Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 03. Bela diri di Benua Penda


__ADS_3

Empat hari kemudian, rombongan itu berhasil mencapai daerah pinggiran dari Gurun Kalajengking Hitam, di dekat sebuah desa kecil.


Sebenarnya perjalanan bisa di tempuh dalam dua hari, apalagi dengan bantuan dari kuda-kuda dan perbekalan para bandit, namun banyak dari para mantan tahanan ini yang kesakitan dan kelelahan, sehingga Yubing memutuskan untuk lebih sering beristirahat.


Untungnya dengan petunjuk jalan dari Lenfan, mereka tidak perlu lagi khawatir bertemu dengan Kalajengking Hitam.


Selama perjalanan, Yubing semakin akrab dan semakin percaya dengan intuisi Lenfan. Yubing menganggap Lenfan berbakat di antara kalangan orang-orang biasa.


" Kamu sungguh memiliki intuisi yang tajam. Apakah kamu tidak berminat mempelajari bela diri? " Yubing bertanya pada Lenfan, di saat mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak, lagi pula sedikit lagi mereka sudah bisa keluar dari gurun itu.


" Terima kasih, aku berminat, tetapi untuk saat ini aku memiliki tujuan lain. Adapun intuisi ini, hanya pengalaman hasil dari kegiatanku sebagai pemburu " Lenfan tidak menolak pujian bahwa dia berbakat, tetapi dia juga tidak melebih-lebihkan dirinya.


Dia hanya cukup berpengalaman dengan berburu dan dia memang tahu sedikit tentang dasar-dasar bela diri namun belum mengembangkannya, bisa dikatakan dia tahu bagaimana membudidayakan bela diri.


" Sungguh sayang, tahukah kamu... budidaya bela diri adalah akar awal menuju keabadian. Mereka yang memiliki budidaya bela diri tingkat tinggi akan sangat disegani dan dihormati di Benua Penda ini, bahkan di lima benua besar lainnya "


" Mereka yang kuat selalu berkuasa, jika kamu bisa bela diri, kamu bahkan bisa menyelamatkan dirimu dari bandit-bandit itu, semakin muda kamu berbudidaya semakin baik hasilnya "


Yubing berusaha menjelaskan pentingnya menguasai bela diri kepada Lenfan. Yubing membujuk Lenfan agar dapat sesegera mungkin berlatih bela diri, semakin muda, semakin baik hasilnya.


Saat ini, Lenfan berusia 21 tahun, usia yang sudah cukup tua untuk memulai berbudidaya, tentu saja pencapaiannya akan kalah dengan mereka yang sudah belajar bela diri sejak usia dini. Sebagai keturunan orang Tanah Terlarang, dia sudah mengetahui hal-hal semacam itu.


" Di Benua Penda ini, bela diri berasal dari dua turunan murni dari surga sembilan langit, mereka adalah suku langit cahaya keturunan Dewa Cahaya dan suku langit gelap keturunan Dewa Gelap... Merekalah leluhur budidaya bela diri di Benua Penda... "


" Dikatakan dengan budidaya mencapai ranah suci sembilan langit, seseorang dapat terbebas dari kesengsaraan dan menjadi Abadi, menjadi Dewa "


Seperti yang dikatakan Yubing, memang kebanyakan orang-orang di Benua Penda mempelajari budidaya bela diri untuk mencapai keabadian.


" Ketika alam besar terbentuk, surga menciptakan cahaya dan kegelapan, untuk menciptakan keseimbangan dan keharmonisan di alam besar. Namun mereka justru saling bertentangan, berkompetisi untuk saling menguasai, cahaya dan kegelapan menciptakan kehidupan, Dewa Cahaya dan Dewa Gelap. Kedua Dewa itu terus menerus saling bertarung, tidak pernah damai... "


" Surga murka dan mengutuk mereka turun ke Alam kecil dan menjadi manusia. Hanya dengan budidaya yang menembus sembilan langit, mereka baru dapat kembali lagi ke alam besar dan menjadi Dewa, menjadi Abadi "


Yubing terus menjelaskan awal mula bela diri di Benua Penda berharap Lenfan akan mengerti pentingnya budidaya bela diri.


Merasa sudah mengetahui sebagian besar hal itu, Lenfan menyela cerita Yubing, " Nona Yubing. Bolehkah aku bertanya? "


Lenfan mencoba memberanikan diri untuk menanyakan tentang sesuatu, yang mengingatkannya pada masa lalu.


" Tanyalah. Apakah ini tentang budidaya bela diri Benua Penda, adakah yang ingin lebih kamu ketahui? Tanya saja, aku akan menjawab " Yubing mengira Lenfan ingin tahu lebih banyak tentang bela diri di Benua Penda.


" Bukan. Ini berkaitan dengan pertarungan yang nona lakukan sebelumnya "


Menilai pihak lain telah salah mengira, Lenfan mengatakan secara lebih khusus arah pertanyaan yang akan ditanyakannya.


