Meski langkahnya pelan, kakinya gemetaran, dan keringat mengucur deras, di mata Gofan secercah cahaya semangat terpancar. Ketakutannya berubah menjadi keinginan untuk menjadi semakin kuat.
“Jiwa di Lentera itu sangat kuat... Aku ingin melampauinya.” Gumam Gofan di dalam hati.
Hari ini, dia sadar, untuk menjadi Pendekar yang ingin menembus Sembilan Alam Langit, dia masihlah terlalu lemah. Dia yang sudah mati berkali-kali karena tubuhnya meledak, untuk pertama kalinya merasakan kembali sensasi mati sungguhan, seperti saat pertama kali dia mati di hadapan Beruang Bambu. Ketakutan yang membuat jantungnya serasa hendak melompat keluar meninggalkan tubuhnya.
“Sial. Jika seperti ini, aku rasa akan memakan waktu lebih lama untuk tiba di tempat itu.” Pikir Gofan.
Dia berusaha keras untuk melangkahkan setiap langkah kakinya. Meski sudah berjarak lima sampai enam langkah dari Lentera Jiwa yang pertama, tekannya tidak berkurang sedikitpun. Lebih dan lebih banyak lagi, tenaga dalam yang dia kerahkan.
Bersambung...
__ADS_1