" Oh... Tentang semua pertarungan yang kulakukan sebelumnya, itu hanyalah misi tugas, aku memerlukan bangkai dan racun Kalajengking Hitam, itukah yang ingin kamu tanyakan? " Yubing mengira bahwa Lenfan pasti penasaran mengenai tindakannya mengumpulkan bangkai Kalajengking Hitam.


Sembari menggelengkan kepala, Lenfan menjawab, " Bukan... Bukan... Itu juga bukan yang ingin aku tanyakan "

__ADS_1


Lenfan memang penasaran dengan tindakan Yubing, sebagai orang biasa mungkin bangkai makhluk buas tidak berguna. Tetapi Lenfan tahu, bangkai itu pasti memiliki manfaat bagi seorang pendekar, jadi dia tidak perlu menanyakan hal itu.


Yubing menganggukkan kepalanya, " Oh... Kamu pasti penasaran tentang Boger !, Dia makhluk buas peliharaanku. Untuk mengelurkannya perlu sumber daya yang sangat mahal, jadi aku hanya bisa mengeluarkannya di saat paling genting... Kalau hanya untuk melawan bandit, itu akan sia-sia, itu kan? "


Sekali lagi, Lenfan menggelengkan kepalanya sambil sedikit tersedak menahan tawa, di dalam batinnya, Lenfan berpikir, ' Hehehe... Gadis ini... Dia membiarkanku bertanya, tanpa memberiku kesempatan bertanya '


Meskipun Lenfan orang biasa tanpa ilmu bela diri, dia tahu bahwa memelihara makhluk buas bukanlah perkara kecil, akan banyak sumber daya yang dibutuhkan. Contohnya daging dengan darah keemasan yang sebelumnya di makan Boger, pastilah sumber daya yang langka. Pengetahuan Lenfan cukup banyak tentang dunia pendekar, tetapi bukan itu yang ingin ditanyakannya.


" Jika bukan itu, lalu apa?, Tanyakan saja, aku akan menjawabnya " Sekali lagi Yubing memberi Lenfan kesempatan bertanya, namun tiba-tiba seseorang datang mendekat.


Orang yang mendekat itu adalah pemuda yang sebelumnya kesal dengan Lenfan karena meminta Yubing memancing Kalajengking Hitam ke arah tempat mereka berada.


" Maafkan aku saudara Lenfan. Sebelumnya aku terlalu khawatir akan celaka... Kenalkan, aku Jangbi dari Kota Angin Putih, terima kasih atas bantuan kalian "


Lenfan tidak terlalu memikirkan tentang hal itu, bagaimana pun dia paham situasi saat itu.


" Tidak masalah. Tidak perlu dipikirkan lagi. Tentunya bukan hanya itu yang ingin kamu sampaikan bukan? "


Lenfan yakin, niat Jangbi bukan hanya untuk sekedar meminta maaf dan berterima kasih, jika iya, dia seharusnya sudah melakukan itu berhari-hari sebelumnya.


" Benar... Benar... Aku berniat untuk berangkat lebih dahulu dengan dua orang lainnya, bisakah kami menggunakan kuda-kuda yang ditinggalkan para bandit untuk pulang ke kota kami? "


Lenfan sudah menduga ini, menurutnya karakter Jangbi ini agak egois. Masih ada yang lebih lemah dan terluka yang memerlukan kuda-kuda itu, namun dia justru meminta kuda-kuda itu untuknya.


" Nona Yubing, Bagaimana menurutmu? "


Tidak ingin berlama-lama Yubing dengan tegas memberi jawaban, " Ambil dua ekor, sisakan satu, lagi pula kalian bertiga masih cukup kuat dan sehat "


" Ba-baik Nona. Baik... " Sedikit cemberut, Jangbi tidak berani membantah, lalu menghampiri dua pria lainnya yang akan melakukan perjalanan bersamanya.


" Ck... Gadis pelit !, Jelas-jelas mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki rumah dan tujuan, tinggal saja di desa sini... Untuk apa mempertahankan kuda-kuda itu, seharusnya masing-masing dari kita bisa mendapatkan seekor kuda " Pria berkepala botak yang berada di kanan Jangbi kesal mendengar jawaban dari Yubing.


" Benar, mereka seharusnya mementingkan yang memiliki tujuan dan kediaman " Pria lain di sisi kiri Jangbi mengangguk-angguk menyesali jawaban Yubing.


Meski mereka juga mantan tahanan bandit, tetapi mereka bertiga adalah kaum pedagang yang dengan sial bertemu Bandit Serigala Biru.


Sementara mantan tahanan lain, adalah korban penjarahan, kebanyakan desa tempat mereka tinggal dijarah dan dibumi hanguskan oleh Bandit Serigala Biru.


" Sudahlah, dua ekor sudah cukup, aku ambil kuda yang ditunggangi Kapten Bandit, harusnya itu lebih kuat. Kalian berdua pilih yang lain... Kita akan pergi sekarang... Ayo.. ! "


Jangbi mengajak dua lainnya dan melangkah pergi, mengambil kuda-kuda yang dimaksud.


Beberapa saat setelah itu, Jangbi dan kedua orang lainnya, datang menghampiri Lenfan dan tujuh orang lainnya,


" Saudara Lenfan, Nona Yubing, saudara-saudari sekalian, kami permisi, sampai jumpa " Jangbi dan dua orang lainnya menaiki kuda-kuda yang mereka pilih, kemudian perlahan menghilang dari pandangan semua orang.


Melihat itu, setelah membalas salam Jangbi, Lenfan tersenyum kecut, ' Memang orang yang egois, bahkan dia seorang diri menunggangi kuda yang lebih baik... Aku harap aku tidak akan berjumpa lagi dengan orang seperti itu '

__ADS_1


Goli mendekat ke arah Lenfan, " Kak, bisakah aku ikut denganmu? Bisakah? Desa dan rumahku sudah habis dibumi hanguskan Bandit Serigala Biru " Tiba-tiba Goli menanyakan hal yang ingin disampaikannya.


Bersamaan saat itu, Yubing menatap Lenfan, sambil membenarkan topengnya yang agak miring, " Oh... Iya, kamu tadi mau tanya apa? "


Belum sempat menanggapi pertanyaan Goli, Lenfan menyahut perkataan Yubing,


" Ah... tidak usah Nona, kurasa semua sudah terjawab "


Situasi sudah berubah dan Lenfan merasa tidak nyaman lagi menanyakan hal yang membuatnya penasaran.


" Baiklah kalau begitu... " Sahut Yubing pelan.


Kelak, pertanyaan yang tidak jadi ditanyakan Lenfan itu, akan menjadi penyesalan kecil di dalam hidupnya, ingatannya tentang Serbuk Bunga Kematian, sesuatu yang penting dan berhubungan dengan masa lalunya.


Menoleh Goli, Lenfan tersenyum tipis dan menjawab,


" Tentu, lagi pula aku juga tidak punya keluarga atau kawan seperjalan, ini akan lebih baik " Goli merasa senang mendengar jawaban bahwa dia bisa melanjutkan perjalan bersama Lenfan.


Beberapa hela napas kemudian, dua orang lain, seorang kakek tua dan seorang wanita muda berpamitan, bibi Biung juga ikut dengan mereka, karena akrab dengan wanita muda itu, bibi Biung memutuskan pergi bersama mereka.


" Lenfan... Bibi titip Goli, bocah ini tidak punya siapa-siapa lagi, desa Amikara sudah hancur, tolong jaga dia "


" Goli, jaga dirimu, bibi pergi "


Lenfan tersenyum tipis, " Iya bibi, aku akan menjaganya sebaik mungkin " Sahut Lenfan, sembari mengatupkan salam.


" Terima kasih bibi, aku akan menjaga diri baik-baik " Sahut Goli menimpali. Jelas Goli sedih berpisah dengan bibi Biung, hal ini nampak di raut wajahnya.


Yubing menawari kuda terakhir kepada bibi Biung dan dua orang lainnya, namun mereka bertiga kompak menolak. Setelah berterima kasih kepada Yubing, dan berpamitan dengan sisa mantan tahanan yang lain, bibi Biung, kakek tua serta wanita muda, mulai melangkah pergi.


Yubing menoleh ke arah Lenfan, " Kamu yakin tidak mau mempelajari bela diri? Aku bisa mengenalkanmu kepada Perguruan Kelas Bintang Dua? "


Yubing merasa intuisi Lenfan yang tinggi akan sangat bermanfaat jika dia mempelajari ilmu bela diri. Dia tidak bisa menawari Lenfan untuk ikut berguru di Lembah Bunga Kamboja, sebab itu perguruan khusus perempuan.


" Tidak Nona. Tidak perlu. Aku sudah memiliki tujuan sendiri "


Sebenarnya Lenfan sudah menguasai dasar-dasar bela diri, tetapi dia belum mengembangkan dan mempelajari lebih jauh. Dia memiliki keinginan tinggi untuk mempelajari bela diri, hanya saja, Perguruan Kelas Bintang Dua bukan perguruan yang ingin ditujunya.


" Kalau memang begitu, aku akan permisi terlebih dahulu " Ucap Yubing.


*Zyuut*


Tanpa menunda lebih lama, seketika itu juga Yubing melesat dan menghilang dari pandangan.


Dengan itu hanya tinggal empat orang yang tersisa diantara mereka, Lenfan, Goli, pria gempal, dan seorang pria kekar yang hanya diam saja selama perjalanan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2